Seminggu setelah pertemuan

1151 Words
Sepanjang perjalan pulang, tak hentinya mama berceramah. Cenderung mengomel karena menurutnya, aku menyia-nyiakan Erlangga begitu saja. “Kamu tuh nggak ngerti banget sih, Dri, sama yang berkualitas. Capek-capek mama merancang pertemuan kalian, sikap kamu malah kayak gitu. Kamu tahu nggak, tante Sherly setajir apa? Meski isteri kedua, tapi warisan dari suaminya lebih banyak buat dia. Soalnya, cuma beliau yang bisa ngasih anak lelaki. Erlangga sendiri juga ganteng, berpendidikan. Kamu tuh bodoh atau gimana?” “Aku salah apa, sih? Kami berhenti ngobrol juga karena aku kebelet mau ke toilet.” Dustaku. “Toilet apaan? Kamu malah lagi asyik ngobrol sama sembarangan orang. Om Bram itu sudah tua, Dri. Dia tuh dua tahun di atas mama, Lho.” Aku tersenyum sinis diam-diam. Maksud mama apa ngomong seperti gitu? “Ya gak penting juga dibahas, Ma. Aku ketemunya juga nggak sengaja, kok. Pas tadi mau ke toilet, malah nabrak dia. Terus, nggak lama Mama datang.” “Gitu, ya?” “Ya gitu!” “Om Bram itu … gimana, Dri? Menurut kamu, dia keren, nggak?” tanyanya, setelah beberapa saat terdiam. “Ah, biasa saja,” jawabku, terkesan acuh tak acuh. Mama menoleh ke arahku sambil mendelik. “Biasa gimana, ah? Orang dia ganteng gitu, kok. Tajir pula,” bantahnya, seolah tak terima. Lah, lagian kok pakai nanya? “Mama suka sama om Bram?” aku bertanya dengan santai. Kulihat mama tampak tersipu, macam perawan pingitan yang pertama kalinya membahas seorang lelaki. Padahal …. “Siapa yang nggak suka sama om Bram? Dia itu duda, lho, Dri ….” “Memang kenapa kalau duda? Mama tertarik?” “Kalau jadi isteri dia, kayaknya boleh deh ….” Aku termangu. Dari sederet pacar-pacarnya yang selalu silih berganti, belum pernah aku mendengar kalimat serius terucap dari mulut mama tentang prospek hubungan mereka.  Ya, mamaku adalah seorang play woman yang tak pernah mau repot terikat lagi pada hubungan pernikahan. Menurutnya, ikatan semacam itu hanyalah belenggu yang membatasi kebebasannya. Bahkan merugikan. Karena baginya, hubungan itu harus bersifat simbiosis mutualisma. Dan bila bosan atau merasa tak dapat memetik manfaat apapun lagi dari partnernya, mama tak akan segan mencari gantinya. Hebat, kan? Lalu, kenapa om Bram? Mama bahkan pernah memiliki kekasih yang lebih hebat dari pria itu. Seorang pejabat? Public figure? Kekayaan yang dimiliki om bram, mungkin masih kalah dibanding dengan sederet mantan-mantannya itu.  Bahkan, mama pernah terlibat affair dengan salah seorang pengusaha beristeri yang masuk dalam sepuluh besar pengusaha tersukses di Indonesia. Aku tak tahu bagaimana cara mama bisa mendapatkannya, sama seperti aku tak mengetahui alasan berakhirnya hubungan mereka. Aku hanya tahu, aku harus berjuang untuk tak merasa jijik dengan kelakuannya yang seolah tak sadar umur itu. Jadi pasti, om Bram adalah pria special baginya. Secara kasat mata, akupun harus mengakui itu …. Seketika bayangan papa melintas. Menggoreskan segaris pedih yang kusimpan rapat-rapat. Begitu mudahnya mantan isteri papa ini mengcapkan ketertarikannya menjadi pendamping seorang duda. Bahkan di depanku langsung, anaknya. Sebetulnya menurut mama, apa arti dari menjadi seorang isteri?   @@@@@@@   Satu minggu telah berlalu sejak itu. Aku tengah sibuk di depan laptop guna mengerjakan tugas kuliah yang deadlinenya besok. Penyakit santuyku memang sudah memasuki tahap yang kronis. Nyaris tak ada tugas yang kukerjakan bila tak mepet menjelang batas akhir. Tapi jangan salah, IPK-ku tetap konsisten di angka tiga koma. Bukan saja karena otakku yang lumayan encer, tapi sebagian dosen memang sedermawan itu padaku. Meski kadang terlambat menyerahkan tugas, beberapa kali alpa, atau diikutkan ujian susulan padahal untuk mahasiswa lain tak akan semudah itu, tapi toh nilaiku tak pernah kurang dari B. Itupun bisa dihitung dengan sebelah jari, karena nyatanya lebih banyak nilai A dalam transkrip nilaiku. Tidak usah berpikiran jelek, ini tak ada hubungannya sama sekali dengan azas timbal balik. Mungkin … ini semacam keberuntungan orang cantik? Ah, entahlah. Bukan salahku juga memiliki takdir seindah itu dalam hal rupa …. Tiba-tiba saja, mama muncul dari balik pintu kamar dengan senyum antusias. Wajahnya pun tampak berseri-seri menandakan perasaannya yang tengah happy. “Dri, nanti malam jangan kemana-mana! You know what? OM BRAM NELPON MAMA TADI!” serunya, kegirangan. Mirip ABG naïf yang habis dijanji indah oleh gebetan. Ck …. “Terus?” mataku tak beralih dari layar laptop meski jantung seolah mendadak terkena aritmia. Setelah seminggu? Hmmh, low respon juga ternyata …. “Kok kamu cuek gitu? ini om Bram, lho, om Bram! Duda ganteng wira usahawan sukses yang asetnya berserakan dimana-mana. Dan respon kamu cuma TERUS?” mama seolah tak terima. Lah, aku kudu piye? Apa aku harus berselebrasi dengan salto atau lari keliling komplek perumahan? “Apa sih, Ma? Memangnya om Bram nelpon mama untuk bagi-bagi asset gitu?” “Hush, ya bukan gitu juga. Tapi tenang saja, ini hanya tinggal masalah waktu.” Mama mulai menerawang, menghayal dengan senyum lebar terkembang. Aku ingin mengingat ekspresi itu. Merekamnya baik-baik di memori otak dan hatiku. Sebahagia itukah mama? Maka, berbahagialah dulu …. “Ma, jangan tidur disini!” sepertinya ucapanku merusak hayalan indah miliknya. Mama tampak merengut. “Kamu itu! Oh ya, tadi mama mau ngomong, kamu harus siap-siap malam ini. Om Bram ngundang kita untuk makan malam dengan keluarganya. Kamu tahu apa artinya itu kan, Dri?” “Kita? Mama aja kali!” “No, kita! Bilangnya barusan, dia ingin mengenal keluarga kita lebih dekat lagi. Dan dia juga bakal bawa anak-anaknya.” Aku hanya terdiam tak mengomentari. Sepertinya cukup serius …. “Sudah mama duga! Apa iya, dia bisa sebodoh itu menafikan pesona Navia Puspita. Kelihatannya saja sok jual mahal, padahal ….” Mama tersenyum jumawa. Dan aku sudah terlalu kebal untuk merasa jijik. “Remember Dri, nanti malam! Dandan yang pantas. Kalau perlu, cari gaun di butik. Bilang sama Hera kalau mama yang suruh,” ucapnya lagi, sebelum meninggalkan kamar. Aku tertawa miris setelahnya. Butik yang dimaksud mama adalah butik miliknya, milikku juga sebenarnya, yang dibangun dari kompensasi gono-gini setelah perceraiannya dengan papa. Tidak, bahkan itu bisa dibilang bukan gono-gini lagi, kaena harta papa yang tersisa nyaris diberikan semua pada mantan isterinya itu. Pertimbangan papa saat itu adalah aku. Karena mama menghendaki agar aku ikut bersamanya, maka hak bagianku otomatis ada dalam pengelolaan mama sebagai wali. Kalau kalian pikir aku akan dengan bebas mengambil uang ataupun baju dari butik itu, kalian keliru. Mama tak pernah mengizinkan aku untuk ikut campur dalam pengelolaannya, sekecil apapun. Kalaupun ada baju yang kudapatkan dari situ, semata karena mama sendiri yang memilihkan, atau menyuruhku mengambilnya dengan sepengetahuan Hera, asistennya. Seperti maksud kalimatnya tadi. Heran? Miris? Itulah kenyataannya. Aku tahu persis apa yang ada dalam kepalanya. Bukankah sudah kukatakan kalau mama seperti buku terbuka yang mudah terbaca? Tapi biarlah. Cukup bagiku untuk bersikap naïf dan masa bodo saja sekarang. Kututup laptop. Deadline ataupun apalah, aku tak sempat memikirkannya lagi. Yang ada dalam benakku sekarang adalah, OTW butik, memilih baju terpantas dan memikirkan penampilan seperti apa yang harus aku persiapkan untuk malam nanti. Bagiku, ini saatnya. Hanya karena om Bramlah, satu-satunya pria yang membuat mama berpikir lagi tentang sebuah pernikahan …. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD