“Dri, kamu sudah dimana ini? Kita semua sudah kumpul, lho. Jangan bikin mama malu, deh. Om Bram bukan orang sembarangan yang bisa kamu perlakukan seperti itu. Dia tak terbiasa menunggu, kamu ngerti itu?” Semprot mama, via telpon. Aku bahkan harus menjauhkan ponsel dari telinga karena pengang mendengarnya.
Kami memang tak barengan pergi ke hotel. Restoran disalah satu hotel bintang 5, tepatnya. Karena waktu tak memungkinkan lagi untuk bolak-balik dari butik ke rumah, aku memutuskan untuk langsung berangkat dari butik. Tapi tentunya, setelah mampir dulu ke salah satu salon milik temanku.
Aku mengultimatum Vidya, salah satu pegawai salon Chintya untuk me-make overku semenarik mungkin. Aku harus tampil cantik, fresh, stylish, namun dengan tetap terkesan natural. Tentunya, dengan basic sesempurna diriku, itu tak terlalu sulit, kan?
Dan hasilnya memang keren, memuaskan. Aku tampak beda malam ini, ditambah gaun terusan selutut yang begitu pas melekat di tubuhku. Padahal, saat acara ultah tante Rossa yang notabene terselubung rencana pertemuanku dengan Erlangga, aku tampil biasa saja. Maksudku, tetap elegan, tapi tak sampai bersusah payah pergi ke salon segala demi sebuah make up.
Chintya bilang, aku lumayan bikin pangling. Aku memang terbiasa tampil cuek, tak pernah ribet berurusan dengan perangkat make up yang cara mengaplikasikannya saja aku tak paham. Salah satu sahabat terbaikku itu menilai, aku cukup recommended untuk kategori ‘gadis pemikat tanpa terkesan binal’. Entah apa maksudnya, ada-ada saja. Dia juga bilang, aku memiliki jenis senyum yang naïf, tapi mengundang. Sudahlah, skip saja.
“Iya, Ma. Aku sudah ada di depan lift, nih.”
Tak sampai 5 menit, aku telah menginjakkan kaki di tempat perjanjian. Salah seorang pelayan mengantarku dengan sikap hormat. Sebuah pilihan tempat yang sangat mewah untuk sekedar makan. Pantas mama menjadikan pria itu sebagai target.
“Selamat malam semuanya …,” sapaku, ketika telah berada di hadapan mereka. Dapat kulihat ekspresi terkejut mama saat melihat penampilanku. Tentu saja dia heran. Mama tahu aku tak begitu suka berdandan. Dan demi apa, ia melihatku tampil beda malam ini.
Dapat kutangkap juga sorot terpukau om Bram meski tak terlalu kentara diperlihatkannya. Dua anaknya yang kutaksir hampir sebaya itu, sama menatapku dengan penuh atensi. Mungkin heran sekaligus penasaran, tentang siapa sebenarnya sasaran tembak sang ayah.
“Dri … duduklah.” Mama tampak salah tingkah. Mungkin ia bingung harus merasa senang atau malah merasa tersaingi dengan penampilanku yang lumayan beda ini. Mama sendiri tampak s*****l dengan potongan gaun yang membalut ketat tubuh sintalnya. Aku yakin, pria manapun tak akan melihat mama tanpa ada angan-angan m***m dalam pikirannya.
“Silahkan, Adrianna.” Om Bram pun turut mempersilahkan dengan senyum simpul di bibirnya.
Aku berusaha untuk tak terlalu fokus melihat ke arahnya. Malah, kusunggingkan senyum manis seraya menganggukan kepala kepada kedua anak om Bram yang juga menyambut dengan sikap serupa. Hmmh, tampaknya mereka anak-anak yang baik dan juga sopan.
Entah apa yang berkecamuk dalam benak mereka, yang jelas keduanya mampu menunjukkan attitude yang berkelas. Tak banyak anak-anak kalangan atas, bahkan kalangan bawah sekalipun, yang masih mengedepankan adab seperti itu. Dapat kusimpulkan, minimal om Bram adalah ayah yang cukup sukses dalam mendidik anaknya.
“Maaf saya terlambat. Selain terperangkap macet, ada sedikit hambatan di jalan tadi.” Aku mengucap permohonan maaf dengan terbuka.
“Ada apa? Kecelakaan?” om Bram menanggapi dengan cepat.
“Ya, semacam itu. Tapi untunglah, tak ada yang terluka.”
Aku tak bohong. Setelah berlama-lama di salon, aku hanya punya setengah jam tersisa untuk perjalanan yang minimal membutuhkan waktu 45 menit. Termasuk dengan sedikit masalah di jalan.
Ada seekor kucing yang tiba-tiba saja melintas hingga membuat mobil yang hampir menabraknya terpaksa me-rem mendadak. Mobil itu tepat berada di depan taksi yang kutumpangi. Mungkin supirnya sedikit shock, karena butuh beberapa saat untuk menenangkan dirinya. Begitu saja, sih.
Tak perlu terlalu kritis mempertanyakan dimana letak ‘kecelakaan’ nya, oke? hanya sekedar penguat alasan keterlambatan saja, tak lebih.
Makan malam berjalan dengan normal dan lancar. Mama tampak selalu sibuk mencari bahan pembicaraan dengan om Bram. Bisa dikatakan, mama lebih mendominasi. Aku sendiri, sengaja lebih fokus pada dua bersaudara di hadapanku.
Kami terlibat dalam pembicaraan ringan yang mengakrabkan. Ternyata selain low profile, keduanya cukup humble. Kami terkesan teman akrab yang tengah berkumpul untuk saling bergosip.
Meski sengaja sibuk hanya berinteraksi dengan Zain dan Zaira, aku bukannya tak menyadari kalau om Bram sering mencuri-curi pandang ke arahku. Sengaja kuulas senyum semanis mungkin. Walau bukan diarahkan padanya, tapi cukup jelas untuk dilihat oleh pria itu.
Menurut pengalaman, jarang ada pria yang tak keder setelah melihat senyumku. Itu yang kasusnya mencuri-curi pandang, jadi bisa dibayangkan bila kuberikan senyum itu secara sengaja dan langsung. Yang tak kuat, mungkin akan melakukan EKG untuk memastikan jantungnya sehat-sehat saja ….
Bahkan sekelas dosen killer macam pak Dwi pun, mendadak berubah gelisah bila berhadapan denganku. Padahal sumpah, aku telah berlaku sepolos dan senaif mungkin. Karena gaya menggoda dan merayu, itu bukan aku banget. Masih banyak cara elegan untuk memanfaatkan kelebihan diri tanpa harus terkesan murahan.
Ditengah pembicaraan, aku pamit untuk pergi ke toilet. Sengaja aku berlama-lama di dalam. Mengamati kesempurnaan riasan setelah makan tadi. Kuperhatikan pula geligi, khawatir ada sesuatu yang terselip disana.
Dadaku berdetak tak karuan. Rasa penasaran dan juga kekhawatiran, bersamaan mendominasi. Oke, Adrianna. Stay calm! Let’s see and proof, apakah firasatmu benar adanya. Akan seperti apakah kelanjutan semua ini. Apakah ini hanya sekedar over pede yang mengelabui, atau memang perasaan yakin yang berdasar.
“Dan nggak usah terlalu tinggi menilai dirimu lagi bila ternyata kau salah dalam hal ini!” aku menunjuk sosok dalam cermin dengan nada tegas.
Kuhela nafas panjang sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar. Hatiku nyaris melompat saat melihat sesosok tegap yang berdiri tak jauh dari toilet.
“Om Bram?” aku mencoba menyapanya dengan sikap wajar. Padahal rasanya, ingin melompat-lompat kegirangan.
Pria itu tersenyum dengan gestur antara ragu dan salah tingkah.
“Saya … baru dari dalam juga,” ujarnya, memberitahu. Jempolnya menunjuk toilet khusus pria yang memang bersebelahan dengan toilet wanita.
“Oh.” Aku mengangguk paham.
“Dri …?” panggilnya, menggantung.
Bila menurutnya ia baru saja selesai dari toilet, bukankah hal normal selanjutnya yang harus dilakukan, adalah pergi dari tempat ini, kan? Bukan tetap berdiri disitu, seolah tengah menunggu sesuatu. Atau seseorang?
Om Bram masih terdiam diposisinya. Seakan menghendakiku untuk juga tetap bersamanya.
“Ya, Om?”
“Terima kasih, ya, kamu dan mamamu sudah bersedia untuk datang.”
“Sama-sama, o*******g sekali bisa mengenal Om dan keluarga semuanya. Saya nggak menyangka, Zain dan Zaira tuh welcome banget sama kami ….”
“Mereka memang seperti itu. Gampang membaur dengan orang yang mereka anggap cocok. Saya senang melihat kalian bisa seakrab itu.”
“Mungkin karena kami hampir seumuran, kali ya. Jadinya nyambung.”
“Dri …,” panggilnya lagi.
“Ya?” aku tahu gelagat itu. Jadi, aku hanya bisa menunggu dengan sikap biasa meski hati mulai berdebar, ingin memastikan.
“Boleh saya minta nomor ponselnya? Siapa tahu, kalau ada keperluan dan tak bisa menghubungi Navia, saya bisa menghubungi kamu.”
Dan … inilah akhirnya. Persis seperti yang telah kuduga. Sekuat tenaga, aku berusaha untuk tak tersenyum karena merasa menang ….