Video Call Pertama Dengan Om Bram

1876 Words
Hari berganti minggu selanjutnya di pembicaraan mama, selalu dan selalu tentang om Bram saja. Om Bram yang katanya begini, begitu. Mama juga tak segan menceritakan update perkembangan hubungan mereka pada semua teman-temannya. Versi mama, tentu saja. Tampaknya, mama begitu yakin bahwa om Bram betul-betul menginginkannya. Ia bahkan sesumbar kalau hubungan mereka hanya tinggal menunggu waktu peresmiannya saja. Wah! Aku tak dapat membayangkan bila nanti mama tahu, kalau pria yang sering menjadi buah di bibirnya itu ternyata … sering menghubungiku. Beberapa hari sejak makan malam itu, om Bram menelponku untuk pertama kalinya. Tak ada sesuatu yang khusus, hanya sekedar say hello, membahas hal-hal ringan yang tak penting. Lalu, intensitasnya pun mulai mengalami peningkatan. Bisa dibilang, hampir tiap malam om Bram menelpon atau sekedar mengirim chat receh semacam mengingatkan makan dan sejenisnya. Sampai disini, aku masih menanggapinya dengan normal dan wajar. Cukup memposisikan diri sebagai air yang mengikuti bentuk tempat yang menampungnya. Meski kalau mau jujur, ada secercah ragu dalam hatiku. Ragu akan diri sendiri, dan ragu akan sikap om Bram yang menurutku masih ‘bermain aman’. Di satu sisi, ia masih menjalani komunikasi intens dengan mama. Dan entah apa saja yang telah mereka bahas, yang jelas, mama memposisikan diri sebagai calon pasangannya. Seolah tak ada keraguan sedikit pun tentang itu. Tapi di sisi lain, om Bram juga diam-diam menghubungiku secara khusus. Apakah itu hanya sebuah usaha biasa untuk mengabrabkan diri denganku sebagai calon ayah tiri? Tapi, nalar dan hatiku menyangkal itu. Gesturnya, tatapan matanya, bahkan perhatiannya, terlalu ‘pria’ untuk diberikan pada seorang calon anak tiri. Dan aku merasa yakin tak salah mengenali gelagat itu. Dering ponsel mengagetkanku yang sejak tadi asyik melamun memikirkan om Bram. Aku tersenyum simpul saat menyadari jenis panggilan yang tertera di ponsel. Video call? Wow, ini kali pertama om Bram menelpon dengan panggilan semacam itu.   Sejenak aku melihat keadaan diri yang hanya memakai top tank dan celana pendek. Sejenak, aku menimbang apakah harus meraih cardigan untuk menutupi area yang terbuka. Tapi, akhirnya tak jadi. Biarkan sajalah. Resiko tanggung sendiri, ya om. Usai secepat kilat merapikan rambut dengan jari, aku menerima panggilannya. Sosok wajah tampan dengan kaos oblong putih itu, langsung tertangkap netra. Dapat kulihat ekspresi om Bram yang sejenak tampak terpaku. Uniknya, posisi kami sama-sama tengah bersandar pada kepala ranjang. “Hai,” sapanya setelah beberapa jenak. “Hai juga, Om.” Aku tertawa kecil menyadari nada sapa yang terkesan kaku itu. “Belum tidur?” “Kalau sudah tidur, kita nggak bakal VC-an kayak gini, Om.” Aku mencoba bersikap santai meski jujur—ada setitik rasa deg-degan yang tiba-tiba saja menyapa. Di seberang sana, om Bram juga ikut tertawa. Sebuah lekukan yang sangat dalam, tercetak dengan jelas di pipi kirinya. Manis sekali. Eh …. “Dri, dapat salam dari Zaira.” Ya ampun, om. Trik basi itu mah. Apa iya, sang duda keren itu sampai menelponku hanya untuk sekedar menyampaikan salam anaknya? Lewat VC, lagi. Tapi ya sudahlah. Aku hanya perlu menghargai upayanya, kan? “Salam balik untuk Zaira, Om. Apa kabarnya dia?” “Alhamdulillah sehat. Papanya juga hehe,” jawabnya, membuatku gagal menyembunyikan senyum. “Iya … kelihatan kok, kalau papanya sehat-sehat aja.” “Zaira tanya ke Om, kapan dia bisa ketemu lagi sama kamu.” Ck … Zaira apa kamu, om, yang pengen ketemu lagi? Aku bahkan tak yakin Zaira masih akan mau bertemu denganku kalau ia tahu niat papanya yang sebenarnya. Eh, memangnya aku sudah seyakin itu? “Terus, Om jawab apa?” aku sengaja melempar balik umpan yang ia tebar. “Yaa … om bilangnya kalau kamu sempat dan bersedia, kita bisa ketemuan lagi seperti kemarin.” “Aku sih kalau makan gratisan mana sanggup nolak, Om? Aku juga seneng, kok, bisa ketemu lagi sama Zaira dan Zein.” “Kalau sama papanya?” Wah, sudah sangat menjurus, ini mah. Kalimat sederhana, sih. Tapi maknanya kan lumayan dalam. Apa iya aku harus seterus-terang itu merasa senang bisa bertemu lagi dengannya? “Kalau sama papanya … mamaku pasti lebih senang, tuh Om.” Aku tersenyum simpul melihat ekspresinya yang kentara sekali berubah. Om Bram tampak terlihat tak nyaman dengan jawabanku. Namun, ia tetap memaksakan diri mengulas senyum tipis yang kaku. Ya ampun, om. Jangan terlalu jelas seperti itu, kenapa. “Kamu lagi sibuk, nggak akhir-akhir ini?” tanyanya lagi, mengalihkan pembicaraan. “Mahasisiwi semester 6 kayak aku gini, bakal sesibuk apa sih Om? Mestinya aku tuh yang nanya gitu ke Om.” Heleh, Dri. Tinggal bilang nggak sibuk aja berbelit gitu.   “Kalau urusan sibuk, ya sibuk sih. Tapi hidup kan bukan melulu tentang kerjaan aja.” “Aseekk. Lain ya, gaya ngomongnya orang sukses.” Aku mencoba melontarkan canda ringan yang membuat pembicaraan kami tak terlalu kaku. “Eh … nggak gitu juga, Dri. Usaha kecil-kecilan aja, kok.” Om Bram tampak menggaruk kepalanya yang kuyakin tak gatal itu. “Humble bragging nih yee.” “Kamu tuh bisa aja, ya. Jadi tadi gimana?” Eh, memangnya tadi kenapa? apa aku sudah melewatkan sesuatu? “Ada apa dengan tadi, Om?” oke, aku sih mungkin mengerti saja maksud om Bram tuh apa. Tapi nggak salah, kan kalau aku mengarahkan dia untuk memperjelas segala sesuatunya? “Tentang kamu sibuk atau nggak, Dri. Kalau kamu punya waktu luang, kamu nggak keberatan kalau kita ketemuan lagi?” Tunggu, deh. Ini tuh maksudnya ‘kita’ yang berarti mencakup semuanya atau ‘kita’ yang maksudnya hanya aku dan om Bram saja? “Sebagai pihak yang diundang, aku mah tunggu kabarnya aja deh. Om tinggal kasih tahu mama aja kalau gitu.” “Harus lewat mama, ya? Memang kenapa kalau Om hubungi kamu secara langsung?” Wow, udah makin blak-blakan nih si om. Oke, Adrianna … just calm down. Tetap berpura-pura lugu saat ini, sepertinya masih jalan terbaik. “Ya nggak apa-apa, sih. Sama aja. Yang penting kan ketemuannya?” Om Bram tak langsung menjawab. Ia hanya menatapku intens dengan ekspresi yang … entahlah! Apapun yang ada dalam hatinya, cuma dia yang tahu. Aku juga tak senaif itu, sih. Tapi, biar semua menjadi jelas karena om Bram sendiri yang ingin memperjelas. Aku … hanya sedikit mempengaruhinya untuk ke arah itu. “Ya udah, nanti om hubungi kamu untuk kabar selanjutnya, ya? Nggak apa-apa, kan?” Nggak apa-apa gimana, om? Kalau orang biasa, mungkin sudah pasti akan menghindar dengan cara om Bram yang makin menjurus ini. Siapa yang tega meladeni pria yang disukai oleh sang mama? Cuma aku saja, mungkin. Tapi, aku punya alasan tersendiri. “Iya, Om. Nggak apa-apa. Kalau nggak sempat juga nggak masalah, nggak usah dipaksakan.” Aku sengaja menjawab ngawur. “Bukan itu maksudnya, Dri.” Om Bram tersenyum kikuk. “Terus, apa dong?” “Maksudnya, nggak apa-apa kan kalau om menghubungi lewat kamu aja?” Iyaaa, om. Aku ngerti, kok maksudnya apa. “Ooh. Ya nggak apa-apalah. Kan udah biasa.” Aku mengulum senyum. Lugu saja terus sampai akhir, Dri! “Oke. Ya udah, kamu tidur dulu, gih. Udah malam. Nggak baik anak gadis keseringan begadang.” “Iya, ya Om. Pak haji Rhoma juga bilangnya gitu. Kalau kebanyakan begadang, muka bisa pucat karena darah berkurang.” “Dih, hafal. Suka sama lagu dangdut juga, Dri?” om Bram tertawa lepas. “Nggak sengaja hafal, Om.” “Ya udah. Tidur dulu, biar cantiknya nggak hilang. Maksudnya … kalau pucat, kan cantiknya berkurang?” Terserah saja, deh. Mau memuji saja kok ribet banget, om. “Oke. Udah, ya Om.” “Oke. Bye, Dri. Good night and sweet dreams.” “You too.” Anehnya, ia tak juga mematikan sambungan. Sementara, aku mengharap om Bram yang lebih dulu melakukan itu. Alhasil kami masih terhubung dengan wajah yang saling menampilkan senyum simpul. Dahlah, aku mengalah saja. Bahaya! Selesai mata kuliah terakhir, aku ditemani Chyntia dan Sendy memilih nongkrong dulu di kantin. Pilihan tetap sebelum memutuskan pulang, atau malah jalan bareng ke Mall meski hanya sekedar shopping window. Bisa sering-sering bersama seperti ini, terasa mulai langka sejak kedua sahabatku itu memiliki gandengan baru. Biasanya, mereka akan dijemput pacar masing-masing untuk kemudian jalan entah kemana. Tapi kabar baiknya—setidaknya bagiku-- keduanya entah mengapa kompak telah memutuskan para pacarnya. Hingga tentu, kami bisa kembali lagi seperti dulu. Kumpul bersama, meski hanya untuk sekedar membahas hal-hal unfaedah. “Seriusan nih, kalian resmi menjomlo lagi? Padahal kayaknya, beberapa hari lalu masih pada dijemput sama ojek eksklusif masing-masing,” kataku, memastikan sebelum memutuskan memesan smoothie dan bakso beranak. Jangan sampai lagi asyik-asyiknya makan, tahu-tahu mereka malah dijemput. Kan, kasihan banget aku makan sendirian. Meski tak ada yang percaya juga, sih kalau aku termasuk kategori jones. Tapi sumpah, bersama-sama masih jauh lebih baik ketimbang sendiri. Terlebih macam diriku, yang tak gampang mengakrabkan diri dengan orang lain. Tidak lucu, kan, cewek dengan kualifikasi hampir sempurna seperti diri ini, harus plonga-plongo doangan di kantin. “Iyaa, tenang aja. Kita kan solider sama kamu, Dri. Mana mungkin sih, kita berdua heppy-heppy di atas nelangsamu,” jawab Chyntia kalem, seraya mengelus-elus rambut sebahuku. Reflek, aku menghindar dengan ekspresi geuleuh. “Njiiir, nelangsa? Bahasamu dikondisikan, Cyn!” Sendy tergelak-gelak, merasa lucu mendengar jawabanku. “Chyntia bener, Say. Kita ini terpaksa cari gara-gara buat putus, hanya demi solider sama kamu yang masih jomlo. Sahabat sejati kan, kita?” “Preet! Aku curiga, palingan juga pacar-pacar kalian pada potong bebek lagi. Sorong ke kiri dan ke kanan. Ya kan?” aku mencebik mual. “Itu mah si Sendy. Aku tuh memang udah lama niat mau mutusin si Jody. Ga betah sama perilaku posesifnya. Baru pacaran kok menghayati banget. Berasa kayak bininya, aku,” keluh Chyntia. “Menghayati gimana? Sampe minta nafkah batin, maksudnya?” Chyntia mengeplak kepalaku dengan diktat yang dibawanya. Aih, untung tidak tebal. “Otakmu rendam pake rinso dulu, gih. Piktor terooss!” “Lha?” “Ya posesif, gede cemburunya. Sok ngatur-ngatur. Mending ngasih transferan. Cuma sanggup traktir makan aja banyak nuntut!” “Salah sendiri anak rantau kamu pacarin! Modal ganteng doangan, dapat apa hari gini?” celutuk Sendy. “Eh, ngaca, Sen! Nasibmu tuh jauh lebih apes ketimbang aku, ya. Nah kamu? Pacar udah nggak seberapa ganteng, pake selingkuh segala. Nggak kepengen makan beling, tuh?” “Tapi tajir!” sergahku. “Tapi perhitungan!” Chyntia tak mau kalah. Alih-alih tersinggung, Sendy malah membenarkan. “Iya tuh, bener! Masa tu si medit ngungkit-ngungkit semua pemberiannya pas aku putusin. Ogah bangetlah aku. Kembalikan dulu waktu berharga aku selama ini karena udah mau jadi pacar dia.” “Apa, Sen? Kembalikan keperawanan?” aku mendramatisir, berlagak b***k. Kontan Sendy menyentil keras keningku. Ya Allah, punya sahabat kok pada main kekerasan melulu dari tadi. “Kuping dibersihin, Dri. Cotton bud nggak mahal, kok!” Aku hanya cengengesan. Beginilah kami. Tidak usah heran bila kalian atau siapa pun melihat kami seperti ini. Bercanda tiada sekat dan batas, tanpa perlu merasa sensi apalagi baper. Tidak perlu repot-repot memperhalus bahasa, karena tak pernah ada rasa tersinggung dalam kamus kami. Kekhidmatan pergosipan terhenti seketika karena sebuah sapa. Aku bahkan sampai tersedak, yang reflek di respon Sendy dengan menepuk-nepuk punggungku. Demi Sponge Bob yang penuh lubang tapi bukan jalanan rusak, Sesosok pria tinggi dengan gaya rambut ala-ala oppa korea, tengah berdiri di hadapan kami dengan gaya cool, memamerkan senyum manisnya. Erlangga Pahlevi. Untuk ukuran pria yang  kuanggap tak terlalu penting, aku agak heran kenapa otak ini masih saja mengingat namanya dengan baik.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD