Yah, dia. Erlangga Pahlevi—sosok pria yang pernah bermaksud dijodohkan mama denganku. Pria yang keberadaannya kuanggap selesai di hari itu juga. Jadi, aku berhak sedikit heran, kan dengan kemunculannya yang tiba-tiba seperti ini? Please, jangan bilang ini adalah kebetulan. Karena aku tak percaya!
Sendy dan Chyntia saling berpandangan, untuk kemudian menatapku dengan sorot serupa. Sama-sama menanti penjelasanku akan sosok yang sialnya memang ganteng itu. Selama ini, jangankan pacar, seseorang yang ditengarai special pun, aku tak punya. Jadi wajar kalau duo sahabatku itu penasaran akan siapa Erlangga dan apa hubungannya denganku.
“Hallo Dri, sudah selesai kuliah, kan?” sapanya, ramah.
“U … udah. Ini lagi makan siang dulu. Belum dibayar juga, kok. Eh.” Entah kenapa, aku merasa tak terlalu siap menghadapi cowok satu ini. Aduh, kayak bukan aku banget!
Sendy mengalihkan pandang ke arah lain, sedang Chyntia mendadak menunduk memperhatikan kuku kakinya karena mendengar jawabanku. Memang kenapa? Agak ngawur, sih memang. Tapi perasaan, masih biasa saja!
Erlangga tersenyum penuh pengertian. Ia menarik kursi di samping Sendy, tepat di hadapanku. Duduk di sana dengan tenang dan full percaya diri.
“Oh. Boleh gabung? Biar saya yang traktir, sebagai salam perkenalan juga untuk teman-teman kamu.”
Tahu begini, kenapa nggak sengaja bertemu di kafe yang bonafid sedikit sekalian? ditraktir smoothie dan bakso beranak, tidak terlalu mengesankan sama sekali untukku.
Sendy dan Chyntia mengangguk antusias. Dasar awewe-awewe matre! Nggak ada jaimnya biar sedikit juga. Keduanya kompak menyepak-nyepak kakiku, sebagai kode pengganti pertanyaan. Tentu saja mereka heran dengan akan kehadiran cowok tak dikenal ini. Semuanya terlalu … ujug-ujug!
Aku memang tak pernah menceritakan apapun pada mereka tentang Erlangga. Meski terkesan ceplas-ceplos penuh keriangan, sebetulnya, aku tak terlalu seterbuka itu. Bercerita tentang keluarga khususnya mama, itu membuatku merasa tak nyaman sama sekali.
“Kalian kenapa? Dari tadi nyepak kaki aku terus. Kalian pikir, yang punya kaki lagi ninggalin kakinya disini? Kalau kepengen banget tahu siapa cowok ini, fine, akan aku jelasin,” keluhku.
Berakting tetap woles padahal ingin menjitak itu tidak gampang. Aku bisa rasakan itu dari aura para sahabatku yang keep calm meski sudah aku skak mat. Erlangga tertawa melihat tingkah kami. Kemudian, aku memperkenalkannya pada Sendy dan Chyntia sebagai anak teman mama.
“Sandrina.”
“Chyntia.”
Jabatan perkenalan diri Sendy dan Chyntia, dibalas Erlangga dengan menyebut namanya. Dapat kulihat sikap welcome dua sahabatku itu pada Erlangga. Obrolan ringan nan santai bergulir, seolah kami memang seakrab itu.
Terus-terang, aku merasa tak nyaman. Aku terus menerka-nerka maksud kedatangan Erlangga ke kampus. Kukira, setelah beberapa minggu tanpa kelanjutan, Erlangga memilih bersikap realistis dengan mencoretku dari daftar perjodohan.
Tapi dari cara dia datang dan tahu jadwal kuliahku-- terlebih mengerti harus mencariku kemana-- aku yakin, setidaknya ia mencari tahu tentang diriku. Dan itu bukanlah hal yang sulit. Siapa manusia di fakultas hukum kampus ini yang nggak kenal dengan aku? Sekali kau bertanya secara random ‘apa kamu kenal Adrianna?’ , bisa dipastikan hampir semua dari mereka akan menjawab : ‘ Adrianna yang tinggi langsing, yang cantik itu? Mahasisiwi semester 6? Oh, tentu saja’
“Senang banget bisa bertemu dan ngobrol bareng kalian. Tapi maaf, boleh nggak kalau aku culik teman cantik kalian ini sebentar?”
Setelah agak lama ngobrol ngalor-ngidul, Erlangga mulai menyampaikan maksudnya. Aku terkejut dan menatap Sendy serta Chyntia penuh pengharapan. Semoga mereka keberatan dan menolak.
“Silahkan Kak, culik aja. Asal jangan lupa dikembaliin pulang,” jawab Sendy, tanpa merasa perlu berpikir.
“Iya, Kak. Bawa aja. Kami malah seneng kok. Sumpah!” Chyntia menimpali, membuatku melotot tak terima. Ada apa, sih dengan mereka? tidak ada peka-pekanya sama sekali jadi sahabat!
Erlangga terbahak seraya mengacungkan jempolnya. Ia lalu menatap ke arahku dengan sorot penuh permohonan. Kedua belah jemarinya saling menangkup, bikin melas.
“Udah Dri, pergi aja!” Chyntia ikutan membujuk tanpa mau tahu dengan ekspresi wajahku yang meminta kode pertolongan.
“Iya, udah kenyang juga kok kita.” Sendy juga ikut-ikutan menimpali.
Aku bersumpah akan membalas mereka lain kali. Teman macam apa sebenarnya mereka itu? Huh! Sudah sejak lama mereka sering menjodoh-jodohkanku dengan siapapun yang mereka anggap pantas. Dan aku, memang tak pernah terlalu menanggapi.
Tanpa punya pacar pun, aku yakin tidakk akan ada yang bakal menuduhku tak laku. Jadi, ketika mereka menyaksikan sendiri seorang cowok ganteng sengaja mencariku ke kampus, mereka pasti mikirnya Erlangga is someone special for me.
Akhirnya, karena merasa tak ada dukungan dan juga tak enak pada Erlangga, aku memilih pasrah. Oke, let’s see, apa mau pria ini sebenarnya. Dan aku berpikir akan mengucapkan kalimat apapun nanti secara jelas dan terang. Magister bisnis keluaran Singapur ini tampaknya tak terlalu paham dengan bahasa isyarat penolakan. Wokeh … ayo kita buat semua menjadi lebih jelas!
Aku memasuki mobil setelah Erlangga membukakan pintunya untukku. Wow, sebuah usaha yang cukup gentle. Ini kali pertama seorang cowok memperlakukanku seperti itu. Selama ini, tak pernah ada yang terpikir untuk melakukan hal semodus demikian. Terlalu sinetron. Aku pun tak gila penghargaan. Tangan juga masih sehat, apa susahnya sih, buka pintu mobil sendiri doangan?
Saat mulai meninggalkan pelataran parkir, tak sengaja mataku menangkap sosok pria yang duduk di balik kemudinya. Mobil yang ia kendarai baru saja hendak masuk, berpapasan dengan milik Erlangga yang sudah keluar.
Kaca mobil itu terbuka full, hingga meski hanya beberapa detik, aku bisa melihat dengan jelas siapa dia. Dadaku berdebar tak karuan begitu saja. Kenapa aku merasa seperti perempuan yang kepergok selingkuh?
Dia … om Bram! Abraham Hafizh. Tatapan kami sempat bertemu sejenak, dan aku terus mengawasinya dari spion samping. Hingga mobil yang dikemudikan Erlangga berbelok dan memutus semuanya.
Erlangga membawaku ke sebuah kafe yang cukup elit. Jujur, aku tak terlalu memperhatikan apa yang sejak tadi dibicarakannya. Yang jelas, masih basa-basi begitu.
Pikiranku terlanjur penuh dengan bayangan om Bram. Tatapan tajam yang menyertai kepergianku tadi, serasa begitu berefek hingga ke tulang sum-sum. Surprised? Tentu saja! Rasa penasaran ini terlalu menggebu memikirkan pria matang yang tentunya cukup sibuk itu mau-maunya mendatangiku ke kampus.
Eh, tunggu dulu. Apa mungkin, dia ada urusan lain di kampus yang tak ada hubungannya sama sekali denganku? Ge-er ku menolak kemungkinan itu. Sudah jelas, ia bermaksud menemuiku. Sayangnya, kenapa om Bram tak menghubungiku lebih dulu?
Chat dan telpon tak terlalu penting saja sering ia lakukan, kenapa untuk hal yang satu ini justru tidak? Kenapa ia harus melihatku dijemput cowok ganteng muda dan masih single? Maksudku, ini bukan saja karena akan mengakibatkan rasa tak enak berujung salah paham. Aku hanya takut, ia merasa insecure. Dan aku tak menginginkan hal itu.
Kalau tak malu pada Erlangga, aku pasti akan meminta berhenti dan menyuruh anak tante Sherly itu untuk mengajakku pergi lain kali. Bagaimana mungkin aku menatap om Bram tadi, namun tetap meninggalkannya begitu saja? Kira-kira, apa yang ia pikirkan tentang aku?
“Dri? Kamu dengar aku, kan?” pertanyaan Erlangga mengusik lamunanku tentang duda ganteng itu.
“Eh? Oh, tentu saja!”
“Lalu, pendapatmu bagaimana?” tanyanya lagi, mengagetkan. Tunggu dulu. Apa aku baru saja telah melewatkan sesuatu yang penting?
“Pendapat … ku?”
“Ya. Aku betul-betul serius menanyakan pendapatmu tentang kelanjutan hubungan kita.”
Hah? Apa iya kami punya semacam hubungan tertentu hingga perlu untuk ditanya kelanjutannya? Sepertinya tidak. Iya, kan?
“Hubungan kita? Apa kita punya hubungan seperti itu?” aku memilih mempertanyakannya. Erlangga menghela nafas. Apa aku salah bicara?
“Dri, kamu nggak konsen. Kayaknya, kamu nggak dengerin aku dengan baik. Justru karena kita belum ada apa-apa, makanya aku ingin tanya lebih lanjut. Aku serius ingin penjajakan dengan kamu. Pendapat kamu gimana?”
Ya. kamu benar, Er. Aku tidak sedang konsen sama sekali. Sementara benak ini sibuk memikirkan om Bram, chat dari Sendy dan Chyntia pun tak henti bergantian masuk, menerror.
[Siapa dia, Dri? Tega kamu yaa … nggak cerita sama kita]
[kamu bener-bener hutang penjelasan ke kita!]
[Eh, ganteng juga ternyata gebetan kamu, Dri. Nggak nyangka, pinter juga kamu nyari yang bening]
[kalau hubungan kamu nggak berjalan lancar, ingatlah Dri, kalau aku akan dengan senang hati bakal menampung dia]
Dasar sahabat tak ada akhlak! Aku hanya membiarkan chat mereka terbaca tanpa niat membalas. Kembali ke Erlangga, gantian aku yang menghela nafas. Berada di posisi ini, aku kok jadi merasa seolah sok iyes. Sok kecantikan hingga merasa perlu berpikir dua kali saat sosok dengan kualifikasi premium seperti Erlangga mempertanyakan kemungkinan hubungan romansa denganku.
Tapi, aku betul-betul tidak tertarik. Setidaknya, untuk saat ini. Terlebih, aku tengah menyusun suatu rencana besar yang mungkin akan mempengaruhi masa depanku. Jadi berurusan dengan pria, apalagi menjalani hubungan tertentu, bukan bagian dari planningku sama sekali. Kecuali … om Bram?
“Aku bukan nggak konsen, Mas. Tapi aku terlalu heran memikirkan bagaimana mungkin pria sekelas Mas Er, mau melirikku yang cuma mahasisiwi belum tamat? Aku nggak punya prestasi atau prestise apapun yang bisa membuat posisi kita sejajar,” kilahku.
“Oh C’mon, Dri. Itu bukan alasan yang masuk akal. Tapi, lumayan keren untuk bahasa halus sebuah penolakan.”
Wih, nyindirnya ngena banget! Meresap sempurna hingga ke tulang sum-sum. Kukira dia bebal, tapi ternyata cukup smart juga.
“Aku nggak bermaksud menolak. Cuma … timingnya belum pas aja. Aku masih harus konsen mikirin kuliah, pengen juga ngerasain kerja. Dan penawaran Mas Er, terasa begitu tiba-tiba untuk aku. Ini hanya semacam the right thing on the wrong time. Seperti itu.”
“Aku bisa bersabar nunggu kamu sampai lulus. Aku juga nggak sekolot itu untuk ngelarang kamu kerja setelah kita nikah nanti. Tapi tentu, dalam situasi apapun, rumah tangga tetap hal yang utama, kan?”
What? Nikah? Canda nikah. Sepertinya, menghayalnya sudah kejauhan dia. Rumah-tangga dari Hongkong!
“Aku perlu waktu, Mas. Ini bukan hal yang bisa aku putuskan tanpa berpikir matang dulu, kan?”
Ah elah! Kenapa juga lidah ini terasa berat untuk frontal saja menolak? Apa mungkin secara tak sadar, aku masih menghargai kesopanan dan ke-gentle-annya?
Sebuah notifikasi pesan masuk di ponselku. Membuatku seketika terlonjak dan merasa harus untuk segera membacanya.
[Dri]
[kamu ada waktu nanti malam? Boleh saya jemput kamu di rumah? Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan]
Aku merasakan detak jantung yang tak beraturan karenanya. Aku memiliki firasat kuat ini tentang apa.
“Tentu saja. Aku ngerti itu. Tapi please, ijinkan aku untuk tetap dekat dengan kamu, ya? Kita bisa jalani ini dulu tanpa kamu harus merasa terbebani.”
Aku bahkan tak mendengarkan ucapan Erlangga dengan jelas. Pikiranku terfokus utuh pada chat si duda ganteng yang ingin bertemu denganku secara pribadi. Bukankah ini adalah hal yang bagus?
“Tentu saja.” Tak sadar, kugumamkan kalimat jawaban untuk om Bram. Jariku pun reflek mengetikkan kata yang sama.
“Terima kasih ya, Dri,” sahut Erlangga, salah paham.
Kutatap Erlangga dengan nanar. Bibirku terkunci dan tak tahu apa yang harus kukatakan untuk menjelaskan, bahwa ucapanku barusan bukan ditujukan kepadanya.