Pertemuan Pertama Secara Pribadi

1229 Words
“Kamu mau ke mana, Dri?” Mama mengernyit heran, demi melihatku yang telah rapi dan modis malam ini. Aku memang tergolong gadis rumahan. Aktivitas pasti dan rutin, hanya kuliah. Meski kadang sepulang kuliah sering juga hang out, tapi aku tak pernah keluar lagi bila sudah pulang. Keluar malam pun, bisa dihitung dengan jari. Kecuali bersama mama, aku bahkan nyaris tak pernah melakukannya. Jadi, tak heran bila mama merasa perlu bertanya seperti itu. “Mau ke rumah Chyntia, Ma. Papi-maminya katanya sedang nginap di rumah opa Chyntia di bogor. Aku dan Sendy diminta nemenin dia di rumah,” jelasku, tentu saja bohong. “Nginep?” “Enggak, sih. Palingan sampai jam 10 aja.” “Terus, kamu pulangnya gimana?” “Tenang, Ma. Sopirnya Chyntia bakal nganter, kok, nanti.” “Oh. Oke.” Meski bila ada maunya tak suka bila dibantah, mama tergolong orang tua yang permissive. Yang penting tidak terlalu pulang larut dan menginap . Dan demi kelancaran untuk berjaga-jaga, aku juga mengontak Sendy dan Chyntia agar sekongkol menutupi perbuatanku. Mereka mengira, aku jalan sama Erlangga. Dan keduanya dengan senang hati membantuku. Aku bergegas menuju pintu gerbang. Taksi online yang tadi kupesan, sudah ada di depan rumah. Sengaja kupinta pada om Bram untuk tak menjemputku di rumah. Gila aja. Apa komentar mama kalau dia tahu? Aku belum siap sama sekali kalau mama akan tahu secepat ini. Siapapun yang berpikiran normal, pasti akan langsung tahu apa yang terjadi antara aku dan om Bram. Bagaimana mungkin mama akan menerima dengan wajar, bila pria yang ia sangka menyukainya, malah datang menjemputku tanpa melibatkan dirinya sama sekali? Meski berlagak naïf, aku toh bisa meraba apa maksud om Bram. Jadi, aku belum ingin mama mengetahuinya. Biarlah dia tetap merasa seperti pemeran utamanya. Jadi akhirnya, kami sepakat untuk langsung bertemu di café yang ia tentukan. Awalnya, om Bram merasa  keberatan dan kekeh ingin tetap menjemputku di rumah. Terus-terang, aku jadi penasaran dengan isi kepala om Bram. Bagaimana mungkin ia ingin terang-terangan seperti itu? Kurasa, ia tak sebodoh itu untuk paham, kalau mama begitu tergila-gila padanya. Lah, dia sendiri juga menanggapi. Meski maksudnya hanya demi sopan-santun atau pertimbangan lain, yang jelas, mama sudah merasa yakin kalau om Bram tertarik padanya! Sesampainya di café yang dimaksud, aku diantar oleh salah seorang pelayan menuju sebuah private room . Om Bram tampak tengah asyik mengamati pemandangan taman buatan yang cukup menyegarkan mata. What a wonderful view! “Malam, Om,” sapaku. Ia menoleh dengan cepat. Saking seriusnya, ia bahkan tak mendengar ketika pintu ruangan terbuka. Kurasa, om Bram tengah sibuk memikirkan apa yang akan menjadi pembahasan kami sebentar lagi. “Adrianna … ayo, silahkan duduk.” Om Bram berdiri dan menyorongkan kursi dihadapannya untukku. “Terima kasih,” gumamku, lumayan terharu dengan sikap manisnya. Tatapan kami beradu sejenak, sebelum aku memutuskan untuk mengakhirinya. “Aku yang terima kasih, kamu sudah mau datang. Mestinya, aku yang menjemput langsung di rumah, “ ucapnya, seketika membuat bulu kudukku meremang. Wah, ini sudah kode keras. Om Bram bahkan mengubah panggilan dirinya dari ‘saya’ atau ‘om’ menjadi ‘aku’. Meski kalau ngecek di KBBI artinya itu-itu juga, tapi tentu, maknanya beda. Lebih akrab, lebih intim. Gitu, kan? Kalau aku sendiri sih memang sudah terbiasa menggunakan kata ganti seperti itu. Jadi, nggak terlalu mencurigakan. “Kita pesan sekarang, ya, Dri?” tanyanya lagi. “Terserah Om saja.” Sebagai pihak yang diundang, aku sih bagaimana maunya orang yang keluar duit saja. Om Bram menekan tombol di atas meja, dan tak lama, seorang pelayan pun datang memasuki ruangan. Aku menyerahkan pilihan menu padanya ketika ia bertanya. Makan apa saja tak masalah bagiku. Aku lebih fokus menantinya bicara ketimbang memilih menu premium yang akan berakhir sama saja di perutku. Kami saling terdiam beberapa saat setelah pelayan pergi. Dapat kurasakan gestur om Bram yang tak terlalu tenang. Bangga juga sih, gadis minim pengalaman sepertiku, ternyata sanggup untuk membuat duda tajir yang pastinya memiliki jam terbang tinggi, bersikap resah dan salah tingkah seperti ini. “Tadi aku ke kampus, “ ucapnya, memulai. “Iya, Om. Tadi saya sempat lihat Om Bram di parkiran. Sedang ada urusan, ya Om, di sana?” Om Bram menatapku lekat. Mungkin mencari kejujuran di mataku, apakah benar aku selugu itu hingga harus bertanya seperti itu. “Aku sengaja mau jemput kamu tadi. Tapi kamu ….” Ia tak melanjutkan ucapannya.Wow! Om Bram memilih to the point. Aku pun menatapnya seolah heran. “Menjemput … saya? Kok, nggak ngasih tahu dulu sebelumnya?” “Tadinya mau kasih surprise. Tapi  malah aku yang kaget.” Rupanya, om Bram berbicara seolah aku telah memahami maksudnya. Kalau ia memang hanya menganggapku sebagai anak dari calon isterinya, pembicaraan seperti ini tak perlu ada, kan? Akan lebih natural dan masuk akal kalau ia meledekku dengan mengatakan : ‘Hayoo … sama siapa tadi?’ atau semacamnya.     “Yang tadi cuma teman, Om. Kebetulan aja kami searah jalan pulangnya, “ aku menundukkan wajah. “Masa, sih?” “Setidaknya, saya menganggapnya seperti itu.” Pandangan kami bertemu lagi. Sepertinya, aku dapat melihat sedikit ekspresi lega di wajahnya. Terdiam lagi. “Tapi bisa jadi, dia nganggapnya nggak kayak gitu,” om Bram tampaknya masih mau memperpanjang masalah Erlangga. Mungkin, ia merasa harus mendapat jawaban yang membuatnya merasa yakin kalau di antara kami memang hanya teman biasa saja. “Yang kayak gitu, bukan tanggung jawab saya, kan Om?” “Lalu … yang kayak Aku, gimana?” tanyanya, memancing tanpa tedeng aling-aling. Cukup membuatku terkejut dengan gaya lugasnya. Tapi, bukankah aku memang mengharapnya bersikap seperti itu? “Maaf?” aku nggak akan membiarkannya mendapat jawaban semudah itu. Semua harus dikatakan dengan terang dan jelas, ya kan? “Adrianna, kamu ngerti kan maksud aku ingin bertemu seperti ini?” tembaknya. Pengalaman mungkin membimbingnya untuk tak terlalu terjebak dengan sikap polos seseorang. Tentu saja. Tak ada pria manapun yang akan merasa adalah normal saja, bila seorang gadis begitu welcome menanggapi chat dan telponnya, padahal itu adalah situasi yang tak semestinya. Terlebih mengingat hubungan entahnya dengan mama. Sekali pun dengan dalih pendekatan sebagai calon papa tiri, rasanya masih terlalu berlebihan juga. Dan kenyataan yang terjadi, aku menanggapinya dengan baik. Jadi, wajar saja ia bertanya seperti itu. “Entahlah, Om. Aku sendiri pun ingin memastikan. Om mengajak bertemu, bahkan ingin menjemput di rumah. Dan itu tanpa sepengetahuan mama. Sementara, mama percaya kalau di antara kalian … ada sesuatu.” aku memutuskan untuk mengikuti arus. Garing juga rasanya bila terus-terusan berakting lugu. “Karena itulah, Dri, aku merasa harus mengklarifikasi semuanya. Aku nggak ada hubungan apa-apa dengan mama kamu. Sejauh ini—seingatku, aku nggak pernah mengeluarkan statement apapun yang menegaskan kami menjalin hubungan istimewa,” jelasnya, perlahan. Aku tahu itu, om. “Tapi kenyataannya, mama menanggapi lain.” Aku menukas tenang. “Mama kamu … bilang apa, Dri?” Aku mengedikan bahu, mengulas senyum misterius. “Aku yakin deh, Om pasti bisa menebaknya dengan baik. Aku rasa mama juga nggak terlalu salah. Bukankah Om yang memulai lebih dulu? Komunikasi di antara kalian juga intens, kan?” “Benar juga. Tapi kamu harus tahu, semua itu bukan untuk dan tentang mama kamu.” “Lalu?” aku mencecar dengan santai. “Ini … karena kamu!” Kami saling menatap dengan perasaan masing-masing. Aku tak tahu, apakah masih terkesan masuk akal bila harus bereaksi pura-pura kaget menanggapi kalimatnya. “Kenapa karena aku?” “Karena jujur, aku sudah menyukai kamu sejak kita bertemu pertama kali.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD