Meski aku sudah bisa menebak, namun ketika kejujuran itu terucap dari mulut om Bram, tak urung aku merasa kaget juga. Nggak kaget yang gimana-gimana, sih. Lebih ke perasaan lega, karena akhirnya segala sesuatu berjalan sesuai dengan inginku.
Duda matang yang masih awet gantengnya itu menatapku dengan intens. Sepertinya, aku bisa memahami kenapa mama sampai kepincut oleh pria ini. Aura om Bram memang beda. Perpaduan kharisma, wibawa dan pesona, begitu lekat mendominasi hingga siapapun akan beresiko meleleh bila nekat menatapnya berlama-lama.
Tak terkecuali aku, sih. Terus-terang, meski masih menutup pintu hati serapat mungkin, aku lumayan merasa berdebar di tatap seperti itu. Efeknya, merasuk manja hingga ke dalam kalbu dan juga meresap sempurna sampai ke sum-sum tulang. Oke, he’s the firs man yang bisa membuatku merasa grogi hanya dengan modal tatapan saja. Selamat!
“Sejak pertama kali bertemu?” aku mencoba mendapat penegasan akan statementnya tadi.
“Ya. Bahkan sejak kita nggak sengaja bertabrakan waktu itu.” Om Bram mengulum senyum.
“Secepat itu?” aku berlagak melongo. Padahal mah sudah tahu dari dulu. Om Bram mengangguk mantap.
“Maaf untuk perasaan yang konyol ini, Dri. Aku tahu, mungkin kamu merasa mual atau malah ingin muntah mendengarnya. Seorang duda berusia, menyukai gadis yang terpaut umur sangat jauh darinya.”
Jeda.
“Aku juga mencoba untuk menghalau itu, asal kamu tahu. Tapi … entah kenapa, rasanya sulit sekali. Aku seperti pria tak tahu diri yang tak bisa mengendalikan rasa rindu padamu. Aku selalu memikirkan cara bagaimana bisa bertemu denganmu lagi secara langsung. That’s why, aku terpaksa menghubungi Navia, dan meminta bertemu dengan dalih ingin mengenal keluarga kalian lebih dekat lagi,” lanjutnya.
“Dan itu adalah awal salah paham mama kepada Om,” tukasku.
“Yaah … aku juga menyadari itu. Bisa dibilang, aku menyadari kalau Navia memang sudah menyukaiku sejak lama. Di pesta Rossa tempo hari itu, aku bahkan harus menghindari mama kamu yang terkesan selalu menempel mencari perhatian. Sorry to have to say that.“ om Bram merasa tak enak harus menceritakan tingkah mama yang demikian padaku, anaknya.
“No, it’s ok. I know it well too.” aku tersenyum tabah. Memang kenyataannya mama menyedihkan seperti itu, mau bagaimana lagi?
“Dan aku sempat merasa dilema. Di lain sisi, aku ingin menghindari Navia. Tapi di sisi lain, ia adalah jembatanku untuk bisa bertemu lagi denganmu. Semacam itu. Selanjutnya, kamu tahu apa yang terjadi.”
“Bagaimana dengan komunikasi intens di antara kalian?” aku masih mencecarnya.
Om Bram menghela nafas, dan menghembuskannya perlahan. Mirip orang yang tengah membawa beban berat yang menyiksa.
“Semua komunikasi di antara kami—kecuali saat aku meminta keluarga kita bertemu, murni Navia yang memulai. Aku juga tak mungkin menghindarinya begitu saja, karena … dia mama kamu, kan?”
“Jadi, bagaimana ini? Bagaimana cara Om menjelaskan semua pada mama?” aku memasang wajah keruh meski hati ingin tertawa. Jahat, ya aku?
“Tentu aku akan menjelaskan semua padanya. Tapi bagiku, ada hal lain yang lebih penting dari itu,” ujarnya, berteka-teki yang rasanya kutahu apa jawabannya. Ayolah om, berjuanglah!
“Apa itu?”
Om Bram kembali menatapku. Jemarinya bahkan merayap, menggenggam kedua belah jemariku yang menganggur di atas meja. Aku yang tak menyangka, sedikit terkaget dengan aksinya.
Ini bukan kali pertama seorang pria menyentuh jemariku. Tapi entah, rasanya … beda. Aku bisa merasakan aliran darah yang cepat hingga ke ubun-ubun. Menimbulkan sensasi aneh yang membuat hatiku bak dipenuhi ribuan kupu-kupu beterbangan. Mungkin, pipiku sudah semerah kepiting rebus sekarang.
“Yang terpenting bagiku saat ini adalah perasaan kamu, Dri. What kind of feelings that you have for me?”
Aku terdiam beberapa saat dengan hati berdebar. Inhale-exhale … keep calm, Adrianna. Kamu sudah memulai semuanya, maka jangan berpikir untuk mundur sekarang. Semua sudah terjadi, persis seperti yang kuinginkan. Dan tetap melanjutkan rencana, adalah hal yang niscaya, kan?
“Terus-terang, ini terlalu mendadak untuk aku, Om. Jujur, aku memang merasa nyaman dengan komunikasi kita selama ini. Aku bahkan juga sempat berpikir seandainya mama tak menyukai Om.” Aku sengaja menggantung kalimat.
“Tapi bagaimana aku bisa menerima perasaan pria yang disukai oleh mama? Itu … terlalu jahat, kan Om?”
“No! tentu saja tidak! Yang salah adalah, bila sejak awal kami memang ada hubungan istimewa, lalu aku juga menyukai kamu. Tapi, kenyataannya tidak seperti itu, kan? Aku bahkan belum pernah mengucapkan kata cinta pada Navia seperti kepadamu saat ini. Masalah persepsi keliru mamamu … itu bukan kesalahanku, kan?”
Duh, jadi gini ya caranya seorang pria matang mengungkapkan perasaan. Kupikir awalnya, om Bram akan berlaku alay seperti pria muda pada umumnya. Menyatakan cinta sambil menyerahkan buket bunga, atau memberi sesuatu seperti cincin, misalnya.
Tapi yang terjadi di antara kami, mirip seperti tes wawancara dimana pertanyaan dan jawaban lebih mendominasi, bukan pembicaraan romantis yang kami adalah pemeran utamanya, alih-alih orang lain.
“Tetap saja, Om. Semua akan terasa berat untuk aku.” Aku merasakan genggaman jemarinya yang lebih mengerat.
“Please, give a chance. Nggak adil kalau kamu menolakku karena alasan Navia. Kecuali kalau ….”
Aku balas menatapnya dengan raut penasaran.
“Kecuali kalau … kamu memang nggak punya perasaan sedikitpun ke aku. Boleh aku tahu jawaban yang sejujurnya, Adrianna?” tatapan matanya kian menentang jauh, hingga berefek ke hati. Ah, sial. Aku agak tak terlalu menyangka kalau akan sedikit gemetar karenanya. Fix, dia bukan pria sembarangan.
“Menurut Om?”
“Aku merasa … kamu memahami perasaan aku dan tak juga berusaha untuk menghindarinya. Apa aku salah?”
Nah, kan. That’s why, girls, kenapa kita nggak bisa sembarangan bersikap ramah ke setiap cowok. Terlebih bila selalu meladeni chat dan telponnya, mereka akan menyimpulkan secara sepihak kalau kita tertarik padanya. Tidak pernah ada pertemanan tok antara laki-laki dan perempuan. Sedikit banyaknya, pasti diwarnai perasaan khusus meski hanya sepihak saja yang memilikinya. Untungnya dalam kasusku, aku memang melakukannya dengan penuh kesadaran. Alias sengaja.
“Entah juga, Om.” Aku tersenyum samar.
“Sekali lagi, aku tahu mungkin kamu beranggapan kalau perasaan aku ke kamu adalah hal konyol yang seharusnya nggak perlu terjadi. Kamu lebih pantas mendapat pria yang sepadan dalam segala hal. Maaf untuk itu, Dri. Tapi … bisakah kamu memberi aku kesempatan untuk menjadi pria yang beruntung itu?”
“Apa yang Om suka dari aku? Kecantikan? Usia muda? Selain itu, aku merasa nggak punya apa-apa,” tukasku, to the point menyentilnya. Beri aku jawaban yang bijak, Om. Sekalipun hanya lip servis, aku membutuhkan itu agar tak terlalu menyesal untuk melangkah lebih jauh.
“Terus-terang, aku sendiri nggak tahu, Dri. Semua terjadi begitu saja. Kamu bukan gadis muda cantik pertama yang aku temui. Aku sendiri berharap untuk bisa mendapat pengganti yang tak beda jauh dari diri sendiri. Dalam hal umur, khususnya. Tapi … semua patah begitu saja sejak kita bertemu. Aku terlalu nggak tahu diri, ya?”
Jeda sejenak.
“Jadi Adrianna, apa jawabanmu?” lanjutnya lagi.
Pembicaraan kami terputus karena pesanan datang. Dengan cermat, pelayan menghidangkannya di atas meja. Senyum ramah dan ucapan ‘selamat menikmati’ menjadi ritual penutup sebelum kami kembali lagi ke suasana sebelumnya.
Om Bram mengajakku untuk menikmati hidangan tanpa membahas lagi pembicaraan tadi. Kami menikmati makan malam dengan tenang. Dapat kurasakan gesture om Bram yang memperhatikanku dengan lekat. Sesekali tatapan kami bertemu, dan aku memilih bersikap wajar di antara jantung yang berdetak tak biasa.
Pembicaraan juga tak berlanjut meski acara makan telah usai. Aku sengaja tak memberinya jawaban secepat itu. Bahkan hingga akhirnya kami memutuskan pulang. Om Bram memaksa untuk mengantar meski aku berkeras menolak.
“Kamu bisa bilang kalau aku ini grab atau apapun kalau Navia bertanya,” ujarnya, seolah tahu apa yang kupikirkan.
Akhirnya, aku pasrah saja. Berharap mama sedang tak berada di balkon kamarnya hingga bisa melihat siapa yang mengantarku pulang.
Suasana di perjalanan lebih banyak didominasi hening. Baik aku atau om Bram, seolah kehabisan ide untuk memulai pembicaraan. Entah apa yang tengah berkecamuk di benak duda ganteng itu. Aku hanya berharap, ia tetap konsisten dan tak gentar dengan sikapku yang menggantung. Berjuang nggak ada yang mudah, ya kan?
Hingga akhirnya SUV yang dikendarai om Bram berhenti di depan gerbang rumah, kami masih terperangkap bisu.
“Maaf, aku nggak bisa menawarkan Om untuk mampir,” ucapku akhirnya. Sekilas aku melirik balkon kamar mama yang tampak gelap. Aman!
“Nggak apa-apa, aku ngerti.” Ia tersenyum tipis.
Om Bram berniat keluar, mungkin ingin membukakan pintu mobil untukku. Aku mencegah dengan menyentuh pelan pergelangannya. Dapat kurasakan tubuhnya yang menegang karena sentuhan ringan itu. Ya ampun, om. Baru begitu doang!
“Nggak usah, aku bisa sendiri.”
“Nggak apa-apa.” Ia bersikeras. Aku mencekal lebih erat.
“Om pengen aku cepat turun?” godaku.
“Eh … nggak gitu. tentu saja nggak!” Om Bram tampak salah tingkah. Ya Allah, berhadapan sama duda berpengalaman, kenapa justru aku yang jadi pemeran utamanya?
“Mengenai yang tadi Om tanyakan … oke, aku akan memberi kesempatan untuk Om.”
“Kamu … serius?”
Aku mengangguk. Duhlah, aku merasa gemas melihat raut wajahnya yang menatapku dengan sepenuh bahagia. Aura gantengnya, kenapa makin jelas terpancar?
“Bye, Om” aku memutuskan pamit secepatnya. Tahu kenapa? Meski aku sendiri tak tahu bagaimana isi perasaan ini sesungguhnya pada om Bram, tapi aku tak yakin dapat berlama memandangi wajahnya tanpa merasa khilaf. Aku bahkan hampir tertantang untuk menciumnya tadi. Dan sebelum itu terjadi, kabur adalah pilihan terbaik, kan?