Aku Belum Bisa Memaafkanmu, Ma.

1909 Words
Esoknya di kampus, aku tak bisa berkutik dengan serangan duo Sendy dan Chyntia. Tanpa tedeng aling-aling, mereka menuntut penjelasan serinci mugkin. Tentang Erlangga, siapa lagi. “Jelaskan yang sedetil-detilnya tentang Erlangga, Dri! Kok bisa-bisa nya kamu nggak cerita ke kita tentang dia? curang amat sih jadi sahabat! Aku lho, mau apa selalu cerita sama kamu. Sama Chyntia juga!” sembur Sendy. “Tau nih, Adrianna. Punya pacar kok diem-diem aja. Dia itu single, kan? Bukan laki orang? Kok diumpetin segala? Tau-tau muncul di depan kita, ngagetin kayak jaelangkung!” Chyntia menambahi. “Terus, dari kampus kemarin kalian pergi kemana?” “Bener, tuh. Sekalinya jalan, nggak cukup sekali. Malemnya kalian ke mana lagi?” Bukan salah mereka sih, kalau menduga aku jalan sama Erlangga semalam. Tapi dalam situasi absurd seperti itu, aku harus menjelaskan apa? Sampai aku memberi jawaban semalam, semua masih belum jelas. Sayangnya, someone special itu bukanlah Erlangga. Kalau aku cerita tentang om Bram, kira-kira apa reaksi mereka? Terus-terang, aku agak ngeri untuk bercerita jujur. “Jawab, ngapa! Kamu kenal dimana sama dia? kelihatannya dia bukan mahasiswa kampus kita, kan?’ “Kelihatannya juga, dia beberapa tahun di atas kita gitu. Penampilannya perlente, nggak mirip anak kuliahan yang masih dibiayain orang tua,” Ujar Chyntia, mengemukakan analisanya. “Tau banget deh si Cynta kalau soal itu mah. Mantannya anak yang masih nyusu sama orang tua, soalnya.” Sendy tergelak, setengah meledek. Chyntia merengut, melempar kulit kacang pada Sendy. Lalu tak lama, kembali menatapku dengan serius. “ Guys, kalian salah paham. Erlangga, dia bukan pacar aku. Kami nggak ada hubungan apa-apa sama sekali.” “Bohong banget!” “Masa sih, ah?” Kedua sobatku itu menatap dengan sorot tak percaya. “Sejujurnya, mama memang sempat mau jodohin aku sama dia. tapi setelah pertemuan itu, kami berpisah begitu aja. Sampai kemarin, dia tau-tau datang ngejemput aku ke sini. Kalian tahu sendirilah.” “Njiir … dijodohin. Kayak nggak laku aja, kamu Dri!” celutuk Sendy, nyengir. “Terus, ada cerita kayak gini, kok kamu nggak pernah cerita?” tuntut Chyntia. Lalu, ia tampak berpikir sejenak. “Yang waktu itu, yang kamu datang ke salon aku, itu untuk acara sama Erlangga ya jangan-jangan?” lanjutnya lagi. “Bukan. Itu acara mama aku sama keluarga calon suaminya.” Aku mencoba menjawab dengan nada wajar. Mereka tidak tahu saja …. “Oh, oke. What ever! Terus, tadi kamu bilang nggak ada hubungan apa-apa sama dia. Bukannya katanya kalian dijodohin?” Chyntia masih menuntut penjelasan. “Kelihatannya, Erlangga juga suka banget sama kamu. Terus, kenapa bisa nggak ada hubungan apa-apa?” Sendy ikut menimpali. Aku mencoba menghela nafas. Selanjutnya, aku tahu ini tak akan mudah. “Aku … nggak punya perasaan apa-apa sama dia.” “Cih, belagu! Jawaban macam apaan itu?” “Jangan sok iyes deh, Dri. Kamu beneran nolak cowok semacam Erlangga gitu?” Keduanya nyaris berkomentar bersamaan dengan inti reaksi yang hampir serupa. Aku bilang juga apa. Ini tak akan mudah. Setelah ini, aku pasti bakal di bully habis-habisan. “Kalau mau jual mahal, jangan kebangetan dong, Dri. Memangnya, Erlangga kurang apa? Kamu mau cari yang model gimana lagi?” “Tau nih anak! Nggak bersyukur banget. Erlangga mah udah ganteng, tajir juga kelihatanya. Nggak kayak mantannya si Sendy yang cuman menang materi doang, wajah nol besar!” Sendy mendelik, menatap tajam pada Chyntia yang tak tampak merasa sungkan. “Atau kayak mantannya si Cynta, ganteng doang tapi kantongnya bolong. Kalau jalan, selalu pake alesan dompetnya ketinggalan!” balasnya, kejam. Aku jadi gagal menyembunyikan senyum. Sesama orang apes aja kok saling nyenggol! Tapi tak lama, fokus keduanya kembali terarah kepadaku. “Oke, ceritain aja alesannya kenapa kamu bisa nggak suka sama dia? Kali aja keterima akal sehat aku!” Tuntut Chyntia lagi. “Atau kamu cuma lagi sok jinak-jinak merpati aja, kan? Minta dikejar gitu, kan? Ngaku, deh!” “Please, bestie … jangan menilai sesuatu berdasar dari pengalaman kalian sendiri. Kenapa aku nggak suka sama dia, ya karena nggak suka aja! Nggak ada alasan tertentu.” Keduanya kompak menatapku dengan sorot melecehkan. Membuatku diam-diam merasa merinding juga. Sepertinya, aku sudah berbuat dosa besar gitu bagi mereka. “Fix, belagu nih anak!” Sendy geleng-geleng kepala. “Terus, kamu ngerasa daebak gitu udah nolak cowok sekeren dia? belom tentu terulang dua kali, Dri. Kamu mau kualat?” Chyntia berdecak sebal. “Komentar Erlangga apa? Dia nggak sebodoh itu, kan masih tetap mau ngejar kamu?” “Tau begitu, mending aku tebar pesona aja kemarin. Hanya saja, aku masih mandang kamu. Tapi yang dipandang, malah nggak tahu diri!” sungut Chyntia. Sendy memandang ke arahnya dengan mata memicing. “Kamu serius mau tebar pesona? Yakin, mau saingan sama aku?” tanyanya. “Dih … nyadar, Sen. Mending balikan ajalah sama si Adrian sana!” “Big OGAH!” Sendy kontan memasang ekspresi jijik. Preet, padahal kemaren doyan! “Udah ah, kalian kok memprihatinkan gitu. Erlangga aja belum tentu mau sama you-you orang, kalian malah heboh ngerebutin dia.” “Nggak usah sok nasehatin! Waspada aja karma, Dri. Sekarang bolehlah ngerasa jumawa nolak Erlangga. Besok-besok ….” “Besok-besok malah dapat om-om yang udah punya bini! Orang kalau kebangetan pemilihnya, biasanya malah dapat yang bikin miris!” Sendy melanjutkan ucapan Chyntia yang memang sengaja digantung. Mendengar itu, aku sedikit merasa tersindir. Aku tahu, mereka hanya bercanda dengan gaya yang dibuat serius. Tapi, rasanya tetap mengena juga. Aku jadi semakin yakin untuk menyembunyikan rapat-rapat hubunganku dengan om Bram. Sungguh, membayangkan apa yang akan menjadi reaksi mereka saja, aku sudah ngeri. *** Dengan sudut mata, aku bisa menangkap sosok mama yang tengah bolak-balik di ruang keluarga. Aku sedang berada dalam perpustakaan mini di sampingnya. Sudah sejak tadi kulihat mama tampak gelisah, sambil sesekali melihat ponselnya. Diam-diam, aku menyeringai sinis. Sepertinya, aku tahu apa yang menyebabkan mama seperti itu. Pasti akhir-akhir ini, ia mulai kesulitan menghubungi om Bram. Kalaupun bisa, aku yakin om Bram tak lagi menanggapinya sehangat dulu. Pria yang sudah resmi bergelar kekasihku itu, bahkan berniat ingin mengatakan yang sejujurnya pada mama. Tentang kesalah pahaman mama, dan sekaligus tentang hubungan kami. Namun, aku memintanya untuk tak terburu-buru. Sesuai inginku, kami menjalani hubungan backstreet tanpa siapa pun yang tahu. Selain untuk mengulur waktu, rasanya … aku masih ingin menikmati kegalauan mama yang begitu tampak kentara sejak om Bram menghindarinya. Baru kali ini, aku melihat mama bisa gelisah hanya karena seorang pria. Terbiasa dipuja dan dikejar, mungkin sangat melukai egonya kala ia mendapat perlakuan yang berbeda dari om Bram. Itu meyakinkanku kalau mama memang benar-benar mencintai pria itu. Dan itu bagus untukku! Semakin besar perasaan mama padanya, akan semakin sakit perasaannya kala ia terluka nanti. Kalian ingin menuduhku malin kundang yang kejam? Terserah! Yang jelas, aku sangat menanti-nanti saat itu. Saat dimana mama menangis darah kalau perlu, karena kecewa ditinggal orang yang ia cintai. Sama, seperti apa yang ia perbuat pada papa. Mengenang papa, selalu saja membuat perasaanku berubah mellow. Rasa perihnya, bahkan masih terasa hingga kini. Melihat penderitaan papa, berjuang sendiri di tengah keterpurukan akibat kebangkrutan dan ditinggal isteri, selalu membakar hatiku. Bagaimana ia yang tengah terluka, justru masih harus berlapang d**a melepas wanita yang tak ingin bersamanya lagi. Pria sekarat lahir batin itu, bahkan masih memikirkan kebahagiaan wanitanya hingga akhir. Rela memberi semua yang tersisa, tanpa sedikit pun memikirkan dirinya. Apakah bahkan hal itu membuat mama terharu? Cih! Aku masih mengingat dengan jelas saat menjelang hayatnya, papa memintaku menyampaikan pada mama kalau ia ingin bertemu. Jangankan tergerak meski dengan alasan kemanusiaan, mama justru menampik dengan kalimat yang sangat kasar. “Mama sibuk! Memang, apa lagi yang tersisa untuk dibahas di antara kami? udah nggak ada! Bilang papamu, mama bukan isterinya lagi yang bisa ia perintah sesuka hatinya seperti dulu! Kami cuma mantan sekarang. MAN-TAN!” Dan aku, hanya mampu mengelus d**a dengan jantung yang teremas kuat. Sakit! Bagaimana mungkin mama sanggup mengatakan kalimat semacam itu tentang pria yang pernah belasan tahun menjadi suaminya? Mereka bercerai bahkan bukan karena orang ketiga, KDRT, ataupun hal fatal lainnya. Aku tak mengerti kenapa mama bisa berubah sedrastis itu. Tiba-tiba membenci tanpa mau menoleh lagi. Hanya karena materi. Laknat! Tapi biarlah. Kalau Tuhan belum mau memberikan balasan pada mama, biarlah aku yang akan memberi karma itu. Tunggu saja, Ma! “Mama kenapa, sih? Dari tadi bolak-balik nggak jelas gitu?” Mama melirikku dengan tajam. Kalau moodnya sedang jelek, tak heran kalau ia juga akan berubah sejutek itu. “Kamu sendiri ngapain di sana? Kalau nggak mau terganggu, masuk kamar sana!” Ketusnya. Nah, kan? Aku mencoba bersikap tenang, seperti biasanya. Kudekati mama yang kini memilih untuk duduk. Mungkin, dia capek sedari tadi membuang tenaga tak jelas. “Ma, ponsel mama seharian nggak aktif?” Tanyaku. “Kenapa nanya-nanyain ponsel segala?” Mama masih dalam mode judes. Aku bertaruh, sebentar lagi ia pasti akan berubah sikap. “Iyaa, soalnya tadi om Bram telpon aku. Kata ….” “Om Bram? Telpon kamu? Kenapa dia telpon kamu? kok, om Bram tahu nomor ponsel kamu?” Rentetan pertanyaan mama yang bagai mitraliur, memberondongku. Bahkan sebelum aku sempat meyelesaikan kalimat. “Yang tahu nomor aku itu Zaira, Ma. Mungkin, om Bram nanya sama dia.” “Iya, tapi kenapa?” Mama menatapku tajam, menuntut penjelasan. Duh, baru begini saja reaksi mama sudah heboh. Bagaimana nanti kalau ia tahu yang sebenarnya? “Nggak tahu juga, sih. Tapi intinya waktu nelpon, om Bram nanyain mama. Katanya, ponsel mama kok nggak bisa dihubungi. Kayaknya kangen, dia tuh Ma,” ujarku, sekuat tenaga menahan senyum. Seperti dugaanku, ekspresi wajah mama berubah seketika menjadi cerah. Segampang itulah mempermainkan emosinya. “Beneran, Dri? Terus, om Bram bilang apa lagi?” Mama beringsut mendekat, seolah takut tak akan jelas mendengar jawabanku dari tempatnya duduk. “Cuma gitu aja, sih. Om Bram juga nanya apa mama ada nomor lain, aku jawab ya nggak ada. Udah, gitu aja.” “Masa gitu aja?” Mama protes. Lha? “Mungkin nggak enaklah dia ngobrol sama aku, Ma. Kan pengennya nelpon Mama, tapi nggak nyambung. Lagian, Mama ngapain aja sampai nggak bisa dihubungi?” “Perasaan, ponsel mama aktif terus. Padahal mama juga berusaha nelpon om Bram lho, sejak siang tadi.” “Ya mungkin karena itu, kali. Kalian saling menghubungi di waktu bersamaan. Makanya malah nggak nyambung.” “Mungkin juga, ya. Tapi kok sekarang, dia masih nggak bisa dihubungi, sih? Mama jadi heran, deh!” “Mungkin ngambek kali, Ma. Disangkanya mama menghindari dia,” cetusku, asal jeplak. “Mana ada! Bagaimana mungkin mama menghindari dia? om Bram ada-ada saja. Dia bilang gitu emangnya?” “Yaa … semacam gitulah.” Aku makin lancar membual. Dalam hati, hanya meminta maaf pada om Bram karena sudah menjualnya seperti ini. Memang sih, dalam pembicaraan rutin kami lewat telpon tadi, aku sempat meledek om Bram apa masih suka menghubungi mama. Kekasihku itu, ciee kekasih, menjawab sempat menelpon mama siang tadi. Bukan untuk say hello, tapi berniat untuk mengajak mama bicara empat mata membahas kesalah pahaman di antara mereka. Namun, aku melarangnya. Untungnya juga, saat itu om Bram tak berhasil menghubungi mama. Suara dering bel di pintu mengagetkan kami. Gerbang depan memang belum dalam posisi terkunci karena masih belum terlalu malam. Aku dan mama saling berpandangan. Dalam hati, aku jadi sedikit deg-degan. Siapa yang datang? Please, jangan bilang kalau itu om Bram. Rasanya, aku hampir kewalahan menahan keinginannya yang begitu ingin go public tentang hubungan kami. Mama berinisiatif berdiri. Dalam angannya, mungkin saja ia malah berharap kalau itu adalah om Bram. Aku mengekor keluar, penasaran. Dan akhirnya, tetap terkejut kala melihat siapa yang datang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD