Bertemu

817 Words
Suasana malam itu benar-benar sudah diatur sedemikian rupa sampai ke detail terkecil. Wilhelmina, atau Nyonya Besar, ternyata menyiapkan segalanya dengan kesungguhan yang luar biasa. Ia memilih salah satu restoran di hotel berbintang lima, memesan ruangan pribadi yang luas, menghiasinya dengan rangkaian bunga segar yang harum, serta menyiapkan menu makanan termahal dan terenak. Bahkan ia sampai memanggil penata gaya khusus agar penampilan putranya sempurna malam ini. Namun, begitu Richard melangkah masuk ke ruangan itu, semuanya tetap sama saja. Ia tetap berjalan dengan wajah dingin, datar, tanpa ekspresi berlebih—sangat khas CEO yang kaku dan sulit dibaca perasaannya. Begitu sampai di dekat meja, ia hanya membuka suara singkat. “Ma.” Wilhelmina langsung menoleh, wajahnya seketika bersinar cerah melihat kedatangan anak tunggalnya. Ia menepuk kursi kosong di sebelahnya. “Sini, duduk di sini.” Richard menurut, namun matanya sempat melirik ke sekeliling meja yang tertata mewah itu dengan tatapan tak percaya. “…Mama serius banget menyiapkan semua ini?” “Tentu saja,” jawab Wilhelmina mantap sambil merapikan letak piring. “Ini menyangkut masa depan keluarga kita, tidak boleh ada yang asal-asalan.” Richard mengangkat sebelah alisnya, nada bercampur sarkasme terdengar jelas di ucapannya. “Mama ini sebenarnya sedang mencarikan aku istri, atau mau melakukan penggabungan perusahaan?” Wilhelmina langsung melotot tajam ke arahnya. “Jaga mulutmu, Richard. Tidak boleh bicara sembarangan.” Richard hanya mendengus pelan, lalu duduk dengan santai namun tetap kaku. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. “Kalau begitu, mana orangnya?” “Sabar sedikit lagi, belum datang juga,” ujar Wilhelmina tenang. Richard lalu menunduk, melirik jam tangan mahalnya di pergelangan tangan. “Mudah-mudahan orangnya masih dalam kategori manusia normal,” gumamnya pelan. “RICHARD!” “Ya siapa yang tahu kan, Ma? Kalau Mama yang pilih…” Sementara di kediaman keluarga Maheswari, perang dingin sedang terjadi di lantai atas. Karina terlihat sibuk mondar-mandir di depan pintu kamar putrinya dengan wajah yang sudah mulai merah padam menahan emosi. “KEIRAAA! CEPAT KELUAR DAN SIAP-SIAP!” Dari dalam kamar terdengar suara jawaban yang malas dan berat. “MALASSS!” “KAMU ITU PEREMPUAN, KEIRA! SADARI DIRIMU!” “AKU TAU KOK AKU CEWEK! GAK USAH DIINGAT-INGATIN!” “MANDAI SANA! GANTI PAKAIAN YANG LAYAK!” Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Keira muncul dengan santai, masih mengenakan jaket besar berukuran kebesaran berwarna abu-abu, rambutnya dibiarkan terurai begitu saja. “Aku udah cantik kok begini adanya,” katanya santai sambil membetulkan letak jaketnya. Karina sampai membelalakkan mata, menatap penampilan putrinya dari atas sampai bawah dengan wajah tak percaya. “Cantik dari mana? Pake jaket begitu ke acara resmi?!” “Ini namanya keindahan alami, Ma. Natural beauty,” jawab Keira sambil nyengir. “Ya Tuhan… kekuatan kesabaran hamba…” Karina mengelus dadanya, lalu langsung memerintahkan salah satu pembantu yang lewat. “Cepat ambilkan gaun yang kemarin Mama beli itu ke sini! Sekarang juga!” “Ah, enggak mau aku pake gaun,” tolak Keira cepat. “HARI INI KAMU WAJIB PAKAI DAN BERPAKAIAN RAPIH!” “Memangnya ada apa sih sebenernya sampai harus repot begini?” tanya Keira mulai curiga. “Kita ada acara makan malam yang sangat penting.” “Urusan bisnis ya?” Karina terdiam sesaat, lalu tersenyum lebar—sedikit terlalu lebar dan terlalu manis sampai terlihat mencurigakan. “…Kurang lebih begitu.” Keira langsung menyipitkan matanya, menatap tajam ke arah ibunya. “Mama…” “Kenapa, Sayang?” “Kenapa perasaan nggak enak banget rasanya? Aku jadi ngeri sendiri liat senyum Mama itu.” Suasana di dalam ruangan pribadi restoran itu hening sejenak, sampai akhirnya pintu besar itu kembali terbuka. Keira melangkah masuk dengan wajah yang terlihat jelas sedang tidak ingin berada di sana. Ia memang menuruti ibunya untuk berpakaian lebih rapi, tapi tetap dengan gayanya sendiri: sepatu kets putih bersih, celana bahan hitam polos, dan dipadukan dengan jas luar yang agak kebesaran. Simpel, tapi tetap memancarkan karisma yang keren dan tak tertandingi. Begitu melihat sosok yang masuk itu, Wilhelmina seketika terdiam. Matanya membelalak sesaat, lalu seulas senyum puas perlahan mekar di wajahnya. Ia menatap Keira dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan pandangan berbinar-binar. “Ya ampun… cakep banget gadis ini. Pas banget.” Sementara itu, di sisi lain meja, Richard masih sibuk menunduk menatap layar ponselnya, seolah tidak peduli siapa yang datang atau siapa yang akan duduk di depannya. Hing akhirnya kursi di seberangnya tertarik, dan seseorang duduk di sana. Pergerakan itu membuat Richard perlahan mengangkat kepalanya. Dan saat itulah— Mata mereka bertemu. Waktu seakan berhenti berputar. Keduanya hanya diam, saling menatap satu sama lain tanpa mengedip sedikit pun. Satu detik… Dua detik… Tiga detik… Empat detik… Lima detik penuh keheningan yang berat namun menegangkan. Di dalam hati mereka masing-masing, sebuah kalimat keluar bersamaan seolah saling menjawab. Richard dalam hati: Tomboy sekali… ini calon istri yang Mama pilih? Keira dalam hati: Ya ampun… wajah kaku, dingin, dan tanpa perasaan. Ini sih bukan manusia, tapi kulkas berjalan bergelar CEO.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD