Mama Pengen Punya Mantu
Langit kota perlahan mulai menggelap, namun di lantai tertinggi gedung pencakar langit milik perusahaan Richard, lampu-lampu ruangan masih menyala terang benderang.
Di dalam ruang rapat VIP yang luas dan mewah itu, suasananya terasa begitu mencekam dan hening. Semua direksi dan pejabat tinggi perusahaan duduk bersikap tegak di kursi masing-masing. Tak ada seorang pun yang berani memainkan ponsel atau sekadar bercanda di antara mereka. Pasalnya, di ujung meja besar yang memanjang itu, duduk seorang pria yang menjadi pusat perhatian sekaligus sumber ketegangan mereka.
Richard Alexander Wijaya.
Sang CEO muda yang merupakan pewaris tunggal kerajaan bisnis terbesar di kota itu. Usianya baru menginjak angka dua puluh sembilan tahun. Tampan? Sudah tentu. Kaya raya? Tak perlu lagi dipertanyakan. Namun, sifatnya yang dingin, kaku, dan sangat perfeksionis? Bisa dibilang berada di tingkat tertinggi.
“Kalau angka penjualan kuartal ini turun lagi,” ucap Richard dengan nada suara yang dingin dan datar sambil membalik lembar berkas di tangannya, “saya rasa kita semua sudah tahu siapa yang harus keluar dari ruangan ini.”
Seketika keheningan menyelimuti ruangan. Bahkan Direktur Pemasaran sampai menelan ludah dengan susah payah karena gugup.
Perlahan Richard mengangkat kepalanya, menatap mereka satu per satu dengan tatapan tajamnya.
“Apa saya terdengar sedang bercanda?”
“N-nggak, Pak,” jawab mereka serempak dengan suara tertahan.
“Bagus.”
TING.
Suara pemberitahuan pesan masuk dari ponsel Richard memecah keheningan itu. Ia melirik sekilas ke arah layar ponselnya yang tergeletak di meja.
Mama Calling…
Richard menghela napas pendek dan pelan, lalu menekan tombol merah. Ia menolak panggilan itu.
“Rapat dilanjutkan. Presentasi berikutnya,” ujarnya kembali pada peserta rapat.
Namun baru berlalu dua menit, bunyi itu terdengar lagi.
TING.
Mama Calling…
Rahang Richard mengeras. Sekali lagi ia menolak panggilan itu. Di sekeliling meja, para direksi mulai saling berpandangan, berusaha menahan rasa penasaran namun tetap menjaga sikap.
Lima menit kemudian—
TING.
TING.
TING.
TING.
TING.
Bunyi panggilan itu terus berulang hingga masuk ke panggilan yang ke dua belas kali.
Sang sekretaris pribadi yang berdiri di dekat pintu ruangan mulai merasa cemas dan tidak tenang. Ia memberanikan diri berbicara dengan hati-hati.
“Pak Richard… Sepertinya ini sangat penting.”
Richard mengusap pelipisnya yang terasa berdenyut.
“Kalau bukan hal yang sangat penting,” gumamnya pelan namun terdengar jelas, “Nyonya Wilhelmina—Mama saya tidak mungkin seagresif ini menghubungi saya.”
Akhirnya ia pun meraih ponselnya dan mengangkat telepon itu.
“Ya, Ma?”
Belum sempat Richard melanjutkan kalimat sapanya, suara lantang dan tegas dari seberang telepon langsung terdengar meledak.
“RICHARD!”
Suara Wilhelmina begitu keras hingga semua orang di ruangan itu secara otomatis terdiam seribu bahasa. Richard memejamkan matanya sejenak, menahan rasa lelah yang mendadak datang.
“Mama, aku sedang mengadakan rapat penting.”
“Rapat, rapat, dan terus rapat! Kamu itu kerjanya terus saja! Ingat umurmu, sudah dua puluh sembilan tahun!”
Mendengar itu, para direksi langsung menundukkan kepala, berpura-pura fokus melihat layar komputer atau berkas di depan mereka, padahal telinga mereka sudah menancap tegak layaknya antena parabola demi mendengar pembicaraan itu dengan jelas.
“Mama ingin menantu! Bukan laporan keuangan!” lanjut suara Wilhelmina tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Richard langsung berdehem pelan, berusaha mencari jalan keluar.
“Ma…”
“Apa? Apa yang salah dengan perkataan Mama? Anak teman Mama saja sudah punya dua orang cucu! Bahkan tetangga kita yang punya anjing pun anjingnya sudah punya anak!”
Direktur Keuangan yang sedang minum air putih hampir saja tersedak mendengar perumpamaan itu. Richard langsung melirik tajam ke arah orang itu, membuat siapa pun yang melihatnya langsung kembali bersikap serius seolah tidak terjadi apa-apa.
“Mama,” nada suara Richard mulai merendah, penuh dengan ancaman halus, “aku sedang bekerja.”
“Kamu itu CEO kaya raya, tampan, pewaris tahta, tinggi, mapan—masa sampai sekarang belum punya pacar?! Apa Mama harus memasang iklan di koran untuk mencarikanmu?”
Richard kembali memijat pelipisnya yang kini terasa semakin sakit.
“Maksud Mama dengan memasang iklan itu bagaimana?”
“Dicari wanita dengan mental yang kuat dan sehat untuk menghadapi anak saya yang bersikap dingin, jarang tersenyum, dan kerjanya hanya marah-marah saja!”
Seketika seluruh ruangan menjadi hening total. Para direksi berusaha mati-matian menahan tawa agar tidak keluar dari mulut mereka.
Richard menutup matanya rapat-rapat. Rasanya harga dirinya runtuh seketika di depan seluruh karyawan tingginya.
“Mama. Nanti kita bahas hal ini di rumah saja.”
“Pokoknya malam ini kamu harus pulang lebih awal dari biasanya!”
Klik.
Panggilan telepon itu pun terputus sepihak.
Suasana ruangan kembali menjadi sunyi senyap. Richard meletakkan kembali ponselnya ke atas meja dengan gerakan lambat dan tenang, lalu perlahan ia mengangkat kepalanya, menatap semua orang dengan tatapan sedingin es.
“Kalian mau tertawa?” tanyanya dengan nada datar yang mengerikan.
Semua orang langsung gelagapan dan buru-buru menggelengkan kepala.
“Tidak, Pak!”
“Sama sekali tidak, Pak!”
“Bagus,” ujar Richard singkat lalu berdiri dari duduknya. “Lanjutkan rapat ini.”
Malam harinya, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam milik Richard berhenti tepat di depan gerbang kediaman besar keluarganya. Bangunan bergaya modern klasik itu berdiri megah di tengah taman yang luas dengan air mancur yang indah.
Begitu Richard turun dari mobil, seorang pelayan langsung menyambutnya dengan sikap hormat.
“Tuan Muda, Nyonya Besar Wilhelmina sedang menunggu di ruang makan.”
Richard membuka kancing jasnya dengan santai.
“Ada acara apa sampai harus berkumpul di ruang makan?”
Wajah pelayan itu tampak sedikit gugup.
“Ehm…”
Richard mengernyitkan dahinya bingung, lalu melangkah masuk menuju ruang makan.
Begitu pintu besar ruang makan terbuka lebar, langkah kaki Richard seketika terhenti di tempat.
“…Apa ini?”
Di sekeliling meja makan yang panjang itu, duduk lima orang wanita cantik dan muda. Semuanya memiliki penampilan yang sangat feminin, anggun, elegan, mengenakan gaun-gaun mahal dan berkelas dengan tatanan rambut yang sempurna.
Richard mengenali wajah-wajah itu. Ada yang berprofesi sebagai dokter, ada yang seorang model terkenal, anak-anak konglomerat, hingga seorang selebriti sosialita. Dan tepat di tengah-tengah mereka semua, Bu Wilhelmina duduk dengan manis sambil tersenyum lebar begitu melihat kedatangan putra tunggalnya.
“Richard, Sayang! Sini, duduklah di sebelah Mama,” seru Bu Wilhelmina dengan nada ceria dan penuh semangat.
Richard hanya diam terpaku selama tiga detik menatap pemandangan itu, lalu
“Tidak.”
Ia langsung membalikkan badannya hendak pergi kembali keluar ruangan.
“RICHARD!”
Langkah kaki Richard terhenti seketika mendengar suara panggilan keras itu. Ia menoleh sedikit tanpa memutar seluruh tubuhnya.
“Mama serius melakukan hal ini?”
“Sangat serius!” jawab Bu Wilhelmina mantap.
Richard menghela napas panjang dan berat.
“Ma, aku sangat lelah hari ini.”
“Lelah bekerja atau lelah menolak perempuan yang Mama kenalkan?”
“Dua-duanya,” jawab Richard jujur tanpa ragu.
Kelima wanita yang hadir di sana saling berpandangan satu sama lain dengan wajah merona malu. Bu Wilhelmina pun akhirnya berdiri dengan perasaan kesal yang mulai meluap.
“Kamu itu sebenarnya maunya apa sih?! Yang cantik begini pun kamu tidak mau!”
Ia menunjuk ke arah salah satu wanita.
“Seorang model pun kamu tolak!”
Kemudian menunjuk ke arah yang lain.
“Dokter juga tidak kamu mau!”
Lalu lagi ke arah wanita lainnya.
“Anak konglomerat yang kaya raya pun kamu abaikan!”
Richard hanya berdiri bersandar di kusen pintu sambil menyilangkan kedua tangannya di d**a.
“Aku tidak tertarik dengan mereka.”
“Kamu ini manusia atau kulkas yang tidak punya perasaan?!” seru Wilhelmina frustrasi.
Richard hanya diam tak bersuara.
“Mama bertanya dengan serius!”
Akhirnya Richard melangkah maju, menarik sebuah kursi lalu duduk dengan santai seolah tidak ada keributan yang terjadi. Seorang pelayan segera menuangkan kopi ke dalam cangkir untuknya. Richard meminumnya dengan tenang, seolah tidak peduli dengan tatapan orang-orang di ruangan itu.
“Mama saja yang memilihkan untukku.”
Wilhelmina mendadak terdiam, bahkan matanya sedikit membelalak kaget.
“Hah?”
Richard menatap ibunya dengan tatapan datar dan polos.
“Aku percaya pada pilihan yang Mama ambil.”
Ruangan itu seketika menjadi hening dan penuh kebingungan. Kelima wanita yang hadir pun ikut bingung mendengar pernyataan yang tak terduga itu.
“Kamu serius berkata begitu?” tanya Bu Wilhelmina perlahan memastikan.
Richard hanya mengangguk kecil.
“Kalau Mama sangat ingin segera memiliki menantu…”
Ia meletakkan kembali cangkir kopinya ke atas piring kecil dengan bunyi pelan.
“Carikan saja yang menurut Mama paling tepat.”
Mata Bu Wilhelmina semakin membesar tak percaya mendengarnya.
“Kamu mau dijodohkan begitu saja?”
“Kenapa tidak?”
“Tapi kamu tidak mau melihat atau mengenal orangnya terlebih dahulu?”
“Kalau itu pilihan Mama, berarti wanita itu pasti wanita yang baik dan pantas untukku.”
Bu Wilhelmina sampai tertegun tak mampu berkata-kata. Richard kembali berdiri sambil merapikan sedikit pakaiannya.
“Aku yakin sepenuhnya pada penilaian dan pilihan Mama.”
Lalu dengan nada yang tenang namun tegas, ia menambahkan satu kalimat yang membuat jantung ibunya hampir berhenti berdetak karena kaget.
“Dan aku akan langsung menikahinya tanpa banyak tanya.”
DUARRR!
Bu Wilhelmina sampai memegangi dadanya yang terasa berdebar kencang tak terkira.
“ASTAGA! Pelayan! Cepat ambilkan air minum! Mama rasanya mau pingsan seketika!”
Richard malah tetap bersikap tenang dan biasa saja.
“Mama berlebihan sekali.”
“Berlebihan bagaimana?! Baru kali ini seumur hidup kamu berbicara layaknya manusia yang normal dan punya hati nurani!”
“Mama…”
“Baik! Baiklah!”
Sikap Bu Wilhelmina mendadak berubah menjadi sangat bersemangat dan penuh percaya diri.
“Kamu jangan pernah menarik kembali ucapanmu itu!”
Richard mengangguk dengan wajah malas.
“Aku tidak akan menariknya kembali.”
“Hati-hati saja kamu nanti!”
“Aku naik ke kamar dulu.”
Richard berjalan pergi begitu saja meninggalkan ruangan itu.
Sementara itu, ibunya hanya menatap kepergian putranya dengan perasaan tak percaya namun juga sangat gembira. Perlahan, seulas senyum licik dan penuh kemenangan terbit di wajahnya.
“Baiklah kalau begitu… Mama tahu harus mencari siapa untukmu.”
Di tempat yang cukup jauh dari sana—
BRAAAAAK!
Suara deru mesin kencang terdengar membelah udara. Sebuah sepeda motor jenis trail melaju dengan kecepatan tinggi di jalur tanah yang tidak rata. Seorang gadis yang mengenakan jaket kulit berwarna hitam dan helm tertutup memimpin laju kendaraan di paling depan.
Gerakannya sangat lincah, berani, dan penuh percaya diri. Ia sama sekali tidak takut bajunya kotor terkena percikan tanah atau debu jalanan. Motor itu bahkan sempat melompat kecil saat melewati jalan berbatu yang kasar.
“WOIIII!” teriak salah satu pemuda yang mengendarai motor di belakangnya. “Pelan sedikit jalannya!”
“Terlalu lambat sekali kalian ini!” balas teriakan gadis itu dengan nada ceria dan menantang.
Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya sampai di garis finis yang telah mereka tentukan sendiri. Gadis itu turun dari atas motornya sambil membuka pengunci helmnya. Begitu helm itu terlepas, rambut panjangnya yang diikat sembarangan terurai, dan wajah cantiknya yang polos dan alami pun langsung terlihat jelas. Kulitnya cerah, tatapan matanya tajam dan tegas, sungguh sangat cantik… namun di saat yang sama, aura kekar dan kedewasaannya begitu kuat terasa.
“YEAAAH!” serunya dengan penuh kebanggaan sambil mengepalakan tangannya ke udara. “Menang lagi aku!”
“Curang kamu, Keira!” protes salah satu temannya yang baru sampai menyusul di belakang.
“Ini murni keahlian mengemudi, Bang,” jawabnya santai sambil menyeringai.
“Hampir bangkrut aku kalau terus-terusan kalah taruhan begini!”
Keira tertawa kecil mendengar keluhan itu.
“WOIII! Siapa yang kalah berarti yang bayar makan semuanya, ingat itu!”
“Awas saja kamu ya!”
“Gas menuju restoran sekarang juga!”
Salah satu temannya hanya mendengus pelan sambil menggelengkan kepala.
“Kadang aku sampai lupa kalau kamu itu seorang perempuan.”
Keira menaikkan sebelah alisnya dengan gaya yang sangat keren.
“Kenapa? Karena aku terlihat lebih tampan dari kalian?”
“Bukan, tapi karena sikapmu yang terlalu kasar dan liar!”
Mereka semua pun tertawa lepas bersama di bawah langit senja itu. Tak ada satu pun dari orang-orang itu yang tahu, bahwa di balik sikap tomboy, cuek, dan pemberani yang ia tunjukkan, Keira sebenarnya adalah putri tunggal dari keluarga kaya raya yang memiliki jaringan bisnis hotel mewah di berbagai negara.
Ia adalah pewaris sah dari kekayaan tersebut, namun gaya hidupnya sama sekali tidak mencerminkan citra seorang sosialita yang manja dan berlebihan. Ia lebih suka menghabiskan waktunya mengendarai motor besar, mengenakan sepatu olahraga atau jaket kebesaran, dan satu lagi hobinya yang jarang orang tahu: memasak. Bahkan para koki di rumahnya sering kali kalah dalam hal keahlian memasak jika dibandingkan dengan Keira.
Malam itu, Keira baru saja sampai di rumahnya. Baru saja melangkah masuk ke kediaman besar keluarganya, aroma masakan yang sedap dan harum langsung tercium hingga ke hidungnya.
“Mama Karinaaa!” teriaknya memanggil dengan suara keras agar terdengar sampai ke dalam.
Karina, ibunya, segera keluar dari arah dapur sambil mengelap tangannya.
“Kamu habis balapan lagi ya?!”
“Hihi…” Keira hanya nyengir tidak berani menatap wajah ibunya.
“Lihat dirimu ini, kotor dan berdebu sekali!”
“Tapi hari ini aku menang, Ma.”
“Ya Tuhan…” Bu Karina hanya bisa menggelengkan kepala pasrah.
Keira langsung melangkah masuk ke dalam dapur dengan penuh semangat.
“Hari ini biar aku saja yang memasak makan malamnya ya, Ma.”
“Kamu pasti lelah sekali, Sayang. Istirahat saja.”
“Tidak apa-apa, Ma.”
Tak lama kemudian, ia sudah sibuk bergerak di antara kompor dan meja persiapan. Gerakannya cepat, lincah, dan sangat rapi. Tak ada sedikit pun kesan bahwa ia adalah anak orang kaya yang biasa dilayani pembantu.
Sementara itu, di kediaman megah milik keluarga Richard, Bu Wilhelmina sedang duduk di ruang kerjanya sambil menatap tumpukan berisi data dan foto-foto profil wanita yang telah ia kumpulkan. Matanya meneliti satu per satu dengan teliti, hingga akhirnya pandangannya terhenti pada sebuah foto.
Di sana terlihat seorang gadis cantik yang sedang mengenakan hoodie berwarna hitam, berdiri tegak di samping sebuah motor besar yang gagah. Senyum yang terukir di bibirnya tampak santai dan sedikit cuek, namun secara tidak sadar memancarkan aura yang sangat berkelas dan elegan.
Wilhelmina mengangkat sebelah alisnya, tertarik sekali dengan sosok itu.
“Oh?”
Ia segera membaca keterangan dan profil lengkapnya dengan saksama.
Keira Maheswari.
Anak dari keluarga kaya raya dan terpandang, putri dari Ibu Karina Maheswari.
Lulusan perguruan tinggi luar negeri.
Sangat pandai memasak.
Mandiri dan tegar.
Tidak suka mencari perhatian laki-laki dengan cara apa pun.
Perlahan namun pasti, seulas senyum lebar dan penuh arti mulai terbentuk di wajah Bu Wilhelmina. Semakin lama ia membaca, semakin ia merasa cocok.
“Aduh…” gumamnya pelan dengan nada puas.
“Sepertinya… kamu benar-benar gadis yang cocok untuk menjadi menantu Mama.”