Pagi itu, lantai kantor pusat Wijaya Group terasa lebih tegang dari biasanya. Karyawan berjalan bergegas menyusuri lorong, berkas-berkas di tangan tergenggam erat. Sesekali terdengar bisikan pelan di sudut ruangan, mata mereka sesekali melirik layar ponsel yang terus menyala. Di lantai paling atas gedung kaca itu, Richard baru saja melangkah keluar dari ruang rapat tertutup. Eva, sekretarisnya, sudah menunggu di depan pintu sambil memegang tablet. "Pak Richard, agenda selanjutnya adalah pertemuan dengan investor utama pukul sepuluh," lapor Eva dengan nada cemas. Richard hanya mengangguk singkat. "Siap. Persiapkan semuanya." Belum sempat ia melangkah menuju ruang kerjanya, Marchel—asisten pribadinya—datang berjalan terburu-buru, napasnya sedikit memburu. "Pak!" Richard seketika berhen

