Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kamar apartemen Keira dengan lembut. Ia baru saja selesai mandi, lalu mengenakan kemeja linen putih yang dipadukan dengan celana jeans biru muda serta sepatu kets putih kesayangannya. Rambut panjangnya dikuncir tinggi seperti kebiasaan sehari-hari. Keira merapikan tas selempangnya, memasukkan celemek, buku catatan resep, dan beberapa alat masak pribadi yang biasa ia pakai. “Semoga hari ini semuanya berjalan lancar ya,” gumamnya pelan sambil tersenyum. Ia berbalik meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Begitu layar menyala, matanya langsung melotot. “Sisa baterai cuma enam persen?” Keira langsung meringis panik. “Aduh… habis lagi.” Ia segera menyambungkan kabel pengisi daya. “Isi dulu sebentar, lima menit saja cukup kok.” Namun baru saja

