Malam itu, jam menunjukkan pukul delapan lewat sedikit.
Apartemen pribadi milik Keira terasa hangat. Tidak terlalu mewah seperti penthouse milik para sosialita pada umumnya, tapi terlihat minimalis dan sangat nyaman. Aroma masakan yang sedap memenuhi seluruh ruangan.
Keira berdiri di depan kompor, sesekali mengaduk saus di wajan. Rambutnya dijepit asal, ia mengenakan kemeja putih longgar dengan lengan yang digulung hingga siku, dipadukan dengan celana santai berwarna hitam. Penampilannya sederhana, tapi tetap terlihat rapi dan tercium wangi.
Di atas meja makan, berbagai hidangan sudah tertata rapi. Masakan Tionghoa yang diolah dengan bumbu halal: ayam mentega, tumis daging sapi saus tiram, dimsum buatan sendiri, capcay laut, hingga nasi goreng oriental. Belum lagi hidangan penutup seperti puding mangga dan kue bulan mini. Semuanya terlihat sama lezatnya seperti yang disajikan di restoran mahal, padahal semuanya dibuat sendiri oleh Keira.
Keira meletakkan sendok pengaduknya.
“Rasanya cukup enak,” gumamnya pelan.
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Nama yang muncul di layar membuatnya berhenti sejenak.
Richard.
Keira sedikit mengangkat alisnya. Ternyata cukup cepat juga. Ia segera membuka pesan masuk.
Richard:
Halo Keira. Ini Richard. Tante Karina bilang kamu sedang ada di apartemen ya. Aku sudah ada di lobi. Ibumu yang mengirimkan alamatmu. Aku datang bersama asistenku, Eva dan Marchel.
Keira terdiam selama dua detik.
“Hah?”
Ia melirik jam di dinding.
“Pasti ini ulah Mama…”
Ia langsung paham. Rupanya ia dijebak secara halus. Keira terkekeh pelan, lalu mulai mengetik balasan.
Keira:
Wah, ternyata gercep juga. Selamat datang, Richard. Aku tunggu di atas.
Tak lama kemudian, bel interkom apartemen berbunyi.
Ting tong.
Keira segera berjalan menuju pintu dan membukanya.
Di sana berdiri Richard, mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang sedikit digulung. Wajahnya tetap terlihat terlalu rapi dan sempurna. Di belakangnya berdiri dua orang lainnya: seorang wanita muda yang tampak anggun, dan seorang pria berkacamata yang terlihat ceria.
Richard terlihat sedikit canggung.
“Apa kedatanganku mengganggu?” tanyanya sopan.
Keira segera menggeleng.
“Tidak sama sekali.”
Pandangannya beralih ke dua orang di belakangnya.
“Oh, halo semuanya.”
Wanita itu langsung tersenyum ramah.
“Halo, Kak! Saya Eva.”
Pria di sampingnya menyunggingkan senyum lebar.
“Saya Marchel. Asisten sekaligus korban kerja keras Pak Bos ini.”
Richard melirik tajam sekilas.
Marchel langsung berdehem gugup.
“Maksud saya… rekan kerja profesional.”
Keira spontan tertawa kecil.
“Sudah, ayo masuk dulu.”
Begitu mereka melangkah masuk, Eva dan Marchel langsung berhenti melangkah.
“Ya ampun…” desis Eva takjub.
Marchel ikut melongo.
“Astaga…”
Aroma masakan yang sedap langsung menyerbu hidung mereka. Marchel menoleh ke arah Richard seolah berkata: Bos, ini baunya seperti surga.
Richard hanya diam, tapi jujur saja, aromanya yang menggugah selera itu benar-benar membuat perutnya terasa lapar.
Keira sedikit merasa canggung.
“Eh… apakah kalian sudah makan malam?”
Eva hendak menjawab dengan sopan, tapi tiba-tiba perut Marchel berbunyi keras.
Suasana seketika hening.
Marchel segera memegang perutnya sambil tersipu malu.
“…Saya jadi malu sekali.”
Keira tertawa lepas.
“Sudah jelas kalian belum makan, ya sudah. Ayo kita makan bersama.”
Mereka menunjuk ke arah meja makan.
“Benarkah boleh?” tanya Eva ragu.
“Tentu saja boleh.”
“Tidak merepotkan?”
“Sama sekali tidak. Kebetulan saya memasak terlalu banyak.”
Richard menatap hidangan yang tertata rapi, lalu menatap Keira.
“Kamu memasak semua ini sendiri?”
“Iya, benar.”
Richard sedikit mengernyitkan dahi.
“Kamu yang memasak?”
Keira langsung mengerucutkan bibirnya.
“Kenapa? Tidak percaya ya?”
“Bukan begitu.”
Richard terdiam sejenak.
“Hanya saja… ini agak tidak terduga.”
Keira terkekeh.
“Memang hampir semua orang berkata begitu.”
Mereka pun akhirnya duduk mengelilingi meja. Eva dan Marchel saling bertukar pandang. Sepertinya bos mereka ini sangat beruntung. Wanita di depannya ini jelas calon istri idaman.
Keira mulai mengambilkan piring.
“Mau nasi?”
“Saya mau, Kak,” jawab Marchel cepat.
Eva segera menyikut lengannya.
“Bicaralah dengan sopan!”
“Tapi saya benar-benar lapar, lho.”
Keira tertawa kecil melihat tingkah mereka.
Sementara itu, Richard diam mengamati Keira. Ada sesuatu yang terasa berbeda. Wanita ini tidak bersikap dibuat-buat, tidak terlalu berusaha terlihat sempurna, tapi tetap menjaga kesopanan. Terlihat sangat alami.
“Richard?”
“Hm?”
“Mau saya ambilkan ayam mentega?”
“Oh… boleh, terima kasih.”
Keira langsung mengambilkan beberapa potong untuknya.
“Coba juga yang ini.”
Richard mengangguk pelan.
“Terima kasih.”
Beberapa menit kemudian, suasana berubah total. Awalnya terasa kaku dan formal, kini menjadi ramai dan akrab.
“YA TUHAN, ENAK SEKALI!” seru Marchel antusias.
Eva langsung melotot.
“Kurangi suaramu!”
“Tapi serius, Kak, ini benar-benar enak!”
Eva pun mencoba sedikit, lalu terdiam sejenak.
“…Benar juga.”
Marchel langsung menunjuk ke arahnya.
“Kan saya bilang!”
Eva menatap Keira dengan takjub.
“Kak… ini benar-benar buatan sendiri?”
“Iya, saya yang membuatnya.”
“Rasanya persis seperti di restoran mewah.”
Richard yang sedari tadi diam akhirnya mencoba daging sapi saus tiram. Ia mengunyah perlahan, lalu terdiam.
Keira meliriknya.
“Bagaimana rasanya?”
Richard tidak langsung menjawab, tapi ia mengambil porsi lagi untuk dirinya sendiri.
Marchel menyunggingkan senyum. Ternyata bosnya menyukainya.
Richard akhirnya berbicara.
“…Enak.”
Keira sedikit terkejut mendengarnya.
“Oh ya?”
“Sangat enak.”
Jawabannya singkat, tapi terdengar tulus. Hal itu membuat Keira merasa sedikit canggung.
“Terima kasih.”
Richard kembali menatap hidangan di depannya. Jujur saja, sudah lama ia tidak makan dengan senyaman ini. Biasanya makan malamnya selalu berkaitan dengan urusan bisnis, di hotel mewah, dengan suasana yang kaku dan dingin. Namun malam ini terasa begitu hangat. Aneh, tapi terasa nyaman.
“Ngomong-ngomong,” tanya Keira sambil meminum tehnya, “apakah Mama kalian yang menyuruh kalian datang ke sini?”
Eva langsung berdehem gugup, sedangkan Marchel berpura-pura sibuk memakan hidangannya.
Richard menghela napas pendek.
“…Kurang lebih seperti itu.”
Keira langsung tertawa.
“Sudah saya duga.”
“Jadi kamu juga merasa dijebak?”
“Seratus persen merasa begitu.”
Mereka saling bertatapan, lalu tertawa kecil bersama. Suasana pun menjadi semakin cair.
“Jujur saja,” ucap Keira santai, “awalnya saya sempat takut bertemu orang yang aneh.”
Richard mengangkat alisnya.
“Aneh?”
“Iya. Biasanya CEO yang terkenal dingin itu agak… bagaimana ya?”
“Agak apa?”
“…sombong dan angkuh.”
Eva hampir tersedak mendengarnya.
Richard malah terlihat tenang.
“Dan menurutmu, saya bagaimana?”
Keira berpikir sejenak.
“…Ternyata cukup normal.”
Tanpa sadar, sudut bibir Richard terangkat sedikit membentuk senyum tipis.
“Itu pujian atau bukan?”
“Bisa dibilang begitu.”
Eva segera mengirim pesan singkat ke Marchel di bawah meja.
Eva:
Bos tersenyum!
Marchel:
Astaga, itu pemandangan yang sangat langka!
Setelah selesai makan, mereka berpindah ke area balkon. Dari sana terlihat pemandangan lampu-lampu kota yang indah, ditiup angin malam yang sejuk.
Keira berdiri sambil memegang cangkir teh hangat. Richard berdiri di sampingnya. Terasa sedikit canggung, tapi tidak sampai membuat tidak nyaman.
“Terima kasih sudah datang,” ucap Keira memecah keheningan.
“Sebaiknya sayalah yang berterima kasih padamu.”
“Kenapa?”
“Karena makanannya sangat enak.”
Keira tersenyum tipis.
“Senang rasanya kalau kamu menyukainya.”
Mereka terdiam sejenak.
Richard akhirnya berbicara.
“Jujur saja…”
Keira menoleh.
“Saya sebenarnya tidak terlalu suka dengan perjodohan seperti ini.”
Keira langsung tertawa kecil.
“Sama sekali.”
“Tapi…”
Richard berhenti sejenak.
“Saya pikir kita sudah cukup dewasa untuk setidaknya saling mengenal satu sama lain dengan baik.”
Keira terdiam sejenak, lalu mengangguk setuju.
“Saya juga berpikir begitu. Tidak perlu dipaksakan, kita berjalan perlahan saja.”
Richard mengangguk.
“Setuju.”
“Sepakat.”
Di balik pintu balkon, terdengar suara jepretan kamera pelan. Ternyata Eva dan Marchel diam-diam memotret mereka.
“Ya ampun…” bisik Eva.
“Mereka terlihat sangat serasi, bukan?”
Marchel mengangguk cepat.
“Akhirnya bos bisa merasa nyaman seperti ini. Benar-benar jenius rencana Ibu Wilhelmina.”