Marchel berjalan sendirian menuju kelasnya sambil sesekali melihat kelas yang ia lewati. Saat sampai diujung koridor dekat tangga, ada seorang gadis yang menghalangi jalannya. Dilihat dari tampilannya sepertinya ia murid yang tidak terlalu pandai bergaul atau bisa juga dibilang nerd.
Gadis itu menyerahkan sebuah kotak makan berwarna biru laut dan diterima Marchel dengan dahi mengernyit bingung.
Setelah dirasa pemberiannya diambil, gadis itu dengan cepat berlari menuju kelasnya. Marchel tidak mengikutinya karena masih bingung apa yang gadis itu berikan kepada dirinya. Lalu kaki panjangnya melangkah menuju kelas.
Setelah sampai dikelas, Marchel duduk dibangkunya dan memandang kotak makan berwarna biru laut itu.
Cukup lama Marchel memandangnya kemudian dia memutuskan untuk membuka kotak makan itu.
Setelah ia buka, ternyata isinya adalah kue yang sebagian besar berbahan dasar oreo. Disana terdapat lima buah kue yang masing-masing bertulisan I-hope-you-like-it! dan Marchel melihat sebuah kartu kecil bergambar oreo yang terlihat sangat lucu.
Hai, ini kue oreo buatanku, aku harap kamu suka dan aku bisa memberikannya setiap hari. Just for you:)
-Crazygirloreo.
Marchel tersenyum kala membaca note kecil itu dan meletakkannya diatas meja. Lalu meraih satu potong kue bertulisan like kemudian memakannya.
"Penyuka oreo, eh?" Marchel terkekeh dan lanjut mengabiskan semua kuenya.
"HELLO SEMUA! ABANG KELPIN DATANG MEMBAWA KECERIAAN SETELAH SEKIAN HARI BOLOS!" teriak seorang siswa dari arah pintu masuk.
Semua siswi bersorak girang karena Kelvin -siswa yang tadi berteriak- sudah masuk kekelas saat terakhir mereka ingat, Kelvin dan sahabatnya masuk kelas minggu lalu.
Sisil, cewek itu langsung heboh sendiri. "BEBEB KELVINKU!" pekiknya sambil berlari kearah Kelvin.
Sontak Kelvin langsung bersembunyi kearah belakang Malik. "MAS MALIK SELAMATKAN AKU DARI MEDUSA YANG MENJIJIKAN!" teriak Kelvin histeris, satu kelas yang menyaksikan itu terkekeh pelan.
"Kamu jahat Kel!" Sisil cemberut dan langsung berjalan keluar kelas.
Saat Ingin berjalan kearah kursinya, Malik memandang Marchel dengan tatapan yang sulit dimengerti oleh Marchel.
Marchel menepuk pundak teman didepannya, "Eh, itu cowok kenapa ngeliatin gue sampe segitunya?" tanya Marchel kepada siswa tersebut.
Siswa tersebut menolehkan kepalanya kearah belakang. "Dia Malik dan Kelvin, sahabat Rachel. Mereka berdua mempunyai sifat yang sama dengan Rachel tapi tidak separah Rachel walau dia itu perempuan. Nah yang tadi teriak itu namanya Kelvin dan yang satunya namanya Malik," jelas siswa tersebut dan berbalik menghadap kedepan karena Bu Dhira sudah masuk kedalam kelas.
Sahabat Rachel? batin Marchel.
***
Rachel mengerjapkan kedua matanya untuk menyesuaikan dengan pencahayaan lampu diatasnya. Dia merasakan kalau tangannya berat setelah dia melihat kebawah ternyata ada Arda yang sedang tertidur dengan memeluk lengannya.
Rachel tersenyum kecil dan mengusap kepala Arda, tak terasa satu titik air mata jatuh dari mata Rachel. Dia melihat Arda dengan masih menitihkan air mata.
Perlahan, Arda bangun dari tidurnya dan memandang Rachel khawatir karena menangis. "Giva kenapa? Apa yang dirasa?" tanya Arda sambil mengusap air mata Rachel.
Rachel menggeleng dan langsung memeluk tubuh Arda, dengan sayang Arda mengusap punggung Rachel. "Giva kenapa?" kata Arda pelan.
"Bang, maafin Giva ya, Giva sayang Abang!" gumam Rachel masih terus memeluk Arda.
Arda mengangguk dan melepaskan pelukan mereka lalu tangannya meraih segelas air putih diatas nakas. "Minum ya!" Arda membantunya duduk dan meletakkan bantal yang sedari tadi Rachel pakai untuk tidur sebagai sandaran Rachel.
Arda meletakkan gelas itu di atas nakas dan kembali duduk disamping Rachel, Rachel menunduk dan kembali terisak. "Hiks ... Bang ... Hiks."
Arda langsung memeluk tubuh Rachel, tetapi dia masih bingung, kenapa dengan Rachel?
"Bang," Rachel mendongak. "Giva sayang Abang hiks ...," lanjutnya.
"Iya Giva sayang Abang, Abang juga sayang Giva!" ucap Arda untuk menenangkan Rachel.
Tak biasanya Rachel seperti ini, yang Arda tau Rachel adalah perempuan yang tidak mudah menangis, tapi sekarang? Entah apa yang terjadi pada Rachel.
"Tapi Giva beneran sayang Abang hiks ...,"
Arda mengangkat wajah Rachel dengan tangannya. "Giva kenapa sayang?"
Rachel tak menjawab, malah tangisannya semakin kencang, Arda membiarkan Rachel menangis lebih dulu untuk meringankan beban yang dirasa Rachel, barulah ia bertanya.
Ceklek.
Pintu terbuka dan kemudian muncul lah dua orang lelaki. You know who.
"Achel kenapa?" tanya Malik saat dilihat Rachel memeluk Arda dan bahunya bergetar. Rachel yang mendengar suara para sahabatnya langsung melihat kearah Malik dan Kelvin.
"MALIK, KELVIN HUA," teriak Rachel sambil merentangkan tangannya meminta agar salah satu dari mereka memeluknya.
Kelvin menyenggol bahu Malik memberi maksud untuk memeluk Rachel. "Kenapa?" tanya Malik lembut saat sudah memeluk Rachel dan mengusap punggungnya. Sedangkan Arda memandang adiknya sendu ia tidak tahu apa yang terjadi pada Rachel.
"Hiks ... Lik ... Kel ... Hiks, gu-gue sayang kalian!" ujar Rachel terbata.
Malik mengangguk. "I know but, lo kenapa?"
Rachel melepaskan pelukannya dan memandang tiga orang didepannya. Lagi dan lagi ia menangis. "Bang Arda, hiks ...," Rachel kembali histeris
"Udah sayang, Abang sayang juga sama Giva, sekarang Giva tenang ya!"
"Ma-maaf, Giva sayang Abag," ucapnya pelan Arda masih terus mengusap punggung Rachel sayang, tak lama terdengar dengkuran halus yang keluar dari mulut Rachel. Arda memindahkan Rachel kearah tempat tidur dengan pelan dan menyelimuti Rachel lalu mengecup pipinya singkat.
"Abang juga sayang Giva."
Malik dan Kelvin berjalan mendekat kearah Rachel. "Achel kenapa?"
Arda menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangannya yang berada diatas kasur. "Gue gak tau, pas gue bangun tiba-tiba dia nangis."
Kelvin mengusap wajah Rachel pelan dan mengecup keningnya singkat, ini sudah biasa dalam persahabatan mereka karena sudah sering Malik dan Kelvin mengecup kening Rachel dengan sayang.
"Gak biasanya gue liat Rachel begini." gumam Kelvin menatap sendu Rachel.
Malik mengangguk dan meletakkan makanan yang sudah dibelinya bersama Kelvin saat perjalanan kesini, mereka tahu kalau Arda belum sempat makan.
"Bang makan ya, biar kami jagain Achel disini. Abang duduk di sofa aja." ucap Malik sambil menunjuk sofa berwarna putih yang berada didalam kamar rawat Rachel.
Arda mengangguk dan meraih makanan tersebut. "Makasih ya!"
***