"MALIK BANGUN! AYO KITA KE RACHEL!" teriak Kelvin sambil tertawa lepas saat dirinya asik melompat-lompat diatas kasur king size milik Malik.
"YUHU MALIK, AYO BANGUN!"
"Berisik g****k!" Malik menutup wajahnya menggunakan bantal putihnya, Kelvin dengan cepat langsung menarik bantal itu.
"Bangun! Hari ini kita ke Achel, t***l ah!" Kelvin mendengkus saat sudah mulai lelah membangunkan Malik yang dari tadi tak kunjung bangun.
Kemudian Malik bangun sambil mengusap matanya, dia memakai sandal yang ia biasa gunakan di dalam kamar dan berjalan ke arah kamar mandi.
Melihat itu, Kelvin tersenyum lebar dan kakinya melangkah keluar kamar Malik. Menuju ruang makan.
"Malik nya udah bangun Kel?" tanya Mama Malik saat melihat Kelvin turun tangga.
Kelvin mengangguk, "Udah Mah!"
Kelvin, Malik, dan Rachel sudah bersahabat dari bangku sekolah dasar. Mereka sering main ke rumah Malik oleh sebab itu mama Malik meminta mereka agar memanggilnya dengan sebutan mama saja, karena ia sudah menganggap Rachel dan Kelvin sebagai anaknya sendiri. Bahkan mama Malik pun tahu masalah apa yang ada pada keluarga Rachel.
Mama Malik menyerahkan roti tawar yang sudah ia olesi dengan selai markisa. Selai kesukaan Kelvin. "Nih sarapan dulu!"
"Aduh, makasi Mah!" dengan lahap Kelvin memakan roti itu. Mama Malik terkekeh melihatnya.
***
Angin berembus, seakan membelai kulit dua orang yang sedang duduk berdampingan di sebuah bangku taman berwarna cokelat. Mereka diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Marchel, salah satu dari orang tersebut mengeluarkan handphone nya dari dalam saku celana. Sedangkan yang disebelahnya ada seorang perempuan cantik dengan rambut sepunggung yang masih asik memandang bunga-bunga yang tumbuh ditaman.
"San, makan yuk, aku udah laper!" rengek Marchel pada Sandra, gadis di sebelahnya.
Sandra berdecak kala melihat Marchel. Tetapi masih terlihat menggemaskan. "Kan tadi kita udah makan," jawab Sandra.
Marchel berdecak, "Kan tadi itu sarapan Sandra!" Marchel menaruh kepalanya pada kedua paha Sandra. Lebih tepatnya Marchel tiduran dan paha Sandra yang menjadi bantalnya.
Sandra terkekeh pelan dan mengusap pelan rambut Marchel, "Kamu mau makan apa?" tanya Sandra lembut. Marchel langsung duduk tegap dan menatap Sandra cerah.
"Bener ya?" Sandra mengangguk. "Aku mau makan kamu!" bisik Marchel tepat ditelinga Sandra.
Refleks, Sandra langsung berdiri. "IH ALFA!" pekiknya saat mendengar Marchel berbisik dengan kalimat horor itu.
Marchel tertawa kencang, melihat itu Sandra mendengus kesal dan langsung menarik jambul Marchel, "Bego!" geramnya.
Marchel berdeham dan memandang Sandra tajam, "Ngomong apa barusan?" selidiknya.
Dengan polos Sandra menjawab, "Bego."
Marchel langsung menyentil mulut Sandra menggunakan tangan kanannya. Sandra meringis dan mengusap bibir merah ranumnya karena kesakitan.
"Sakit Alfa!" gerutu Sandra masih terus mengusap bibirnya.
Tatapan Marchel melembut saat melihat Sandra kesakitan, dia sangat tidak suka jika mendengar Sandra berkata kotor. Mereka berdua sudah bersahabat sejak mereka masih dalam kandungan. Rumah Sandra berada tepat didepan rumah Marchel. Dari SD dan SMP, mereka satu sekolah bahkan satu bangku. Tetapi saat SMA Marchel pindah sekolah karena permintaan Ayahnya dan Marchel tidak tahu sebabnya.
"Aku gak suka ya kamu ngomong kotor sekali pun bukan sama aku, kok sekarang kamu jadi bad sih?" omel Marchel sambil menatap Sandra.
Sandra yang ditatap seperti itu merasa risih dan berbalik memandang Marchel sengit, "Apa sih lebay banget, lagi juga aku cuma ngomong itu doang gak lebih!" protes Sandra.
Marchel berdeham, "Aku bilang Bunda buat ngomong sama Mama kamu biar kamu pindah sekolah kesekolah aku juga!"
Sandra hanya mengangguk pasrah, jika sudah berkata Marchel tidak bisa dibantah.
Marchel berdiri dari duduknya, "Pulang yuk, sayang!"
"ALFARO!"
***
"AKU TAK BIASA, BILA KAU TAK ADA DISISIKU."
Saat ini Malik dan Kelvin sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit dimana Rachel di rawat. Dan yang membuat Malik pusing itu karena sekarang, tepatnya di jalanan yang sedang macet, Kelvin malah beryanyi tidak jelas dengan suaranya yang kalau menurut Malik seperti tikus yang sedang terjepit pintu.
"Berisik woi!" gerutu Malik.
Kelvin malah tersenyum tak berdosa, "Kalo kata Mama, saat sedang mengalami kesusahan itu kita harus bernyanyi. Bernyanyi membuat kita bisa lebih bisa melepaskan semua masalah kita. Dan selain itu bernyanyi—"
"Halah ngomong apa?" potong Malik. Kelvin sontak langsung memandang Kelvin dengan tatapan yang menurut Malik menjijikan itu.
"DARI MATAMU, MATAMU, KUMULAI JATUH CINTA. KU MELIHAT, MELIHAT ADA BAYANGAN."
"Bayangan apa?" Malik menjawab.
Kelvin tampak berpikir, "Bayangan cintaku padamu!" jawab Kelvin asal.
Malik mendelik dan langsung menjitak kepala Kelvin, "Aku tuh masih doyan sama yang berlubang bukan yang berbatang. Dikira aku Zoro apa mainnya pedang lawan pedang!" Malik berucap sambil memutar setir ke arah kanan, tempat parkiran rumah sakit.
"Mas, ucapan kamu tuh ambigu tau, apa yang berlubang?"
"Bisa aja jalanan yang berlubang, kamu mikirnya jorok mulu ih, aku gak suka. Nanti malam jangan kerumah aku ya kalo ditinggal sama pelanggan kamu!"
"Aku sih no, kamu boleh tanya sama yang lain!"
"Halah halah, cepat turun!" perintah Malik kemudian saat sudah selesai memarkirkan mobil hitamnya dengan cantik diarea parkir rumah sakit sekaligus mengakhiri percakapan tidak bermutunya dengan Kelvin.
"IH MAS MALIK, TUNGGUIN!"
"Sialan!" desis Malik saat beberapa orang di koridor rumah sakit menatap keduanya.
Saat sudah sampai dilantai tempat ruangannya Rachel, mereka melihat Arda yang sedang menundukkan kepalanya didepan ruangan adiknya. "Bang, gimana Rachel?"
Arda mengangkat kepalanya, Kelvin dan Malik sedikit meringis melihat wajah Arda yang terlihat kusut dan tampak lingkaran hitam dari kelopak matanya.
Malik duduk disamping Arda, "Muka lo kenapa kusut banget, Bang?" tanyanya. Kelvin tampak setuju dan langsung ikut duduk disamping Malik.
Arda menghela napasnya pelan seraya mengusap wajahnya. "Rachel ngamuk gara-gara dia tau kalo Mama yang donorin darahnya buat dia, abis dia teriak-teriak, dia pingsan dan kondisinya melemah. Gue gak tidur semalaman jagain Rachel takut dia kenapa-kenapa. Gue takut Rachel kenapa-kenapa," cicitnya pada akhir kalimat.
"Mama dan Papa Achel mana?" tanya Kelvin.
"Mereka pergi setelah Rachel pingsan karena takut membuat Rachel tertekan lagi. Dan tadi pagi gue dapat kabar kalau Papa pergi ke Rusia untuk urusan pekerjaan dan Mama harus keluar kota," jawabnya.
Malik menepuk pundak Arda pelan. "Maaf," lirihnya. Dia merasa bersalah karena tidak ikut menjaga Rachel. Sahabat macam apa dia? Sahabatnya sedang sakit dan dia tidak ikut menjaganya.
"Maaf bang, kita gak tau kalo jadinya bakal kayak gini," lanjut Kelvin sambil menunduk.
"Tak apa."
Dua puluh menit setelahnya, tampak seorang Dokter keluar dan diikuti seorang suster dari dalam ruangan Rachel.
Ketiga lelaki itu langsung berdiri dan memandang sang Dokter dengan pandangan yang berbeda-beda. "Dok Adik saya bagaimana?" tanya Arda gusar.
Dokter itu tampak mengela napas. "Semua baik-baik saja, Pasien hanya perlu istirahat dengan total."
"Terima kasih Dok!"
Mereka bertiga akhirnya berjalan masuk ke ruangan Rachel dan menemukan Rachel sedang tertidur dengan pulas di atas brankar rumah sakit.
Arda duduk di kursi samping tempat Rachel dan memandang Rachel sendu. Dia mengusap pelan pipi Rachel kemudian mengecupnya singkat. "Cepat sembuh ya!" bisiknya kemudian memejamkan matanya.
"Lik, kantin yuk, gue laper."
***