"Permisi Sus, saya ingin transfusikan darah saya untuk pasien yang bernama Rachel Givata," kata Mama Rachel dengan tergesa-gesa.
Dia sangat panik kala mendengar anaknya sakit. Walaupun dia jarang menengok Arda dan Rachel, tetapi tetap saja, tidak ada seorang ibu yang tega mendengar anaknya sakit. Dia juga menyesali, kemana saja dia selama ini? Sibuk dengan pekerjaannya atau bertengkar dengan suaminya? Dia merasa gagal sebagai seorang ibu.
"Baiklah Bu, silahkan isi data terlebih dahulu dan masuk kedalam," jawab Suster tersebut saat selesai menyiapkan datanya. Dengan terburu Mama Rachel mengisi data dan segera mentransfusikan darahnya. Karena memang darah dia cocok dengan Rachel.
Saat sudah selesai mentransfusikan darahnya, mereka —Mama Rachel, Papa Rachel dan Arda— memasuki ruangan Rachel. Dilihatnya Rachel sudah siuman dan sedang disuapi bubur oleh Kelvin.
Rachel yang sedang asik makan pun mengalihkan pandangannya dari arah ponselnya. Seketika air muka pucat Rachel berubah. "Bang, lo ngapain bawa orang-orang gak penting itu kesini?" Rachel berucap dingin. Napsu makannya hilang sudah begitu melihat kedua orang tuanya.
Katakan lah Rachel anak durhaka karena tidak menyukai orang tua kandungnya sendiri. Tetapi siapa yang tidak sakit jika dianggap tidak ada oleh orang tuanya sendiri?
Mereka memang tinggal satu atap, tetapi mereka seperti tidak saling mengenal. Hanya karena Arda lah Rachel merasa memiliki keluarga kandung. Orang tuanya memang sudah lama pisah ranjang sejak kejadian itu.
Sejak itu juga orang tuanya menjadi sering bertengkar dan mulai tidak memperdulikan keadaan anak mereka. Rachel bersumpah akan selalu membenci orang itu dan akan membalaskan dendamnya karena sudah membuat keluarganya seperti ini.
Arda pun sama seperti Rachel, tetapi Arda tidak mau terlalu menunjukkan sikap kesalnya kepada orang tuanya. Cukup dia menjaga Rachel. Dia tidak akan mau ada yang menyakiti adik kandungnya itu. Dia sangat menyayangi Rachel, baginya, kebahagiaan Rachel adalah prioritasnya.
"Mama donorin darahnya buat Operasi lo Chel!" sahut Arda sambil berjalan kearah tempat Rachel. Orang tuanya masih bergeming, sedangkan Malik dan Kelvin sudah pergi keluar dengan alasan ingin pulang untuk mengganti baju dan istirahat. Padahal mereka hanya tidak mau terlalu ikut campur, meski mereka mengetahui semuanya.
Rachel menatap tajam Arda, "Ngapain lo biarin dia yang donorin darahnya ke gue Bang? Gak sudi gue!"
"Oh ya, buat kalian! Masih inget sama gue dan Mas Arda? Masih inget kalo kalian punya anak? Gue kira lo berdua udah lupa kalau kalian itu PUNYA ANAK! Karena kalian sering berantem! Jangan kira gue gak tau kalo lo suka pukulin Mama gue!" lanjutnya sambil menunjuk arah Papanya.
"Giva udah!" peringat Arda.
Rachel berdecih. "RACHEL, NAMA GUE RACHEL BUKAN GIVA! GIVA UDAH MATI SEJAK LO BERDUA GAK PEDULI SAMA GUE! GIVA UDAH—"
Teriakkan Rachel berhenti kala dia merasakan pusing lagi dibagian kepalanya, tak lama Rachel pingsan. Mereka panik dan langsung memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan Rachel.
"Tolong kalian jangan membuat Rachel terlalu lelah, ini untuk kesehatan Rachel dan kami meminta kerja samanya!"
***
"ACHEL! SINI NAK!" teriak Bunda Marchel dari arah lantai bawah rumahnya. Marchel memutar bola matanya malas.
Dengan langkah gontai, Marchel menuruni tangga. "Ada apa sih Bun, jangan teriak mulu napa. Ini bukan di hutan!" gerutu Marchel saat sudah berada dilantai bawah rumahnya.
Bundanya hanya membalas dengan senyuman dan langsung menyerahkan sebuah kertas kecil beserta beberapa uang tunai.
Dahi Marchel mengrenyit saat menerima kertas tersebut. "Ini apa Bun?" tanya Marchel.
"Kamu tolongin Bunda ambilkan pesanan kue Bunda di toko kue depan komplek sebelah ya! Dikertas itu udah Bunda tulis alamatnya dan kamu bilang aja pesanan Bunda Moza!" jawab Bunda Marchel sambil mengupas bawang merah.
Marchel meraih jaket hitamnya. "Oke! Assalamualaikum Bun."
"Waalaikumsallam, hati-hati Nak!"
Lalu Marchel pergi menaiki motor sport hitamnya.
Sesampainya ditoko kue, Marchel memakirkan motornya tepat depan toko kue tersebut dan kakinya melangkah memasukki toko. Marchel membuka pintu toko dengan santai, saat pertama memasukki toko kue, hal yang pertama ia jumpai adalah hembusan air conditioner dan wangi kue yang khas. Wangi kue itu sedikit menggelitik hidung Marchel untuk mencobanya.
"Permisi Bu! Saya ingin mengambil kue pesanan Bunda Moza!" ucap Marchel sopan saat dilihatnya wanita paruh baya yang sedang menyusun kue tart didalam kotak.
"Eh?" dia beralih melihat Marchel. "Bunda Moza ya? Kamu siapanya?" tanya wanita itu.
Marchel tersenyum. "Saya anaknya Bu!"
"Oh jadi kamu anaknya Moza? Wah ganteng ya," komentarnya.
Marchel tersenyum malu, ia salah tingkah. Terlihat sangat imut. "Biasa saja Buk," sahut Marchel.
"Aduh kamu ini lucu banget! Oh iya, kenalin nama saya Sela. Panggil saja tante Sela, saya sahabat Bunda kamu, ah kayaknya kamu juga seumuran sama anak saya," ucap Tante Sela.
Marchel hanya tersenyum manis, sangat manis. "Saya Marchel Tan! Marchelino Alfaro," jawab Marchel.
Tante Sela tersenyum lebar, sedetik kemudian ia menepuk jidatnya. "Tuh kan saya lupa sama kue nya. Sebentar ya saya ambil kedalam dulu!" Tante Sela beranjak dari tempatnya menuju ke dalam toko dimana dia menaruh kue pesanan Bunda Marchel berada.
Tak lama Tante Sela datang membawa kotak kue berwarna peach yang ditengahnya dihias dengan pita berwarna pink. Untuk mengikat kotak dan untuk mempercantik tampilan kotak. "Ini ya," tante Sela menyerahkan kotak kue itu kepada Marchel setelah ia masukkan kotak tersebut ke dalam kantung plastik berlogo toko itu.
Marchel menerimanya masih dengan senyuman manis, lalu menyerahkan uang yang tadi diberikan Mamanya. "Ini Tan, saya pamit dulu ya, Assalamualaikum!"
"Waalaikumsallam! Sampaikan pesan saya kepada Bunda kamu ya, next time kita harus ketemu!"
"Pasti Tan."
Setelah itu Marchel berjalan keluar dari toko dan langsung menaiki motornya untuk pulang menuju rumahnya.
"Assalamualaikum! Bunda! ini kue nya!" Marchel membawa kotak kue yang terlihat lucu itu kedalam dapur tempat Bundanya berada. "Taruh di meja Chel!"
Marchel meletakkan kotak kue itu diatas meja sesuai perintah Bundanya, lalu ia berjalan ke arah lemari es dan meraih teko yang berisi es jeruk kedalam gelas yang sebelumnya ia ambil.
Marchel meneguknya dengan santai, "Bun, tadi ditoko aku kenalan sama yang punya toko. Namanya Tante Sela, dia temen Bunda kan?" tanya Marchel seraya meletakkan gelas di atas meja.
Bundanya mengangguk, "Iya dia teman Bunda, bahkan bisa dibilang sahabat soalnya kami berdua itu deket banget dulu saat kami kuliah." Bundanya memutar keran air wastafel didapurnya lalu mengadahkan tangannya kearah air.
"Dia orang nya baik, dan dia juga punya anak yang seumuran kamu loh!" lanjutnya.
Marchel membuka jaket yang sedari tadi dipakainya dan meletakkannya pada sampirkan baju, "Oh ya? Siapa namanya?"
Bunda Marchel tampak berfikir sebentar. "Kalo gak salah, namanya siapa ya? Bunda lupa hehe."
"Yaudah Bun, Achel ke atas dulu ya!" pamitnya sembari melangkahkan kakinya kearah tangga.
Bundanya menatap punggung anaknya sebentar, "Iya!" jawabnya.
***