"Rachel Givata?" ujar seorang Guru sambil menatap sekeliling. kali ini ada pelajaran hafalan rumus kimia, dan semua murid wajib hadir. Berbeda dengan Rachel yang sekarang sepertinya masih asik dengan tidurnya.
Marchel mengangkat tangan kanannya, Guru itu pun akhirnya beralih menatap Marchel dengan penuh tanya.
"Rachel dari pagi belum datang, Bu! Saat istirahat tadi saya juga tidak melihat Rachel disekitaran sekolah," jawab Marchel lantang.
Guru tersebut menganggukan kepalanya tanda mengerti dan mulai mengabsen murid yang lain. Satu kata dipikiran Guru tersebut; Rachel bolos.
Itu sudah pasti, karena dari awal Rachel sekolah di sini sampai sekarang kelas XI SMA, bisa dihitung dengan jari berapa kali Rachel hadir pada jam pelajarannya.
"Baiklah anak-anak, kalian boleh hafalan rumusnya sekarang. Dimulai dari yang sudah siap, dan jika belum siap, kalian boleh menghafalkannya sekarang. kalau ada yang belum hafalan sampai jam saya selesai, saya tunggu diruangan saya sampai jam 3 Sore nanti. Mengerti?"
"Mengerti Bu," jawab mereka serempak dan mulai menghafalkan tugasnya.
***
Rachel bangun dari tidurnya karena tubuhnya terasa sakit. Dia meringis saat menyentuh bagian kepalanya. Sambil berjalan dengan tertatih, Rachel naik ke atas tembok yang sudah ia rubah supaya bisa dengan leluasa memanjatnya.
"Rachel!" suara bariton tersebut menghentikan aksi Rachel yang ingin memanjat tembok sekolah. Saat ia melihat ke belakang di sana terdapat Arda yang sepertinya siap memarahinya.
Ya, mereka satu sekolah dan saat ini Arda menduduki bangku kelas XII SMA. Selisih satu tahun dengan Rachel.
"Apa?" tanya Rachel santai dan kembali merasakan sakit dibagian kepalanya
Arda mendengmus kala melihat Rachel, "Lo ngapain? Bolos mulu gak bosen? Belajar Chel belajar! Abang udah capek ngasih tau lo ya, lo tuh—"
"AW!" ucapan Arda terhenti saat Rachel menundukkan kepalanya sambil memegang kepalanya dan tak lama ia pingsan.
Arda panik dan langsung menggendong Rachel ala bridal style. Tas hitam Rachel ia sampirkan di pundak kanan, dan berjalan ke arah mobilnya yang berada di parkiran depan.
Saat Arda berjalan sambil menggendong Rachel, banyak yang melihat mereka dengan pandangan bertanya, mereka memang tidak tahu kalau Arda adalah kakak kandung Rachel karena Rachel meminta merahasiakannya dari anak-anak sekolah. Kecuali Malik dan Kelvin.
Sampainya di halaman parkir, Arda melihat Malik dan Kelvin sedang duduk berdua di kursi panjang berwarna cokelat itu. Arda mendengkus kesal.
Itu anak berdua udah kayak homo-an. batin Arda.
"WOI!" panggil Arda kepada keduanya yang sedang asik bermain batu, gunting, kertas.
"ALLAHUAKBAR, CALON ISTRI GUE KENAPA?!" teriak Kelvin histeris dan mengundang tatapan dari orang sekitar, Malik langsung saja menjitak kepala Kelvin.
Keduanya lantas berlari mengejar Arda yang masih menggendong Rachel. "Kenapa bang?" tanya Malik kalem, tetapi masih memandang Rachel khawatir sama dengan Kelvin.
"Gak tau, nanti aja disana gue jelasin. Sekarang bantu gue buat bawa dia kerumah sakit!" Malik dan Kelvin mengangguk dan Malik segera membantu Arda untuk memasukkan Rachel kedalam mobil, Kelvin dengan sigap segera meminta ijin kepada pak satpam.
Pak satpam yang sadar situasi akhirnya membuka pintu gerbang lebar-lebar.
"DADAH PARA-PARA FANS, ABANG PERGI DULU YAW!" teriak Kelvin sambil melambaikan tangan kanannya. Malik menatap tajam Kelvin dan menjitak kepalanya.
"Cepet t***l!"
Akhirnya mereka berempat pergi menuju Rumah sakit terdekat untuk memeriksa keadaan Rachel.
***
"SUSTER DOKTER TOLONG ADIK SAYA!" teriak Arda panik saat melihat wajah pucat pasi adiknya.
"Kalian boleh tunggu disini selama dokter memeriksa keadaan pasien!" cegah seorang suster saat melihat Arda yang sangat panik dan ingin ikut masuk melihat keadaan adiknya.
Dengan gelisah Arda menatap ruangan itu cemas, dia khawatir dengan keadaan adik sematawayangnya tersebut.
Bagi Arda, Rachel lah satu-satunya keluarga yang ia punya. Setelah orang tuanya meninggalkan mereka begitu saja karena sibuk dengan urusan pekerjaan mereka. Meski setiap bulan mereka dibiayakan tapi tetap saja mereka tak menerimanya.
Uang tidak sebanding dengan kasih sayang orang tua.
Saat dilihatnya dokter yang memeriksa Rachel keluar. Mereka bertiga langsung bertanya kepada dokter tersebut.
"Gimana keadaan adik saya, Dok?"
Dokter tersebut diam dan menatap ketiga orang di depannya ini. Kelvin berdecak dan memandang malas dokter dihadapannya ini. Sudah tahu orang sedang panik, dia malah asik memandang.
"WOI PAK!" ujar Kelvin sambil menepuk bahu dokter tersebut. Dokter itu sempat kaget dan kembali menetralkan wajahnya.
"Hm ... Jadi begini, Pasien mengalami anemia dan sepertinya sudah cukup lama di biarkan. Kami sarankan agar mencari pendonor darah mengingat stok golongan darah O di rumah sakit ini sudah habis."
Arda dengan sigap maju untuk mendekati Dokter itu dan memandangnya penuh harap. "Bantu adik saya Dok, dan sekarang juga boleh operasinya. Tolong cek darah saya, Dok."
Dokter itu memandang Arda sebentar sebelum akhirnya mengangguk. Saat Dokter itu dan Arda ingin berjalan untuk memeriksa darah Arda, Malik menahan tangan Arda. "Gue ikut, kalau cocok bisa pakai darah gue!"
"Gue juga!" tambah Kelvin.
Dokter itu tersenyum lalu mereka berjalan untuk memeriksa darah yang cocok dengan Rachel.
Saat sudah selesai mengetes darah, mereka pergi keruangan Rachel. Disana tampak berbaring seorang gadis cantik yang biasanya terlihat kuat, sekarang berbaring tak sadarkan diri dengan wajah pucatnya. Hati Arda sedikit teriris kala melihat keadaan adiknya.
Arda duduk dikursi samping tempat tidur Rachel. Ia mengelus kepala adiknya itu. "Giva kenapa, Giva kenapa gak pernah cerita sama Abang kalo Giva sakit, Giva gak sayang Abang, hah? Kenapa Giva gak bilang sama Abang?" bisiknya ditelinga Rachel dan masih mengelus kepalanya.
Arda meletakkan kepalanya didekat tangan Rachel yang masih ter-infus. Malik dan Kelvin hanya diam melihat Arda dan Rachel.
Jujur, keduanya juga menyayangi Rachel sebagai sahabatnya. Mereka bersahabat sejak kelas 5 SD. Dulu, mereka semua bertetangga oleh sebab itu saling mengenal. Tetapi pada saat kelas 9 SMP Rachel bersama keluarganya pindah Rumah.
"Permisi!" sebuah suara mengalihkan pandangan mereka dari Rachel. "Saya ingin memberi tahukan kalau hasil test darah dari ketiganya tidak ada yang cocok dengan darah Pasien!" jelas seorang suster yang tadi mengalihkan pandangan mereka.
"Loh Sus, saya kakak kandung Pasien, bagaimana bisa darah kami tidak sama?" protes Arda.
Suster itu melihat kembali hasil laporannya itu. "Saya tidak tahu, tetapi memang benar disini tidak ada yang cocok dengan darah Pasien. Kalian bisa mencari orang terdekat untuk meminta donorkan darahnya. Karena stock darah O dirumah sakit kami sedang kosong. Saya permisi!" jawab Suster itu dan langsung pergi keluar ruangan.
"Rumah sakit apaan yang bisa kehabisan stock darah, kalah sama nyamuk!" celetuk Kelvin yang mendapat hadiah jitakan kepala dari Malik. "Ya t***l! Semua ada batasannya lah!"
Kelvin meringis, "Lo hobby banget sih jitakin kepala gue, kalau gue bego nanti gimana?"
"Ganti pala ayam," jawab Arda ikut nimbrung.
"Nah bener tuh, lo kan emang udah bego, Vin."
Kelvin cemberut dan langsung memiting kepala Malik dengan tangannya, Arda terkekeh geli melihat kelakuan teman adiknya itu.
"Udah ya, gue mau kekantor Mama sama Papa buat bicarain soal ini!" pamit Arda dan langsung pergi meninggalkan rumah sakit.
***
Sesampainya di kantor Papanya, Arda memakirkan mobilnya dan melangkah masuk ke dalam gedung, tapi saat tiba di lantai atas, tepatnya diruangan Papanya. Sekretaris Papanya melarang Arda masuk kedalam ruangan. Arda tetap kekeuh untuk masuk karena ini menyangkut adiknya.
"TOLONG BIARKAN SAYA MASUK!" bentak Arda, Sekretaris Papanya yang sepertinya umurnya tak beda jauh dengan Arda itu memandang Arda setengah kesal dan genit.
"Aduh adik ganteng, kamu susah ya kalau dikasih tau, ngotot banget lagi. Mending sini main sama saya!" ucap wanita itu centil.
Arda berdecih meremehkan, "Gue gak doyan sama yang udah kolot!" jawab Arda sambil tersenyum miring.
Wanita itu kesal dan melangkah maju mendekati Arda, "KAMU MENGHINA SAYA?!" pekiknya kencang. Arda masih tersenyum miring dan memasukkan kedua tangannya kedalam kantung celana.
"Gue gak meremehkan lo, tapi kayaknya lo itu gak pantes buat kerja disini, cocoknya di club yang banyak wanita seperti lo. Penggoda!" sinis Arda dan langsung mendobrak pintu ruangan Papanya.
Saat masuk, pemandangan pertama yang Arda lihat cukup mengejutkan. Disana terlihat Papanya, sedang memangku seorang wanita sambil berciuman. Yang pasti bukan mamanya.
"Wow!"
Papa Arda langsung berdiri dan merapihkan bajunya yang sedikit berantakan. "SURUH SIAPA DIA MASUK?! BUKANNYA SAYA SUDAH MELARANG UNTUK SIAPA SAJA TIDAK BOLEH MASUK?!" teriaknya sambil menatap keluar ruangan yang disana terdapat sekretaris penggodanya itu.
"Arda yang mau masuk sendiri, kenapa? Takut kalo ketauan selingkuh?" Arda memandang wanita itu sebentar, "Cih mainnya sama yang tua, mau Arda cariin yang muda Pah, yang masih kuat?"
Papanya menggeram. "JAGA UCAPAN KAMU! SAYA TIDAK PERNAH MENGAJARKAN KAMU SEPERTI ITU."
"Oh ya? Papa tidak pernah mengajarkan Arda seperti itu ya? Memang, Arda mengakui itu. Karena memang Papa nggak pernah merhatiin Arda dan Giva. Apa Papa tau kalo sekarang Giva lagi sakit? Nggak kan?" balas Arda sambil melempar vas kaca yang berada diruangan Papanya. Sedangkan perempuan itu sudah berlari keluar ruangan.
Papanya terdiam kala mendengar teriakan Arda, Arda tersenyum sinis melihatnya. "Giv ... Giva kenapa?" lirihnya.
"Gak usah sok perduli, Arda ke sini cuma mau kasih tau kalo sekarang Giva sedang ada dirumah sakit karena kata Dokter dia kena anemia, dan harus secepatnya mencari pendonor darah. Tetapi dia harus menerima pendonor darah yang cocok dengan darahnya yaitu O."
Arda lalu pergi meninggalkan ruangan Papanya, dan sampainya di depan ruangan Sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Arda?" itu suara mamanya, Arda tau itu dan benar saja, saat ia mendongak. Di depannya terdapat mamanya yang sedang memandangnya heran.
"Mama ngapain di sini?" tanya Arda.
"Mama mau membatalkan beberapa kontrak kerja dengan perusahaan ini. Mama sudah muak dengan Papa kamu!"
"Ma, Giva sakit Ma, dia butuh pendonor darah buat dia secepatnya!" tegas Arda langsung dan membuat mamanya panik.
"Giva kenapa? Ayo sekarang kerumah sakit. Mama bisa donor kan darah Mama untuk Giva!"
"Papa ikut!" potong papanya yang sudah berada dibelakang keduanya.
Mamanya dan Arda hanya melengos tak perduli.
"Whatever!"
***