BAB 4

893 Words
   "BANG ARDA, LO DIMANA?" teriak Rachel saat baru memasuki rumahnya. Dia baru pulang pada pukul 12 malam karena tadi sempat mampir ke area balap seperti biasa kalau dia sedang gabut atau merasa tidak mood.    "Giva jangan teriak mulu napa, sakit kuping gue lama-lama."    "Apaan sih, jangan panggil gue Giva napa. Geli dengernya, Bang!"    Arda tersenyum miris karena saat dipanggil Giva, Rachel tidak terima. Itu panggilan orang tuanya dan Arda dulu.    Ya dulu, saat semuanya baik-baik saja.    "Woi Bang, gue mau cerita deh!" mereka berdua lalu duduk di sofa berwarna marron itu, Rachel menaikkan kakinya ke atas meja dan mengambil cemilan yang sudah ada di meja ruang tamu.    "Cerita aja!" jawab Arda setelah ia ikut duduk disamping Rachel.    Rachel membenarkan letak duduknya, kemudian memiringkan badannya menghadap Arda.    "Tadi di kelas ada anak baru, terus pas gue lagi tidur dia ganggu gue Bang, tapi yang gue bingung itu kenapa dia bisa jadi ketua kelas di kelas gue ya? Padahal dia baru masuk kan. Sumpah gue benci banget sama dia Banf, udah ganggu gue, terus tiba-tiba bilang kalau dia mau gue berubah. Gue tampol aja mukanya lagian gue lagi gak mood buat ribut malah diusik kan. Mampus aja, gue langsung cabut."    Arda berdecak mendengar cerita adiknya ini, dia memang ajaib. Arda mengakui itu. Fisiknya perempuan tetapi tenaganya seperti lelaki.    Bahkan dulu, pernah suatu malam Arda ingin menjemput Rachel di arena balap seperti biasanya, disana ia melihat jika Adiknya sedang adu jotos dengan seorang lelaki.    Arda sendiri hanya diam memerhatikan sambil bersidekap d**a, dari jauh. Dan hal itu baginya sudah biasa.    "Bagus dong kalau dia mau lo berubah, jadi cewek feminin kek lo, yang dipanggil sayang dikit langsung merah mukanya." Arda terkekeh melihat respon Rachel yang seperti ingin menelannya.    "Ew! Yakali, gue malah geli Bang liatnya." Arda terbahak melihat tingkah Adik perempuannya ini. Memang ajaib, dia bingung sifatnya nurun gen dari mama atau papanya.    "Udah ah Bang, gue ngantuk!"    Setelah itu Arda hanya memperhatikan punggung Rachel yang berjalan menaiki tangga, Arda tau, punggung itu menyimpan banyak beban yang bahkan sendirinya tidak mengetahui itu. Rachel memang sering cerita kepadanya mengenai apa yang terjadi kepadanya hari ini.    Tapi kebanyakan yang Arda dengar dari cerita Rachel hanya mengenai pertengkaran atau keisengan Rachel sendiri. Dan Arda sudah pasti bisa menebak ending nya.    Saat sampai dikamar, Rachel menghempaskan tubuhnya ke Ranjang.    Capek banget, Batin Rachel.    Tak lama ponsel Hitam nya bergetar, pertanda itu ada notif masuk. Entah dari Line, i********: atau yang lain. Setelah diperiksa ternyata dari Line.    Marchelino Alfaro added you as a friend.    Marchelino Alfaro : hola!    Rachel menaikkan sebelah alisnya kala melihat pesan itu, mengapa Marchel mengirim pesan kepadanya, dan siapa yang memberi id line Rachel kepadanya?    Rachel Givata : ??    Marchelino Alfaro : Lagi apa?    Rachel Givata : mandi.    Marchelino Alfaro : lagi mandi? Lagi mandi kok main Hp?    Rachel Givata : bd.    Marchelino Alfaro : singkat banget neng. Jangan galak galak atuh, pukulan yg tadi masih membekas dipipi abang.    Marchel sendiri terkikik geli saat membaca pesannya yang dikirimkan kepada Rachel. Tadinya ia sempat berfikir jika mengahadapi gadis seperti Rachel harus dengan pendekatan yang baik-baik dan harus selalu berusaha sabar untuk menghadapi gadis itu.    Rachel Givata : g nny    Marchelino Alfaro : besok besok kalo mau pukul di bibir aja ya Chel, tapi bales pukul pake bibir    Rachel Givata : Ogt?    Marchelino Alfaro : ya gitu dong, btw Chel gue mau minta sama lo buat ubah sikap lo, lo ga kasihan apa liat orang orang yg susah karena lo? Lo tuh cewek Chel ga seharusnya kayak gitu. Coba deh lo rubah sikap lo, gue yakin banyak yang suka sama lo dan banyak yang respect sama lo.  [read] 00.34    "ANJIR DI READ DOANG?" teriak Marchel sambil bangun dari kasurnya. Memang benar cewek yang ajaib Rachel ini. Baru kenal sehari saja sudah seperti ini apalagi nanti kedepannya?    "MARCHEL, TIDUR UDAH MALEM!" teriak Bundanya dari lantai bawah. Orang tua Marchel memang tidak membiasakan anak-anak nya untuk tidur larut malam.    Marchel langsung mematikan Handphone nya dan meletakkannya di atas nakas samping ranjangnya. Dari pada nanti Bundanya atau papanya naik ke kamarnya dan alhasil Marchel pasti kena omelan karena bermain handphone sampai malam. Lebih baik Marchel segera tidur. ***    Besoknya, Rachel baru berangkat ke sekolah pada jam sembilan pagi. Ini semua karena tadi malam sehabis membaca pesan dari Marchel yang menurutnya basi itu, dia lanjut bermain game di handphone nya.    Alhasil dia terlambat, tapi itu tidak masalah bagi Rachel. Karena sudah terbiasa.    Sambil berjalan ke arah kelas, Rachel melirik jam hitam tipis dipergelangan tangan putihnya.    "Pelajaran si ikan buntel ini. Males banget," gumamnya pelan sambil sesekali melirik sekitar. Akhirnya Rachel berbalik arah menuju ke belakang sekolah. Tempat biasanya ia bersama sahabatnya.    Sesampainya disana, Rachel sedikit menepuk kursi putih usang itu. Setelah dirasa cukup meyakinkan untuk diduduki, lalu Rachel mendaratkan bokongnya dengan santai sambil tangan kirinya bergerak meraih sesuatu disaku bajunya. Rokok.    Dia menyalakan rokoknya itu dengan pelan dan santai. Diasap pertama, dia membuat bulatan-bulatan kecil pada asapnya.    Melihat itu Rachel tersenyum kecil.    Dia mengadahkan kepalanya menatap langit yang biru cerah seperti pagi biasanya.    Satu hisapan lagi dari mulut mungil Rachel.    Dia ingin sekali hidup jauh dari orang-orang sekitarnya sekarang, dimana dia hidup sendiri dengan orang-orang yang baru, kehidupan baru. Tapi Rachel sadar, jika ekspetasi tak sesuai realita.    Dia menggeser tas hitamnya yang hanya berisi satu buku tulis dan satu pena itu kearah ujung kursi. Lalu merebahkan tubuh mungilnya dan mulai memejamkan matanya.                                                                             ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD