BAB 3

1154 Words
Disaat siswa dan siswi yang lain sibuk dengan kantin atau entah kemana pada waktunya jam istirahat, Rachel justru menelungkupkan kepalanya di atas tas hitamnya dan membiarkan rambutnya menutupi kepalanya.    Disebelahnya terdapat seorang lelaki yang sedang membaca buku ensiklopedia miliknya. Sampai sebuah suara mengintrupsi pandangannya dari arah buku.    "Yang namanya Marchel dipanggil ke ruang guru!"    Marchel meletakkan buku ensiklopedia miliknya dikolong meja kemudian berdiri. Dia sempat melirik Rachel sebentar lalu berjalan kearah ruang guru.    Sesampainya di ruang guru Marchel mengetuknya terlebih dahulu.    "Permisi!"    "Masuk." Marchel melangkah masuk dan menemukan Wali kelasnya yang sedang duduk dimejanya sambil mencatat. "Ada apa ya Buk?" tanyanya.    "Duduk!" Marchel menggeser kursi didepan meja wali kelasnya itu kemudian duduk.    "To the point, begini. Jadi saya Ingin kamu jadi ketua kelas di kelas kita. Karena saya sudah lima belas kali mengganti ketua kelas dan semua tetap tak ada yang bisa membantu memperbaiki reputasi kelas kita dipandangan guru lain. Kamu tahu? Kalau setiap adanya rapat mingguan antara guru dan Kepala Sekolah, kelas kita yang selalu disebut menjadi kelas yang jelek karena anak muridnya. Selain anak muridnya yang gaduh jika adanya guru, ada seorang siswi lagi yang makin membuat kelas kita di cap jelek oleh guru lain. Kamu tahu siapa dia?"    Marchel menggeleng.    "Rachel Givata. Dia itu bandel banget. Kupingnya udah ditutup kali ya. Saya saja sudah capek jika disuruh untuk menangani Rachel yang suka bolos, membully siswa lain, mengerjai guru, merokok, kabur disetiap upacara, suka merusak fasilitas sekolah, seragam tidak sesuai aturan, bertengkar dengan anak lelaki. Bahkan sudah ada sepuluh orang lebih yang masuk rumah sakit karena Rachel, kemudian mereka semua pindah, ada beberapa yang menetap tetapi menghindar dari siswa lain. Seakan trauma." Ibu wali kelas menghela napas dan Marchel mengaga tidak percaya.    "Kami semua ingin men- drop out Rachel dari sekolah ini tetapi Papa nya kekeuh untuk menyekolahkan Rachel disini. Dengan memperbaiki apa yang dirusak Rachel disekolah ini dan mengurus siswa yang 'terkena' oleh Rachel."    Marchel mengerjapkan matanya, "Buset!" komentarnya pertama kali saat mendengar cerita dari Ibu wali kelas.    "Saya tahu kalau kamu itu mantan ketua OSIS di sekolah lama kamu, benar itu?"    Marchel mengangguk.    "Maka dari itu saya meminta kamu untuk menjadi ketua kelas, saya harap kamu bisa membimbing anak kelas dengan baik."    Marchel berdeham. "Baiklah Bu, akan saya coba," tegasnya. Ibu wali kelas tersenyum senang dan mengangguk.    Marchel pamit untuk kembali ke kelasnya.    Sesampainya di kelas, bel masuk berbunyi. Marchel mengguncang bahu Rachel yang masih tertidur dengan pelan.    Rachel bergumam, "Apasih?"    "Dengerin nanti gue mau ngomong sama anak-anak."    "Bodo amat lah!"    Saat guru yang seharusnya mengajar belum memasuki kelas, Marchel maju ke depan kelas. Seketika kelas yang tadinya berisik menjadi hening.    "Gue mau kasih tau ke kalian, mulai sekarang gue yang jadi ketua kelas kalian. Jadi tolong kerjasamanya. Gue mau kelas yang gue pimpin itu baik dimata guru dan jadi kelas yang tertib. Oh iya, gue mau nanya siapa ketua kelas sebelum gue?"    "Gue!" seorang anak lelaki mengangkat tangan nya, karena salah seorang temannya memberi tahu, tadi dia tidak menyimak apa yang diucapkan Marchel karena dia sibuk mengisi buku jurnal kelas yang terbengkalai selama dua minggu ini.    "Ah iya, mulai sekarang gue yang bakal ganti posisi lo ya!"    "Eh? ALHAMDULILLAH YA ALLAH." sorak lelaki itu sambil melompat senang, satu kelas terkekeh melihat tingkah mantan ketua kelasnya itu.    "Sekretaris? Wakil nya mana? Oh iya bendahara dan seksi kebersihan?"    Semua siswa atau siswi yang dipanggil jabatannya oleh Marchel mengangkat tanganya.    "Good! Gue mau buat kedua sekretaris, yang satu isi buku journal sama absen dan yang satu lagi nulis dipapan tulis kalo di suruh guru. Buat bendahara wajib mintain uang kas setiap minggu sekali dan gue minta harus ada laporannya, lo harus bisa tagih kesemua anak dikelas. Kalian semua juga harus mau diajak kerja sama. Dan untuk seksi kebersihan, lo setiap pulang sekolah harus kontrol piket anak-anak sesuai jadwal piketnya kalau mereka gak mau piket catet namanya dan kasih ke gue. Yang terakhir itu wakil ketua, gue mau lo harus bisa kerja sama dengan gue soal kelas ini. Gue butuh lo!" jelas Marchel dengan nada dingin yang membuat satu kelas seperti terhipnotis.    Mereka mengangguk. Kecuali dengan satu gadis yang masih setia dengan tidurnya setelah tadi dibangunkan.    "RACHEL!" bentak Marchel yang membuat Rachel yang sedang tertidur terlonjak kaget.    Gadis itu mengusap matanya. "Apaan sih pak, saya mau tidur jangan ganggu," jawab Rachel sekenanya, dia mengira yang barusan membentaknya itu guru fisika yang seharusnya mengajar.    Marchel menatap Rachel tajam. Dia menarik rambut Rachel. "APAAN SIH?!" teriak Rachel berdiri dan langsung menggebrak meja. Marchel beralih menatap Rachel santai sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana.    "Apa?" tanya Marchel saat Rachel menatap nya tajam karena Rachel baru tahu kalau Marchel lah yang mengganggu nya.    "Mau lo apa," desisnya geram.    "Lo yakin mau tau apa mau gue?"    "NGGAK USAH BANYAK BACOT!" Rachel yang sudah kesal semakin kesal dibuat Marchel.    "Mau gue lo berubah!" jawab Marchel dingin. Rachel berdecih dan melihat seisi kelas yang semua menunduk takut.    "Ada apa dengan dia? WOI UCUP GUE BAGI PERMEN MINT LO CEPET!" pinta Rachel. Siswa yang dipanggil ucup oleh Rachel itu pun menyerahkan permen yang dipinta Rachel.    "Makasih!"    Mata Rachel beralih menatap Marchel yang masih tetap pada posisinya. Oh sepertinya mereka sekarang sedang free class karena gurunya tak kunjung datang. Entah mereka harus senang atau justru menyayangkan free class kali ini karena suasana yang tak mengenakkan.    "So?" tanya Rachel dengan dingin sambil mengemut permen mint nya.   Sisil, gadis yang menggelikan menurut Rachel langsung heboh sendiri. "Haduh, panggil wali kelas deh!" celetuknya yang membuat pandangan seisi kelas mengarah kepadanya.    Rachel menatap tajam Sisil, seakan menelanjangi. "Berani lo panggil, pulang nanti jangan harap lo bisa tenang!"    Sisil bungkam, Rachel tersenyum kemenangan. "Siapa lo berani ancam dia?" tanya Marchel masih menatap Rachel dengan dingin.    "Gue? oh ya kita belum kenalan!" Rachel mengeluarkan senyum smirk nya yang mengerikan. "Gue Rachel Givata! Salam kenal dan ayo bermain dengan gue!"    Marchel maju dua langkah mendekati Rachel, kini berganti Marchel yang tersenyum miring. "Gue mau lo rubah sikap lo perbaiki image lo dan jangan lo permalukan kelas lagi! Termasuk. Lo. Semua," jawab Marchel penuh penekanan diakhir kalimat dan menatap seisi kelas.    "Lo tau apa tentang gue? Lagi pula, kalau gue gak mau turutin apa mau lo gimana?" tantang Rachel dan Kini Rachel berpindah duduk diatas meja.    "Kalau lo gak mau? Gue bakal cium lo disetiap pelanggaran lo!" satu kelas langsung riuh mendengar jawaban santai yang keluar dari mulut Marchel. Rachel bergidik ngeri mendengarnya, jijik sekali dia.    "ITU MAU LO!!!" Rachel mencengkram kerah baju Marchel. Dia kesal sekali dengan anak ini.    Sedetik kemudian, badan Marchel terhuyung kebelakang.    Rachel memukulnya.    Kini Marchel benar mengakui tenaga Rachel yang seperti lelaki. Bahkan dia merasakan bahwa mulutnya menguar rasa asin bercampur pekat. Itu darah.    Tak lama Rachel pergi dengan menggendong tas hitamnya, Marchel memandang punggung Rachel dengan tatapan yang sulit diartikan.    Beberapa anak lelaki membantu Marchel untuk mengobati lukanya. Tapi Marchel mengangkat tangan kanannya    "Gak perlu, kalian tenang aja disini, yang punya jabatan jalanin tugas yang gue kasih dan Sisil tolong bantu gue!"                                                                            ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD