Dinner Mate 9

1616 Words
Sebelum Anne datang ke danau Sunter tempatnya janjian. Ada seseorang juga yang sudah datang duluan di sana. Pria bule dengan mata biru laut itu hanya tersenyum tipis saat melihat si gadis yang ditemuinya di Bali bolak-balik melihat ke sana kemari, tentu saja karena mencarinya, padahal dirinya sudah berada di dekat situ. Mungkin karena hari sudah malam juga, makanya gadis cantik itu agak susah mencarinya. Apalagi di sini bukan hanya mereka berdua saja. Banyak sekali orang yang datang, meskipun bukan hari libur. Dari tua dan yang muda. Ada yang berpasangan. Ada yang berolahraga di situ. Ada yang kumpul bersama keluarga. Sampai bahkan ada yang jomblo karena duduk sendirian. Belum lagi banyak sekali pedagang di sekitaran danau. Sang pria mendesah pelan, lalu menghampiri gadis itu. Sebenarnya kalau bukan karena sudah berjanji, ia tidak akan mau bertemu lagi dengan gadis yang pernah ia selamatkan karena hampir bunuh diri di Bali kemarin. "Ehm!" Gadis itu pun berbalik badan ke arahnya. Iris mata mereka bertatapan. Entah kenapa ada perasaan asing yang datang menghampiri di hati sang pria saat melihat lagi gadis cantik itu. "Hai," sapa si gadis sedikit canggung. Pria dengan nama lengkap, Shin Sano Mahendra hanya tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan. "Kamu sudah lama datang?" "Belum lama," jawab Sano lumayan santai. "Kalau begitu mari kita pergi sekarang." Sano mengangguk. Dan Sano sedikit terpesona saat gadis itu menyelipkan rambutnya ke telinga. Kemudian mereka pun berjalan memutari sekitar danau. Kebetulan ini hari biasa jadi tidak terlalu ramai sekali di situ. Biasanya tempat itu hampir menjadi lautan manusia di kala hari libur. Mereka jalan tentu saja beda dari pasangan lainnya yang berjalan sambil bergandengan tangan, bahkan ada yang merangkul bahu si cewek atau ada yang mengapit manja lengan si cowok. Setelah berjalan cukup lama dan tentu saja berjalan sedikit berjauhan, akhirnya mereka pun berhenti. Tapi bingung mau duduk di mana. "Ah, bagaimana kalau kita duduk di situ?" tunjuk si gadis ke salah satu warung yang terletak tidak jauh dari pemandangan danau. Sano mengangguk kecil, mengiyakan ajakan si gadis. Dan Sano sedikit terkejut saat gadis itu memegang telapak tangan lalu menggeretnya pelan. Jangan tanyakan jantung yang sedikit berdetak kencang seiring mereka berjalan. Sano mendesah lega saat tangan gadis itu melepaskan tangannya, lalu mulai duduk di situ. Sano menatap tangan yang tadi baru saja berpegangan, eh lebih tepatnya dipegang oleh si gadis. "Duduk di sini cocok banget. Udah bisa duduk santai, di sini juga area terbaik bisa membuat kita melihat keindahan danau." Diam-diam Sano tersenyum mendengar celotehan si gadis. Dalam hati Sano bersyukur karena di Jakarta gadis itu sangat ceria, berbeda dengan saat ditemuinya di Bali yang seperti orang tidak punya harapan hidup. Tanpa Sano bertanya dan diberitahu, kenapa gadis itu sampai berbuat nekat seperti ingin mengakhiri hidupnya pasti karena seorang cowok. Entah alasan pastinya kenapa, tapi Sano yakin ini tentang perselingkuhan. "Kenapa kau berdiri saja!" Sano sedikit tersentak lalu mengerjapkan matanya berulang kali. Kemudian dia mengangguk lalu duduk tidak jauh dari si gadis. "Kita belum berkenalan resmi, soalnya saat kita berkenalan di Bali kemarin kamu tidak menyebutkan namamu," ucap si gadis sedikit sarkas tapi entah kenapa malah terdengar lucu di telinga Sano. "Ok, mari kita ulangi perkenalan kita." Sano menyodorkan satu tangannya, "Saya Shin Sano." Sengaja Sano tidak membawa nama belakangnya, Mahendra. Biarlah, toh nama 'Shin Sano' juga sama saja namanya. Gadis itu menyambut uluran tangan Sano dengan senyum mengembang. Sano melihat senyum itu membuat hatinya kembali berdebar. Senyum si gadis sangat indah, bahkan lebih indah dari senyum seseorang yang tidak ingin dia sebut namanya lagi. "Jihyo Adrianne. Kamu bisa memanggilku Jihyo atau Anne. Suka-suka kamu saja." Anne kembali melepaskan tangannya, lalu kembali menatap ke depan sana. Mereka pun kembali menatap ke depan. Angin sepoi-sepoi bercampur dengan berisiknya kendaraan jalan membuat mereka mau mengantuk tapi tidak jadi. Apalagi mereka berdua suka dengan ketenangan. Anne tidak tahu, ada beberapa orang yang sedang mengawasinya, dan ada dua orang memotret pemandangan itu. Bahkan beberapa dari 'mereka' sengaja duduk tidak jauh dari Anne, berjaga-jaga kalau saja adik majikannya terjadi apa-apa. Bisa digorok leher mereka oleh sang atasan. Ingatkan mereka waktu Anne sempat hilang beberapa hari saja, mereka dimaki-maki oleh sang atasan, apalagi kalau sampai terjadi hal-hal aneh dari gadis yang dijaga mereka. Jangan sampai, jangan sampai. Saat mereka masih duduk dalam diam, tiba-tiba perut Anne sedikit berbunyi karena lapar. Anne meringis tidak enak. Astaga malu sekali dia. Sementara Sano hanya tersenyum sembari geleng-geleng kepala. "Kamu belum makan?" Dalam keadaan menunduk dengan pipi mendadak memerah karena malu, Anne menggelengkan kepalanya pelan. Tidak berani menatap mata biru laut milik Sano. Sano terkekeh kecil, lalu beranjak dari duduknya, "Kamu di sini saja. Biar saya yang pesan sesuatu. Kamu mau makan apa?" "Em ... nasi goreng seafood sama teh manis hangat saja." "Yakin hanya itu saja, nggak kurang?" tanya Sano sedikit bercanda. Anne mendongak ke atas mendelik tajam ke arah pemuda yang sedang tersenyum geli. Rasa malunya sedikit terkikis oleh pertanyaan itu. Kurang katanya? Kalau saja ini di apartemen Anne bisa makan banyak. Tapi ini sedang bersama seseorang yang bukan siapa-siapanya, tidak mungkin Anne rakus makan banyak. Jaga image lah. Sano mengangkat kedua tangannya, "Saya bercanda, kok. Sebentar saya pesan dulu." Setelah Sano pergi, Anne mendesah lega. Ya ampun ... malunya sampai ke tulang sumsum, ini kenapa juga perut nggak bisa diajak kompromi sedikit. Ah, daripada masih kepikiran soal itu, lebih baik dia mengambil ponsel lalu foto-foto di situ. Kapan lagi kan dia berada di sini. Karena setelah dari kerja langsung pulang ke apartment dan tidak pergi kemanapun kecuali pergi ke rumah Deborra lalu istirahat di sana. Sano yang sedang menunggu makanan mereka hanya geleng-geleng kepala, melihat Anne sibuk berpose untuk mengambil foto. Ini sudah malam, mana mungkin foto wajahnya terlalu jelas. Dasar gadis ajaib. Ketika melihat foto selfie dirinya, kening Anne sedikit berkerut saat menyadari sesuatu yang janggal. Bukan hantu bukan. Tapi ke beberapa orang yang menatap tepat ke arahnya. Dan saat Anne melihat ke 'orang-orang itu', mereka malah melihat ke sana kemari seperti menghindari tatapan Anne. "Sepertinya ada yang tidak beres sekarang," gumam Anne pelan, dan sedikit takut. "Hei, ada apa?" Anne sedikit terlonjak kaget, saat mendapati Sano sudah kembali sembari membawa nampan berisi makanan mereka. "Maaf, maaf, kalau saya mengagetkan kamu," ucap Sano, sedikit bersalah. "It's okay. Aku nggak apa, kok. Eh, kita jangan berbicara formal bisa nggak? Lagipula kita bukan atasan dan bawahan yang mesti bicara formal. Sesama teman, aku lebih suka bicara santai. Kecuali kalau di kantor, boleh lah kita pake bahasa formal." Anne menerima nampan dari Sano. "Baiklah akan sa--- maksud aku, aku akan coba," jawab Sano sedikit tidak biasa. Sebab, dia hampir setiap hari selalu menggunakan bahasa formal. "Sip." Anne memberikan dua jempolnya ke Sano. "Mari makan...." Sano terkekeh kecil, lalu mendudukkan diri di samping Anne dan memulai makan makanannya. Perasaan Anne makin tidak enak, meskipun ada Sano di dekatnya. Entahlah, kenapa dia merasa begitu. Mungkin karena 'orang-orang' itu, jadi dirinya merasa ada yang mengawasi. "Kamu kenapa?" tanya Sano, yang menyadari gelagat tidak nyaman Anne. "Entahlah." Anne mengedikkan bahunya, "Aku seperti ada yang merasa sedang mengawasiku sekarang." Sano mendadak mencari tahu melihat ke sana kemari. Tidak ada yang mencurigakan, kok. Ada sekumpulan bapak-bapak dengan badan yang lumayan kekar, juga tidak ada masalah. Mereka sedang mengobrol. Menurutnya tidak ada yang aneh dari mereka. "Sudahlah, mungkin hanya perasaan aku aja yang kaya gitu." "Ok." Mereka pun makan dalam diam. Meskipun ini hanya nasi goreng seafood dan teh manis hangat, tapi bagi Anne ini enak sekali, mungkin karena lapar juga. "Ah, kenyangnya." Anne menandaskan satu piring nasi goreng seafood tanpa sisa. "Sebentar aku bayar dulu." Anne akan beranjak dari duduk, namun tangannya langsung dicegat Sano. "Tidak usah, aku sudah bayar." "Eh, kan harusnya aku yang gantian traktir kamu. Kok ini kamu yang bayar sih? Aku jadi hutang lagi dong." "Nggak apa-apa. Nanti lagi aja gantiannya." Anne cemberut, lalu kembali duduk di situ, "Ya sudah kalau gitu. Tapi nanti kalau suatu saat nanti kita makan bareng lagi, aku yang bayar. Nggak boleh diganggu gugat sama kamu." Tawa Sano pun akhirnya pecah, dan membuatnya langsung terdesak. Anne sedikit panik, beranjak dari duduk lalu menepuk-nepuk pelan punggung Sano. Sementara tubuh Sano langsung menegang, apalagi saat hidungnya mencium aroma parfum vanilla menenangkan dari Anne. Setelah itu Anne mengambil air putih untuk Sano. Yang diterima Sano dengan tangan sedikit bergetar. It's Like Dejavu. Kejadian hampir serupa dengan di Bali kemarin, saat mereka makan. Dan Anne bilang mereka seperti sepasang kekasih yang lagi 'Dinner'. Astaga ... kenapa bisa kejadian seperti ini lagi. "Sudah baikan?" "Hem...." Entah kenapa nada suara Sano mendadak gugup. "Udah malam, besok aku harus kerja lagi. Bisa aku pulang sekarang?" "Mau aku antar?" tanya Sano balik. "Tidak usah. Apartemen aku lumayan dekat dari sini." "Ok. Aku juga harus lembur kerja malam ini." Anne tersenyum, lalu beranjak dari duduknya, "Terima kasih untuk makan malam ini." "It's okay." "Ya sudah aku pulang dulu," pamit Anne. Sano mengangguk dengan senyum kecil. Anne berbalik badan lalu mulai berjalan pulang ke apartment. Tuh kan, saat dirinya berjalan seperti ada yang membuntuti di belakang. Tapi saat Anne menoleh ke belakang, tidak ada orang. Mendadak bulu kuduk Anne jadi berdiri semua. Tumben-tumbenan dia pulang dengan perasaan seperti ini, biasanya tidak. Apa karena tadi dia sempat berduaan ya? Kata orang zaman dulu, kalau ada sepasang kekasih yang berduaan ketiganya adalah setan. Makanya itu setan sekarang malah membuntutinya. Tapi kan mereka bukan sepasang kekasih, hanya teman. Itu pun tidak berdua saja tadi, banyak banget orang yang berada di situ juga. Anne mempercepat langkahnya seketika. Dia jadi kapok pulang malam sendirian. Saat sampai di depan gedung apartemen, Anne menghentikan langkahnya. Di depan sana ada seseorang yang berdiri membelakanginya. Siapa ya kira-kira? Di lihat dari postur tubuh dan gaya pakaiannya, ia bukan pria sembarangan. Namun kemudian, mata Anne membulat seketika dan nyawanya seperti tercabut dari tubuhnya saat orang itu membalik badan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD