Jean menatap tajam salah satu pekerja kesayangannya sembari berkacak pinggang. Sementara yang ditatap seperti itu mendadak kering tenggorokannya. Sepertinya dia butuh air yang banyak sekarang.
Ke seseorang yang sedang menatapnya lebih tajam dan lebih berbahaya dari tatapan sang kakak, dia harus bagaimana ini? Sekarang dia harus berpikir mendadak dan mencari bagaimana caranya agar sang atasan tidak marah, dan memberikan waktu sedikit lagi.
"Kau taruh helmnya dulu! Sekarang waktunya bekerja, Nona cantik. Saya harap kamu membawa ide yang terbaik setelah berlibur selama tiga hari di Bali," ucap Jean sedikit sinis. Kemudian berlalu dari hadapan Anne.
Anne mendesah pelan, lalu matanya melihat ke atas. Helmnya masih di atas kepala, ternyata.
Segitunya, Nne, ckckck.
Awal hari yang menyebalkan. Rasanya masalah ini, Anne ingin segera selesai supaya bisa hidup tenang lagi.
Anne kembali ke motor yang terparkir, melepaskan helm lalu menaruhnya di situ. Dia tidak peduli kalau helm pink-nya hilang untuk menambah kesialannya hari ini.
Kemudian Anne berjalan masuk ke dalam kantor. Ternyata sudah banyak yang datang hari ini. Jelaslah sudah banyak yang datang. Orang hanya dia saja yang telat datang hari ini.
"Hai, Nne," sapa Bora, dibalas ogah-ogahan oleh Anne.
Anne mendudukkan diri di kursi, dekat kubikel Debora. Mereka duduk bersampingan. Padahal harusnya mereka harus dipisahkan, sebab akan ada di mana kedua gadis itu bertingkah heboh dan menyebalkan.
"Nne, tadi lo datang disambut orang spesial ya?" tanya Bora, berbisik.
Anne mendelik sebal, "Brisik, Boraks!! Jangan buat gue semakin pusing."
Bora terkekeh geli. Namun seketika dia sedikit prihatin dengan kondisi Anne, kondisinya sudah seperti ponsel yang mau kehabisan baterai. Kata Upin Ipin dan kawan-kawan, kasihan...
Anne memencet dahi yang bekas terkena jedokan pintu. Rasanya nikmat sekali sekarang.
"Eh, jidat lo kenapa?" Bora ingin memegang dahi Anne tapi langsung ditepis kasar.
"Jangan sentuh, Bor! Sakit jidat gue!"
Bora meringis pelan. Kasihan juga sahabatnya itu. Nasibnya bulan ini buruk sekali. Semoga saja tidak ada yang lebih buruk dari semua ini ke depannya nanti.
"Jihyo, datang ke ruangan saya sekarang!"
Bora semakin meringis setelah mendengar teriakkan sang atasan, menyuruh Anne untuk datang ke ruangannya.
"Iya, Bu Jean."
"Semangat ya, Nne. Gue nggak tahu harus ngomong apa lagi selain ini." Bora tidak tahu harus melakukan apa buat membantu sang sahabat, jadi dia hanya mengucapkan kata semangat saja.
"Hiks, doain gue selamat dunia akhirat ya, Bor." Dengan keadaan lusuh Anne beranjak dari duduk, berjalan menuju ruangan bosnya.
Bora mengerjapkan mata berulang kali mendengar perkataan Anne. Kemudian jari telunjuk Bora membuat garis miring di dahinya karena melihat Anne yang sekarang.
Dengan berbagai macam perasaan seperti permen nano-nano, Anne mulai mengetuk pintu ruangan sang atasan. Kemudian Anne meneguk saliva susah payah karena mendengar suara datar dan dingin dari dalam menyuruhnya masuk.
"Permisi, Bu," sapa Anne, setelah membuka pintu.
"Cepat masuk, Nne. Saya tidak akan memakan kamu!"
"Baik, Bu." Anne menutup pintu, lalu berjalan menghampiri sang atasan yang sedang duduk dengan kaki bertumpu dan menatapnya datar.
Anne berdiri tepat di depan Jean, dengan pandangan terus menunduk ke bawah. Pikirannya sedang buntu sekarang, dan dia tidak tahu bagaimana caranya menjawab soal ide yang belum ada, tapi tidak membuat sang atasan marah atau memecatnya. Dia tidak mau dipecat dari pekerjaan ini.
"Duduk, Jihyo, jangan berdiri terus!"
Anne mendongak sebentar, terus kembali menunduk, kemudian mengangguk pelan. Dia berjalan menuju sofa panjang milik sang atasan, lalu mendudukkan diri di situ.
Jean juga beranjak berdiri dari kursi kebesarannya, lalu berjalan menghampiri Anne dan duduk di sofa single. Dengan gaya yang sangat anggun, Jean melipat satu kaki ke kaki satunya.
"Kau sudah dapat idenya, Adrianne?" tanya Jean dengan nada pelan, tapi membuat bulu kuduk Anne sedikit meremang.
Anne memilin kemeja warna cokelat muda, karena semakin gugup.
"Jihyo Adrianne," ucap Jean menekankan nama Anne.
Anne terisak kecil, lalu menangis. Tentu saja itu hanya drama. Semoga saja sang atasan luluh dengan cara ini. Hihihi
Jean mendadak panik, lalu menghampiri Anne yang malah menangis.
"Kenapa kau menangis? Saya tidak membentakmu, loh. Saya hanya bertanya, itupun dengan nada lembut."
Anne semakin terisak, kemudian memeluk Jean dan membenamkan wajahnya. Dalam hati Anne tertawa. Drama itu nggak boleh setengah-setengah bukan?
"Hei kau ditanya malah semakin nangis. Ada apa, Jihyo?" tanya Jean sedikit heran, namun membalas pelukan Anne. Ya, walau bagaimanapun Anne adalah salah satu pekerja kesayangannya.
"Maafkan saya, Bu Jean. I'm so sorry," ucap Anne dengan nada tersendat karena masih menangis.
"Kenapa dengan kau?"
"Saya belum memikirkan ide itu, karena saya sedang patah hati, Bu Jean. Mantan pacar saya selingkuh. Saya sangat sedih sekali. Bahkan saya hampir melompat dari jembatan."
"Kau tidak berbohong kan?"
"Saya tidak berbohong, Bu. Kalau saja tidak ada seseorang yang datang tepat waktu, mungkin sudah menjadi makanan ikan di sana," lirih Anne, mendramatisir.
"Astaga, Jihyo! Apa seorang pria hanya dia saja di dunia ini. Masih banyak, Jihyo! Masih banyak! Mati satu tumbuh seribu. Masa kau gara-gara hampir mau bunuh diri. Apa kau waras, Jihyo?" omel Jean panjang lebar, "Saya jadi gemas sama kau, dan ingin sekali mencekik mantan pacarmu itu."
Dalam hati Anne sekarang antara tertawa dan kesal karena mengingat mantan laknatnya. Batin Anne bahkan bersumpah, akan mendoakan sang mantan tidak akan hidup bahagia. Biarlah dia dikatakan jahat oleh orang lain. Suruh siapa mantannya berbuat jahat lebih dahulu. Tinggal tunggu waktu saja.
Jean mendesah pelan, "Ya sudah kalau begitu. Saya kasih kau waktu lagi untuk memikirkan ide yang saya minta."
'Yess!!' teriak Anne dalam hati.
"Maafkan saya, Bu Jean," ucap Anne penuh penyesalan, padahal dalam hati senang bukan kepalang. Setidaknya masih ada waktu untuk berpikir permintaan atasannya.
Kemudian mereka mengurai pelukan. Anne mengusap air mata buaya yang mengalir di pipinya. Sebenarnya Anne sudah tidak peduli atau sakit hati atas kejadian di Bali. Malah Anne sangat membenci mantan pacarnya sekarang.
"Kau tidak perlu menangisi pria b******k itu lagi. Masih banyak cowok, kok, di dunia ini."
Dengan wajah memelas, Anne hanya mengangguk pelan.
"Ya sudah sana kau kembali berkerja!"
Lagi-lagi Anne hanya mengangguk, "Terima kasih, Bu Jean."
"Hem."
Anne beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar.
'Yes, berhasil!' batin Anne berteriak heboh.
"Semangat, Jihyo! Fighting!" Dengan kedua tangan berkepal dan diangkat ke atas, Jean memberi semangat buat Anne.
"Fighting!" Anne ikut mengepalkan satu tangan, mengangkat ke atas.
'Maafkan aku, Bu Jean.'
"Ternyata pria hampir semua sama saja. Tukang selingkuh," gumam Jean setelah Anne menutup pintu ruangannya.
Anne mendesah lega, setelah menutup pintu ruangan atasannya.
Anne berjalan sangat percaya diri ke tempatnya. Mengabaikan beberapa staf yang menatapnya heran. Eh, sebenarnya mereka tidak heran lagi dengan kelakuan Anne sih.
Bora mengernyit, lalu menatap Anne dengan pandangan terheran-heran.
"Lo nggak dipecat Bu Jean, kan, Nne?"
Anne mendelik tajam ke arah sang sahabat, "Sembarangan kalau ngomong!"
Bora mengerjapkan mata beberapa kali, "Lah, terus gimana soal ide yang Bu Jean minta? Lo kan belum memikirkan ide itu, Nne. Wajar dong, gue berpikiran seperti itu." Bora menghedikan bahu acuh.
"Tapi bukan gitu, Boraks! Gue--- sini tak bisikin." Anne memberi kode supaya Bora mendekat. Tentu saja Bora mendekat karena ingin tahu apa yang dilakukan oleh sahabatnya.
Mata Bora membulat setelah Anne selesai membisikkan sesuatu.
"Lo serius?" tanya Bora tidak percaya.
Anne mengangguk semangat.
"Wah, lo benar-benar hebat." Bora bertepuk tangan heboh. Sementara Anne mengibaskan rambut bangga. Iya dong, Anne gitu loh...
"Terus lo dikasih waktu beberapa hari?" Bora kembali duduk di kursinya.
"Entahlah, yang jelas gue mau minta agak lama."
"Dasar ngelunjak," cibir Bora.
Anne mengibaskan satu tangan di depan wajah, tidak peduli.
Mereka pun mulai kembali bekerja. Anne terdiam menatap lurus ke komputer yang sedang menyala. Apa ya idenya?
Suatu keberuntungan bagi Anne karena saat mereka akan pulang ke rumah, Jean memberitahu semua staf termasuk Anne, kalau dia akan pergi selama dua Minggu ke luar negeri. Dia ada keperluan di luar negeri dan tidak boleh diwakilkan oleh siapapun.
Woah, setelah kesialan yang menimpa dia bertubi-tubi beberapa hari terakhir, akhirnya Dewi Fortuna memberikan sedikit kebahagiaan. Bebas selama dua minggu dong...
Anne dapat bernapas lega untuk beberapa hari ke depan sekalian memikirkan ide, dan ini lebih santai karena dia tidak terus ditagih atasannya.
Bukan hanya Anne yang sedikit santai kerjanya. Sebab beberapa staf juga lebih santai bekerja karena sang atasan tidak ada di kantor.
Ternyata Anne sedikit menyepelekan ide. Sebab sampai saat ini dia belum menemukan ide yang tepat.
Siang hari...
Anne sedang duduk menatap layar komputer sembari menggigiti pulpen. Itu adalah salah satu kebiasaan jorok Anne. Biarlah, toh tidak merugikan orang lain. Pulpen itu miliknya bukan milik orang lain.
Sementara di depan kantor petinggi perusahaan. Seorang pria yang sangat tampan baru keluar dari mobilnya. Kemarin ia sampai ke Jakarta setelah menempuh perjalanan kurang lebih enam jam dari Semarang.
Ia sengaja memakai mobil tidak mau memakai pesawat. Biarlah, sekali-kali pakai mobil. Toh, jaraknya juga tidak terlalu jauh.
Ia datang tentu saja tidak sendirian, karena ada beberapa pengawal yang ikut. Tiga orang salah satunya ia di mobil yang sama, sedangkan empat orang lainnya di mobil yang berbeda.
Ia jelas tidak akan menyetir. Ia kan bossnya.
Ia datang karena ada keperluan. Salah satunya untuk mengunjungi seseorang yang sudah lama tidak ia jumpai.
Kemudian ia berjalan sembari tebar pesona. Bahkan ia dengan sengaja mengedipkan mata genit ke salah karyawati yang kerja di tempat sang sepupu. Dan itu membuat si karyawati mendadak tersipu malu.
Ia juga sengaja memakai pakaian santai. Tidak memakai setelan jas yang biasa melekat di tubuhnya. Ia ingin berpenampilan seperti orang biasa, bukan orang yang mempunyai pangkat tinggi. Lagian ini bukan perusahaan tempatnya bekerja menjadi seorang yang sangat dihormati dan dihargai di sana. Ini adalah tempat sang sepupu, atau lebih tepatnya perusahaan besar milik sepupunya.
Ia melanjutkan langkahnya menuju lantai paling atas tempat sang sepupu bekerja.
Setelah itu ia masuk ke dalam ruangan sang sepupu, yang sudah menunggunya.
"Hai, Brother."
"Hai, Yon."
Ia mendudukkan diri di salah satu sofa layaknya boss besar.
"Sepertinya ada hal yang sangat penting sekarang, sampai-sampai membuat Tuan Leonard Adrian Baskara jauh-jauh datang ke Jakarta dari Semarang," ucap sang sepupu, sedikit sarkas.
Tuan muda Baskara hanya terkekeh kecil, sama sekali tidak tersinggung dengan wajah dan nada bicara yang datar milik sepupunya. Bagi Leon, itu sudah biasa.
"Kurang-kurangi wajah dan nada bicara datarnya, Den!"
Ya memang Hayden Abimana, tidak heran lagi dengan kedatangan sang sepupu.
Aden beranjak dari kursi kebesaran, lalu menghampiri Leon dan mendudukkan diri di sofa miliknya.
"Apa ada sesuatu yang membuat lo datang ke sini, Yon?"
Raut wajah Leon berubah serius, "Gue mau tahu tentang adik gue secara detail. Gue yakin lo tahu banyak tentang dia. Gadis nakal itu kalau sama lo kan terbuka. Dan gue mau lo jujur sama gue," ucap Leon datar dengan tatapan memicing ke arah Aden.
Mendadak Aden menaikkan satu alisnya.
"Cepat bilang, Den!"
Aden mencibir pelan, lalu mulai menceritakan semuanya.
Setelah Aden selesai bercerita, Leon malah mengumpat tidak jelas.
Sementara di tempat yang berbeda.
"Nggak terasa ya, sebentar lagi Bu Jean akan pulang dan kembali berangkat ke kantor."
Anne menghentikan jarinya yang sedang menari di atas keyboard.
Anne melihat jam dinding, waktu menunjukkan pukul setengah enam. Dan hari ini adalah Minggu ketiga di akhir bulan. Harusnya dia pulang sekarang dan bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat.
Kemudian Anne membereskan semua bawaannya. Dan kening Bora berkerut karena melihat Anne yang sedang tergesa-gesa.
"Lo mau kemana?"
"Gue harus pulang sekarang. Gue ada perlu di suatu tempat. Gue duluan, Bor!" Anne langsung melesat pergi setelah pamit ke Bora.
Bora menghedikan bahu tidak peduli dengan urusan Anne. Yang terpenting, Anne tidak akan berbuat nekat lagi. Minum racun sianida. Misalnya ya....
Anne pulang ke apartment dan langsung bergegas mandi kemudian siap-siap pergi. Kali ini Anne memakai bis untuk pergi tempatnya janjian dengan orang lain.
Setelah sampai di tujuan, Anne sedikit berlari masuk ke dalam lalu memindai seluruh tempat untuk mencari seseorang yang sudah berjanjian dengannya.
"Ehm!"
Tubuh Anne sedikit terkaget, lalu setelah beberapa saat Anne menoleh ke belakang.
***