Seseorang yang berada di perumahan elit kawasan Manyaran Semarang Jawa Tengah, sedang mencak-mencak tidak karuan lantaran ada sesuatu yang diberitahu oleh salah satu assisten di Jakarta mengabarkan kalau sang adik hilang beberapa hari dari pengawasan mereka. Padahal jumlah mereka lumayan banyak dan terdapat beberapa kelompok. Kok bisa gitu, loh?
Rasa kesal dan jengkel sekarang melanda di hatinya. Kenapa juga sang sepupu tidak memberitahu tentang itu kepadanya. Kalau bukan ia menempatkan beberapa orang di sana dan hanya mengandalkan sepupunya. Ia yakin, pasti tidak akan tahu menahu soal adiknya.
Sialnya beberapa hari ke depan, ia tidak bisa pergi ke Jakarta karena pekerjaan di sini sangat padat. Tentu lah padat, karena posisi ia adalah seorang CEO di perusahaan besar yang bergerak di bidang tekstil milik keluarganya. Makanya ia menyerahkan semua urusan sang adik yang kabur selama dua tahun dan menetap di Jakarta kepada sepupunya.
"Awasi terus dia! Awas aja kalau gadis nakal itu sampai hilang lagi. Saya tidak akan segan-segan memecat kalian. Menjaga satu gadis saja kalian tidak becus!" perintahnya datar dan tidak mau dibantah.
"Baik, Pak," jawab salah satu assisten patuh. Tentu saja ia tidak berani membantah sang atasan.
"Saya ada urusan di luar." Ia beranjak dari ruang kerjanya yang di d******i dengan warna hitam dan putih.
Ia berjalan menuju lantai bawah, ke garasi tempat mobilnya yang banyak. Beberapa warna mobil dari merk ternama dan berbagai mode, sampai harganya yang mencapai miliaran rupiah tersusun dengan rapi di situ.
Ia tidak tinggal di rumah utama, melainkan di rumah sendiri. Hanya weekend saja ia pulang ke rumah orangtuanya. Meskipun rumah mereka tidak jauh, namun ia memilih tinggal di rumah sendiri. Lebih nyaman dan tenang.
"Pak Leon," sapa salah satu assisten sedikit memunggukkan badan, yang bertugas di rumah Leon.
Pria tampan dengan panggilan Leon hanya mengangguk datar, mendapat sapaan dari salah satu orang kepercayaannya.
Leon memang menempatkan beberapa pengawal di dalam sini, selain rumah utama milik keluarganya.
"Saya akan menyetir sendiri. Kau pakai mobil lain saja!" Leon masuk ke dalam mobil setelah mengatakan itu.
Orang itu mengangguk patuh seperti biasa. Sang atasan memang seperti itu, apalagi kalau lagi kesal atau bagaimana. Wajah sang atasan berubah akan datar dan auranya bertambah dingin. Padahal setiap hari, sikapnya akan gokil dan perayu wanita yang handal.
Leonard Adrian Baskara, harus menyerahkan semua tentang dan urusan adiknya ke sang sepupu yang berada di Jakarta.
Sudah dua tahun, si 'adik bandel satu-satunya' kabur dan belum mau pulang ke rumah orang tua mereka. Sebenarnya Leon sudah gatal sekali ingin membawa sang adik pulang ke Semarang. Tapi adiknya itu susah sekali untuk dihubungi dan dibujuk. Mending sekarang adiknya itu tidak sampai ganti nomor baru karena ditelepon olehnya. Dulu, jangan ditanya, adiknya yang nakal itu sampai bolak-balik ganti nomor hanya karena takut dia menelpon. Menyusahkan saja! Mungkin kalau ada pekerjaan di Jakarta baru dia sekalian akan mencoba membujuk adiknya pulang ke rumah.
Orang tua mereka sendiri tidak terlalu khawatir karena di Jakarta ada yang menjaga adiknya. Mereka tidak tahu saja, kalau anak bungsunya semakin bandel sekarang. Apalagi tadi salah satu assisten bilang, sang adik sempat menghilang dan ternyata malah ke Bali. Berlibur. Astaga ... enak sekali hidupnya. Leon tidak tahu saja kalau di Bali adiknya seperti apa. Hampir ingin bunuh diri kalau saja tidak ada orang yang datang menolongnya.
Leon memijit kepalanya yang mendadak berdenyut pusing. Mungkin dia akan bertanya lebih detail lagi tentang adiknya ke sang sepupu. Ya, Leon yakin sepupunya tahu banyak tentang hal ini.
"Hallo, Baby." Seorang wanita tersenyum lebar dengan berpakaian modis dan sexy, melambaikan tangan ceria ke arah Leon.
Leon memaksakan senyumnya, lalu membalas lambaian tangan untuk menyambut pacar ke sekian. Sekian? Iya lah sekian, karena Leon sudah bolak balik berganti pacar.
Wanita itu berjalan anggun menghampiri Leon lalu mengecup pipinya mesra. Leon jelas saja sudah kenyang mendapat kecupan atau ciuman mesra dengan mantan-mantannya yang dulu. Untuk berhubungan badan sendiri Leon masih bisa mengontrolnya. Dia jelas tidak mau kebablasan, membuat wanita hamil terus datang ke rumahnya minta pertanggungjawaban. Lebih baik menuntaskan diri di kamar mandi. Bermain solo.
Mereka pun makan malam. Makanan mewah di tempat yang mewah juga.
Beruntung orangtua Leon tidak mau ambil pusing dengan kelakuan anak sulungnya. Yang terpenting Leon bisa menjaga diri, jangan sampai ada wanita hamil tiba-tiba datang ke rumah mereka. Kalau saja itu sampai terjadi. Jelas Leon akan diusir dari rumah dan dicoret dari daftar ahli waris perusahaan.
Kesenangan orang kaya di kala stress berbeda-beda bukan? Dia senang dengan wanita, sementara sang sepupu lebih memilih ke minuman.
Setelah menyelesaikan makanan, dan membayar semua tagihan, mereka pun pergi meninggalkan restoran itu. Untuk pergi berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Wanita dan barang-barang branded, bagi Leon sudah biasa.
Di Jakarta...
Berbeda dengan sang kakak yang sedang menghabiskan waktu bersama seorang wanita. Adiknya malah sedang pusing tujuh keliling karena pekerjaan yang belum siap gara-gara patah hati.
Jihyo Adrianne Baskara terus saja mengacak rambut hitamnya. Bagaimana dia memikirkan pekerjaan, sementara otaknya sedang tidak konsentrasi sekarang.
"Astaga ... kalau lagi seperti ini, aku jadi pengen nggak kerja dan lebih memilih menjadi putri papi dan mami yang nurut manut di rumah," gerutu gadis yang biasa dipanggil Anne, "Mami, hiks. Anakmu sedang pusing loh, Mi."
Pekerjaan Anne adalah sebagai content creator. Anne pikir pekerjaan itu sangat mudah karena hanya membuat konten yang ditonton ribuan bahkan jutaan orang saja. Nyatanya, membuat konten memerlukan waktu dan pikiran untuk membuat tontonan itu menarik, dan bagaimana membuat video yang aman ditonton buat segala umur. Bukan hanya orang dewasa, namun anak-anak juga bisa menontonnya. Ternyata susah ya? Apalagi mengenai rating video tersebut. Mendapatkan 100 orang penonton saja sangat susah, Wei.
Lagipula, kenapa sih ... masalah bertubi-tubi datang kepadanya. Anne juga kepikiran soal sang sepupu yang baru saja datang dan mengetahui semua hiruk masalahnya. Dia tidak tahu sang sepupu akan menjaga rahasia tentang ini dari keluarganya yang ada di Semarang, terutama sang kakak apa tidak. Jelas Anne ketar-ketir kalau sampai sang kakak tahu. Bisa diseret pulang dia ke Semarang. Dan kalau itu sampai terjadi, Anne akan mengutuk sang sepupu jomblo seumur hidup. Ha ha ha....
Anne tertawa terbahak memikirkan itu. Lalu tersadar. Astaga ... dia sudah seperti orang yang tidak waras saja sekarang.
Sudah setengah jam yang lalu Anne hanya menatap kosong laptop yang ada di depannya dan dia malah tertawa. Ckckck
Suara notifikasi ponsel membuat Anne sedikit terlonjak. Dia mengambil ponsel yang ada di dekat laptop, lalu membuka kunci untuk mengecek siapa yang malam-malam kirim pesan. Semoga saja bukan orang yang ada di pikirannya sekarang.
Mata Anne mendadak membulat setelah membaca pesan itu, dari sang atasan.
Anne melihat jam kecil di bagian paling atas ponsel, ternyata waktu menunjukkan sudah pukul dua dini hari tapi sang atasan masih terjaga.
"Ini orang kayanya tidak tidur kali ya?" gumam Anne sedikit menggerutu.
Setelah itu, Anne mengacak kembali rambutnya yang sudah sangat berantakan seperti reog.
"Sugar Daddy, mana Sugar Daddy." Seketika Anne ingin sekali mencari Sugar Daddy agar punya banyak uang tanpa harus capek-capek bekerja. Eh, Anne lupa kalau dirinya juga bukan gadis sembarangan. Dia anak bungsu keluarga konglomerat yang ada di Semarang.
Salah siapa Anne kabur ke Jakarta dan lebih memilih bekerja. Padahal disana bisa kerja di perusahaan milik keluarganya dan bisa mendapatkan posisi tertinggi seperti sang kakak.
Lambat laun Anne tertidur karena matanya tidak bisa diajak melek lagi. Dia tidur dalam posisi duduk, dengan kepala di atas meja. Semoga saja dia tidak terjatuh nanti.
Suara keras dari alarm ternyata tidak ada pengaruh bagi gadis cantik itu. Sebab sudah dua kali berdering Anne masih saja belum bangun dari tidurnya.
Semalam, dua jam Anne tidur di meja kerja, dia beralih ke ranjang karena sempat jatuh ke lantai. Penderitaannya sangat lengkap sekali, karena setelah jatuh ke lantai, dia kejedok meja saat hendak bangun. Fix! Dia akan mandi tujuh rupa kayanya nanti. Buang sial!
Deringan keempat kali, Anne berdecak kesal. Dia mengambil alarm yang berada di atas meja nakas, untuk mengeceknya.
"Ya ampun sudah hampir jam delapan. Aw!" Anne memekik kesakitan karena menepuk jidat yang terkena meja semalam.
Meskipun nyawa Anne belum sepenuhnya terkumpul, dia mendadak bangun dari tidur setelah melihat jam dan keadaan yang sudah siang. Mampus! Bisa-bisa dia dikuliti oleh sang atasan hidup-hidup ini. Sudah tidak masuk kerja karena cuti tiga hari, dan sekarang malah terlambat kerja.
"Ya Tuhan... dosa dan salah apa aku ini, sampai masalah silih berganti datang menghampiriku."
Anne masuk ke kamar mandi dan mandi secepat kilat. Biarlah, yang penting dia rapi datang ke kantor. Dan yang terpenting dia tidak bau ketiak.
"Ya Illahi Rabbi, inikah suratan ... oh.... Penderitaan silih berganti." Anne mendadak bernyanyi melow sembari mengaplikasikan meka up ke wajahnya secara cepat.
Setelah keluar dari apartemen kecil tempatnya tinggal dan mengunci pintu. Dia berjalan sedikit berlari, sampai-sampai mengabaikan sapaan beberapa orang yang tinggal di apartemen.
Kali ini Anne menyetir motor sendiri untuk berangkat ke kantor. Biasanya dia akan naik bis, lalu pulangnya diantar Debora. Nebeng gratis.
Gadis cantik berambut pendek teman Anne itu juga bukan gadis sembarangan. Dia salah satu anak dengan keluarga menengah ke atas juga sama seperti Anne. Sama-sama bungsu lagi.
Anne memakirkan motor maticnya, kemudian tergesa-gesa turun dari motor. Sangking terburu-burunya datang, Anne sampai tidak menaruh helm di motor dan datang ke dalam kantor masih memakai helm.
Anne menghentikan langkah seketika setelah melihat di depan sana ada seseorang yang sedang menatapnya tajam dengan gaya bossy-nya.
'Ah, mati aku! Kenapa dia datang,' batin Anne menjerit.
***