“Dik Shifa?” tanya seorang asisten perempuan dengan tagar nama ‘Mary’. Shifa menganggukkan kepalanya. Shifa menatap ke arah asisten itu, seakan menyelidiki apakah asisten bernama Mary ini tahu sesuatu tentang hubungannya dengan Karim.
“Apa mau aku bawakan minuman?” tawar Mary kepada Shifa. Shifa sedikit terkesiap mendengar tawaran seniornya, tetapi hanya menganggukkan kepalanya dengan lemah.
“Mau minuman apa?” tanya Mary lagi kepada Shifa. Shifa tampak memikirkan sejenak sebelum akhirnya dia memilih minuman yang dia rasa bisa tubuhnya terima.
“Air putih anget, Mba,” jawab Shifa pelan. Mary menganggukkan kepalanya dan wanita itu pergi meninggalkan Shifa. Shifa mengembuskan napas berat.
Kepalanya sedikit pening. Kalimat-kalimat Karim di pergumulan mereka siang tadi sedikit menghambat proses berpikirnya.
“Aku menginginkanmu, Shifa.”
“Sentuhanmu. Aku merindukan ini.”
Kalimat Karim berputar seperti sebuah lagu di benak Shifa. Meskipun dia sendiri yang memulai masalah ini, Shifa merasa dia menggali kehancurannya dengan terus berkomunikasi dengan Karim. Masa lalu kelamnya yang ingin dia tutup akan terbuka lebar jika dia tidak mengendalikan diri.
“Ini salah,” gumam Shifa pelan. Dia merasa bodoh dengan tindakannya. Demi mencapai kepentingannya, dia melakukan hal yang dia ingin tutup dengan meninggalkan masa lalunya. Karim bisa menghancurkan benteng kehidupan yang dia bangun perlahan.
“Eh, kenapa gak ikut praktikum, Dek?” suara seseorang membuat Shifa menaikkan pandangannya dan bertemu dengan seorang wanita yang mengenakan pakaian asisten. Nama yang ada di pakaian wanita itu membuat Shifa terkesiap.
“Mba Cahaya,” gumam Shifa menyebut nama itu. Suara itu sangkut di tenggorokan Shifa, tidak keluar dari mulutnya.
“Saya tidak enak badan, Mba Cahaya,” jawab Shifa pelan. Lidahnya terasa perih menyebutkan nama kekasih Karim. Shifa sedang menjadi penjahat di belakang wanita itu dan Shifa menyadari penuh tindakannya.
“Ah, apa menstruasi?” tanya Cahaya yang membuat Shifa semakin tidak nyaman. Shifa tidak bisa menjelaskan bahwa dia menjadi tidak nyaman karena mengambil pil darurat, apalagi sampai menceritakan tentang pergumulannya dengan Karim. Itu sama saja dengan bunuh diri.
“Nggak tahu, Mba Cahaya. Sepertinya salah makan,” jawab Shifa menyesuaikan dengan alasan yang dia berikan kepada teman-teman satu kelompoknya. Akan berbahaya jika dia memberikan testimoni yang tidak konsisten ke orang-orang. Satu atau dua orang bisa menyadari kejanggalan dari testimoni yang dia berikan.
“Apa perlu saya temani, Dek?” tanya Cahaya yang membuat Shifa semakin tidak nyaman. Ditemani oleh asisten yang merupakan kekasih asisten lain yang kamu selingkuhi di belakangnya sangat tidak nyaman. Shifa menggelengkan kepalanya.
“Tidak perlu, Mba Cahaya. Sudah ada Mba Mary,” jawab Shifa pelan. Cahaya melihat ke sekitar.
“Mary mana?” tanya Cahaya yang bingung. Shifa mengembuskan napas pelan.
“Sedang membelikan minum,” jawab Shifa. Tenggorokan Shifa terasa tidak nyaman jika percakapan ini terus berlanjut. Tidak hanya perut dan kepalanya yang sakit, dia juga tidak nyaman secara emosional berbicara dengan Cahaya.
“Oalah. Aku temanin-” kalimat Cahaya terpotong oleh suara asisten lain.
“Ngapain, Cahaya? Itu ruangan asistennya kurang lho,” tanya Yusuf seraya memberi isyarat perintah. Beberapa asisten lain juga berdatangan di belakang pria itu. Shifa berpikir bahwa mereka baru selesai kelas.
“Ini, ada maba yang sakit,” jawab Cahaya seraya menunjuk ke arah Shifa. Shifa tidak nyaman menjadi fokus perhatian mereka. Di dalam benaknya, dia ingin teriak supaya mereka semua meninggalkannya sendiri.
“Wah, pada datang ya,” suara Mary memberikan secercah harapan kecil bagi Shifa. Shifa tidak ingin para asisten ini terus menjadikan dirinya fokus pembicaraan. Shifa ingin mereka segera meninggalkan dirinya.
Mary memberikan Shifa segelas air hangat. Shifa pun segera menyeruput minuman itu.
“Aku urus di sini ya, Yusuf. Di dalam kekurangan orang,” komentar Mary kepada para asisten, mengisyaratkan mereka semua perlu segera mengurus praktikum. Yusuf menganggukkan kepalanya, lalu memberikan instruksi kepada semua asisten lewat isyarat. Semua asisten segera meninggalkan Shifa, kecuali Yusuf dan Mary. Cahaya pun bergegas menuju ke ruangan yang Shifa tahu merupakan ruangan Karim berjaga.
“Mary, kamu ada ide kenapa Syahid tidak banyak berkomentar belakangan ini? Aku merasa asisten junior itu menyembunyikan sesuatu,” komentar Yusuf kepada Mary. Shifa menaikkan sebelah alisnya, penasaran dengan topik yang tiba-tiba mereka lontarkan.
“Aku tidak tahu, Yusuf. Syahid tidak terlalu akrab dengan asisten lain, bahkan yang seangkatan,” jawab Mary. Yusuf mengembuskan napas berat.
“Sayang sekali. Asisten yang tiba-tiba berubah sikap itu sangat jelas bagiku,” komentar Yusuf. Mary tampak berpikir sejenak.
“Syahid sebenarnya tidak mau aku ngomong soal ini,” komentar Mary kepada Yusuf. Sepertinya Mary menganggap apapun topik yang akan dibicarakannya aman untuk di dengar oleh Shifa. Mungkin Mary menilai bahwa Shifa tidak menjadi masalah jika tahu informasi yang akan dia berikan ini.
“Katakan saja, Mary. Aku akan gunakan untuk mengevaluasi situasi saja. Aku merasa aneh saja sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Seberapa pun perubahan orang, tidak bisa kamu berubah dari orang talkative menjadi sangat pendiam hingga menghindari percakapan jika tidak ada sebuah masalah,” komentar Yusuf kepada Mary. Mary menganggukkan kepalanya lalu mendekat ke Yusuf, seakan ingin membisikkan sebuah informasi.
“Syahid bilang ada asisten yang berkhianat,” ucap Mary pelan, tetapi Shifa bisa mendengar kalimat itu meski samar. Shifa tidak terlalu tertarik. Pengkhianatan dalam konteks asisten jelas lebih ke masalah internal mereka.
“Apa maksudnya? Berkhianat dalam artian apa?” tanya Yusuf pelan.
“Ada asisten yang membelakangi kekasihnya,” jawab Mary pelan. Shifa terkesiap mendengarnya dan langsung terbatuk. Yusuf dan Mary tampak kaget mendengar batuk Shifa, tetapi Shifa segera membuat alasan.
“Sepertinya tenggorokan saya kurang nyaman,” ucap Shifa mencari alasan.
“Nggak tersedak ‘kan?” tanya Mary memastikan. Shifa menggelengkan kepalanya.
“Masalahnya asisten yang punya kekasih gak satu atau dua,” komentar Yusuf memutar bola matanya dengan malas. Shifa ingin berterima kasih bahwa ada lebih dari satu asisten yang punya kekasih.
“Iya. Dia nggak mau ngomong lebih jauh,” balas Mary, “hanya saja aku pikir kejadiannya barusan, mengingat baru belakangan ini sikap Syahid berubah.”
Shifa menjadi tegang. Apakah yang dicurigai oleh asisten junior bernama Syahid adalah Karim? Shifa tidak ingin menjadi target bulanan para asisten. Itu tidak termasuk dalam rencana yang dia susun.
“Susah sih kalau anaknya gak ngomong,” keluh Yusuf, “Aku akan coba cari informasi.”
“Oh ya, satu lagi. Zachary tadi juga lebih pendiam dibandingkan sewaktu sebelum kelas. Dia bilang kalau dia agak pusing. Hanya saja, aku tidak pikir diam dia adalah ‘pusing’,” komentar Mary kepada Yusuf. Yusuf menaikkan alisnya.
“Layak diperiksa,” curiga Yusuf. Shifa menjadi tidak tenang. Dia yakin Zachary adalah asisten yang menyorotnya tajam tadi. Asisten yang Shifa curiga bukan sekadar menilai kondisi kesehatannya.
“Aku yakin Zachary tidak akan menjawab. Kamu tahu kalau dia merasa sebuah informasi berbahaya. Beda dengan Ishmael yang ember,” komentar Mary. Yusuf menganggukkan kepalanya.
“Zachary selalu di depan soal informasi. Hanya saja, kalau itu informasi non-akademik dan berpotensi konflik, dia menjadi sangat tertutup,” tanggap Yusuf. Mary menganggukkan kepalanya.
“Siapapun asisten itu, aku hanya ingin mendapatkan informasi lengkap sebelum menindak lebih lanjut.”
Shifa terdiam mendengar percakapan dua asisten itu. Sikap Zachary yang menurutnya lebih dari sekadar menilai fisik kesehatan, serta sikap asisten bernama Syahid yang dia yakini berubah belakangan ini sepertinya berhubungan. Satu-satunya yang dia tahu terkait perselingkuhan asisten adalah dirinya dengan Karim di belakang Cahaya.
Shifa dalam bahaya.