Shifa terdiam dengan komplikasi situasi yang dia hadapi. Karim menjadi berbahaya baginya. Dia harus menjaga jarak segera. Shifa tidak ingin kehidupan tahun pertamanya hancur gara-gara mengejar sebuah huruf A+ di nilai praktikum paling sulit saja.
“Kalau begitu, aku serahkan maba ini ke kamu, Mary,” komentar Yusuf seraya meninggalkan Mary dan Shifa. Shifa tidak tahu apakah dia harus tenang atau waspada. Dia tidak tahu siapa asisten yang dibahas oleh Mary dan Yusuf sebagai pengkhianat. Shifa sebenarnya ingin menggali informasi, tetapi dia tidak tahu bagaimana dia bisa menggali tanpa Mary mencurigai dirinya.
“Huft, pasti Yusuf mau coba gali info dari Zach. Mesti,” keluh Mary. Shifa meminum air hangat pemberian Mary sambil mendengarkan seniornya mengeluh.
“Oh, maaf kamu dengar soal urusan pribadi ya,” ucap Mary kepada Shifa. Shifa menggelengkan kepalanya. Sebenarnya, Shifa berterima kasih karena itu memberikan dia kesadaran untuk berhati-hati. Hanya saja, dia tidak tahu bagaimana dua asisten itu bisa mencurigai asisten lain berkhianat.
“Mba. Apakah banyak asisten yang punya kekasih?” tanya Shifa penasaran. Mary yang mendengar itu tampak terkejut, tetapi wajah riang terlukis di wajah wanita itu.
“Wah, Dik Shifa penasaran?” tanya Mary seraya menyejajarkan wajah mereka. Shifa menganggukkan kepalanya.
“Kamu boleh tahu, tetapi gak boleh kasih tahu siapapun,” ucap Mary kepada Shifa lagi, “Kamu tahu ‘kan para asisten dan tim proses gak mau bobrok angkatan atas ketahuan?” lanjut Mary lagi seraya celingak-celinguk. Dia sepertinya memastikan hanya Shifa yang mendengar. Shifa memberikan anggukan pelan, memahami persyaratan yang diberikan. Sepertinya asisten Mary termasuk asisten paling bersahabat di antara semua asisten.
“Siap Mba,” jawab Shifa pelan. Shifa tidak masalah menyimpan sedikit rahasia. Mary menyebutkan nama pasangan dari lab Mary berasal yang Shifa tidak kenali kecuali Karim dengan Cahaya. Wanita itu juga memberikan banyak komentar tentang pasangan-pasangan itu. Shifa berusaha untuk tidak berkomentar banyak, terutama kala membahas Karim dan Cahaya. Hanya saja, Shifa menjadi mengetahui bahwa Karim dan Cahaya bertunangan.
“Nah. Jadi, yang jomblo itu ya di lab ku cuma Cecilia, Yusuf, Syahid, dan Olivia,” komentar Mary lagi. Shifa langsung membuat komentar kecil.
“Mba sendiri tadi gak ada di daftar pasangan,” komentar Shifa. Mary langsung terkejut.
“Wah, kamu sadar ya,” keluh Mary. Shifa hanya tersenyum tipis.
“Aku tuh sudah jenuh, Dik. Doiku gak peka-peka,” keluh Mary. Shifa hanya bisa menganggukkan kepala, paham keluhan Mary.
“Sabar Mba. Nanti dapat yang terbaik kok,” balas Shifa dengan senyuman. Mary hanya mengembuskan napas pasrah.
“Jujur, aku penasaran bagaimana sih bisa punya kekasih,” keluh Mary, “Tiap teman-teman bahas soal hubungan mereka, apalagi yang sudah sampai ranjang, aku kesal.”
Shifa tidak tahu ingin berkomentar apa, karena bayangan pergumulan dirinya dengan Karim mengganggu pikiran Shifa.
“Ah! Milikmu luar biasa, Shif!”
“Milik Mas juga! Ah! Lebih dalam! Ah!”
Shifa menggelengkan kepalanya, mencoba menghapus pikiran yang berkecamuk. Mary tampak melihat ke arahnya kala pikiran itu menghilang.
“Kenapa, Dik Shifa?” tanya Mary. Shifa menggelengkan kepalanya.
“Nggak apa, Mba. Sempat pusing tiba-tiba,” jawab Shifa. Mary menganggukkan kepalanya.
“Maaf kalau kebanyakan info nya,” balas Mary. Shifa menggelengkan kepalanya.
“Nggak kok Mba,” jawab Shifa pelan. Mary terlihat senang bahwa praktikan sekaligus mahasiswa baru ini mau mendengarkan cerita-ceritanya.
“Ah, sudah mau selesai,” komentar Mary melihat waktu di jam tangannya. Shifa pun menyadari bahwa Mary telah banyak bercerita tentang kehidupan romantis para asisten menurut kacamatanya. Cerita tentang Karim dan Cahaya paling membuat gadis itu tidak nyaman. Dia sedang menjadi perebut lelaki yang bertunangan.
“Terima kasih Mba sudah mau menemani saya,” ucap Shifa setulus mungkin. Perasaan bersalah berkecamuk di benak gadis itu. Hidupnya seakan dimakan habis-habisan oleh rahasia yang dia ketahui dari asisten bernama Mary itu.
“Tidak apa. Kamu memang tidak fit jadi wajar saja,” komentar Mary memaklumi. Shifa menganggukkan kepalanya.
“Kalau perlu teman berbincang di kampus hubungi saja aku,” ucap Mary lagi. Mungkin Shifa harus menerima tawaran persahabatan asisten di depannya ini. Shifa menganggukkan kepalanya. Mary memberikan Shifa nomor teleponnya, yang segera gadis itu simpan dengan nama ‘Asisten Mary’.
“Terima kasih, Mba Mary,” ucap Shifa setulus mungkin. Tepat saat para praktikan mulai berhamburan keluar, Mary berpamitan dan meninggalkan Shifa untuk bertemu rekan-rekan asisten wanita itu.
Hanya saja, Shifa mencoba untuk tetap menjaga jarak secara bawah sadar. Mary adalah seorang asisten. Setiap asisten adalah bahaya bagi Shifa. Gadis itu juga curiga Mary sedang menggali informasi terkait perselingkuhan di kalangan asisten.
Dua asisten yang paling layak dia menjaga jarak adalah Zachary yang menatapnya penuh kecurigaan dan Syahid yang disebut oleh Mary. Masalahnya, Shifa tidak tahu yang mana asisten bernama Syahid itu.
“Bagaimana rasanya di luar bersama asisten?” tanya Cory yang penasaran. Shifa tersenyum kecil.
“Mba Mary sangat bersahabat,” jawab Shifa sekenanya.
“Sudah lebih baik?” tanya Yesaya kepada Shifa. Shifa menganggukkan kepalanya.
“Syukurlah kalau begitu,” ucap Yesaya seraya mengembuskan napas lega.
Zachary berlalu melewati mereka membawa dokumen di tangannya. Hanya saja, Shifa menyadari bahwa Zachary sepertinya sengaja menyenggol halus tubuh mungil Shifa. Shifa langsung merasakan bahaya, tetapi dia tidak bisa menunjukkannya di depan rekan-rekan satu timnya.
Zachary berlalu begitu saja, seakan tidak ada yang terjadi. Setelah itu, para asisten berlalu satu per satu seperti biasa. Hanya saja, Shifa menyadari ada satu asisten muda dengan wajah tidak bersahabat juga menyenggolnya.
“Syahid,” gumam Shifa kala asisten itu menyenggolnya. Sepertinya, dua asisten itu sedang mengirimkan peringatan pada Shifa. Shifa harus berhati-hati ke depannya. Masalahnya dengan Karim sekarang menjadi rumit karena asisten lainnya mulai terlibat.
“Asistensi dengan Mas Karim katanya nanti jadwalkan,” komentar Yesaya yang membuat Shifa kembali ke kenyataan. Masalahnya dengan Karim membuat dia mulai sering melamun mencari solusi hingga tidak berfokus ke kondisi sekarang.
“Kapan enaknya?” tanya Cory.
“Senin jam 2,” usul Adit.
“Boleh. Aku setuju sama Adit,” ucap Nora cepat. Shifa melihat Cory memutar bola matanya.
“Mesti kalau Adit usul langsung gas,” komentar Cory. Yesaya berdehem, menghindari konflik mulut antara Nora dan Cory.
“Shifa dan Cory bagaimana? Senin jam 2?” tanya Yesaya.
“Aku setuju saja,” jawab Shifa pelan. Cory mendesah pelan.
“Baiklah,” ucap Cory pasrah.
Shifa memahami bahwa waktunya bersamaan dengan praktikum dan kelas Kalkulus selesai jam 2 siang. Hanya saja, Shifa tahu bahwa Karim jarang mengambil sesi jaga.
“Oke. Aku mintakan ke Mas Karim ya,” ucap Yesaya lagi. Yesaya lalu mengetikkan sebuah pesan ke ponselnya. Shifa baru menyadari pria itu memegang ponselnya sedari tadi.
“Oh. Oke kata Mas Karim,” ucap Yesaya yang sedikit terkejut. Pria itu sepertinya tidak menduga respons cepat dari Karim.
“Dia juga akan kasih tugas asisten sesuai individu,” komentar Yesaya lagi. Shifa melihat Adit langsung memprotes.
“Heh? Bukannya dia selalu ngasih tugas sama semua?” tanya Adit tidak percaya.
“Sepertinya ada pertimbangan lain?” usul Cory. Shifa merasa tidak nyaman dengan apa yang sedang dilakukan oleh Karim. Pria itu sepertinya punya rencana yang Shifa tidak sukai.
“Aku rasa kita ikuti saja dulu. Aku sudah undang Mas Karim ke grup khusus supaya dia bisa dapat nomor kalian,” komentar Yesaya lagi. Shifa merasa tidak tenang. Gadis itu tidak ingin membuka ponselnya.
“Intinya cek pesan masing-masing ya. Mas Karim masih mempersiapkan katanya,” ucap Yesaya lagi. Shifa mengembuskan napas lega.
“Ada waktu persiapan,” komentar Shifa refleks. Untungnya, kalimat itu memiliki makna ganda.
“Persiapan untuk meratapi nasib?” tanya Adit tanpa rasa sensitif yang membuat bahunya dipukul oleh Cory.
“Kamu mungkin pacar Nora, tapi jangan berani merendahkan Shifa!” hardik Cory. Adit langsung menjaga jarak, tahu bahwa Cory tidak suka jika dia mengejek Shifa.
“Baiklah. Aku rasa kita bisa cukupkan,” ucap Yesaya melerai mereka.
“Oh ya, Shifa, jangan lupa shift susulan,” pesan Yesaya mengingatkan Shifa untuk praktikum susulan. Mereka pun membubarkan diri, sementara Shifa yang sudah mulai lebih baik akhirnya mengikuti sesi selanjutnya di ruangan Zachary setelah diizinkan oleh asisten yang berjaga di sesi selanjutnya.
Shifa bersyukur Karim tidak ada di ruangan itu. Gadis itu mendengar bahwa Karim memutuskan untuk pulang setelah sesi pertama.
Saat Shifa berjalan menuju area parkiran untuk memesan ojek daring, dia mendapatkan pesan dari Karim. Pesan yang membuat Shifa ingin mengatakan bahwa dirinya benar-benar membangunkan singa yang salah.
“Tugas asistensimu adalah bertemu denganku sebelum asistensi Senin.”