01. BAYANG BAYANG KEHIDUPAN YANG TERKURUNG
Bab 1 — Bayang-Bayang Kehidupan yang Terkurung
Aku selalu percaya, kehidupan bisa sangat kejam bagi mereka yang tidak punya siapa-siapa. Dan aku? Aku termasuk salah satunya.
Pagi itu, sinar matahari yang menembus jendela tinggi di paviliun belakang rumah mewah Arka Dirgantara terasa seperti racun. Hangatnya sinar itu sama sekali tidak memberi kenyamanan, hanya mengingatkanku bahwa aku masih hidup—dan terkurung. Di kamar berukuran besar, dilapisi marmer dingin dan perabotan mahal yang jarang disentuh, aku berbaring di ranjang sempit yang seakan menindih tubuhku. Nafasku berat, setiap detik terasa seperti beban.
Dua tahun aku menjalani kehidupan seperti ini. Dua tahun tubuhku melemah demi menjaga hidup orang lain. Mereka bilang aku penyelamat nyawa, tapi di mataku, aku hanyalah objek. Alat medis yang bisa dipakai sesuka hati oleh pemilik rumah ini, Arka Dirgantara, pria yang tidak pernah menunjukkan sedikitpun rasa empati.
Pintu kamar terbuka tanpa ketukan. Aku mengenali langkahnya—keras, pasti, penuh otoritas. Arka masuk dengan jas hitam yang selalu rapi, ekspresi wajahnya datar, seperti batu. Tatapan matanya dingin, menembus hingga ke tulang.
“Bangun,” suaranya serendah guruh. “Waktunya donor lagi.”
Aku menelan ludah. Suaraku seharusnya berkata, tolong, aku lelah, tapi bibirku tetap terkunci. Aku tahu, permintaan itu hanya akan membuatnya semakin marah. Dan aku… aku selalu takut membuatnya marah.
“Ya,” jawabku pelan, suaraku pecah oleh lelah yang menahun.
Dia tidak menjawab, hanya menatapku sebentar sebelum berbalik meninggalkan kamar. Pintu tertutup dengan bunyi yang terdengar seperti palu menenggelamkan hatiku. Aku menunduk, menekan tanganku ke d**a, merasakan detak jantungku sendiri—detak yang lemah, nyaris rapuh.
Pikiran tentang keluargaku selalu menghantui. Orang tuaku, yang meninggal karena kecelakaan itu, selalu hadir di sudut pikiranku. Mereka tidak bersalah, tapi kematian mereka menjadi alasan aku kini berada di sini. Hutang nyawa, kata orang-orang itu. Hutang yang harus ku bayar dengan darahku sendiri. Dua tahun, aku menjadi kantung darah berjalan, tubuhku melemah, tetapi nyawa mereka tetap tak kembali.
Aku menutup mata, mencoba memalingkan diri dari rasa sakit yang mencekam. Namun suara langkah Arka yang kembali terdengar membuatku tersentak. Dia muncul di ambang pintu, membawa alat-alat medis. Tanpa sepatah kata pun, dia memeriksa tanganku, meraba pembuluh darahku dengan presisi dingin yang membuat bulu kudukku meremang.
“Lemah lagi,” gumamnya tanpa emosi. “Seharusnya kau bisa lebih kuat.”
Aku menelan ludah. Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada jarum yang siap menembus kulitku. Dia tidak pernah melihatku sebagai manusia, hanya sebagai alat yang harus bekerja sempurna. Namun aku tahu, jika aku menolak, konsekuensinya lebih buruk. Rasa sakit fisik bisa ditoleransi, tapi kemarahannya? Itu jauh lebih menakutkan.
Tanganku ditusuk jarum, darahku mengalir ke dalam tabung steril. Aku menatap siluetnya di pantulan cermin kamar—pria itu tampak sempurna, berkelas, dan mematikan. Tatapan matanya yang dingin selalu membuatku merasa seperti sebuah kesalahan besar yang harus diperbaiki dengan pengorbanan. Aku membayangkan, betapa mudahnya dia melemparku begitu saja jika darahku tidak lagi berguna.
Rasa lelahku tidak hanya fisik. Dua tahun hidup dalam isolasi, tanpa teman, tanpa keluarga, hanya diperbolehkan berinteraksi sebentar dengan perawat yang juga takut padanya. Semua interaksi itu selalu diawasi, selalu dipenuhi ketakutan. Aku tidak bisa marah, tidak bisa menjerit, tidak bisa menagis—semua itu akan membuatku kehilangan sedikit kebebasan yang tersisa. Kebebasan untuk tetap hidup.
Hari demi hari, tubuhku melemah. Kadang aku merasa seperti hantu yang berjalan di dunia nyata. Pagi ini, aku merasa lebih lemah dari biasanya. Sesuatu memberitahuku bahwa aku tidak bisa terus seperti ini. Tapi siapa yang peduli? Arka tidak pernah peduli. Semua yang dia pedulikan hanyalah istrinya—wanita yang dicintainya, wanita yang membuatku harus menderita demi keberadaannya.
Aku menutup mata lagi, menahan air mata yang tak pernah boleh jatuh. Rasa sakit itu kini menjadi teman sehari-hariku. Aku mulai merasakan, penderitaan ini bukan hanya fisik, tapi juga mental. Arka menganggapku hina, menganggapku lemah, dan aku harus menerima semua itu tanpa suara. Tapi di sudut hatiku, ada rasa yang lebih kuat: rasa benci yang perlahan tumbuh, meski aku tidak berani mengakuinya bahkan pada diriku sendiri.
Setelah prosedur donor selesai, aku dibaringkan kembali di ranjang. Tubuhku terasa kosong, seperti bagian dari diriku telah dicabut bersamaan dengan darahku. Aku mendengarkan suara langkahnya pergi, dan untuk sesaat, aku membayangkan kehidupan yang bebas—tanpa hutang nyawa, tanpa terkurung, tanpa menjadi alat bagi orang lain. Namun mimpi itu terlalu jauh, terlalu tidak mungkin.
Makan siang selalu tiba terlambat, dan selalu sepi. Aku makan sedikit, karena rasa lapar sudah lama hilang. Tubuhku hanya bergerak secara otomatis. Kadang aku menatap jendela besar di kamar, melihat cahaya luar yang begitu dekat tapi tetap tak tergapai. Aku membayangkan dirinya—orang-orang biasa di dunia luar yang bebas, tertawa, jatuh cinta, marah, dan merasakan hidup sepenuhnya. Aku iri, tapi rasa takut selalu mengikatku.
Malam pun datang, gelap dan sunyi. Lampu gantung mewah memantulkan bayangan di dinding, tetapi bayangan itu tidak membuatku merasa aman. Aku selalu merasa dia mengawasi. Arka mungkin tidak selalu hadir, tapi aura kehadirannya terasa di setiap sudut rumah. Setiap langkah di lorong, setiap ketukan pintu, selalu membuatku menegang.
Aku menutup mata dan mencoba tidur. Tapi pikiranku tidak bisa berhenti. Rasa sakit, rasa benci, rasa kehilangan—semua bercampur menjadi satu. Aku bertanya-tanya, apakah kehidupan seperti ini memang ditakdirkan untukku? Apakah aku hanya dilahirkan untuk menderita demi kesalahan yang bukan milikku?
Di tengah malam, aku terbangun oleh suara langkah lain—lebih lembut, tetapi cukup membuatku waspada. Tidak biasanya ada orang di paviliun belakang ini pada jam segini. Aku duduk perlahan di ranjang, menahan napas, menunggu. Tapi tak ada siapa pun yang muncul. Hanya bayangan yang menari di dinding, menandakan bahwa meski aku terkurung, dunia luar tetap berjalan, tanpa peduli dengan penderitaanku.
Rasa sakitku semakin menjadi-jadi, bukan hanya karena tubuhku yang lemah, tapi karena kesepian yang menelan setiap bagian dari jiwaku. Aku ingin berteriak, menangis, melawan, tapi aku tahu itu sia-sia. Aku hanyalah alat. Alat untuk menjaga hidup orang lain, sementara aku perlahan mati di dalam.
Aku menekankan tanganku ke d**a lagi, merasakan detak jantung yang lemah. “Aku harus bertahan,” bisikku pada diri sendiri. “Aku harus tetap hidup, untuk orang tua… untuk keluargaku… dan untuk diriku sendiri.”
Namun, di balik bisikan itu, ada sebuah benih rasa yang mulai tumbuh—rasa yang akan mengubah segalanya suatu hari nanti. Benih benci yang mengakar di dalam hatiku, yang kelak akan menjadi kekuatan untuk membalaskan semua penderitaan ini.
Untuk saat ini, aku tetap terkurung. Tetap menjadi korban. Tetap menjadi Alana yang lemah dan tak berdaya. Tetapi aku tahu, suatu hari, semuanya akan berubah. Aku hanya perlu bertahan, meski tubuhku lelah, meski hati ini hancur berkeping-keping.
Dan malam itu, di kamar berlapis marmer, aku berbaring di ranjang, menatap langit-langit tinggi, merasakan penderitaan yang tiada akhir… sambil diam-diam menanam niat untuk membalas semua yang telah direnggut dariku.
---