03. RASA SAKIT YANG MEMBARA

671 Words
Bab 3 — Rasa Sakit yang Membara Langit di atas paviliun masih diselimuti kabut tipis ketika aku membuka mata. Suara jam dinding bergema di kamar besar yang sunyi. Dua tahun—dan setiap detik di sini terasa seperti hukuman yang tiada akhir. Tubuhku lelah, nyaris tidak bertenaga. Setiap pagi aku menahan rasa mual, setiap malam menahan rasa sakit yang menggerogoti dari dalam. Tetapi lebih dari sekadar tubuh yang hancur, hatiku yang rapuh yang menjadi saksi penderitaan ini. Pintu kamar terbuka dengan dentuman yang selalu membuatku menegang. Arka Dirgantara masuk, jas hitamnya selalu rapi, langkahnya berat dan pasti. Aku tahu dia datang bukan untuk bertanya, bukan untuk menyapaku, tapi untuk mengambil sesuatu yang hanya bisa diberikan oleh tubuhku—darah, sumsum, atau nyawa yang tersisa. “Bangun,” suaranya serendah guruh. Kata itu seperti cambuk yang menampar jiwaku. Aku menelan ludah, mencoba menahan air mata yang selalu ingin jatuh. “Ya,” jawabku, suaraku pecah oleh lelah yang bertahun-tahun terpendam. Dia menatapku sejenak, matanya tajam seperti pisau. Ada sesuatu yang berbeda hari ini. Sesuatu yang hampir seperti rasa ingin tahu, atau mungkin peringatan. Aku tidak berani menebak. Setelah prosedur donor dimulai, aku duduk diam, menahan jarum yang menembus kulit. Darahku mengalir ke dalam tabung steril, dan aku membiarkan pikiranku melayang. Dua tahun hidup seperti ini, dua tahun menjadi alat, dua tahun merasa seperti hantu. Namun, sesuatu dalam diriku mulai berubah. Rasa takut masih ada, tetapi benih benci yang kukubur begitu lama mulai tumbuh. Setiap tetes darah yang keluar seperti menyalakan api di dalam d**a, api yang suatu hari akan membakar semua yang telah menyakitiku. Prosedur selesai. Arka menatap tabung darah dengan ekspresi datar, lalu meninggalkan kamar. Aku menutup mata, menekan tangan ke d**a, merasakan jantung yang lemah berdetak. “Aku harus bertahan,” bisikku sendiri. “Aku harus tetap hidup.” Siang itu, ketika aku dipaksa untuk makan sedikit makanan hambar yang selalu disediakan, aku merasa kekosongan yang menelan lebih dari sekadar perutku. Dunia di luar jendela begitu dekat, begitu hidup, tetapi aku tetap terkurung. Aku menatap tanaman di taman, mengingatkan diri sendiri akan kehidupan yang hilang. Tidak ada seorang pun yang datang menemaniku. Tidak ada yang peduli. Dua tahun terkurung, dan hanya Arka yang menentukan hidup dan matiku. Ketidakberdayaanku seperti rantai yang mengikat jiwa dan ragaku. Namun pada sore hari, sesuatu terjadi yang tidak biasa. Arka muncul di lorong paviliun, langkahnya berat, wajahnya tak menunjukkan emosi, tetapi matanya menatapku lama. Ada sesuatu yang berbeda. Sebuah getaran aneh, seakan ia mulai melihatku—bukan hanya sebagai alat, tetapi sebagai manusia. “Alana,” katanya. Suaranya rendah, nyaris terdengar seperti bisikan. “Hari ini, kau kelihatan lebih… lemah.” Aku menahan napas. Ini bukan pujian, itu pasti jebakan. Aku tahu Arka terlalu cerdas untuk menunjukkan perasaannya begitu saja. Aku menunduk, pura-pura tidak peduli. “Tapi kau tetap harus melakukan apa yang diperintahkan,” tambahnya, nada datar kembali menutupi getaran itu. Aku mengangguk pelan. Suara hati kecilku berbisik bahwa ada sesuatu di balik tatapan itu, sesuatu yang tidak ia sadari. Tapi aku terlalu takut untuk menebak apa. Malam itu, setelah prosedur selesai, aku kembali ke kamar. Tubuhku terasa kosong, setiap inci diriku menjerit untuk istirahat. Tetapi pikiranku tidak berhenti. Aku memikirkan dua tahun yang hilang, penderitaan yang kumiliki, dan rasa sakit yang tak pernah berkurang. Aku merasakan sesuatu yang berbeda dalam diriku—kemarahan yang perlahan berubah menjadi tekad. Benih benci yang kutanam kini mulai tumbuh menjadi kekuatan. Aku tahu, suatu hari, aku tidak akan menjadi korban lagi. Aku akan membalikkan keadaan. Namun malam itu, aku hanya bisa menatap langit-langit kamar yang tinggi, menunggu waktu, menunggu kesempatan. Suatu hari, aku akan menunjukkan pada Arka Dirgantara, pria yang menganggapku tak lebih dari alat, bahwa aku memiliki kekuatan yang bahkan dia tidak pernah bayangkan. Aku tidak tahu kapan, aku tidak tahu bagaimana. Tapi satu hal yang pasti: rasa sakit ini tidak akan sia-sia. Dan di dalam keheningan paviliun yang megah namun menekan ini, aku menanam niatku—niat yang akan mengubah hidupku, niat yang akan menuntut balas atas setiap tetes darahku yang diperah hingga kering. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD