KAMBING PELIHARAAN

1345 Words
Setelah perjuangan keras mengebut dengan sepeda motor, hampir kena tilang, macet dan panas-panasan akhirnya sampai juga di pet shop. Pet shop yang bekerja sama dengan Karina hampir satu tahun. Asistennya, Len adalah karyawan pet shop ini tapi terkadang membantu dia di rumah sakit hewan atau klinik pribadi milik mas Ditya bersama temannya yang sekarang Karina kelola. Len yang mengenali sepeda motor Karina berlari ke luar menghampiri bosnya. "Dok, ternyata tidak hanya hamster saja pasiennya, tapi juga anjing dan kambing." "Apa?" Owner gila mana yang bawa kambing ke klinik pet shop? Biasanya mereka panggil dokter hewan ke rumah atau bawa ke rumah sakit hewan. Ini malah ke klinik pet shop? "Kambingnya peliharaan atau kambing ternak?" tanya Karina. Len mengangkat kedua bahunya, "Tapi bersih kok kambingnya, saya juga tidak bertanya detail." Karina melihat satu mobil Alphard yang diparkir di halaman pet shop. "Pemiliknya naik Alphard?" tanya Karina pada Len. "Iya, Dok. Saya sendiri tidak menyangka pemiliknya masukan kambing ke dalam mobil mewah. Masuk saja deh dok, anaknya yang perempuan udah nangis kejer gitu." Karina melepas helm dan mengambil tas ransel lalu Len mengikuti Karina yang berjalan masuk ke dalam pet shop. Ruang praktiknya terbuka di dalam ruang pet shop, meja praktik khusus periksa di sudut pojok ruang. Di samping meja praktiknya terdapat ruang untuk tempat penitipan sekaligus grooming. Ruang itu dipasang kaca, sehingga pemilik hewan bisa melihat kondisi anak kesayangan. Ah, sejuknya. Batin Karina yang menikmati angin Ac setelah berjuang keras di jalan. Bagian dalam pet shop memang sejuk. Karina menghirup dalam-dalam angin AC setelah hampir satu jam lamanya ia dipanggang di jalanan, mau bagaimana lagi, kalau naik mobil malah tidak bisa jalan saking macetnya. "Dokter!" Seru anak kecil manis berusia 5 tahunan memakai gaun renda-renda pink dan tas selempang mungil berbentuk bunga. "Hamster Ica sembunyi terus di dalam," raungnya. "Hamster ada yang suka main di malam hari." Karina menenangkan Ica. "Jangan khawatir." "Tapi, malamnya juga gak mau keluar. Matahari sempat ditaruh di kamar yang ada kameranya sama papa dan gak mau keluar sama sekali." Karina berjongkok dan melihat kandang mungil hamster di atas meja praktiknya, "Papanya dimana?" tanya Karina dengan nada suara lembut. "Papa Ica di kantor, Dokter," Jawab Ica. "Ica kesini sama siapa?" tanya Karina sambil merogoh tangannya untuk mengecek hamster milik Ica, dia mengajak bicara pemilik hamster supaya bisa menenangkan perasaan pemilik. "Sama, Om. Lagi naruh Rambo dan Bunga di ruang sebelah, katanya mas itu." Ica menunjuk Len. "Dipisah dulu sebentar supaya bisa ngobati hamster Ica dulu." Karina mengambil hamster yang gemetaran di tangannya. "Siapa nama hamsternya?" "Matahari." "Betina ya?" tanya Karina, sebenarnya dia sudah tahu jenis kelamin hamster ini. Hanya untuk memastikan apakah anak ini peduli pada hewan peliharaannya. Ica menggeleng, "Jantan, Dokter. Kata Om, karena suka biji bunga matahari makanya namanya matahari." "Oh." Karina mengecek Matahari, tidak perlu stetoskop atau apapun. Sudah pasti penyebab hamster ini tidak mau keluar dari kandang, "Berapa lama Ica pelihara Matahari?" Ica berpikir keras, matanya menerawang ke atas. "Ulang tahun Ica hari senin minggu ini dokter, sekarang hari kamis jadi sudah berapa hari ya? Senin- selasa-" Ica membuka jari-jari mungilnya yang ditutup untuk menghitung hari, "Rabu- kamis- jadi 4 hari, Dokter!" Ica mengangkat ke empat jari kanannya ke Karina. "Empat hari ya." Karina mengusap air mata di pipi Ica. "Coba Ica minta dicarikan teman buat Matahari, Matahari kesepian tidak ada temannya, Ica kalau tidak ada teman tidak kesepian?" Ica merenung. "Ica nggak punya teman, Dokter." Ica menunjuk dadanya. "Kata Om Dokter, jantung Ica terlalu lemah- Ica harus ganti jantung tapi sampai sekarang gak dapat jadinya harus rehi- rehi-" "Rehabilitasi." Koreksi Karina. "Iya itu, makanya Ica gak boleh sekolah sama papa." "Terus mama Ica?" Karina memasukan kembali Matahari ke dalam kandang mungilnya, Matahari melesat masuk ke dalam rumah-rumahannya. Raut wajah Ica murung, "Mama Ica sudah meninggal." Karina memeluk Ica, "Maaf ya, saya tidak tahu." Ica mengangguk kecil, "Iya, Dokter. Nggak apa. Matahari kenapa nggak mau keluar, Dokter? Makannya juga nggak disentuh, Ica hitung soalnya." "Itu karena Matahari ingin punya teman." "Teman?" "Iya, manusia pasti akan kesepiankan kalau tidak ada papa, mamanya. Makanya hamster juga ingin." "Tapi Ica gak tahu siapa papa dan mamanya Matahari." "Kalau begitu minta sama papanya Ica aja buat nemenin cari teman Matahari," Karina membelai rambut lurus Ica yang lembut. Ica mengangguk pelan, "Tapi Matahari sehat 'kan Dok?" "Iyaaa," Karina mengangguk. "Mas, Dokternya sudah datang? Dari tadi saya nunggu-" Tiba-tiba muncul seorang pria tampan berpenampilan seperti pria metro di belakang Len, dia melihat Karina dengan tatapan merendahkan. Karina kembali berdiri. "Matahari tidak sakit, cuma harus ada teman." "Oh, saya nanti cariin teman buat Matahari," Pria itu masih menatap Karina, "Anda Dokter hewan?" Karina tersenyum, berusaha mengabaikan pandangan merendahkan kliennya. "Iya, anjing sama kambingnya bisa dikeluarkan satu persatu supaya tidak bertengkar, tapi jika mereka berteman, keluarkan semuanya juga tidak masalah supaya saling support.." Pria itu mengangkat salah satu alis, sepertinya ingin mengatakan sesuatu tapi ditahan. Pria itu balik badan bersama Len untuk mengambil anjing dan kambing di ruangan sebelah. Ica duduk di depan meja kasir bersama dua karyawan pet shop lainnya sambil memeluk kandang mungil Matahari dengan bantuan Karina. "Ica disini dulu ya, biar saya periksa kambing dan anjing punya om Ica," kata Karina. Ica mengangguk kecil, tersenyum setelah diberikan cookies buatan Bi Murni dari Karina. "Kuenya enak." Tak lama seekor kambing masuk dibawa pria itu dengan menggunakan leash sementara Len membawa seekor anjing jenis Doberman dengan kalung rantai besar di lehernya. Mulut Karina menganga lebar. Wajah si kambing terlihat innocent sementara anjing doberman terlihat garang. Karina kembali ke meja praktiknya mengikuti pria itu. Pria itu mengangkat kambingnya ke meja praktik. "Kambing ini kesayangan ayah saya. Namanya Rambo." Buset, biasanya orang kasih nama Rambo untuk anjing jenis besar dan gagah. Ini malah buat kambing? Karina bertanya, "Keluhannya apa?" "Padahal saya kira Rambo itu nama anjingnya." Bisik Len pada Karina. Karina berusaha menahan tawa. "Kata ayah saya, Rambo tidak mau makan dua hari ini." Pria itu mengusap kepala Rambo. Rambo duduk anteng di atas meja periksa. "Terus Rambo tidak bisa dipisah dengan Bunga karena itu saya bawa keduanya sekalian." Karina mengambil stetoskop dan memeriksa Rambo beberapa menit. Tidak ada masalah dengan kesehatannya. Sehat aja, tapi untuk memastikan harus di rontgen. "Rambo kenapa, Dokter?" tanya Len. Karina mengerutkan kening, Rambo sehat meski perkiraan usianya sudah tua. Kenapa tidak mau makan? Karina membuka mulut Rambo dan melihat giginya, tidak ada gigi bolong. "Rambo beberapa hari ini pendiem dok," Ica sudah berdiri di depan omnya. "Tenggorokannya sakit ya?" Karina mengangkat salah satu alisnya, "Terakhir Rambo makan apa?" "Makan rumput seperti biasanya, rumput khusus," jawab pria itu. Len semakin bingung. "Memangnya ada rumput khusus? Pria itu menjawab dengan sombong dan sepertinya hanya omong kosong bagi Karina. "Beli bibitnya di luar negeri, ditanam di tanah subur, tanpa adanya cairan tertentu, air untuk rumput pun menggunakan air asli, bukan isi ulang." Len menoleh ke Karina. "Wuah, hidup kambingnya pasti luar biasa sekali." Pria itu nyengir tidak bersalah. Karina memutar bola mata sambil berkacak pinggang, lalu melihat anjing Doberman yang hanya duduk diam, "Bisa saya periksa anjingnya?" "Bunga kenapa, Dokter?" tanya Ica yang sudah berdiri di belakang pria itu dengan malu-malu. Pria itu menatap aneh Karina, "Saya minta diperiksa Rambo dulu, kenapa anda jadi mau periksa Bunga?" "Terakhir ada yang aneh dengan Bunga?" Karina menepuk lembut kepala Rambo yang diturunkan Len, mengabaikan pertanyaan pria itu. "Terus mau diapakan Bunganya?" tanya pria itu. "Dokter," Len mengangkat Bunga dengan susah payah ke atas meja periksa setelah Rambo diikat di pojok. "Perlu saya bawakan obat?" "Tolong ambilkan obat muntah di tas saya," perintah Karina. Len mengambil obat di tas ransel Karina sementara Karina memeriksa dengan teliti Bunga yang tiduran pasrah, dia bahkan tidak berontak sama sekali. Hanya ekornya yang sesekali bergerak. "Ini, Dokter." Len memberikan obat ke Karina. Karina menerimanya. "Bisa tunggu sekitar 15 menit sampai Bunga memuntahkan isi perutnya?" Ica dan omnya saling menatap. "Bisa, Dokter," jawab Ica. Karina tersenyum dan memberikan obat muntah ke Bunga melalui mulut sementara Rambo menjerit keras seolah tidak terima Bunga diberikan sesuatu. Len menepuk badan Rambo. "Tenang Rambo, Dokter berusaha menyembuhkan Bunga." Rambo mengangkat kepalanya dan memandangi Len, seolah mengerti dengan perkataan Len. Rambo diam meskipun matanya masih menatap Bunga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD