IKATAN PERSAUDARAAN ANTAR HEWAN

1007 Words
Tak lama Bunga memuntahkan isi perutnya ke mangkok besi di bawah meja praktik yang di letakan di depan Bunga. Om Ica menutupi mata Ica sementara dirinya mual melihat itu. "Om, Ica nggak bisa lihat," Keluh Ica yang berusaha membuka tangan omnya. "Nanti kamu tidak bisa makan." Om Ica tetap menutupi mata keponakannya dengan erat. Karina menutup hidungnya dengan masker, masih mangawasi Bunga yang memuntahkan isi perutnya, tak lama muncul potongan kain. Karina yang sudah memakai sarung tangan karet mengambilnya. "Seperti sapu tangan, Dok." Len ikut mengamati dan memakai masker. "Sapu tangan?" Pria itu juga mengamati benda yang dipegang Karina. Ica menurunkan tangan omnya, "Bukannya itu robekan sapu tangan kakek?" Tunjuk Ica. Mata pria itu masih mengamati sapu tangan dengan jijik, "Ica yakin itu punya Bapak?" tanya pria itu pada Ica. "Om gimana sih, itukan hadiah ulang tahun untuk kakek dari om!" Ica berkacak pinggang. "Masa om lupa?" Karina memasukan sapu tangan itu ke dalam plastik yang sudah disediakan Karina di tas lalu memberikannya ke om Ica. "Ini." Pria itu menerima hanya menggunakan jari telunjuk dan jari jempol dengan jijik. "Ica, masukin ke tas kamu terus tunjukin ke kakek." Ica mengambil plastik di tangan omnya dan menaruhnya di tas selempang mungil. "Om ngapain sih kayak gitu? Padahal kata kakek, om sama papa dibesarkan di peternakan. Kan kakek juragan kambing dan sapi." Karina berusaha menahan tawanya. Len membawa Rambo mendekati Bunga, ekor Bunga mengibas riang ketika melihat Rambo. "Udah sembuh 'kan?" tanya Karina. "Berapa biayanya?" tanya pria itu. Karina tersenyum dan menulis resep untuk si Rambo. Hanya resep multivitamin penambah nafsu makan saja dan untuk bunga hanya disuntik vitamin dengan dosis rendah dan diberi resep vitamin. "Minggu depan bawa Bunga kesini lagi ya, untuk melihat perkembangannya kembali." Agus memiringkan kepalanya saat membaca nama-nama obat yang tidak asing. "Hanya ini saja? Obat penambah nafsu makan? Kenapa malah Rambo yang tidak mau makan, padahal Bunga yang sakit?" Karina menaikkan salah satu alisnya. "Anjing jika melihat suatu barang pasti memiliki kebiasaan untuk menghancurkan atau memakannya, kemungkinan saat melihat sapu tangan, Bunga menganggap mainan dan tanpa sengaja tertelan. Doberman memiliki karakter aktif cenderung ke nakal. "Jadi, dia mungkin sedikit merasakan sesuatu tapi dianggap biasa dan masih lincah, perbedaannya mungkin di makanan, dia makan tidak sebanyak sebelumnya. "Masalah Rambo, saya pernah baca jurnal 'Frontiers in Zoology' mengenai perilaku kambing. Kambing sebenarnya peka terhadap emosional kawannya dan diungkapkan melalui suara. Mungkin keluarga anda tidak paham perubahan suara Rambo, sehingga Rambo mengubahnya menjadi mogok makan. "Ulang tahun kakek 4 hari lalu, Rambo tidak makan 2 hari seperti yang ada di catatan ini, kemungkinan saat kakek membuka hadiah, Bunga mencuri salah satu hadiah diam-diam untuk dimainkan dan tidak sengaja sebagian tertelan lalu Rambo tahu masalah temannya dan berusaha minta tolong dengan berbagai cara. Jadi itulah diagnosa saya." Karina mengangkat kertas catatan kesehatan Rambo yang baru dibuat Len. Pria itu terlihat khawatir saat melihat Ica, dia menjadi tidak fokus dengan penjelasan Karina ketika mendengar karakter doberman yang aktif cenderung nakal. "Berarti anjing jenis doberman tidak cocok untuk anak-anak? Saya takut dia nakal ke Ica." Ica mendongak untuk menatap om-nya. "Hah? Selama ini Bunga nggak nakal kok, Om." "Bunga memang terlihat tidak nakal sekarang, bagaimana ke depannya? Bisa saja dia gigit kamu?" Karina memijat keningnya. Hal umum yang terjadi pada saat orang dewasa melihat kenakalan anjingnya, kadangkala ada yang melihat bentuk anjing tanpa mau belajar karakteristik si anjing sehingga jika terjadi sesuatu, para pemilik anjing lebih menyalahkan anjingnya daripada belajar menganalisa diri sendiri. "Jika saya bilang anjing ini tidak ramah untuk Ica, apakah anda akan membuangnya?" "Tentu saja," jawab pria itu dengan tegas. "Keselamatan anak jauh lebih penting daripada hewan." Ica tidak setuju. "Bunga milik kakek, kenapa om mau buang Bunga? Nanti Ica lapor ke kakek lho," ancamnya. Karina terhibur mendengar anak kecil yang jauh lebih peka dibanding orang dewasa di hadapannya. Ganteng sih, tapi ilfeel juga kalau sudah menyangkut masalah hewan. Pria itu bertanya balik ke Karina. "Apakah anda belum menikah dan punya anak?" Karina dan Len saling bertukar tatapan tidak mengerti. "Anda saja tidak punya anak, bagaimana bisa paham perasaan orang dewasa? Toh, Bunga juga milik kami, terserah apa yang akan kami lakukan." Karina menghela napas. "Karakter seekor anjing tergantung dari bagaimana cara pemilik mendidiknya. Jika dilimpahkan kasih sayang, dia akan bersikap seperti anak kecil yang haus kasih sayang, tapi jika anda tidak mendidik dengan baik bahkan mengabaikan karakternya, anjing bisa saja bersikap kasar bagi anda. Boleh khawatir, tapi jangan mengabaikan perasaan mereka." Karina menepuk kepala Bunga yang mengibaskan ekornya. "Anjing seperti anak kecil yang tidak mengenal baik atau buruk dalam standar manusia, mereka hanya tahu bagaimana cara bermain atau memberikan kasih sayang kepada orang yang memberinya makan. "Karena itu, melimpahkan kasih sayang saja tidak cukup. Mendidiknya sekaligus jauh lebih bagus." Pria itu menatap Bunga dan Rambo bergantian. "Saya tidak punya waktu mengurus hewan, mereka berdua milik ayah saya. Nanti saya bicara ke ayah soal melatih mereka berdua, terima kasih atas sarannya, Dokter." Karina tersenyum kecil lalu bicara ke Bunga. "Bunga beruntung ya, punya keluarga yang sangat sayang sama Bunga." Seolah mengerti perkataan Karina, Bunga menyundul kepalanya ke arah Karina. Karina tertawa. "Good girl." Ica ikut cekikikan di samping Karina. "Tenang saja, Dokter, kakek sangat sayaaaang sama Bunga dan Rambo, terutama Rambo. Tadi saja kakek nangis heboh karena Rambo tergeletak di lantai, gak mau makan. Om juga cepat-cepat datang waktu kakek telepon, itu berarti om juga sayang sama Rambo dan Bunga." Pria itu menghela napas panjang, meskipun perkataan keponakannya tidak salah dan ada sedikit salah paham, dia tidak berniat meluruskan ke orang asing. "Baguslah kalau begitu." Senyum Karina. "Ingat ya, Ica. Mereka memang hanya hewan dan tidak memiliki kemampuan menghasilkan uang atau menguntungkan bagi manusia, tapi mereka tahu bagaimana mengucapkan terima kasih." Ica mengangguk kecil. Pria itu menggoda keponakannya. "Apa Ica tahu yang dimaksud dokter? Jangan-jangan tidak tahu dan hanya mengangguk saja." Raut wajah Ica berubah cemberut. Karina tersenyum kecil. "Ica sayang sama Matahari dan peduli saat tidak mau keluar saja sudah hebat, kok. Terima kasih ya sudah peduli sama Matahari." Ica mengangguk senang. "Sama-sama, Dokter." Pria itu menghela napas. Len mengawasi pria itu dengan cermat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD