ADEGAN MENJIJIKAN

1198 Words
Di minggu pagi, Karina memeriksa gajah mungil berusia satu bulan bersama induknya, si mungil masih belum dikasih nama sehingga Karina dengan percaya diri memanggil si gajah kecil dengan nama 'Mungil'. Pengurus gajah cerita padanya, bahwa pihak kebun binatang akan memberikan nama bertepatan dengan ulang tahun kebun binatang minggu depan. Kebun binatang memberikan kolam plastik untuk tempat bermain si mungil, dia berguling-guling riang di air sampai mengenai baju Karina hingga basah. Kedua pawang gajah meminta maaf ke Karina, Karina sendiri tidak mempermasalahkannya. "Si mungil dan induknya tidak ada masalah pada kesehatannya," ucap Karina ke salah satu pawang gajah. "Syukurlah, Dok. Awal melahirkan, si induk tidak mau makan, kami sempat khawatir tapi kami coba tunggu sehari-dua hari sebelum memanggil dokter dan ternyata sekarang sudah mau makan dengan lahap." "Sudah tidak apa, jadi tidak perlu khawatir. Tadi sudah saya kasih vitamin sama vaksin rutinnya." "Iya, Dok. Terima kasih banyak, saya jadi tertolong," kata salah satu pawang, setelah itu pamit untuk melihat kondisi si mungil. Len memberikan handuk bersih yang sudah disiapkan dari rumah ke Karina. "Untung saja kita bawa persiapan. Uhm- Dokter, kita keliling dulu ya." "Bukannya siang ini kamu kerja?" tanya Karina pada Len. "Libur dok," jawab Len dengan cepat. Karina mengangguk lalu berpamitan pada dua pawang gajah. "Kamu baru pertama kali ke kebun binatang, ya?" Karina melihat Len mengagumi beberapa hewan dan memfotonya dengan handphone jadul setiap mereka lewat. "Iya. Dulu orang tua saya terlalu sibuk untuk membawa saya kesini." Len tersenyum sedih jika mengingat masa lalu yang menyakitkan. "Kalau begitu, lihat sepuas kamu saja, setelahnya kita makan siang di restoran dekat sini." "Beneran, Dok?" tanya Len kegirangan. Karina tersenyum dan mengangguk. "Aku ikut kamu saja deh, tapi tolong bawain ranselku ya." Karina memberikan ranselnya ke Len, "Biar pakaian saya cepat kering, kena matahari." "Siap dok!" Len memakai ransel Karina. "Hewan itu banyak banget jenisnya ya dok," ucapnya saat mereka berdua keluar dari kandang gajah. "Iya," jawab Karina lalu berhenti di kandang kaca harimau Sumatera. "Seharusnya kamu bermain bebas di dalam hutan," gumamnya dengan nada suara sedih. "Dok, Dok," Len menarik-narik lengan baju Karina. "Apa?" Karina menoleh. "Bukannya itu dokter bedah yang dimaksud Ririn?" tunjuk Len pada seorang pria yang berdiri di depan kandang burung dari kejauhan. "Mata kamu jeli juga." Karina balik badan dan kembali mengagumi harimau Sumatera. "Dok, saya ke bagian sana ya." Len menunjuk kandang panda. Dia tidak mau membahasnya lagi setelah melihat reaksi Karina. "Jangan jauh-jauh ya." "Ok!" seru Len sambil lari menuju tempat yang dia inginkan. Karina mengambil handphone di saku baju, untung handphonenya tidak ikutan basah. Dia foto harimau Sumatera yang sedang bermain air di kolam buatan lalu tersenyum dan berkomentar pada diri sendiri. "Memang kucing tetap kucing." "Sayaaanngg, harimau itu lucu bangeettt." Kata seorang wanita yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Karina dengan nada manja seperti anak kecil. Karina melirik sekilas wanita cantik dan seksi seperti model. Tapi, sayang sepatunya tidak cocok untuk bepergian ke kebun binatang. Sepatu hak? Di kebun binatang?. Komentar Karina di dalam hati. "Kamu bisa agak ke samping? Ada orang di samping kamu. Tapi kalau kamu menyingkir- harimaunya tidak terlihat." Saran suara berat di belakangnya. Ya, Tuhan. Orang ini bahkan tidak repot-repot menyinggung dirinya dengan suara keras. Wanita itu menoleh ke karina, "Mbak, bisa menyingkir sedikit? Saya mau foto sama harimaunya, kalau saya menyingkir, harimaunya tidak terlihat" Karina menyingkir dan menjauhi perempuan itu sambil tetap memunggungi pasangan wanita di belakangnya. "Kelihatan, sayang?" tanya wanita itu. "Kelihatan." "Giliran kamu sekarang," kata Wanita itu dengan nada manja, setelah difoto berbagai pose. "Enggak, ah." "Sudah tidak apa, sini dong!" Wanita itu menarik sang kekasih supaya berdiri di tempatnya tadi. Karina yang pura-pura foto harimau melirik ke sampingnya dan terkejut, "Anda-" Pria itu menoleh. "Kamu-" Wanita itu cemberut dan berseru, "Sayang! Kepala kamu menghadap kamera, jangan ke samping." Agus mengikuti perintah kekasihnya. Karina memasukan handphonenya ke dalam saku celana. Duh, Len masih lama tidak ya? Aku juga bodoh, kenapa tidak mengenali suara pria konyol itu? Agus mengamati Karina dari bawah sampai atas dan mengerutkan kening. "Kamu habis mandi?" Karina melotot. "Ini gara-gara pasien saya!" Kekasih Agus mendekat dan memeluk pinggangnya setelah melihat keakraban Karina dan Agus. "Kamu kenal perempuan ini, sayang?" tanyanya dengan nada cemburu. "Ya, dokter hewan yang memeriksa Rambo papa." Agus mengenalkan Karina pada kekasihnya "Bukannya, ayah?" gumam Karina pelan Agus melotot ke Karina supaya diam, Karina menipiskan bibirnya. "Oh. saya Irene, kekasihnya Rangga. Kita tidak perlu jabat tangan ya, situ 'kan masih basah dan belum steril." Karina mengangguk dan tersenyum. "Sayang. Kita ke restaurant dekat sini ya- aku laper." Rengek Irene dengan nada manja sambil memegang perutnya yang rata. "Ayo." Ajak Agus tersenyum dan merangkul pundak Irene, mereka berdua melewati Karina. Diam-diam Agus melotot ke Karina di belakang punggung kekasihnya. Karina melihat kepergian mereka berdua. "Ye, kan tidak tahu kalau panggilan ayah udah berubah jadi papa. Dasar dokter plastik!" "Dokter menggumamkan apa?" Karina menoleh, Len sudah berdiri di sampingnya sambil tersenyum. "Sudah fotonya?" "Sudah, Dok." Angguk Len dengan antusias. "Masih mau keliling?" Len menggeleng malu, "Saya lapar, Dok." "Uhmmm." Karina berpikir keras. Malas juga rasanya kalau ketemu dua pasangan itu. Karina menggeleng. "Kita makan di warung dekat shelter ya. Kasihan anak-anak shelter nungguin kita, lagipula baju aku basah banget, tidak enak masuk restaurant basah-basah begini." Sebenarnya sih tidak masalah Karina basah karena penghuni kebun binatang ini, para petugas juga sudah mengenal Karina, tapi dia terlalu malas bertemu dua pasangan sok ganteng dan cantik meskipun mereka memang ganteng dan cantik sih. "Warung seperti biasa dok?" tanya Len. "Iya, warungnya mang Jajan." "Ayo deh, disana makanannya lebih enak dan murah meriah." Ajak Len. Diam-diam Karina menghela napas lega, untung Len orangnya bisa diajak negosiasi. Diam-diam dia berjanji akan mengajak Len pergi ke restoran yang lebih mahal. __________ "Benar itu dokter hewan kamu?" tanya Irene pada Agus setelah memesan makanan. "Iya, kenapa?" Tanya Agus dengan malas. "Lumayan manis dia." Cemburu Irene. "Yah, kalau dia peduli pada penampilannya, pasti lebih cantik." "Ya ampun, dia itu Cuma dokter hewan papa sama kakak aku." "Tadi katanya papa kamu." "Yah yang tau tempatnya kakak aku, dia sering antar kucingnya Andreas dulu." "Sudah berapa lama?" "Tidak tahu, tapi baru kemarin aku ketemu sama dokternya, menemani anak kakak aku." Irene menatap tajam Agus sambil menggenggam kedua tangan Agus di atas meja. "Jangan pernah nyakitin aku ya, kamu 'kan janji nggak akan pernah nyakitin aku." "Aku nyakitin kamu apa, sayang? Semua keinginan kamu selalu aku turuti." Agus membalas genggaman Irene. Irene tersenyum senang. "Terus kapan aku ketemu sama keluarga kamu?" Agus melepas genggaman Irene. "Irene, kita sudah sepakat sejak awal, bukan?" Agus mengingatkan Irene. "Tapikan aku juga pengen ketemu sama keponakan kamu, papa kamu, kakak kamu, adik kamu sama mama kamu." "Mama di Jerman menemani Andreas." Agus menjawab singkat, dia sudah mulai tidak suka dengan arah pembicaraan ini. "Irene, aku selalu menuruti semua keinginan kamu. Tapi aku tidak suka kalau kamu sudah minta lebih." Irene menghela napas. "Iya, aku tahu. Maaf, aku hanya ingin berkenalan saja sama keluarga kamu. Kamu tidak marahkan, sayang?" Agus menaikan salah satu alisnya, "Selama kamu tidak membahas hal itu." "Ok, aku tidak akan membahasnya lagi." Irene menunduk melanjutkan makannya sementara Agus menatap muak Irene. Diam-diam di benaknya ingin memutuskan Irene daripada hal yang tidak diingankan terjadi, Agus tahu hal itu karena Irene wanita nekat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD