HEWAN DI SHELTER

1032 Words
Sesampainya di shelter, Karina dan Len menurunkan beberapa karung beras dan makanan untuk anak-anak shelter. Mereka berdua disambut dengan gonggongan ramah dan pelukan hangat oleh anak-anak shelter. Karina dan Len yang tadinya lelah karena bekerja, menjadi bersemangat. "Haiiii, Lou," sapa Karina sambil mengusap belakang telinga seekor anjing beagle tua yang dibuang pemilik lamanya. "Gimana kabarnya si cakep ini?" "Tumben dokter datang terlambat," sapa pemilik shelter. "Sudah ditungguin anak-anak dari pagi, mereka tidak sabar dicek kesehatannya." "Dokter Karina periksa bayi gajah dan induknya di kebun binatang tadi, lalu makan dulu di warung mang jajan tadi. Jadinya agak telat." Len melirik baju Karina yang sudah kering. "Bajunya sudah kering dok." Karina melihat baju yang masih dipakainya. "Iya ya, sampai tidak sadar saya." Len memberikan bungkusan plastik ke pemilik shelter. "Bu, ini jajan buat ibu dan pegawainya." "Makasih banget ya Len, makasih ya, Dok." Karina tersenyum sambil menggendong Lou. "Anak-anak baik-baik saja 'kan, Bu?" "Puji Tuhan mereka baik-baik saja, cuma ya gitu adaaa aja orang-orang sirik gangguin kita," sahut pemilik shelter. "Memang kenapa, Bu?" Len menyebut nama pemilik shelter. "Yah biasa, di media sosial banyak yang fitnah saya, saya sampai pasrah sama Tuhan. Tidak tahu lagi dah." Bu Mawar mengelus dadanya. "Ada donatur saya bersyukur, kalau tidak ada ya tetap bersyukur karena anak-anak tetap sehat." "Memangnya sekarang sudah tidak ada donatur?" tanya Karina sambil mengikuti bu Mawar masuk ke dalam rumahnya yang jadi satu dengan shelter. "Masih ada, tapi tidak begitu banyak. Tiap bulan saya 'kan rutin posting jurnal pembukuan di web shelter," kata bu Mawar. "Yang saya syukurin sampai sekarang, papa sama mama kamu masih tetap membantu tempat saya. Terutama kamu yang rutin periksa kesehatan anak-anak dengan gratis. Jadi dananya bisa saya alihkan untuk hal lain." "Iya, Bu," jawab Karina. Hewan butuh pengobatan tapi sayang sekali mereka tidak mampu mengobati diri sendiri atau pergi ke dokter, butuh orang lain yang mau mengetuk hatinya. "Kabar mama, papa kamu bagaimana? Sudah lama saya tidak mendengarnya." "Mama, papa masih tetap di Amerika selatan, betah disana sama peneliti lainnya," jawab Karina sambil menghela napas. "Namanya tuntutan kerja." Bu Mawar tersenyum. "Saya Cuma punya teh. Mau ya? Sambil periksa anak-anak." "Tidak usah bu, jangan repot-repot!" geleng Karina. "Sudah tidak apa, saya 'kan jadi tidak enak kalau kalian datang bawa sesuatu sementara saya tidak menyuguhkan apapun." Bu Mawar menepuk lengan Karina, setelah itu masuk ke dapur. Karina tersenyum. "Terima kasih, bu." Len melirik Karina. "Dok. Kita lanjut atau istirahat dulu?" "Lanjut saja ya, supaya kita cepat pulang. Besok 'kan kamu kerja." "Ok." Len keluar rumah sambil membantu dua pegawai lainnya untuk memisahkan anjing mana yang akan diperiksa kesehatannya. Len kasihan melihat anjing-anjing yang dibuang pemilik lama atau disakiti orang yang tidak bertanggung jawab, padahal hewan juga memiliki nyawa dan perasaan. "Kenapa ya, Dok. Banyak anjing yang disakiti?" Tanya Len kepada Karina saat mengobati salah satu anjing berusia sekitar satu tahun, korban kekerasan manusia. "Ada banyak faktor yang membuat manusia membenarkan perbuatannya. Anjing dijadikan daging untuk menambah trombosit darah atau ada juga dengan alasan kebersihan." Cerita Karina. "Seolah anjing tidak boleh hidup di dunia ini." Kedua mata Len melebar ketika anjing jenis lokal berwarna cokelat polos, hanya diam saja. "Kenapa dia tidak berontak, dok?" "Karena dia sudah terlalu lelah untuk berontak ataupun kabur, dia pasrah dan menunggu mati. Lihat saja, dia tidak menyentuh makanannya sama sekali dan hanya tiduran." "Dok, saya jadi kasihan dengan nasib teman-teman mereka setiap melihat salah satu diobati begini." "Hidup di dunia ini tidak cocok untuk hewan, meskipun sudah berkontribusi banyak untuk alam." Karina tersenyum ketika sudah menyelesaikan membalut perban pasiennya. "Manusia hanya memikirkan keuntungan sendiri tanpa memikirkan sekitarnya." "Padahal mereka sudah dididik dengan pendidikan yang baik." "Orang tua selalu mengutamakan pendidikan ilmu untuk anaknya, tapi mereka lupa mendidik perilakunya sehingga jika sudah terlanjur tenggelam, mereka tidak mau disalahkan. Yah, mana ada sih orang mau disalahkan begitu saja." Salah satu pegawai shelter menyerahkan anjing lain ke Karina. Karina dan Len terkejut ketika melihat anjing jenis toy, moncongnya diikat dengan alat. "Anjing ini jenis poodle, pemilik selalu meletakan dia di dalam kandang setiap hari dan diberikan makanan seadanya. Sepertinya sudah mendapat perlakuan jelek dari kecil." Pegawai itu mulai menjelaskan ke Karina dan Len, supaya tidak ada salah paham. "Awalnya datang galak sekali dan banyak yang kena gigit, dia juga agak stres sehingga kita harus pisahkan dari anjing lain." "Apakah dia punya teman lain di dalam kandang saat berada di rumah pemilik lama?" Tanya Karina. "Tidak, dok. Hanya anjing ini satu-satunya mereka pelihara." Len mulai penasaran. "Kenapa anjing jenis toy dikurung lama? Apakah dia melakukan kenakalan yang tidak bisa ditolerir?" "Kata tetangga karena ikut trend saja, pemiliknya. Sekarang sudah ganti anjing jenis husky di rumah pemilik lama. Saya sampai gregetan lihat pemilik yang sombong begitu. Akhirnya sama bu Mawar, diambil saja anjing ini, sempat minta tebusan juga sih." "Waduh." Len hampir gigit jari dengarnya. Kalau bu Mawar yang turun tangan, pasti tidak kecil masalahnya. Karina periksa kondisi anjing yang menggeram marah dan tidak mau disentuh. Karina memutuskan diam, dan mengabaikan si anjing. "Dok?" Tanya Len. Pegawai shelter juga penasaran dengan sikap Karina setelah mengikat anjing itu di leher supaya tidak bisa kabur. "Ada apa?" "Jika kita tidak dikenal si anjing lalu bertatapan mata langsung, mereka akan anggap kita menantangnya." Kata Karina. Len mengangguk paham. "Ah, begitu." "Siapa namanya?" Tanya Karina. "Rin," jawab pegawai shelter. Karina menarik napas lalu bicara pada Rin. "Hallo, manis. Ada apa? Ada yang sakit nggak? Boleh bu dokter periksa sedikit badannya Rin, biar tahu kalau Rin itu sehat." Rin masih menggeram marah dan mengibaskan ekor mungilnya. "Tidak berhasil?" Tanya Len dengan suara rendah. Karina mengepalkan tangan dan membiarkan Rin mencium baunya lalu menunjukan aura positif. "Apakah aku terlihat seperti penjahat? Coba Rin cek." Rin menggeram sambil mengendus tangan Karina. Karina mencoba bersabar. Pasien yang dihadapinya sekarang hanyalah hewan yang bergerak secara insting dan memiliki masa lalu menyedihkan, untuk orang tidak sabaran- Karina tidak akan pernah rekomendasikan profesi dokter hewan. Rin sudah sedikit tenang meskipun masih menggeram. Karina mulai cek tubuh Rin. "Terima kasih ya, Rin." Menjadi dokter hewan itu sulit apalagi harus mengucapkan terima kasih setiap pasien mengizinkan tubuhnya boleh disentuh, hewan sangat melindungi tubuhnya dari orang asing atau benda asing. Jadi, jangan heran jika ada dokter hewan yang selalu mengucapkan terima kasih pada pasiennya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD