Setelah menemani Irene jalan-jalan sambil belanja sampai sore. Agus memutuskan makan malam di rumah, dia sudah terlalu lelah mencari makan di luar.
Andre yang duduk di ujung meja makan melihat kedua anak duduk di samping kiri dan kanan, "Kapan kalian berdua menikah?" tanyanya tiba-tiba.
Agus tersedak minuman lalu melirik kakaknya yang sedang sibuk menyuapi Ica. "Mas!" serunya sambil menendang kaki mas-nya di bawah meja.
Bagas mengangkat kepala. "Apa?" tanyanya pada Agus.
"Ditanya Ayah!" Kata Agus sambil melotot.
Bagas melirik Ayahnya yang menunggu jawaban sambil menggigit pisang kesukaan. "Ayah tanya apa? Maaf, Bagas suap Ica, tidak dengar."
"Kapan. Kalian. BERRRRR- DUA- menikah?" tanya Andre sambil menekan kalimatnya.
"Ayah tahu istri Bagas meninggal," sahut Bagas dengan gemas.
"Iya. lima tahun yang lalu, kamu betah amat jadi duda?"
Bagas mendecak kesal sambil kembali menyuapi Ica yang bermain dengan kedua boneka barbie, tidak peduli suasana di meja makan mulai memanas.
Andre mengalihkan perhatiannya ke Agus dan memberi isyarat dengan dagu.
Agus meletakan garpu dan sendoknya. "Kalau ada yang cocok pasti Agus bawa ke rumah, sayang sekali tidak ada yang cocok."
"Kapan cocoknya?" tuntut Andre.
"Ya nanti, kan belum ketemu," jawab Agus.
"Jangan kamu pikir Ayah tidak tahu kalau kamu sekarang punya kekasih!" Andre menunjuk kedua matanya. "Ayah punya mata, Ayah lebih pengalaman dari anak bau kencur seperti kamu!" tunjuknya pada Agus.
Bagas berusaha menahan tawa.
Agus melotot ke Bagas. "Kenapa tidak mas saja yang menikah lagi, yah? Kenapa harus Agus yang ditekan?"
"Mas sudah punya anak, Ayah mengerti perasaan mas kamu! Mas kamu itu tidak seperti kamu! Dia setia seperti Ayah!" seru Andre.
"Ah Ayah. Kalau kangen sama mommy, tinggal terbang saja ke luar negri, kan beres," jawab Agus.
"Mommy itu sedang menemani adik kamu! Enak saja main pulang! Kamu kira tiket pesawat Jerman-Indonesia tidak mahal?"
Agus menghela napas kesal. Ibu kandung mereka, bule asli jerman berkewarga negaraan Indonesia, sekarang mommy mereka di tanah kelahirannya menemani anak bungsu kuliah. Si Andreas namanya. Lucukan! anak pertama dan keduanya bernama Bagas dan Agus sementara anak bungsunya bernama Andreas. Jangan kira anak pertama dan kedua yang berikan nama adalah Ayah, justru yang kasih nama itu mommy mereka yang bule, sementara si Andreas dikasih nama sama Ayah. Kelakuan Ayah memang norak abis tapi namanya Andre. Tinggal ditambah –as sudah deh jadi Andreas si bungsu.
Diam-diam Agus jika mengingatnya, menjadi kesal. Kenapa sih mommynya yang 100% bule Jerman berikan nama Indonesia begini? Untung saja Ibunya Ayah menambahkan nama 'Rangga' di tengahnya.
"Ya maklum pak, dokter terkenal. Maunya jadi playboy," sindir Bagas.
Ica menoleh. "Playboy itu apa pa?"
"Playboy itu punya pacar banyak!" jawab Bagas.
Agus melempar kacang rebus ke masnya, inilah fungsi kacang rebus di atas meja kalau ada Bagas dan Agus. "Kalau kasih info ke anak yang benar! Masa 5 tahun diajarin arti pacaran."
"Ye biarin, anak aku sendiri, makanya bikin anak!" balas Bagas.
"Sudah! Sudah! Kalian berdua ini sudah besar, kelakuan masih seperti anak kecil!" Andre menengahi pertengkaran kedua anaknya. "Pokoknya ya, kalian berdua kenalkan pacar kalian ke Ayah! Ayah tidak mau diganggu gugat, terutama sama kamu Gus-Agus!"
Agus mendecak kesal.
__________
Malamnya di rumah Karina, setelah mengantar Len ke kos. Dia makan malam di ruang makan dengan bi Murni.
"Bi, kira-kira dua bulan lagi, Len pindah kesini. Biar bisa bantuin bibi dan saya di rumah, kan tidak enak di rumah sebesar ini cuma dua orang," kata Karina sambil mengambil nasi.
Malam ini bi Murni masak makanan kesukaan Karina, cumi goreng dan cap cay seafood.
"Iya, non. kamarnya bekas sopir dulu 'kan?"
"Iyaaa," jawab Karina.
"Bapak sama ibu pulangnya kapan?" tanya bi Murni sambil mengambil sambel di cobek, "Non, sudah ijin bapak-ibu 'kan?"
"Udah kok, bi." Karina mengambil cumi gorengnya. "Tapi Karina tidak tahu mereka pulang kapan, apalagi mas Ditya."
"Kalau mas Ditya sih sudah kecantol orang utan di Kalimantan," canda bi Murni.
Karina tertawa. Ayah Karina adalah dokter hewan bergelar professor sementara ibunya hanya membantu pekejaan suaminya sebagai perawat hewan, sekarang mereka berdua berada di luar negeri untuk meneliti hewan, lalu putra pertama mereka, kakak Karina juga dokter hewan yang ditugaskan merawat hewan-hewan di Kalimantan.
Terakhir mas Ditya mengabari kalau dirinya ikut membantu penyelamatan orang utan dengan pegawai pemerintah setempat.
"Rasanya Karina pengen ikut mas Ditya ke Kalimantan."
"Yah, kalau non kesana, bibi sama siapa? Terus klinik gimana?"
Karina mengaduk makanannya. Memang sih benar kata bi Murni, kedua orang tua dan kakaknya menitipkan rumah ke dirinya. Klinik juga meskipun kerja sama kakaknya dan diserahkan ke Karina tetap saja klinik hewan 24 jam itu milik mas Ditya dengan temannya.
"Habis- terkadang Karina kesal bertemu beberapa pemilik hewan yang tidak bertanggung jawab," keluh karina.
"Non, dari kemariiiin ngeluhnya itu-itu saja, mbok cari pasangan. Usia non 'kan sudah siap menikah."
"Yah bi, kalau Karina ketemu ya pasti nikah bi."
"Ya, jangan lama-lama atuh."
Karina melirik bi Murni. "Bibi menikahnya diusia berapa?"
"15 tahun."
' "What?!" seru Karina. "Cepat amat. Ririn, pekerja di tempat Karina malah menikah di usia 17 tahun."
"Iya, beda sepuluh tahun sama mbak!"
Karina mendecak kesal. "Ah, bibi ini-"
"Besok non jadi libur 'kan?" tanya bi Murni. "Soalnya besok jadwal nemenin bibi ke rumah sakit, anak bibi gak bisa nemenin."
"Emang Tito kemana?"
"Sibuk nemenin bapaknya panen di kampung."
"Oh." Karina tidak tanya lebih lanjut karena bi Murni sudah cerai dengan suaminya karena selingkuh. Anaknya ada dua. Si sulung perempuan jadi TKW sementara yang bungsu laki ikut bapaknya sambil kuliah, itupun pakai uangnya bi Murni, "Iya, besok saya antar naik mobilnya papa."
"Eh, non." Bi Murni colek tangan Karina. "Besok pakaiannya yang rapi ya, sekalian dandan."
"Kenapa bi? Biasanya Cuma pakai baju santai." Karina menyuap makanannya.
"Banyak dokter ganteng disana. Siapa tahu salah satunya kecantol dan dijadikan pasangan."
Karina menaikan alisnya, "Kok saya tidak tahu ya?"
"Yah, kan kalau non menemani cuma diam di mobil, yang turun biasanya mas Ditya atau ibu. Ganteng lho, tidak akan rugi."
"Itu berapa tahun lalu?"
"Yah, jedanya Cuma dua tahun lalu ibu sama mas Ditya menemani saya, tapi tiap bulan saya tetap kesana 'kan sama Tito, sejak ibu sama mas Ditya dinas kerja?" tanya bi Murni. "Tenang, non! Dokter-dokter cakepnya masih ada kok, gak rugi deh dandan cantik," lanjutnya.
Karina menghela napas. "Iya, ya."