TIDAK PEKA

1013 Words
Andre menuruni tangga dengan perasaan kesal, hari ini waktunya check up tapi tidak melihat batang hidung anak keduanya sedari tadi. "Lho, Ayah tidak jadi ke rumah sakit?" tanya Bagas sambil membetulkan letak kaca mata ketika melihat ayahnya berjalan menuruni tangga dengan susah payah. "Kenapa Ayah naik ke lantai atas? Bisa minta tolong pegawai di rumah, kan?" "Mana adik kamu?" tanya Andre yang bingung mencari anak keduanya yang tengil. "Setelah makan malam, dia keluar tapi tidak beritahu Bagas pergi ke mana," jawab Bagas dengan nada heran. "Agus tidak ada di kamarnya?" "Tidak ada! Kalau ada, ayah tidak mungkin mencak-mencak begini sampai rela naik ke atas buat ketuk kamarnya!" jawab Andre dengan nada kesal. "Kemana adik kamu? Apa dia tidur dengan kekasihnya?" Bagas menggeleng, adiknya ini semenjak menjadi dokter, sudah mulai berubah sifatnya. Salah satu contoh paling sederhana saja, mengubah nama panggilan menjadi Rangga. "Bagas coba telepon dia." "Anak itu masa lupa sama jadwal check up bapak?!" kata Andre yang sabar sambil duduk di kursi goyangnya. "Awas ya kalau dia pulang ke rumah, ayah bejek-bejek dia!" "Sakit hati mungkin karena perkataan ayah semalam." Bagas mencoba telepon sang adik. "Handphonenya mati." "Sakit hati apa? Memangnya ayah tidak tahu kalau dia pacaran sama model majalah dewasa? Teman-teman ayah malah yang bilang, apa tidak malu bapak?!" seru Andre dengan nada marah. "Anak itu sudah dewasa, seharusnya sudah paham mana yang baik dan buruk, kenapa jadi ayah yang disalahkan?!" "Masa?" Bagas mengerutkan kening dengan heran. "Waktu itu Agus malah bilang kalau pacarnya itu artis baru, tidak sengaja bertemu di mall, pacarnya cantik kok- dan sopan." Bagas buru-buru menambah kata sopan setelah Andre melirik tajam dirinya karena mengucapkan kata 'cantik'. "Nah! Kalau kepepet saja baru kenalin ke kamu! Coba kalau tidak ketemu kamu, gak bakalan dia kenalin kamu!" sahut Andre yang masih sakit hati dengan kelakuan minus anak keduanya. "Ayah ini salah apa di masa lalu sampai punya anak seperti itu?" Bagas mematikan handphonenya ketika Agus berulang kali tidak menjawab. "Masih belum diangkat, di jalan mungkin." Andre memijat kening sambil mengomel, rasanya tekanan darah tinggi selalu naik jika harus menghadapi Agus. "Ayah pergi sendiri saja, adik kamu tidak bisa diharapkan!" "Tapi mobil ayah baru saja Bagas bawa ke bengkel tadi pagi," kata Bagas yang khawatir. "Bagas antar ke rumah sakit saja ya." Tawarnya. "Ayah bisa naik Taxi, kamu tidak perlu khawatir yang tidak perlu. Pentingkan saja kantor kamu!" Bagas jadi tidak mengerti jalan pikiran ayahnya. "Ayah, diantar Bagas ataupun Agus sama saja. Kami juga sama-sama sibuk, kenapa malah berat sebelah?" "Apa kamu merasa tindakan ayah selama ini keterlaluan?" "Tidak, bukan begitu." "Lantas kenapa kamu bertanya untuk hal yang tidak penting? Ayah tidak mungkin berat sebelah, semua anak sama rata perlakuannya. Yang membuat ayah kesal adalah bagaimana adik kamu berubah setelah menjadi dokter." "Apa kamu pikir selama ini ayah buta? Sekarang prioritasnya bukan keluarga lagi tapi dirinya sendiri!" Bagas tidak ingin berdebat dan meluruskan. "Ayah- bukan begitu maksud Bagas." "Kamu sudah menikah dan Ica sedang sakit keras, kamu butuh uang banyak untuk biaya pengobatan Ica. Kamu pikir ayah tidak tahu?" Bagas tidak berani menjawab. "Adik kamu belum menikah dan sudah seperti kucing yang baru keluar dari kandang. Ayah khawatir, adik kamu melakukan sesuatu yang merugikan keluarga kita dan kamu harus menanggungnya!" "Ayah tahu Agus cerdas dan berusaha berhati-hati dalam pergaulan, tapi apa salahnya untuk menghindari semua? Apa ayah salah?" Bagas mengalah dan tidak ingin berdebat lebih jauh lagi, sebentar lagi dia memang harus bertemu dengan kliennya. "Kalau begitu Bagas pesankan Taxi ya, tapi Bagas tetap menghubungi Agus, siapa tahu dia ada di klinik rumah sakit hari ini." Andre tidak menjawab, dia hanya bersandar di kursi goyangnya sambil mengawasi Rambo dan Bunga bermain di taman. Melihat bapaknya tidak menanggapi, Bagas menghela napas, hati Bagas merasakan sakit. Sampai kapan sifat Agus seperti ini. Bagas pergi meninggalkan ayahnya yang terlihat sedih. Andre menggerutu marah. "Suatu hari, Agus harus mendapatkan calon istri- tidak, kalau calon kemungkinan tidak akan jadi- pokoknya dia harus mendapat istri yang sayang dengan keluarga suami tapi benci dengan Agus yang suaminya!" Ica menimpali sumpah Andre. "Kakek, bicara buruk itu tidak boleh lho. Katanya bisa kembali ke diri sendiri." Andre menjadi luluh ketika mendengar nasehat cucu satu-satunya lalu menampar pelan bibir keriputnya. "Benar, kakek yang salah! Kakek tidak akan mengulangi!" Ica tersenyum, nasehatnya didengar sang kakek. "Terima kasih kakek." --------- Kalimantan. Bima dan Cinta duduk di rumah salah satu warga setempat bersama dua orang dari komunitas pecinta anjing sementara dua lainnya duduk menjaga seekor anjing yang dituduh jadi-jadian supaya tidak dipukul warga lagi. Lalu salah satu teman Bima, dokter hewan Ditya sedang berdebat dengan warga yang bersikeras ingin membunuh anjing itu. "Kampung kami kehilangan banyak uang, sudah jelas anjing ini yang menjadi malingnya!" "Sejak kapan anjing mencuri uang? Kapan anjing ini bisa masuk ke rumah anda?" Ditya melawan pria di hadapannya. "Dia hanya seekor anjing! Bukan makhluk jadi-jadian!" "Bagaimana jika ada yang kehilangan uang lagi? Apakah anda mau bertanggung jawab?!" Ditya tahu tipikal orang-orang yang dihadapinya ini, mereka berusaha mencari kesempatan dalam kesempitan. "Bukannya kita harus menunggu sampai pagi tiba? Jika tidak terbukti, saya akan menuntut kalian semua karena melakukan penganiayaan terhadap hewan peliharaan!" "Anda mengancam kami?" "Justru kalian yang mengancam saya! Jika kalian benar-benar ingin mencari pelaku pencurian uang, saya akan bantu mencari dengan menurunkan anjing K9 yang ahli dalam mencari barang hilang." Ditya maju selangkah sementara warga yang mengerumuninya, mundur dua langkah. "Jika malam ini, barang berharga kalian ada yang hilang. Hari itu juga saya akan mengirim tim untuk bantu mencari, jika bukan anjing pelakunya- saya akan menuntut kalian semua dengan tuduhan laporan palsu!" Bima dan Cinta yang duduk dan hanya melihat perdebatan sengit itu, sama-sama menggelengkan kepala. "Adik dokter Ditya pasti akan kesulitan di masa depan." Decak Cinta. "Hm? Apa hubungannya dengan adik dokter Ditya?" tanya Bima yang penasaran. "Apa anda tidak lihat bagaimana dokter Ditya menghadapi warga yang berusaha membunuh seekor anjing? Bagaimana jika ada seorang pria berusaha melamar adiknya? Apakah akan diancam juga?" Bima menjadi bingung. "Yang dilakukan dokter Ditya hanya pekerjaan, jangan bandingkan hal yang tidak setara. Kamu bisa dimarahi dia kalau membahas adiknya." Cinta menghela napas dan mencibir di dalam hati. Dasar pria tidak peka!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD