DOKTER TAMPAN

1112 Words
Agus memijat kening, semalam dia minum terlalu banyak di kamar. Diam-diam dia minum tanpa sepengetahuan bapaknya lalu berangkat kerja sebelum matahari terbit dengan bantuan teman sesama dokter yang rumahnya dekat. Para perawat yang dilewati Agus memandang kagum dirinya yang bertubuh tinggi dan berpenampilan bak model dengan sepatu bot selutut, celana jeans yang pas dengan kakinya. Jika ada yang tanya kenapa Agus memakai pakaian seperti ini, dia hanya mampu berkelit. Orang lagi kena hangover, tidak mungkin peduli pada penampilan, terutama jika punya ayah model preman. Setidaknya Agus bersyukur, meskipun hangover dan asal pakai pakaian, setidaknya insting tangan dan kepala masih sama. "Kamu minum lagi?" Agus melirik Jo yang sudah jalan sejajar dengan dirinya entah sejak kapan. "Kamu tidak urus pasien?" sindir Agus setelah melihat boneka di tangan Jo, sebenarnya Jo dokter spesialis jantung seperti mamanya, Jen. Jo tertawa sambil menunjukkan boneka tangan kelinci di tangannya. "Klinik aku buka jam tiga sore. Pagi tadi ada operasi, sekarang aku mau hibur pasien-pasien mungil. Makanya malam sebelum tidur jangan minum jadinya gini, amnesia 'kan." Agus menghela napas. "Aku stress, bokap nyuruh aku bawa pacar ke rumah." Diam-diam Agus merutuki mulutnya. Aku? Bokap? Duh! Kapan hangover ini berakhir? "Kamu kan ada Soraya atau Irene? Eh, sekarang kamu sama siapa sih? Aku jadinya bingung." "Irene!" "Oh, sudah tidak sama model majalah dewasa itu? si Soraya?" "Tidak!" Agus memutuskannya bulan lalu, dia sudah bosan dengar rengekan Soraya yang selalu minta ditemani. Ayahnya pun sempat salah paham soal Irene tapi Agus tidak berniat meluruskan, toh hubungan mereka tidak akan mengarah ke serius. Jo memainkan boneka tangan di samping wajah Agus. Tinggi badan hampir sama dengan Agus. "Jadi, om Agus ini masih memakai nama Langga?" Jo sengaja menggunakan suara cadel seperti anak kecil. Agus menepis tangan Jo. Jo temannya dari SMP, jadi hafal sekali dengan perilaku Agus yang malu dengan namanya meski punya wajah setengah bule. "Diem kamu!" "Kalau kamu masih begitu mending pulang gih, daripada salah kasih resep ke pasien kamu!" Saran Jo. "Aku gak mau ujung-ujungnya jadi sopir kamu." Agus memutar bola mata dan membuka pintu klinik. "Aku sudah sampai, rawat inap masih terus 'kan?" Jo menggeleng, "Aku mau bicara sama kamu sebentar tentang Ica." "Dokter Jo!" Agus dan Jo menoleh. "Ya ampun, sudah lama tidak bertemu, dua bulan lalu tidak melihat dokter." Bi Murni menyapa dokter tampan dengan boneka tangan terangkat di tangannya. Oh, manisnya! Batin bi Murni. "Saya masih disini, hanya jam klinik saja yang berubah, jadi jarang bertemu dengan bu Murni." Jo mengenalinya. "Hadu du-" Bi Murni memijat otot tangan dokter Jo. "Tambah hottie ya sekarang, ada telurnya." Dia meniru komentar Karina saat menonton film Bollywood koleksinya. Jo tersenyum, dia terbiasa dengan kelakuan sksd emak-emak. "Iya, sekarang saya sudah mulai fitness lagi. Ke rumah sakit sama siapa?" Agus bersedekap di depan pintu klinik, untung sekarang belum ada pasien datang. Agus mencolek pundak Jo. "Pasien kamu?" tanya Agus tanpa suara. Jo menggeleng. "Pasien mama!" jawabnya tanpa suara. "Saya sama majikan saya, dokter! Rencananya mau saya kenalin sama dokter. Kata mbak-mbak disini dokter jomblo dan single 'kan?" Agus berusaha menahan tawa sementara Jo tersenyum muram. Bi Murni celingukan ke belakang. "Lho? Kemana ya majikan saya?" "Mungkin tersesat, arah klinik rumah sakit memang agak rumit." Kata Jo. Tak lama mereka melihat seorang perempuan celingukan mencari seseorang, sontak bi Murni melambaikan tangannya. "Disini non!" serunya memekakan telinga Jo. Karina mendengar teriakan bi Murni dan lari mendekat. Bi Murni memegang erat lengan baju Jo sehingga tidak punya alasan untuk kabur. Jo memelas ke Agus tapi Agus sendiri terlalu terkejut melihat makhluk yang menghampiri mereka. Karina terengah-engah sesampainya di hadapan bi Murni. "Bi, sumpah bi! Cepet banget sih bibi jalan!" "Gitu maunya ke hutan Kalimantan, jalan saja terengah-engah, makanya non banyak-banyakin olah raga, bukan ngurusin pasien mulu." Omel bi Murni sambil menggamit tangan Karina di ketiaknya. "Ini non saya, cantik 'kan?" Jo menaikan alisnya, ia menatap Karina yang berantakan dari atas sampai bawah. "Ah- ah- ya hahahaha-" "Nanti saya kenalkan juga sama dokter Jen," kata bi Murni. "Siapa tahu dokter Jen cocok jadikan non menantunya." Jo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dokter Jen itu ibunya dan si emak ini masih nekat? Alamak! "Ah, ya," jawab Jo dengan canggung. Karina menarik tangannya. "Bibi ini apa-apaan sih, katanya mau check up rutin, ini malah jadi mak comblang!" "Gak papa non, kan bibi cari pahala!" Bi Murni menatap dokter di belakang dokter Jo. "Teman dokter? Saya kok baru lihat?" Jo memperkenalkan Agus. "Namanya Agaa... Argh!" ucapannya terpotong karena injakan kaki Agus. "Saya dokter Rangga, dokter kulit dan ahli kecantikan. Ini ruangan saya." Dia menunjuk ruangan di sampingnya sambil memperkenalkan diri. "Saya sudah hampir tiga tahun bekerja disini bersama dokter Jo, mungkin saya terlalu sibuk banyak pasien di dalam dari pagi, jadi tidak sempat bertemu." Bi Murni mengangguk mengerti. "Ho-, soalnya saya sudah 10 tahun di klinik dokter Jen dan bolak-balik ke rumah sakit ini makanya banyak kenalan disini, saya pernah lihat anda, tapi dimana ya?" "Dokter Rangga ini terkenal di kalangan selebriti jadi langganan masuk TV, mungkin ibu melihatnya di TV," sahut Jo. Bi Murni menunjuk Agus. "Oh iya, saya ingat sekarang, inikan dokter yang diceritakan non saat bibi nonton acara gosip 'kan? Cakep kok aslinya!" kata bi Murni pada Karina. Karina gelagapan. Mati aku! Agus menaikan salah satu alisnya. Karina berusaha mencari-cari alasan dan Karina menepuk tangannya sekali. "Wajarlah bi, kan Karina bangga punya pasien owner seleb, masa tidak bangga sih? Apalagi sebagai seorang vet yang tidak terkenal seperti Karina ini." "Masa sih, non? Perasaan waktu itu non mencak-mencak deh." Bi Murni menatap tidak mengerti Karina. "Bi! Yuk ke tempat dokter Jen, nanti keburu diserobot orang." Ajak Karina sambil menarik tangan bi Murni untuk menjauh dari dokter sinting itu. "Mari dokter-dokter." Jo tersenyum dan melambaikan tangan dengan ramah. "Kamu kenal sama perempuan itu?" tanyanya ke Agus ketika nona dan art-nya sudah berjalan menjauh. Agus mengangkat kedua bahu, dia kenal tapi tidak mau mengenalinya. "Salah satu penggemar mungkin!" Jo menepuk bahu Agus. "Oh ya, ngomong-ngomong soal keponakan kamu, waktu itu karena terdesak, perihal tanam alat yang baru diuji. Bulan depan alat yang lebih bagus sudah tiba di Indonesia, kalau kakak kamu mau, kita bisa buat jadwal op secepatnya." "Memangnya apa kelebihan alat itu selain mahal?" "Yah kamu kan tahu, itu baru diuji. Untuk sementara jauhkan ponakan kamu dari barang-barang elektronik kita tidak tahu efek samping alat itu, waktu itukan kakak kamu sendiri yang minta karena terdesak. Nah, yang baru datang ini sudah teruji, mahal memang tapi itu jauh lebih baik." Agus menimbang saran Jo. "Ok, aku beritahu mas. Ada lagi?" "Untuk sementara tidak ada. Aku garis bawahi dan saran keras, jauhkan adik kamu dari barang-barang elektronik yang bisa menimbulkan listrik sampai alat baru tiba di Indonesia." Agus mengangguk dan menepuk bahu Jo. "Thanks, bro." "Sama-sama."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD