RAS KUCING

1089 Words
Cinta menutup kedua telinganya dengan tangan, ketika Bima menembak ke udara lagi saat melihat ada salah satu warga nekat berusaha mengambil kayunya. Ditya yang kesal segera mematahkan kayu yang terlihat tebal itu menjadi dua. Cinta berkacak pinggang sambil mengomeli Bima. "Dokter, kelakuan anda hari ini tidak bisa ditolerir, jangan gunakan senjata di depan umum. Bagaimana jika mereka menuntut kita?" Bima mengunci pistolnya lalu dimasukan kembali ke sarung pistol di balik jaketnya. "Memangnya mereka bisa memasukan aku ke penjara? Yang ada mereka yang dimasukan." Ditya lari menghampiri Bima sambil tertawa terbahak-bahak dan mengacungkan jempol. "Kamu hebat, sangat hebat. Tidak ada lagi yang seberani kamu hahahaha! Aku sudah kesal sama mereka, berani keroyokan- sekarang kamu angkat senjata, mereka semua bubar." Cinta melotot marah ke Ditya. "Dokter kok malah tertawa? Harusnya menasehati dokter Bima supaya tidak menggunakan senjatanya sembarangan!" Ditya nyengir tidak bersalah. "Memangnya kenapa? Kalau dia tidak menggunakan senjata untuk mengancam mereka- aku yang bisa babak belur." Bima mengeluarkan sapu tangan dan mengusap keringat di dahi. Tubuh gemuk diajak lari memang menyebalkan. "Di mana anjingnya?" "Aman." "Aku mau lihat." Cinta berkata ke Bima, "Saya ambil barang-barang dulu di rumah warga dan periksa, takutnya ada yang ambil." Bima mengangguk lalu berjalan mengikuti Ditya. Cinta otomatis menarik tangan Bima ketika mendengar laporan, untungnya mereka langsung datang dan menyelamatkan Ditya. Sementara Ditya langsung menceritakan kronologi mengapa warga mendadak marah. "Mereka ingin melakukan ritual pembuktian, ternyata mereka menuduh karena melihat anjingnya makan nasi dan dilempar batu diam saja." Bima memijat kening. "Kebanyakan mereka tidak tahu, anjing ada yang diberi makan nasi. Bukannya aku sombong ya, tapi bodoh banget mereka- mereka terlalu sombong hingga menjadi bodoh." "Aku menyuruh mereka untuk melakukan pembuktian sekarang juga dan tidak menuggu besok pagi. Hasilnya ada salah satu provokator yang menuduh aku bagian dari anjing ngepet itu." Ditya tertawa miris. "Sontak aku menghajar provokator lalu yang lain menjadi tidak terima." Bima menghela napas. "Seharusnya kamu bisa berhati-hati, jangan sendirian menghadapi mereka." Ditya tertawa. "Aku benci orang bodoh yang sombong, makanya kelepasan. Jadi, jangan salahkan aku." Bima tidak berkomentar lagi, teringat dengan cerita Cinta mengenai calon suami adik Ditya. Hidup calon suaminya pasti akan sulit saat menghadapi kakak iparnya. Batin Bima. ---------- Len bangkit ketika ada seorang pembeli yang celingukan mencari makanan untuk kucingnya sambil memakai tas astronot kucing. "Ada yang bisa saya bantu?" "Uhm, saya baru pertama kali pelihara kucing Angora." Bibir Len berkedut ketika mendengar kucing jenis Angora. Orang awam masih belum bisa membedakan antara kucing Persia dan Angora, namun jika dirinya mencoba koreksi, mereka tidak akan terima. Pernah suatu hari saat membaca postingan di media sosial salah satu grup pecinta kucing, ada salah seorang anggota yang bicara mengenai kucing Angora milik dia. Len mencoba koreksi dan memberikan informasi. 'Kucing yang kakak punya itu jenis Persia bukan Angora, ada banyak perbedaan antara kedua kucing itu.' Anggota yang diberitahu Len sontak tidak terima. 'Konyol! Kalau begitu kenapa dokter aku bilang kucing Angora? Kamu-nya sendiri yang sok tahu!' Len ingin membalas tapi dicegah Karina. "Tidak semua orang mau menerima informasi dari kita, kebanyakan mereka malas membaca atau membuat asumsi sendiri tanpa adanya pakar. Jangan berdebat untuk hal yang tidak penting." Semenjak itu Len tidak mau lagi meluruskan. Jika ada yang bertanya, dengan senang hati akan menjawab, jika tidak- Len tidak mau berbaik hati lagi. Pemilik kucing itu menoleh ke Len. "Orang-orang bilang begitu, tapi benar ya ini Angora?" Len tersenyum lega, ternyata masih ada pemilik hewan yang mau mendapat informasi banyak. "Tidak, kucing ini jenis Persia. Dari wajah, Persia memiliki bentuk wajah pendek dan datar lalu hidung rata dan kepala bulat sementara Angora bentuk hidung lebih panjang. "Dilihat dari kucing milik kakaknya, jenis persia medium yang dimana hidungnya tidak rata atau bisa dibilang tidak terlalu pesek." Pemilik kucing menatap kagum Len. "Wah, terima kasih atas informasinya. Lalu makanan apa yang cocok untuk kucing saya?" "Karena kucingnya masih kecil dan bulunya panjang, saya sarankan ambil kitten persian. Tujuannya supaya bulu kucing tetap sehat." "Aku diberitahu kalau induknya bisa makan nasi, tempe sama ikan saja. Aku tidak tega karena kelihatannya makan itu tidak sehat, tapi aku tidak bilang ke pemilik lama. Makanya begitu aku sampai ke sini, aku coba cari makanan yang cocok." "Kenapa anda berpikiran seperti itu?" "Ah, bayi sama manusia dewasa saja makanannya berbeda. Sama dengan monyet yang suka buah-buahan lalu hewan lainnya, jadi pasti kucing juga memiliki nafsu makan yang berbeda, aku hanya mengandalkan insting ini saja." Len tersenyum. "Kita tidak bisa menyalahkan orang-orang yang memberikan makan nasi, tempe ataupun ikan. Bagi mereka yang terpenting kasih makan, sudah cukup. Namun untuk kita yang ingin peliharaan mendapat makanan yang cukup untuk nutrisinya. Lebih baik khusus makanan kucing." "Eh, jadi pemikiran aku tidak salah 'kan?" "Ya, tidak salah." "Tapi aku sempat lihat ada orang-orang bagikan makanan untuk kucing dengan nasi dan ikan yang sudah dicampur." Len menghela napas. "Sebenarnya dilema juga, biarkan mereka melakukan kebaikan dengan cara sendiri- tidak semua orang punya uang banyak untuk berbagi makanan. Harga pakan hewan mungkin dianggap mahal, jadi lebih baik berikan makanan seadanya untuk menutup rasa kenyang mereka. Kucing juga suka karena tidak ada pilihan lain." "Apakah ada bahaya memberikan makan nasi ke hewan?" tanya pemilik kucing. Len coba mengingat perkataan Karina. "Kata dokter hewan di sini, kalau kebanyakan memberikan makan kabohidrat terutama manis, tidak baik untuk kesehatan jantung kucing. Lebih banyak protein, tapi kalau diberikan makanan basah ikan terus menerus juga tidak cocok untuk jenis persia karena bisa menimbulkan bulu rontok." Pemilik kucing segera mencatat di handphone dengan terburu-buru. "Oh, begitu. Baik, akan coba aku laksanakan. Terima kasih ya, tadinya saya bingung mau kasih makan apa tapi setelah saran mas-nya, aku jadi tidak bingung lagi." Len tersenyum lalu melihat si kucing kecil. Ada kepuasaan sendiri saat membagikan informasi ke pemilik kucing, mungkin ini yang dirasakan dokter hewan Karina. "Sama-sama, terima kasih juga mau mendengarkan informasi dari saya." "Eh?" "Ah." Len tanpa sadar menyuarakan pemikirannya. "Maaf, saya tidak bermaksud menilai buruk orang lain tapi kadang kala ada pemilik kucing bagus yang tidak peduli dan hanya memberikan makan sesuka hati tanpa mau mendengar. Tapi, saya yakin tidak semua orang seperti itu." Pemilik kucing itu tertawa. "Aku paham mas, sama halnya manusia yang tidak mau pergi ke dokter saat sakit tapi malah pergi ke dukun. Kita tidak masalah jika orang itu punya alasan tidak punya uang banyak tapi jika dia menggunakan alasan itu padahal punya uang banyak- rasanya sulit diterima." Len menghela napas lega. "Mau ambil yang mana? Nanti saya bantu, dan saya berikan diskon member jika kakaknya belanja di sini lagi." Kedua mata pemilik kucing itu berbinar. "Bolehkah? Yang mana saja, buat kucing aku. Aku percaya sama masnya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD