DOKTER JO

1015 Words
Karina membersihkan wajah dan memperbaiki riasan tipis di kamar mandi rumah sakit Bi Murni menyuruhnya merapikan diri sebelum bertemu dengan dokter Jen. Awalnya Karina menolak tapi mengingat ancaman bi Murni dan permintaan orang tua untuk menjaga pembantu kesayangan mereka akhirnya Karina menurut. Selesai merapikan rambut dengan ikat ekor kuda dan memakai bedak bayi favorit, dia meninggalkan kamar mandi untuk menyusul bi Murni. Tanpa sengaja ekor mata Karina melihat dokter yang tadi diajak bicara bibinya sedang menghibur tiga orang anak di dalam ruangan, kedua mata Karina menyipit dan membaca papan di atas pintu. Ruang Mickey. Sepertinya ruang rawat inap khusus anak. Karina kembali melihat ke dalam ruangan dan menangkap salah satu anak duduk di atas tempat tidur dengan dipasangi selang dan alat di dadanya. Seorang ibu yang sedari tadi melihat di depan pintu tersenyum pada Karina, menyapanya dengan ramah. "Ada urusan dengan dokter Jo?" Karina menoleh, "Tidak bu, hanya terkejut melihat dokter." "Ah, si dokter bedah jantung itu, ya? Dokter Jo!" "Dokter bedah jantung?" Karina terkejut dengan fakta itu. Tadinya dia mengira dokter Jo yang tanpa gengsi memakai boneka tangan itu dokter anak. "Saya kira dokter anak." "Kalau melihat dokter Jo seperti itu pasti banyak yang mengira begitu," Ibu itu tersenyum sambil menunjuk seorang anak yang dipasangi berbagai macam selang. "Itu Riko, putra saya." Karina melihat anak yang menarik perhatiannya tadi. "Sakit apa, Bu?" "Jantungnya tidak normal jadi harus operasi beberapa kali." Si ibu mengusap air mata di sudut matanya, "Anaknya murung terus, tapi semenjak dihibur dokter Jo. Anak saya perlahan berubah ceria. Saya berutang budi pada dokter." Karina tersenyum melihat dokter Jo yang duduk di depan Riko sementara kedua pasien yang seumuran Riko tertawa dan duduk di samping tempat tidur. Karina suka melihat dedikasi seorang dokter yang tidak setengah-setengah. Dokter Jo masuk ke kriteria pria idamannya. "Tapi dokter Jo itu setia lho." "Setia?" "Saya pernah bertanya cincin yang dipakainya di jari manis kiri, katanya itu cincin tunangan dia yang sudah meninggal. Dokter sebaik dia memang cobaannya banyak sekali terutama yang setia," Si ibu memainkan kalung emasnya. "Suami saya saja sampai menangis mendengar kisah hidupnya." "Oh." Karina tiba-tiba teringat dengan bi Murni. "Ah bu, saya permisi dulu ya. Bibi saya sudah menunggu saya." "Iya." Angguk si ibu. Karina jalan menuju ruang tunggu dokter Jen. Bi Murni duduk di tempat sama sambil memainkan game zuma di smartphone barunya. Bulan kemarin Karina memang sengaja membelikan bi Murni smartphone supaya bisa wa daripada sms atau mms kalau mau pulang malam atau mau kirim foto. Awalnya bi Murni tidak paham dan hampir menyerah. Dengan kesabaran extra Karina yang menyempatkan diri mengajar di sela-sela kerja akhirnya bi Murni bisa menerima telepon, telepon keluar, wa, mendengar music dan video bahkan bermain game zuma. "Belum dipanggil, bi?" Karina duduk di samping bi Murni. "Belum non, namanya masih ngantri." Bi Murni menggoyang-goyangkan handphonenya ke kanan dan kiri dengan kedua tangan. "Non, nanti di rumah bibi bisa minta tolong?" "Minta tolong apa bi? Jangan aneh-aneh ya!" Bi Murni masih serius memainkan gamenya. "Tolong cari game nenek-nenek lari di handphone seperti non mainkan waktu itu tuh, pas menemani bibi nonton pilem horror di ruang keluarga." "Ouw, angry granny? Nanti Karina download!" "Terima kasih non, haduh! Mana bola ungunya?" Karina mengeluarkan handphone dan mengecek e-mail. "Bi, apa hubungannya dokter tadi sama dokter langganan bibi?" "Dokter Jen?" "Iya." "Dokter Jen itu ibunya dokter Jo." Bi Murni menurunkan handphonenya, "Kenapa? Mulai tertarik ya sama dokter ganteng? Cieee-" Karina merenung lalu tersenyum. "Mungkin, tadi Karina tidak sengaja ngeliat dokter Jo menghibur ruang rawat inap anak. Karina suka ngeliatnya, jadi ingat papa sama mas Ditya." "Yah non, ngapain juga ingat bapak sama mas Ditya? Ingat itu usia yang matang." "Telor rebus kale matang!" Karina memutar bola matanya. "Yah non, dikasih saran bagus malah seperti itu." Bi Murni mencubit paha Karina. "Adududuh, bi! Sakiiiit!" Karina menggosok pahanya. "Gak kira-kira ih nyubitnya!" "Biarin!" "Permisi." Bi Murni dan Karina menoleh. "Sebelah kosong, ya?" Kursi yang tadi diisi tas Bi Murni disampingnya diambil Karina. "Duduk saja pak." Karina diam-diam menilai penampilan bapak itu. Memakai kaos salah satu partai terkenal di Indonesia, celana panjang kumal, sandal jepit dan kopiah. Penampilannya unik dan sederhana. Bapak tua itu duduk di samping Bi Murni melewati Karina. "Ibu mau ke dokter Jen juga?" tanyanya. Bi Murni mengangguk pelan. "Bapak juga?" Bapak itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. "Kenalkan, nama saya Andre Kardi Tjokro." "Murni," Murni tidak membalas uluran tangan Andre, dia hanya menangkupkan kedua tangan untuk membalas salam, setelah itu mencubit tangan Karina yang hendak membalas jabat tangan pak Andre. "Dan ini anak majikan saya." Andre bersiul. "Baru kali ini saya melihat ada majikan yang peduli dengan art." "Yah, namanya keluarga." Karina tertawa pelan. "Bapak sendirian?" Raut wajah Andre berubah murung. "Yah begitulah, anak-anak kalau sudah tumbuh dewasa pasti lupa sama orang tuanya, antar saja tidak punya waktu." Karina dan bi Murni saling melirik. Sepertinya salah bicara. "Saya jadi iri sama ibu." Andre menurunkan suaranya. "Sebenarnya saya tidak terlalu suka dengan namanya dokter. Tapi karena dipaksa anak-anak saya, akhirnya saya menurut." Karina mengangguk. "Berarti bapak tidak suka anak majikan saya dong," sahut Bi Murni tiba-tiba. "Dokter juga?" tunjuk Andre ke Karina. "Iya. Tapi dokter hewan pak," jawab Karina. "Kalau dokter hewan sih saya malah lebih suka, soalnya saya punya banyak kambing dan sapi di tempat ternak. Dokternya ramah dan baik, awalnya saya kira gila karena dia bicara sendiri dengan hewan tapi lama-lama saya paham. Itu bentuk kasih sayang pada pasiennya," mata Andre berbinar. "Terakhir kambing kesayangan saya sakit tapi akhirnya sembuh dalam sehari berkat dokter hewan, coba kalau dokter manusia, pasti macem-macem nuntutnya, yang inilah yang itulah saya yang orang tua jadi pusing sendiri." "Ada dokter yang benar-benar memperhatikan pasien tapi juga ada pasien yang melihat uang dari pasien," sahut Bi Murni, "Benarkan, non?" Karina mengangguk pelan, "Di dunia kesehatan baik untuk hewan dan manusia sama-sama banyak dimanfaatkan orang tidak bertanggung jawab. Syukurlah kambing bapak ditangani dokter yang Bagus." "Oh iya, harus itu. hahahahaha-" Andre tertawa keras. Bi Murni dan Karina memaksakan diri tertawa. "Ibu Murni!" "Non. Saya dipanggil! Ayo!" bi Murni berdiri, "Saya duluan ya pak," pamitnya. "Oh! Silahkan!" Andre mempersilahkan bi Murni. Karina menundukkan kepala untuk memberikan salam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD