Arjun sedang sibuk berkutat dengan tumpukan dokumen di meja kerjanya ketika pintu ruangannya terbuka, menampilkan seorang pria paruh baya yang tampak berwibawa, berjalan masuk ke dalam ruangan.
Arjun mengangkat kepalanya dan sedikit terkejut ketika tahu siapa yang masuk ke dalam ruangannya. Sosok itu adalah Tuan Agam, ayah Arjun.
“Ayah. Kenapa tidak mengabariku dulu kalau mau kesini? Aku bisa menjemput ayah kalau tahu ayah akan kemari.” Tanya Arjun setelah mengikuti Ayahnya untuk duduk di sofa ruangannya.
Sang ayah hanya tersenyum tipis sambil mendudukkan badannya pelan di atas sofa. “Ayah kebetulan lewat di dekat sini. Jadi ayah putuskan untuk mampir sebentar.”
“Apa kau sedang sibuk, nak?” Tanya ayahnya lagi.
“Tidak, yah. Hanya ada beberapa dokumen yang perlu diperiksa.” Jawab Arjun lembut.
Meski dikenal sebagai sosok pria yang dingin dan kaku, tapi Arjun adalah sosok anak yang baik dan lembut di depan orang tuanya.
“Bagaimana dengan kesehatan ayah? Sudah lebih baik, kan?”
“Ayah sudah lebih sehat sekarang.” Jawab sang ayah.
“Syukurlah. Arjun sangat lega jika ayah sudah lebih sehat sekarang.” Ucap Arjun penuh syukur.
“Oh, ya, nak. Nanti malam apa kau sibuk?” Tanya Tuan Agam pada sang putra.
“Eum… sepertinya nanti malam Arjun tidak ada acara, yah. Memangnya ada apa, yah?”
“Datanglah ke rumah nanti malam bersama istrimu. Ayah ingin makan malam bersama kalian. Sudah lama sekali kita tidak makan malam bersama, kan?” ucap sang ayah.
Arjun meraih tangan sang ayah lembut.
“Arjun kira ada apa, yah. Iya, kita memang sudah lama tidak makan malam bersama. Maafkan Arjun, ya yah. Karena Arjun selalu sibuk sampai jarang sekali datang menjenguk ayah.” Ucap Arjun penuh sesal.
“Tidak apa-apa, nak. Ayah tahu jika kamu sibuk mengurus perusahaan ini.” Jawab sang ayah lembut.
Tak berapa lama, mereka berdua pun larut dalam obrolan santai hingga sang ayah berpamitan pulang.
Sepeninggalan sang ayah, Arjun meraih ponselnya yang ada di atas meja. Jemarinya menggulir layar ponsel dan berhenti pada sebuah nama kontak. Iapun membuka room chat dengan kontak tersebut.
“Nanti malam bersiaplah untuk ikut makan malam di rumah ayahku.” Tulisannya di ruang obrolan itu.
Setelah beberapa saat sebuah notif pesan masuk di ponsel Arjun. Arjun membuka pesan itu, sebuah balasan singkat dari Dea.
“Baiklah.”
Cukup singkat. Tapi itu memang sudah menjadi hal biasa terjadi di antara mereka. Arjun dan Dea tak pernah berbalas pesan dengan tulisan panjang. Cukup dengan satu atau dua patah kata saja. Bagi mereka saling mengirim pesan bukanlah hal penting. Kecuali itu berhubungan dengan keluarga mereka. Maka mereka akan mengirim pesan seperti yang terjadi hari ini.
Sampai detik ini kedua belah keluarga tak ada yang tahu mengenai kontrak nikah yang telah mereka buat. Tapi ketika hal ini sampai terbongkar, sudah pasti rasa kecewa akan ditelan oleh keluarga besar mereka.
Oleh karena itu mereka harus pandai bersandiwara agar pernikahan kontrak ini tidak diketahui oleh keluarga mereka. Sampai saatnya kontrak mereka berakhir. Itulah yang mereka berdua harapkan.
***
Malam ini lalu lintas sedikit lengang. Arjun mengendarai mobilnya dengan kecepatan standar membelah jalanan yang lengang menuju rumah sang ayah. Sesuai janjinya siang tadi, ia dan Dea akan datang ke rumah sang ayah untuk ikut makan malam bersama.
Dea duduk di kursi sebelah Arjun dengan menatap ke luar jendela. Suasana di dalam kabin mobil cukup hening. Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing. Sebenarnya hal ini sudah biasa bagi mereka jika sedang bepergian bersama dalam satu mobil.
Tak ada obrolan basa-basi untuk mengisi keheningan dalam perjalanan mereka. Hingga dering ponsel milik Dea menggema di dalam kabin mobil. Dea mengambil ponselnya dari dalam tas. Dan menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut.
“Ya, ada apa, An?” dan ternyata yang menelponnya adalah Ana, karyawan tokonya.
“Kak, besok ada pesanan bouqet bunga lili putih dari Tuan Riyan. Dan stock lili putih kita habis. Bisakah kakak memesankannya malam ini? Agar besok pagi kita sudah punya stock.” jelas Ana panjang lebar dari seberang sambungan.
“Baiklah, nanti kakak pesankan. Stock yang lain bagaimana? Biar sekalian kakak pesankan.”
“Stock yang lain masih aman, kak. Hanya lili putih yang kosong.”
“Baiklah. Nanti kakak pesankan. Kalau begitu kakak tutup dulu teleponnya.”
Setelah memutuskan sambungan telepon, Deapun kini sibuk mengutak-atik ponselnya untuk memesankan bunga lili putih yang diminta Ana tadi. Setelah selesai mlakukan transaksi, Dea memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
“Apa ada masalah?” Suara berat Arjun memecah keheningan di dalam mobil. Sedikit banyak Arjun tadi mendengar pembicaraan Dea dan Ana meskipun Arjun sendiri sibuk dengan kemudinya.
“Hanya masalah stock barang.” Jawab Dea singkat tanpa menoleh ke arah Arjun.
Mendapat jawaban singkat dari Dea, Arjun hanya mengangguk pelan. Kemudian kembali fokus dengan jalan di depannya.
Setelah hampir 20 menit perjalanan, mobil yang dikemudikan Arjun telah sampai di sebuah rumah yang terlihat sangat nyaman. Lampu taman tampak temaram menyinari tiap sudut taman yang ada di halaman rumah. Banyak sekali tanaman bunga yang menghias taman tersebut.
Ternyata Tuan Agam, Ayah Arjun, memiliki hobi berkebun untuk mengisi waktu senggangnya setelah tidak lagi mengurus perusahaan. Selain menanam bunga yang ada di halaman depan, Tuan Agam juga menanam berbagai macam sayuran di halaman belakang.
Arjun mematikan mesin mobil kemudian turun dari mobil dan diikuti oleh Dea. Dea berjalan di belakang Arjun sambil menenteng parsel buah yang di belinya tadi saat perjalanan menuju kemari.
Pintu dibuka oleh Bi Sum, asisten rumah tangga yang bekerja di rumah tuan Agam.
“Silahkan masuk den Arjun dan non Dea. Tuan sudah menunggu di meja makan.” Ucap bi Sum.
Arjun berjalan terlebih dahulu menuju meja makan. Sedangkan Dea berjalan di belakang bersama bi Sum.
“Bi Sum apakabar? Sekarang terlihat tambah cantik saja.” Tanya Dea dengan nada menggoda.
“Ah. Non Dea ada-ada saja. Kabar bibi baik non.” Jawab Bi Sum sambil menggelengkan kepala. Sudah hapal dengan sifat Dea yang suka menggodanya saat mereka datang berkunjung ke rumah tuan Agam.
Mereka berduapun berjalan sambil saling melempar candaan dan di ikuti tawa kecil diantara keduanya.
“Selamat malam, yah. Bagaimana kabar Ayah?” Tanya Dea saat telah sampai di meja makan.
Dea meletakkan parsel buah yang dibawanya tadi ke atas meja pantri kemudian menyalami ayah mertuanya itu.
“Kabar ayah baik , nak. Bagaimana kabarmu sendiri, nak? Apa Arjun memperlakukanmu dengan baik?” Tanya tuan Agam dengan senyum bahagia menghias wajah keriputnya.
“Kabar Dea baik, yah. Mas Arjun juga sangat baik pada Dea.” Jawab Dea dengan senyum manis kemudian mendudukkan dirinya di kursi di sebelah Arjun.
“Kalau Arjun nanti berani buat Dea sedih, bilang sama ayah. Biar nanti ayah sentil telinganya.” Ucap tuan Agam, meggoda sang anak.
“Siap, yah.” Jawab Dea dengan senyum lebar menghias wajahnya.
Melihat kelakuan sang ayah dan istrinya yang asyik menggodanya, Arjun hanya menggeleng pelan.
“Ayah dan Dea kalau sudah ketemu pasti Arjun yang jadi korbannya.” Keluh Arjun yang disambut suara tawa oleh tuan Agam dan Dea.
Setelah makan malam selesai, tuan Agam dan Arjun duuduk di ruang keluarga sambil menikati teh hangat. Sedangkan Dea masih di dapur, membereskan sisa makan malam mereka dengan ditemani bi sum.
“Bagaimana dengan pekerjaanmu di kantor, nak?” Tanya sang ayah sambil menyesap tehnya.
“Semuanya berjalan dengan baik, yah. Semoga seterusnya juga seperti itu.” Jawab Arjun santai.
Tuan Agam mengangguk kecil. Kemudian menatap lekat pada wajah putranya itu. “Bagaimana hubunganmu dengan istrimu?” Tanya tuan Agam lembut.
Dea yang sedang berjalan menuju ruang keluarga sedikit memelankan langkah kakinya. Ia ingin mendengar bagaimana jawaban Arjun mengenai hubungan mereka.
“Baik, yah. Hubungan kami sangat baik. Dea adalah istri yang sempurna untukku.” Jawab Arjun tenang. Jawaban yang sepertinya sudah ia siapkan sejak lama.
Mendengar itu, Dea hanya tersenyum sinis. “Sudah kuduga.” Gumamnya.
“Ayah minta tolong jaga dan perlakukan Dea dengan baik, ya, nak. Ayah juga akan selalu mendo’akan yang terbaik untuk pernikahan kalian. Semoga pernikahan kalian langgeng sampai maut yang memisahkan kalian.” Ucap sang ayah dengan tulus.
Mendengar perkataan sang ayah, Arjun hanya mengangguk pelan dengan senyum tipis di sudut bibirnya. Ada rasa sesak dan bersalah yang menyelinap ke dalam lubuk hati Arjun setelah mendengar ucapan sang ayah tadi.
“Maafkan Arjun, yah. Arjun telah membohongi ayah. Maafkan Arjun.” Gumamnya.
Setelah di rasa cukup tenang, Deapun melanjutkan langkahnya menghamipiri kedua pria itu di ruang keluarga. Dea memasang senyum hangatnya ketika ia sampai di ruang keluarga dan kemudian ikut duduk di sebelah Arjun.
“Kalian sedang membicarakan apa? Sepertinya asyik sekali.” Tanya Dea ketika melihat suami dan ayah mertuanya sedang asyik mengobrol.
“Hanya hal biasa, nak.” jawab sang ayah sambil tersenyum ke arah Dea.
“Oh, ya. Kapan kalian berencana untuk memberikan ayah cucu? Pernikahan kalian sudah hampir 2 tahun. Tidak baik jika harus menunda lama. Apalagi ayah sudah payah seperti ini. Setidaknya berilah ayah cucu agar ayah tidak kesepian.” Kata sang ayah lembut.
Rasanya jantung Dea berhenti berdetak sepersekian detik ketika mendengar pertanyaan itu. Sedangkan Arjun, tubuhnya mendadak menegang. Kentara sekali jika pria itu juga terkejut dengan pertanyaan sang ayah.
Dapat Dea lihat jika pria yang sedang duduk di sebelahnya ini sedikit gugup. Karena satu dua bulir keringat menetes di pelipisnya.
Akhirnya Dea berinisiatif untuk menjawab pertanyaan sang ayah mertua. “Secepatnya, yah. Do’akan kami, ya.” Jawab Dea dengan nada selembut mungkin.
“Ayah akan selalu mendo’akan yang terbaik untuk kalian. Semoga kalian cepat memiliki momongan. Supaya Dea tidak kesepian di rumah jika harus ditinggal Arjun untuk dins ke luar kota.” Ucap sang ayah tulus.
Suasana ruang keluarga kembali hangat. Mereka bertiga saling bertukar cerita mengenai kegiatan sehari-hari dan juga mengenai hal random lainnya. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 10 malam.
“Yah, sepertinya ini sudah larut malam. Ayah istirahatlah, kami juga akan pulang.” Ucap Arjun pada sang Ayah.
“Baiklah. Kalian hati-hati di jalan, ya. Sering-seringlah datang mengunjungi pria tua ini.” Ucap sang ayah dengan nada bercanda.
“Siap, yah. Kami usahakan untuk sering main kesini.” Jawab Dea dengan nada riang.
Setelah berpamitan, Arjun dan Deapun masuk ke dalam mobil. Mobil yang dikemudikan Arjun berjalan pelan meninggalkan pelataran rumah sang ayah, memebelah jalanan yang terlihat cukup lengang malam ini.
Bagaimana hubungan keduanya setelah mendengar permintaan dari sang ayah? Akankah status pernikahan mereka akan berubah? Atau tetap berjalan sesuai dengan kontrak yang telah mereka sepakati bersama?
***