Bab 4

2520 Words
Flash back on Arjun berteriak frustasi dan membanting barang-barang yang ada di meja kerjanya. Hal itu membuat sang sekretaris berlari masuk ke dalam ruangan karena mendengar suara benda pecah dari dalam. Setelah masuk ke dalam ruangan, Thomas berdiri dengan wajah khawatir. Tampak Arjun berdiri membelakangi pintu dengan kondisi berantakan. Lengan bajunya terlipat sampai siku, dasi sudah longgar tak beraturan dan juga rambut yang acak-acakkan. “Ar. Ada masalah apa? Kenapa kamu jadi seperti ini?” Tanya Thomas penuh ke khawatiran. Sebagai sahabat, Thomas kini membuang sikap formalnya sebagai sekretaris ketika melihat bos sekaligus sahabatnya yang kacau. Tak ada jawaban dari sosok pria yang berdiri membelakanginya. Hanya terdengar deru napas berat dan memburu. Menandakan sosok itu masih dalam keadaan emosi. “Tenangkan dirimu, Ar.” Perlahan Thomas berjalan ke arah Arjun yang masih berdiri mematung. Setelah sampai di samping Arjun, Thomas lihat keadaan lelaki tersebut sangat kacau dan sorot matanya yang tampak tajam penuh amarah. “Tarik napas dulu, Ar. Ayo kita duduk dulu.” Ucap Thomas sambil menarik pelan lengan Arjun. Membawa pria tersebut untuk duduk di sofa ruangan. “Ini minum dulu. Biar kamu bisa rileks.” Ucapnya sambil mengangsurkan segelas air kepada Arjun. Arjun menerima gelas itu dan meminumnya hingga tandas. Arjun meletakkan gelas ke atas meja, badannya merosot ke sandaran sofa. Sorot matanya kini terlihat melunak. Bahkan Thomas melihat gurat kesedihan pada wajah sahabatnya itu. Setelah dirasa sudah tenang, Thomas menatap lekat wajah sahabatnya itu. “Sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi padamu?” Sedetik, dua detik Arjun masih diam. Kemudian satu helaan napas berat meluncur begitu saja dari mulut Arjun. “Vika tidak mau menikah denganku.” Ucap Arjun dengan suara bergetar. “Apa? Aku tidak salah dengarkan? Kenapa bisa? Pernikahan kalian tinggal menunggu hari.” Tanya Thomas bertubi-tubi, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Arjun menggelengkan kepalanya lesu kemudian mengusap wajahnya frustasi. Pria itu mengerang pelan. “Dan diapun tak mau memberi tahu apa alasannya. Bahkan keluarganya juga tidak mau memberi tahuku. Vika sendiri juga tidak mau menemuiku.” Suaranya terdengar serak. Arjun menegakkan duduknya. Tangannya terlihat mengepal diatas paha. Sorot matanya kini berubah penuh amarah. “Dan lebih gilanya lagi, mereka memintaku untuk menikahi Dea sebagai gantinya.” Ucapnya dengan nada penuh emosi. “Apa? Bagaimana bisa?” Thomas semakin terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar. “Kau tahu, kan, kalau pernikahan ini tidak bisa dibatalkan. Apa kata kolega ayah jika tahu kalau pernikahan anak rekan bisnis mereka batal begitu saja. Padahal undangan sudah disebar dan gedung pernikahan sudah siap.” Badan Arjun merosot kembali ke belakang. Menandakan jika pria tersebut benar-benar lelah hati dan fisiknya. Thomas menghembuskan napas kasar. Ia juga bisa merasakan perasaan sedih, marah dan kecewa yang diterima oleh sahabatnya itu. Thomas juga merasa iba dan juga prihatin atas apa yang terjadi pada sang sahabat. “Jadi, apa rencanamu, Ar?” Thomas sedikit menggeser duduknya, menghadap Arjun dan menatapnya lekat. “Terpaksa aku menerima itu, meski aku tak menyukai Dea. Kau tahu sendiri, kan, kalau aku sangat mencintai Vika. Dan hal itu semakin membuatku gila.” Suara Arjun terdengar putus asa dan juga lelah. “Kalau aku menolak, aku takut ayahku kecewa dan berpengaruh pada kesehatannya.” Suara Arjun terdengar serak karena menahan tangis. “Aku akan membantumu sebisaku, Ar. Katakan saja apa yang harus aku lakukan untuk membantumu.” Ucap Thomas serius. Arjun terdiam sebentar, memikirkan rencana apa yang harus ia ambil saat ini. “Aku akan membuat kontrak pernikahan dengan Dea. Cukup 3 tahun pernikahan saja. Setelah itu aku akan bercerai dengannya dengan alasan ketidak cocokkan.” Thomas bengong mendengar ucapan sahabatnya ini. Sungguh rumit sekali permasalahan yang dihadapi Arjun. Tapi apaboleh buat, karena sudah berjanji dan Thomas tidak akan tega melihat sahabatnya ini kesulitan. “Baiklah jika menurutmu ini jalan yang terbaik. Aku akan bantu membuatkan kotrak itu.” Ucap Thomas yang langsung diangguki oleh Arjun. *** Siang itu di sebuah kafe. Dea duduk dengan pandangan lurus menatap lalu lalang kendaraan di seberang kafe. Pikirannya sedang menebak hal apa yang akan di bicarakan Arjun hingga mengajaknya bertemu hari ini. Lamunannya terputus ketika seseorang menarik kursi di depannya dan duduk di sana. Ya, benar. Orang itu adalah Arjun Mahendra. Dea hanya menatap datar sosok yang kini duduk di depannya itu. Arjun menghela napas pelan, kemudian meletakkan map coklat di atas meja. Dan memberi isyarat pada Dea untuk membuka map tersebut. Dea meraih map tersebut dan membukanya pelan. Alisnya bertaut saat selembar kertas berhasil ia keluarkan dari dalam map. Perlahan senyum tipis muncul di wajahnya. “Tanda tangani saja kontrak itu. Kita sama-sama diuntungkan juga. Kau bisa hidup nyaman dan nama baik keluargaku terselamatkan.” Ucap Arjun dingin. Dea menatap kedua manik pria kaku yang baru saja memintanya untuk bekerja sama menjalani pernikahan kontrak ini. “Bukankah kau membenciku? Kenapa kau tak membatalkan saja pernikahan ini. Toh, kita sama-sama tak menginginkannya.” Ucap Dea datar. “Apa kau bodoh? Kalau aku menolak, reputasiku dan nama baik keluargaku akan hancur. Dan lagi, bukankah Om Surya yang memintamu untuk menggantikan Vika untuk menikah denganku. Jadi setidaknya kau harus tahu diri. Dan balas budilah atas kebaikan keluarga Om Surya yang telah mengangkatmu sebagai anaknya.” Balas Arjun dengan kejam. Mendengar jawaban Arjun, rasa nyeri menusuk hati Dea. Ia sadar diri dengan posisinya di keluarga Om Surya. Dea mengepalkan tangannya yang berada di bawah meja. Ia mengangkat kepalanya, menatap lurus ke arah Arjun dan memaksakan sebuah senyum tipis. “Baiklah. Sepertinya aku memang tak ada pilihan lain. Dan benar ucapanmu. Aku memang harus membalas budi atas kebaikan keluarga angkatku.” Dea mengambil pena yang ada di atas meja. Tanpa menunggu jawaban dari Arjun, ia menanda tangani perjanjian itu dengan hati perih. “kontrak ini akan berjalan selama 3 tahun. Dan setelah itu, kita akan bercerai.” Ucap Arjun. “Dan tenang saja. Selama menjalani pernikahan kotrak ini, aku tak akan pernah menyentuhmu sedikitpun. Kau juga akan menerima semua fasilitas dariku, baik uang bulanan dan lainnya.” Lanjutnya dingin. “Baiklah. Aku ikuti saja aturanmu.” Balas Dea tenang. Setelah menyelesaikan perjanjian itu, Arjun berlalu pergi meninggalkan Dea yang masih setia duduk di kursinya. Pandangannya menerawang jauh. Ia sadar, bahwa dirinya baru saja menyerahan kehidupannya selama 3 tahun kedepan pada seseorang yang tak ia sukai dan orang itu juga membencinya. Sungguh takdir yang kejam untuk Dea sebenarnya. Tapi apa boleh buat. Ia tak mungkin menolak permintaan dari keluarga angkatnya. Dan ia mau melakukan ini semata karena ia ingin membalas budi. Flash back off Hari ini adalah hari dimana obat baru dari “Vitalis Labs” akan diluncurkan. Suasana ballroom hotel mewah yang telah disewa tampak begitu ramai. Banyak tamu undangan dari para relasi kerja perusahaan Arjun telah datang. Wartawan dari berbagai media juga sudah bersiap di tempat yang telah disediakan. Mobil mewah yang membawa Arjun dan Dea telah sampai di lokasi acara. “Ini pertama kali setelah pesta pernikahan kita aku membawamu untuk menghadiri acara perusahaan. Jadi tolong bawa dirimu dengan baik. Jangan sampai kau membuatku malu.” Arjun mencoba memperingatkan Dea. Dea hanya tersenyum tipis. Betapa pria yang duduk di sebelahnya ini sangat meremehkannya. Meski hatinya merasa sakit, Dea tetap bersikap tenang dan santai. Mereka berduapun turun dari mobil. Arjun tampil gagah dengan setelan jas mewah berwarna biru gelap. Rambutnya disisir rapi. Menggambarkan bahwa dirinya adalah seorang direktur yang berwibawa dan tegas. Sedangkan Dea yang berdiri di sebelahnya terlihat sangat cantik dan anggun. Ia menggunakan gaun berwarna putih gading berlengan pendek. Dengan potongan leher lebar yang mengekspos bagian bahunya yang putih bersih. Rambut hitam legamnya disanggul tinggi dengan hiasan rambut berwarna senada dengan bajunya. Bibirnya dipoles dengan lipstick berwarna merah muda yang lembut. Menambah kesan cantik dan anggun pada dirinya. Tangannya merangkul manja di lengan Arjun. Mereka berdua berjalan masuk ke area ballroom sebagai pasangan yang tampak sangat serasi. Mereka berdua telah sampai di dalam ballroom. Banyak relasi dan kolega Arjun yang datang meghampirinya untuk mengucapkan selamat atas peluncuran obat barunya. Dea berdiri di samping Arjun dengan sesekali akan membalas pertanyaan dari relasi suaminya yang ditujukan kepadanya. Senyum manis selalu Dea berikan. Saat ini Dea sungguh berakting menjadi istri yang sempurna di sisi Arjun. Acarapun dimulai. Arjun berdiri di atas mimbar untuk menyampaikan kata sambutan. Sementara Dea berdiri dengan menatap datar ke atas mimbar. “Dea, kau ada di sini juga?” sebuah suara sedikit mengejutkan Dea. “Ezra?” Dea sedikit binging melihat Ezra yang ada di acara suaminya itu. Melihat wajah Dea yang kebingungan, membuat Ezra terkekeh pelan. “Aku bekerja di Vitalis Labs sebagai manajer pemasaran.” Jelasnya. Dea hanya mengangguk pelan. Mengerti mengenai alasan keberadaan Ezra di acara ini. “Kau kenapa bisa ada di acara ini?” Belum sempat Dea menjawab pertanyaan Ezra, sebuah tangan menarik pinggangnya. Dea sedikit terkejut karena tarikan itu. Dan untuk sepersekian detik berikutnya, Dea seperti berhenti bernapas saat tahu siapa orang yang menariknya tadi. “Dia istriku, Pak Ezra.” Ucap Arjun dengan ekpresi datarnya. “Wah… kebetulan sekali. Aku dan Dea teman saat kuliah dulu. Wah… Dea, ternyata kau sudah menikah. Kenapa kau tak mengundangku?” balas Ezra dengan senyum lebar. Tidak menyadari bahwa ada sedikit ketegangan diantara Arjun dan Dea. Dea yang mendengar itu hanya tersenyum canggung. Sedangkan Arjun yang mendengar nada ramah Ezra yang ditujukan pada Dea merasa sedikit tidak suka. Ezra yang melihat Dea seperti tidak nyaman akhirnya berpamitan untuk menyapa timnya yang berdiri sedikit jauh dari mereka. “Eum… kalau begitu saya permisi dulu Pak Arjun dan Dea.” Pamitnya dengan senyum ramah masih menghias wajah tampannya. Sepeninggalan Ezra, suasana menjadi sangat canggung. Arjun yang sadar jika tangannya masih bertengger di pinggang Deapun buru-buru menariknya. Wajah Dea sedikit memerah karena perlakuan Arjun barusan. “Jangan salah paham. Aku melakukannya sebagai formalitas saja. Dan kau juga harus sadar posisimu di pesta ini sebagai pendampingku.” Ucap Arjun berusaha tetap bersikap dingin. “Atau kau senang bisa kembali akrab dengan teman dari masa lalumu itu.” Lanjutnya tajam. Dea langsung menoleh tak percaya pada sosok pria yang ada di sampingnya itu. Bisa-bisanya Arjun mengucapkan kalimat rendah yang ditujukan padanya seperti itu. “Kalau kau membenciku, lakukanlah. Tapi jangan coba-coba membawa Ezra dalam urusan kita.” Ucap Dea tegas. “Lihatlah. Kau bahkan membelanya sekarang.” Arjun tersenyum sinis, menatap Dea dengan tatapan tajam. Entah kenapa Arjun merasa tidak suka ketika Dea membela Ezra. “Jika kau ingin bersamanya, sebaiknya kau lakukan dengan hati-hati dan rapi. Aku tak ingin nama baikku tercoreng karena skandal kalian.” Tuduhan kejam kembali terlontar dari mulut pria tampan itu. Dea mengepalkan tangannya kuat hingga buku-buku jemarinya memutih. Menandakan bahwa Dea sedang menahan luapan emosi. Napasnya terdengar berat dan memburu. Bahkan matanya sudah berkaca-kaca. “Aku memang terlahir tak sekaya dirimu. Tapi aku tak semurahan itu. Dan tuduhanmu barusan membuktikan bahwa otakmu tak secerdas yang orang-orang agungkan.” Balas Dea tak kalah tajam. Arjun sedikit terkejut mendengar jawaban Dea. Ia tak menyangka jika wanita yang ada di sebelahnya ini begitu berani membalas ucapannya. Arjun menoleh dengan tajam ke arah Dea. Rahangnya terkatup keras karena emosinya tiba-tiba memuncak. Mendapat tatapan tajam dari Arjun, Dea pun balas menatap tajam tepat ke dalam manik suaminya. Suasana sedikit memanas diantara keduanya. Sampai sebuah tangan menarik lengan Arjun pelan, sebelum pria tersebut lepas kendali. “Tahan dirimu, Ar. Kau tak ingin acaramu hancur karena emosimu yang lepas kendali, kan?” ucap Thomas berusaha menenangkan Arjun. Arjun menghela napas kasar. Lalu beranjak meninggalkan Dea yang masih berdiri dengan napas memburu. Baru beberapa langkah, Arjun berhenti. “Kau pulanglah bersama Thomas. Aku masih ada urusan disini.” Ucapnya tanpa melihat ke arah Dea. Kemudian berlalu pergi ke luar ruangan. Sepeninggalan Arjun, Dea terhuyung lemas. Rasanya, tenaganya terkuras habis karena menghadapi Arjun barusan. Napasnya masih terengah dan badannya sedikit bergetar. “Apa anda baik-baik saja, nona?’ Tanya Thomas sedikit khawatir melihat keadaan Dea yang terlihat sangat lemas. “Aku baik-baik saja. Bisa antarkan aku pulang sekarang?” Tanya Dea dengan suara yang sedikit bergetar. “Baik nona.” Dea pun berjalan keluar dari ruangan itu dengan Thomas yang menjaganya dari belakang. Arjun yang sudah keluar ruangan lebih dulu ternyata tidak benar-benar pergi dari sana. Arjun hanya berdiri di ujung lorong yang menghadap langsung ke arah parkiran hotel. Tatapannya yang tajam memperhatikan Dea dan Thomas yang keluar dari ruangan dan masuk ke dalam mobil sampai mobil mereka menjauh dari area hotel. *** Dea masuk ke dalam kamarnya dengan keadaan kacau. Badan Dea merosot ke lantai setelah sebelumnya berhasil menutup pintu kamar. Badannya terlihat gemetar. Napasnya terdengar memburu. Sedetik kemudian suara isakan pilu terdengar dari dalam kamar Dea. Rasa sakit dan marah yang mati-matian ia tahan saat di hotel tadi kini akhirnya pecah. Dea menangis terisak di dalam kamarnya. Mengeluarkan seluruh rasa sakit yang selama ini ia tahan karena perlakuan Arjun. “Kenapa rasanya sesakit ini? Aku merasa sudah tidak kuat lagi.” Ucap Dea lirih di sela isakkannya. Dea terus saja menangis. Berharap rasa sakit dan sesak yang menghantam dadanya bisa berkurang. Sesekali ia akan memukul pelan dadanya, berusaha menekan rasa sakit yang begitu menyiksa hatinya. Setelah hampir satu jam lebih menangis, Dea kini sedikit lebih tenang. Meski suara isakan masih terdengar, tapi setidaknya air mata tidak lagi membanjir di pipinya. Karena merasa lelah, Dea bangkit perlahan dan berjalan menuju tempat tidur. Ia tak peduli lagi dengan baju dan riasan yang belum ia ganti dan bersihkan. Ia hanya ingin mengistirahatkan badan dan pikirannya saat ini. Tak berapa lama, Dea pun terlelap, karena kelelahan menangis sedari tadi. Sinar matahari cerah menyapa rumah mewah yang ditinggali Arjun dan Dea. Pagi ini Dea sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan seperti biasa. Suasana dapur tampak hening. Hanya terdengar suara spatula yang beradu dengan panci. Setelah hampir 30 menit berkutat di dapur, menu sarapanpun telah selesai di masak Dea. Kini Bi Asih telah memindahkan beberapa makanan tersebut ke atas meja makan. Tak berapa lama suara langkah kaki terdengar menuruni tangga dan berjalan menuju meja makan. Susana terasa hening dan ada sedikit kecanggunan di sana. Seperti biasa, Dea akan mengisi piring Arjun terlebih dahulu dan tak lupa mengisi gelasnya dengan air. Setelah itu, Dea akan mengisi piringnya sendiri dan kemudian memakan sarapannya dengan tenang. Meski hatinya masih diliputi rasa sakit dan amarah. Tetap saja Dea akan melayani Arjun di meja makan seperti biasanya. Meski pria itu telah melakuakan hal jahat dan menyakitinya. Tapi Dea tidak akan menurunkan martabatnya untuk melakukan hal serupa pada Arjun. Suasana meja makan terasa hening, hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring. Sesekali Arjun menatap ke arah Dea. Dapat pria itu lihat mata sembab dan hidung memerah menghias wajah wanita yang ada di depannya ini. “Apa dia menangis semalaman?” batin Arjun. Tiba-tiba saja rasa bersalah menyelinap ke dalam hatinya. “Apa yang kukatakan padanya semalam sudah keterlaluan?” tanyanya dalam hati. Arjun cepat-cepat kembali fokus dengan makanannya saat Dea telah selesai sarapan. Arjun merasa takut jika ia terpergok tengah menatap Dea. Lebih tepatnya ia merasa gengsi jika terpergok melakukan hal itu. Acara sarapan pagi ini berlalu begitu saja tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mereka berdua. Baik Arjun maupun Dea kini telah meninggalkan rumah utuk melakukan kegiatan mereka masing-masing. Rumah yang terlihat mewah dengan sepasang suami istri yang tampak serasi. Begitu terlihat sangat sempurna bagi mereka yang tak mengetahui kebenaran dibalik rumah tangga mereka. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD