Waktu sudah berganti malam ketika Dea sampai di rumah. Ia mematikan mesin mobil kemudian turun dan berjalan memasuki rumah. Hari ini begitu melelahkan. Banyak pesanan bunga dan juga beberapa laporan yang harus ia periksa. Dengan badan letih ia melangkahkan kakinya melewati ruang tamu. Karena terlalu lelah ia tak menyadari bahwa ada seseorang yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
“Apa kau bersenang-senang hari ini?”
Sebuah suara berat membuat Dea sedikit terkejut. Ia menghentikan langkah kakinya di ruang tamu yang sedikit temaram. Ia menatap bingung pada sosok pria yang tengah duduk sambil menatap laptop yang ada di depannya.
“Kau bicara padaku?” Tanya Dea dengan nada bingung. Sebab selama ini Arjun tak pernah mempermasalahkan jika Dea pulang malam apalagi menanyakan apakah dirinya bersenang-senang hari ini.
Arjun menghentikan jemarinya yang tadi tengah sibuk di atas keyboard. Ia menatap lurus ke depan.
“Jika ingin bersenang-senang dengan kekasihmu, setidaknya kau harus pintar mencari tempat kencan. Jangan sampai media tahu kalau kau sedang bermain di belakang suamimu.” Ucap Arjun sinis.
Dea sedikit tersentak mendengar perkataan Arjun barusan. “Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.” Dea semakin bingung dengan apa yang diucapkan Arjun. Perlahan ia berjalan mendekat ke arah sofa, tempat Arjun duduk. Dapat Dea lihat tatapan serius dari netra tegas pria itu.
“Jangan berlagak bodoh, Dea.” Ucap Arjun tajam.
Rasa gemuruh panas menghantam d**a gadis ayu itu. Napasnya terasa berat. Matanya sudah mulai berkaca-kaca. Ia tak paham dengan apa yang dituduhkan Arjun padanya.
“Aku memang benar tidak tahu apa yang kau maksud. Jadi jangan mengatakan kalau aku sedang berlagak bodoh.” Balas Dea dengan suara sedikit bergetar karena emosi sudah naik ke kepalanya.
Arjun mendengus kasar seraya bangkit dari duduknya. Ia berdiri tepat di depan Dea, menatap istrinya dengan tatapan sinis dan mengintimidasi.
“Aku tahu kau hari ini menemui seorang pria. Jika kau ingin berselingkuh dariku, tolong pintar sedikit. Jangan sampai kau membuatku malu.” Ucapnya sinis.
Dea sedikit tersentak dengan apa yang diucapkan oleh Arjun. Dan sekarang Dea mengerti kemana arah pembicaraan Arjun sejak tadi.
Dea menghela napas pelan. “Oh. Maksudmu Ezra?”
“Aku tidak peduli siapa nama pria itu.” Jawab Arjun ketus.
Dea sedikit menarik napas lega sebelum melanjutkan ucapannya. “Dia hanya teman lamaku semasa kuliah dan kami tadi tidak sengaja bertemu saat makan siang. Kami tak ada hubungan seperti apa yang kau tuduhkan tadi.” Dea mencoba menjelaskan kejadian siang tadi yang membuat Arjun salah paham.
“Kalian terlihat sangat akrab. Apa dia mantan kekasihmu?” Arjun seperti tak ingin menerima penjelasan Dea. Bahkan pria tersebut semakin memojokkan Dea.
Dea mengernyitkan keningnya mendengar tuduhan Arjun padanya. “Dia hanya teman lamaku. Wajar kalau kami akrab karena memang kami sudah lama tidak bertemu.” Balas Dea.
“Jadi benar dia mantan kekasihmu.” Arjun tersenyum mengejek.
Dea hanya menghela napas pasrah. Ia tak mau memperpanjang perdebatan ini. Karena hari ini ia benar-benar merasa lelah. Dan meladeni Arjun yang tetap keras pada tuduhannya akan semakin membuat Dea lelah. Dea sadar itu.
“Terserah kau saja mau percaya atau tidak. Aku takkan memaksa. Lagipula selama ini kau tak peduli dengan apa yang aku lakukan, kan. Jadi kenapa kali ini kau merasa terganggu?” Ucap Dea akhirnya kemudian berjalan menuju kamarnya.
Arjun mendengus kesal melihat Dea pergi meninggalkannya. Tangannya mengepal kuat menahan gemuruh di dalam dadanya. Sebenarnya dia juga tak paham dengan apa yang ia lakukan.
Dea menyandarkan badannya di balik pintu kamarnya. Tangannya bergerak menekan dadanya yang terasa nyeri karena ucapan Arjun yang menuduhnya berselingkuh. Setetes air bening luruh begitu saja dari mata sayunya.
“Aku tahu sejak awal semua ini terjadi karena keterpaksaan. Tapi kenapa hatiku terasa sakit mendengar tuduhan tak berdasar darinya?”
Badan Dea luruh terduduk di atas lantai kamar yang dingin. Malam terasa sunyi dan dingin. Sama persis dengan keadaan hatinya yang telah tergores karena ucapan suaminya.
“Apa dia kira aku ini w************n yang tak punya komitmen.” Gumamnya pilu.
Sedangkan Arjun masih tetap berdiri di ruang tamu yang tampak dingin. Ia menatap kelip lampu kota yang berpendar kecil dari jendela kaca ruang tamuya. Tatapannya lurus tapi terlihat sedikit kosong.
Malam ini berakhir dengan dua hati yang sama-sama sedang dipaksa untuk saling bertahan di tengah keadaan yang tidak mereka inginkan. Tapi tanpa mereka sadari, perasaan mereka sedang berjalan kearah yang berbeda dari yang mereka rencanakan sejak awal.
***
Hangat sinar matahari pagi telah menyapa sebuah rumah yang asri. Aroma ketegangan yang dingin masih sedikit menggantung di dalam rumah itu karena perdebatan semalam.
Kini Dea tengah sibuk di dapur untuk menyiapkaan sarapan. Berkutat dengan panci dan spatula. Aroma tumisan bawang dan bumbu menyeruak memenuhi ruangan.
Setelah beberapa saat, Dea selesai dengan acara masaknya. Kemudian ia meletakkan hasil masakannya pagi ini ke atas meja makan, dibantu oleh bi Asih, asisten rumah tangga yang sejak tadi berada di dapur bersamanya.
Derap langkah kaki terdengar dari arah tangga. Tanpa melihat, Dea tahu siapa yang sedang berjalan ke arah meja makan itu. Ya, dia adalah Arjun. Sosok suami yang bisa dibilang idaman semua wanita. Badan tegap, pembawaan tenang dan terlihat tampan. Tapi itu tak berlaku untuk Dea. Menurut Dea, Arjun adalah sosok kaku dan keras kepala. Maka dari itu, ia tak memasukkan tipikal Arjun ini sebagai tipe suami ideal bagi Dea.
Arjun menggeser kursinya dan duduk di sana. Seperti biasa, Dea dengan sigap akan mengisi piring kosong dengan nasi, sayur dan lauk. Kemudian meletakkannya di depan Arjun. Tak lupa juga untuk megisi air putih ke dalam gelas Arjun.
Tak ada obrolan atau ucapan selamat pagi. Sarapan kali ini berlalu begitu saja. Dea juga hanya diam, tidak mengatakan sepatah katapun. Kesan dingin menyelimuti meja makan pagi ini.
Setelah selesai makan, Arjun segera beranjak dari kursinya untuk berangkat ke kantor. Ia meninggalkan Dea tanpa mengucapkan terimakasih atau sekedar berpamitan untuk berangkat kerja. Deapun tak ambil pusing dengan hal itu. Sebab ia juga tak mengharapkan ucapan terimakasih atau kata-kata pamitan. Sebab mereka juga tak sedekat itu. Dan Dea sudah paham dan terbiasa dengan hal itu.
Selesai sarapan, Dea membereskan piring kotor dan membawanya ke arah wastafel untuk di cuci oleh bi Asih nanti. Setelah itu, Deapun bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap-siap berangkat ke toko.
Di sisi lain. Arjun telah sampai di kantornya. Ia berjalan di lobi kantor dan mendapat sapaan hangat dari karyawan yang sedang berada di lobi.
Arjun adalah seorang direktur utama sebuah perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur obat dan suplemen kesehatan. Ya, Arjun menjabat sebagai direktur muda di perusahan milik ayahnya. Dengan alasan usia, ayahnya menyerahkan perusahaan ini kepada Arjun sebagai anak tunggal.
Arjun melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya yang berada di lantai 7. Ia menjatuhkan badannya di atas kursi kerja. Beberapa tumpukan dokumen sudah menunggunya di atas meja.
Arjun dengan sigap mulai membuka satu persatu dokumen tersebut untuk di periksa. Setelah beberapa saat larut dalam tumpukan dokumen itu, pintu ruangannya diketuk.
Setelah dipersilahkan masuk oleh Arjun, dua orang pria datang menghadap di depan meja kerja Arjun. Arjun sedikit mengkerutkan alisnya ketika melihat seorang pria yang masuk bersama dengan Thomas, sekretarisnya.
“Ini Pak Ezra, manajer bagian pemasaran yang baru, Bos.” Ucap Thomas dengan nada pelan.
Arjun menatap Ezra dengan seksama. Sedangkan Ezra yang ditatap seperti itu tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangn dengan Arjun.
“Saya Ezra, tuan. Manajer pemasaran yang baru. Mohon bimbingannya.” Ucapnya ramah.
Arjun menerima jabat tangan itu dengan muka datar. “Selamat datang di perusahaan kami. Kami berharap kerja sama dan kerja keras anda, Pak Ezra.” Ucap Arjun datar.
Setelah perkenalan singkat itu, Arjun duduk di kursinya sambil memainkan penanya. Thomas yang tadi sempat mengantarkan Ezra ke ruang kerjanya pun kini sudah duduk di sofa ruangan Arjun dengan senyum jahilnya.
“Dunia ini ternyata begitu sempit.” Gumam Arjun dengan seringai tipis di ujung bibirnya.
“Ya… sangat sempit sekali.” Balas Thomas dengan nada mengejek yang membuat Arjun mendengus kesal.
Siang ini suasana di perusahaan “Vitalis Labs” terlihat sedikit sibuk. Karena hari ini akan ada rapat yang membahas mengenai produk mereka yang akan dirilis awal bulan depan. Tepatnya tiga minggu kemudian.
Rapat ini dihadiri oleh Divisi bagian Riset dan Pengembangan (R&D), Divisi Regulasi, Divisi Produksi, Divisi Kendali Mutu (QC), Pemastian Mutu (QA), Divisi Pemasaran serta Divisi Hukum.
Peserta rapat satu persatu memasuki ruang rapat dan duduk pada kursi yang telah disediakan. Wajah-wajah serius menghias tiap peserta yang mengisi ruang rapat siang ini. Ruang rapat seketika hening ketika sang Direktur memasuki ruangan.
Arjun Mahendra selaku Direktur dari “Vitalis Labs” telah duduk di kursinya dan Thomas selaku sekretarisnya duduk tepat di sebelah Arjun. Sebelum rapat di mulai, Arjun mengamati satu persatu wajah serius para karyawannya. Tapi pandangannya berhenti tepat pada wakil dari Divisi Pemasaran. Senyum tipis terbit di ujung bibirnya.
“Baiklah, silahkan paparkan hasil uji lab dari obat baru kita.” Pinta Arjun, memulai rapat kali ini.
Seorang pria wakil dari Divisi Riset dan Pengembangan berdiri kemudian melangkah mendekat kearah layar yang menampilkan data dari hasil lab yang telah mereka kerjakan selama beberapa tahun terakhir.
Arjun tampak mengangguk kecil beberapa kali selama tim riset memaparkan hasil lab mereka. Pertanda ia setuju dan mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh tim riset tersebut.
“Bagus. Selanjutnya dari tim Regulasi apa ada kendala?” Tanya Arjun sambil menatap seorang pria paruh baya dari tim regulasi.
“Semua syarat hukum sudah selesai dilakukan. Kita tinggal menunggu surat izin edar terbit, Pak.” Jelas dari tim Regulasi.
Arjun kembali mengangguk.
“Bagaimana dengan QC dan QA?” lanjutnya.
“Obat baru kita sudah memenihi standar dari CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik). Baik dari segi fisik obat maupun sistem mutunya.”
“Untuk tim operasional dan produksi juga sudah melakukannya dengan baik sesuai dengan standar yang telah ditentukan.”
“Kerja bagus. Selanjutnya tim marketing saya harap sudah siap dengan strategi peluncuran, target pasar, materi promosi dan juga membuat positioning produk dengan baik. Persiapkan dengan baik supaya perilisan produk baru yang sudah kita kembangkan bertahun-tahun ini bisa sukses.”
Semua peserta rapat mengangguk tanda mengerti dengan apa yang disampaikan oleh direktur mereka. Dan rapatpun berakhir setelah hampir 3 jam mereka berada di ruang rapat.
Satu persatu peserta rapat berjalan keluar ruangan setelah di persilahkan oleh Arjun selaku direktur mereka untuk kembali ke divisi mereka masing-masing. Arjun menatap satu persatu karyawannya yang bejalan keluar dari ruangan. Tatapannya kembali jatuh kepada manajer baru di divisi pemasaran itu.
Entah kenapa, ketika melihat Ezra, ia kembali teringat kejadian beberapa hari lalu saat ia tak sengaja melihat Ezra yang tengah berbincang dengan Dea. Mereka berdua terlihat sangat akrab siang itu. Meski Dea telah menjelaskan bahwa mereka berdua hanyalah teman lama, entah kenapa Arjun masih merasa tidak nyaman jika mengingat kejadian itu.
“Bos. Apa ada yang sedang kau pikirkan?” Tanya Thomas, ketika melihat bosnya itu sedikit melamun.
Arjun menggeleng pelan. “Tidak ada.” Jawabnya singkat.
“Apa jadwalku setelah rapat ini?” tanyanya pada Thomas.
Thomas membuka tabnya untuk memeriksa jadwal sang direktur.
“Tidak ada, bos. Setelah ini jadwal anda kosong.” Jelas Thomas.
“Baiklah. Kalau begitu kau temani aku makan siang di luar. Ada hal yang ingin ku bahas denganmu.” Ucap Arjun kemudian berjalan keluar ruangan rapat dan diikuti oleh Thomas sang sekretaris.
***
Arjun dan Thomas tengah duduk di sebuah kafe yang berada di pusat kota. Sejak masuk sampai detik ini, Arjun terlihat diam. Tatapannya jauh menembus jendela kaca, menatap kosong ke arah padatnya lalu lalang kendaraan di jalan sana. Semua itu tak lepas dari pengamatan Thomas. Ia tahu jika sosok pria yang ada di depannya ini tengah memikirkan sesuatu.
Thomas sedikit menghela napas pelan, menatap lekat ke arah pria yang duduk di depannya ini. “Sebenarnya ada apa denganmu, sih? Kau tidak seperti biasanya. Apa ada yang sedang mengganggu pikiranmu?” Tanya Thomas santai.
“Kau tadi mengajakku makan siang karena kau ingin membahas sesuatu denganku. Apa itu?’ lanjut Thomas.
Sebenarnya Thomas adalah sahabat Arjun sejak zaman SMA. Dan sejak lulus kuliah, Thomas sudah bekerja di perusahaan orang tua Arjun. Hingga sekarang ia sudah menjabat sebagai sekretaris sahabatnya itu. Jadi tentu saja Thomas tahu jika ada yang mengganggu pikiran sahabatnya ini.
“Kalau kau tidak cerita, bagaimana aku bisa membantumu.” Lanjut Thomas, karena pria di depanya ini masih saja diam.
Arjun menghela napas panjang. Ia mengalihkan pandangannya menatap ke arah sahabatnya itu. Ada sedikit keraguan yang terpancar dari binar mata pria yang biasanya terlihat kaku dan dingin itu.
“Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya aku pikirkan. Sudahlah, lupakan saja. Itu juga bukan hal yang peting.” Ucap Arjun datar. Sepertinya dia sendiri masih ragu dan belum paham dengan apa yang dirasakannya saat ini.
“Jadi, untuk peluncuran obat baru kita nanti, kau akan mengajak Dea, kan?” Tanya Thomas hati-hati. Ada senyum tipis yang terbit di ujung bibir Thomas kala menanyakan hal itu.
Sebenarnya Thomas sudah menebak hal apa yang sedang mengganggu pikiran sahabatnya itu. Tapi kali ini ia akan bersikap seolah tidak tahu saja. Menggoda Arjun sebenarnya adalah hal yang menyenangkan bagi Thomas. Tapi kali ini ia tidak akan melakukannya. Ia akan menunggu waktu yang tepat. Itu yang Thomas pikirkan.
“Kau pikir bagaimana? Kalau aku tak mengajaknya, sama saja aku ingin merusak reputasiku di depan media dan rekan kerja kita.” Jawab Arjun sedikit kesal.
“Hahaha… santai saja, bro. aku kan hanya bertanya.” Ucap Thomas dengan kekehan mengejek.
Thomas sedikit tahu banyak mengenai maslah pernikahan antara Arjun dan Dea. Sebab Thomas lah yang mengatur acara pernikahan dan juga yang membuatkan kontrak pernikahan mereka. Ya, pernikahan mereka hanyalah sebuah pernikahan kontrak. Dan hal ini hanya Arjun, Dea dan Thomas saja yang tahu.
Ditambah lagi dengan kedatangan Ezra yang mana adalah teman lama Dea. Dan lagi, Ezra sekarang bekerja di perusahaan Arjun. Sepertinya hubungan mereka akan semakin rumit dan memusingkan. Atau akan semakin menarik dan meyenangkan bagi Thomas untuk menggoda sahabatnya itu.
***