13. Campur Tangan Mertua

1060 Words
    “Sejujurnya, aku itu heran lho Emm sama kalian. Kalian dulu yang paling mantap pacarannya dan kalian pasangan serasi. Tapi bagaimana bisa seperti ini perjalanan pernikahanmu?” Abby masih penasaran dengan cerita Emma. Emma hanya meminta Abby mengurus perceraiannya tanpa menceritakan apa yang terjadi. Itu sebabnya Abby penasaran.     “Yah… seperti itulah Bang. Abang tahu sendiri bagaimana realita yang ada itu nggak seindah impian? Awal pacaran dengan Alvin, kupikir semua akan baik-baik saja. Alvin adalah pria pekerja keras, tekun dan bertanggung jawab. Tapi makin hari aku mengenalnya sepertinya semua hal-hal buruk yang aku nggak lihat saat pacaran dulu satu per satu mulai muncul.     Mungkin aku yang nggak siap dengan dia. Nggak siap dengan semua keburukan yang aku nggak bisa kontrol.     Belum lagi masalah pekerjaan. Yah… Bang Abby tahu? Alvin bahkan nggak mampu menafkahi keluarganya! Parah nggak tuh?” Emma mengucapkan semuanya dengan menggebu-gebu, seperti hendak meminta dukungan Abby atas kasusnya.     Abby hanya mengangguk. Tidak menjawab ataupun menceritakan bahwa Alvin berkonseling padaku.     “Oh… jadi buat kamu, pria itu harus menafkahi keluarga ya?”     “Ya jelas donk, Bang! Harusnya yang cewek itu kerja di rumah. Eh, ini malah terbalik.” Abby hanya mengangguk-angguk.     “Ini sebenarnya masalahnya bisa diselesaikan dengan ngobrol menurutku. Nggak harus dibawa ke meja hijau seperti sekarang. Apa kamu nggak sebaiknya coba ngobrol dulu sama Alvin?” Abby masih mencoba membujuk, tapi lagi-lagi Emma bersikeras ingin bercerai.     “Kami sudah nggak bisa ngobrol enak lagi. Yah, mungkin kalau boleh dibilang kami sama-sama kehilangan kepercayaan satu sama lain. Dia nggak percaya aku istri yang setia dan aku juga nggak percaya dia sebagai suami yang baik. Kalau seperti itu, buat apa mempertahankan pernikahan ini. Ya kan, Bang?”     Abby hanya mengangguk-angguk. Bukan berarti mengiyakan tapi tanda ia mendengarkan.     “Setelah kejadian ini aku merasa pernikahan itu nggak seindah dan semudah bayangan kita saat pacaran dulu. Nyatanya, pasangan kita akan tetap berubah, situasi di sekitar kita akan berubah dan kita nggak pernah siap dengan perubahan.     Dulu mungkin aku tergesa-gesa memilih Alvin. Dan sekarang… sepertinya aku menyesal. Bersama dengan Alvin hanya membuatku merasa wanita yang paling gagal,” lanjut Emma getir. Setetes air matanya meleleh, mengiringi rasa sedih dan marahnya pada dirinya sendiri yang ia sudah cap “GAGAL” itu. ***     “Jadi Emma beneran datang ke kantormu?” tanyaku pada Abby di sela-sela quality time kami. Ya, kamu selalu melakukan ini setiap malam bahkan di tengah malam. Hanya itu waktu yang kami miliki untuk bisa saling bercerita dan saling terhubung.     Abby memelukku di atas ranjang. Mencium keningku sejenak.     “Bener. Dan sepertinya keputusannya itu bulat.” Aku menghela nafasku. Ternyata apa yang dikuatirkan Alvin terjadi. Sekali Emma membuat keputusan, wanita itu tidak akan mengurungkannya.     “Kalau kulihat, sepertinya Emma masih meragukan keputusannya sendiri. Mata dan mulutnya berkata lain.” Aku memandang Abby.     “Semua pasangan memang seperti itu. Ingin bercerai tapi sebenarnya hatinya masih terpaut satu sama lain. Lalu apa yang kamu bilang?”     “Aku? Kamu kan tahu sendiri aku nggak mau semudah itu menjalankan berkas perceraian ke persidangan kalau nggak melalui kamu dulu. Jadi… ya aku minta dia untuk konseling juga.”     Aku mencium cepat pipi Abby. Ia seperti berada satu frekuensi. Ia tahu bahwa aku membutuhkan Emma untuk konseling bersama Alvin yang sudah terlebih dulu berkonseling. Dan ternyata Abby membawakannya untukku. I love you, Abby!!!     “Kamu bisa kan menyelesaikan dalam 100 hari?” Aku mengangguk cepat. Membuat pasangan yang mau bercerai itu memikirkan kembali keputusannya adalah kehebatanku. Aku nggak akan meragukan itu. ***     Shinta yang sedang mencuci piring. Daniel, ayah Emma, duduk di depan televisi sambil mengecap keripik kentang favoritnya bersama dengan Tio, adik Emma. Sambil menonton tayangan olimpiade di televisi, keduanya terlihat sangat seru.     Namun suara derit pagar pintu yang sudah mulai lapuk mengejutkan ketiga orang tersebut.     “Lho, kakak kok pulang ke sini?” tanya Tio yang terkejut dengan kehadiran Emma. Tidak biasanya Emma datang ke rumah di saat malam seperti ini dan sendirian. Biasanya keluarga Emma datang berempat. Tapi beda dengan kali ini.     Tio dan Emma terpaut sekitar 7 tahun. Saat Emma sudah bekerja, Tio masih SMP. Di saat yang hampir bersamaan, Daniel juga di-PHK oleh pabrik tempat ia bekerja. Alhasil seluruh tanggungan keluarga menjadi tanggung jawab Emma.     “Aku lelah dan hanya ingin beristirahat.” Emma masuk ke dalam kamar lamanya. Meninggalkan anggota keluarganya yang masih melongo.     Shinta tahu Emma sedang tidak baik-baik saja. Ia pun menyelesaikan acara cuci piringnya dan bergegas melihat kondisi Emma.     TOK… TOK… TOK…     “Emm… ini Mama. Apa boleh Mama masuk?” Setelahnya terdengar suara “klik” di balik pintu, tanda orang yang di dalam mengerti keberadaan mereka. Lalu pintu itu terbuka.     Shinta tahu Emma tidak baik-baik saja. Dalam seminggu sudah dua kali ini Emma pulang tanpa membawa keluarganya. Setelah Emma membuka kunci pintunya, Shinta masuk.     “Ada apa kok ke sini lagi?” Emma bukannya menjawab tapi langsung memeluk Shinta.     “Aku hanya lelah, Ma. Dan aku butuh sendiri.” Shinta yakin ada hal yang Emma rahasiakan dan pasti ini berhubungan dengan pernikahannya. Apakah benar jika Emma mengajukan perceraian? Jika benar adanya, maka Shinta harus menghentikan putrinya sendiri.     “Habis marahan sama Alvin?” Emma menggeleng. Hatinya masih terasa berat dan kepalanya terasa berat. Walau ini akhir pekan tapi pikiran Emma sepertinya tidak bisa beristirahat. Merasa malas menjawab pertanyaan Ibunya, Emma memilih untuk berangsut ke dalam selimutnya.     Shinta menarik selimut yang menutupi tubuh Emma. Putrinya itu tidak mau menjawab pertanyaannya entah kenapa.     “MAMA!” Emma marah seperti anak kecil lalu menarik kembali selimutnya. Lalu bergerak memunggungi Shinta. Enggan bertatapan dengan ibunya.         “Emma, jawab pertanyaan Mama dulu donk. Jangan seperti anak kecil begini. Ada apa antara kamu dan Alvin? Kenapa kalian kucing-kucingan seperti ini? Cerita sama Mama. Jangan sampai kamu nggak cerita apa-apa, tahu-tahu bercerai.” Skak Mat! Shinta sepertinya membaca isi pikiran Emma. Tapi Emma tidak menjawab apapun, takut ibunya terkejut dengan keputusan bercerainya yang sudah bulat.     Emma takut Shinta juga marah karena sejak awal berpacaran dengan Alvin, Shinta sudah mewanti-wanti untuk memilih pasangan dengan betul. Karena bagi keluarga besar Emma, tidak boleh ada perceraian di dalam keluarga. Perceraian itu seperti aib bagi keluarganya. Bahkan paman Emma yang bercerai dengan istrinya beberapa tahun lalu, dikucilkan dan selalu dicibir oleh keluarga besar.     Emma yakin jika kali ini Shinta tahu, ia pun akan mengalami apa yang dialami oleh paman Emma.     Daripada banyak bicara, lebih baik Emma menutup mulutnya. Lebih baik ibunya tidak tahu apapun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD