“Dia Bianca.” Satu nama itu berhasil keluar dari bibir Ali. Aku terdiam sesaat, mengingat kembali sederet nama yang aku kenal. Nama itu benar-benar sangat familiar di telingaku. Sepuluh detik berfikir, mataku melebar sempurna. Apakah Bianca yang dimaksud Ali, sama dengan Bianca mantan pacarnya? Jika iya, untuk apa wanita itu kemari. “Bianca, mantan kamu, by?” tanyaku. Ali tidak menjawab pertanyaanku, dan diamnya Ali aku anggap sebagai jawaban. Bahwa Bianca yang dia disebutkan adalah Bianca mantan pacarnya. Mataku memicing tajam melihat keterdiaman Ali. “Ngapain dia ke sini?” tanyaku mengintimidasi. Aku hanya ingin memastikan, jika tidak akan ada kalimat ‘mantan pacar yang bersemi kembali’. Katakanlah aku bodoh, jelas-jelas hubunganku dengan Ali jauh lebih tinggi, kami sudah terikat

