bc

Dunia Baru Arabella (Transmigrasi)

book_age18+
2
FOLLOW
1K
READ
revenge
love-triangle
reincarnation/transmigration
family
HE
gangster
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
kicking
loser
highschool
another world
rebirth/reborn
addiction
like
intro-logo
Blurb

Arabella mengalami kecelakaan saat mengendarai motornya di arena balapan liar hingga ia menghembuskan nafas terakhirnya dengan naas meninggalkan dunia yang begitu gila dan beracun untuknya, serta ibunya yang akan kehilangannya.

Bukan ke alam baka, ia malah terbangun di dunia yang baru, jauh lebih buruk dari dunianya yang sudah cukup membuat mentalnya jatuh. terlebih lagi, dunia itu adalah Novel yang terakhir kali ia baca dan ia menjadi antagonis yang begitu tragis di akhir cerita, di benci keluarganya sendiri bahkan ia akan kehilangan segalanya di ending, termasuk dirinya sendiri. Teror mesin pembunuh mengejarnya yang merupakan Antagonis pria yang menginginkan kematian menyakitkan darinya agar dirinya menyesali perbuatannya karena selalu berusaha membunuh sang protagonis wanita.

Akankah Arabella melawan takdir yang sudah di tulis atau malah mengikuti aliran alur yang sudah tersusun rapi?

chap-preview
Free preview
1. Hari Kematian
Sepasang kaki menapaki lantai kotor yang usang, setiap langkahnya begitu tergesa-gesa. netra coklatnya menatap ke segala arah dengan waspada, ia menarik ujung gaunnya menaiki tangga namun ia lupa melepas heelsnya yang membuat ia hampir terjatuh karena ketidak seimbangannya mengenakan heels. Suara pecahan sesuatu terdengar begitu nyaring membuat degupan jantungnya semakin terdengar lebih cepat dari sebelumnya. Ia bangkit menarik heelsnya dari kaki-kakinya yang penuh memar, melemparkannya begitu saja ke bawa tangga. ia kembali berlari dengan penuh rasa gelisah dan dihantui ketakutan. Ia tiba di lantai delapan gedung itu, tepat pada lantai tertinggi di sana lalu menghalangi pintu dengan barang-barang berat di ruangan itu dengan mata yang sudah memanas dan air yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Ia terduduk di lantai dengan mata yang mendongak ke luar pintu kaca yang besar. kembang api bersuara nyaring menghiasi langit malam yang penuh bintang, begitu indah bukan malam ini? tidak bagi dirinya. Setetes kristal bening mulai menetes jatuh dari pelupuk matanya yang sudah memerah dan sembab, Isak tangis tak bisa teredam oleh ruangan hening. ia bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar pada balkon ruangan itu, ia menghampiri pembatas balkon yang terbuat dari kayu ukir, menatap ke bawah dengan perasaan yang hancur, ia sudah kehilangan segalanya. Menatap semua sahabatnya yang dulu di sisinya kini tertawa bahagia dengan orang yang paling ia benci seumur hidupnya, seorang yang merebut semua hal di hidupnya, dan setengah jiwanya. Ia menatap tajam pada seorang pengantin yang terlihat bahagia bersanding dengan seorang pria yang begitu tampan dengan setelan tuxido putih yang benar-benar mempesona, "harusnya gue yang ada di sana." Suara dobrakan dari pintu yang sudah di tahan olehnya tadi sepertinya sudah di terobos oleh sesorang. Ia menengadah ke langit dengan senyum tulus yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya kepada semua orang, "daripada gue tersiksa karena psikopat itu, lebih baik gue mati secara mandiri," Ia mengusap cincin berlian yang begitu indah di jari manisnya, "Mamah, jangan marah kalau Rora menyusul. Disini sakit Mah" ucapnya Ia melangkahkan kakinya menaiki pembatas balkon, "setidaknya... gak ada yang sedih kalau gue pergi, gue bisa pergi dengan tenang dan gak akan ganggu Zera lagi" Ia melangkahkan kakinya ke udara membuat tubuhnya terjun bebas ke bawah dengan keras. ia menghembuskan nafas terakhirnya tanpa sesorang di sisinya dan Aurora tidak akan mungkin mengganggu kehidupan Zera dan Alvin lagi. SELESAI Suara buku di tutup dengan keras terdengar oleh seorang gadis berambut hitam lurus dengan poni di jidatnya, ia merengut kesal menatap sampul buku yang baru saja ia baca, "gak adil banget" cetunya, "gue tahu dia Antagonis tapikan setidaknya beri dia kesempatan. dia cuma anak yang perlu kasih sayang keluarganya dan arah buat berubah, dia anak yang gak punya penunjuk arah" celotehnya. Ia baru saja menamatkan sebuah Novel keluaran terbaru dan penjualan terbaik di pasaran, ia tertarik dengan ucapan orang-orang yang menyatakan jika Novel ini sangat seru dan Recommend, namun setelah ia baca tuntas bukan kesenangan yang ia dapat melainkan kekesalan dan frustasi. Novel Kisah Cinta Di Sma, Menceritakan tentang Zera Gadis polos, baik, dan pintar di sekolah yang merupakan kekasih Dari Protagonis pria yang di sukai banyak wanita, seperti tokoh Novel pasaran biasanya. Zera juga adalah saudari tiri sang Antagonis wanita, ibu Zera menikah dengan Ayah Antagonis wanita, membuat ia merasakan kasih sayang seorang ayah sekaligus kakak laki-laki, hidupnya terlihat sempurna? Ya, itulah mengapa sang Antagonis wanita iri hati dan berusaha merebut apa yang di miliki oleh Zera. Bahkan ia rela Merendahkan harga dirinya hanya untuk menarik perhatian kekasih Dari Zera, Sang Antagonis juga sering menggertak murid-murid yang menghalanginya termasuk Zera, Banyak lika-liku yang di lalui kedua Protagonis, terutama Protagonis wanita agar mendapatkan cinta sejatinya, bahkan nyawanya menjadi ancaman dari teror Antagonis wanita. Di mana ada Antagonis wanita di sana juga ada Antagonis pria. Antagonis pria yang tergila-gila dengan Zera dan ingin merebut Zera dari Protagonis pria, tidak banyak yang di ceritakan tentang Antagonis pria. ia terakhir kali muncul saat Zera hendak di bunuh oleh Antagonis wanita di hari pernikahannya dengan Protagonis pria, di sana ia menggagalkan rencana antagonis wanita dan berniat membunuh Antagonis wanita, ia juga sering meneror Antagonis wanita karena sering mengusik Protagonis wanita, membuat sang Antagonis Wanita memilih untuk bunuh diri di malam pernikahan kedua protagonis. Saat membaca ending yang di harapkan semua pembaca, Ia merasakan sebuah kejanggalan tentang cerita ini, cerita dari sang Atagonis wanita yang di ceritakan tipis-tipis tapi cukup jelas jika memang di baca dengan baik. menurutnya Antagonis wanita tidak salah, ia hanya ingin mengembalikan keluarganya, walaupun caranya salah. Gadis itu meletakkan bukunya ke dalam tas ransel birunya "Udah deh mending gue balik ke rumah," monolog gadis itu meraih ponselnya dan menggendong ranselnya keluar dari sebuha tempat yang terlihat seperti sebuah rumah pohon yang sudah berumur itu. Di bawah pohon ada sebuah motor Besar yang sudah menunggunya, Ia menaiki motornya meninggalkan kawasan rumah pohon itu menuju sebuah rumah sederhana yang tak terlalu besar cukup untuk dua orang hidup di dalamnya. Di halaman rumah sudah ada seorang wanita paruh baya sedang menyiram bunga, wajahnya nampak tenang, lembut dan teduh, gadis itu memarkirkan motornya di halaman rumah itu. Wanita yang sedari tadi sibuk menyiram tanamannya pun mengalihkan atensinya pada gadis yang baru datang "Arabella, kamu ke mana saja? Mamah nunggu kamu dari tadi gak pulang-pulang mamah nelpon temen-temen kamu gak ada yang tahu kamu ke mana," ujar Ailen Diora yang terlihat raut khawatir di wajahnya "Mama, Ara tadi ganti oli ke bengkel makanya telat mah" akunya dengan senyum manis yang berisi ribuan kebohongan Ailen hanya menghela nafasnya untuk mempercayai ucapan putrinya "Yaudah masuk, ganti baju mamah udah buatin sup ayam sama ayam goreng kesukaan kamu," kata Ailen lantas memunculkan binar di mata gadis itu "Iya mah," serunya, ia melangkah masuk ke rumahnya dan mengganti seragam sekolahnya dengan baju yang lebih santai. Saat ia pergi ke dapur Ailen sudah ada di sana menyiapkan alat makan di meja makan, gadis itu duduk berhadapan dengan Ailen menyisakan kursi di samping paling tengah alias kursi utama Setiap Arabella melihat kursi itu kosong perasaannya selalu sesak dan kerinduan yang menerpanya mulai membuat sesuatu di dadanya berpacu lemah. Matanya mulai memanas dengan pelupuk yang sekuat tenaga menaha tumpukan cairan bening yang akan tumpah. setetes kristal bening terjatuh tanpa aba-aba, ia dengan cepat mengusapnya agar tidak terlihat oleh Ailen Sebenarnya Ailen sudah peka dan mengetahuinya, dia putrinya jelas ia tahu. Arabella selalu mengingat mendiang ayahnya ketika berhadapan dengan meja makan yang berada di depan mereka. meja yang selalu diduduki oleh ayahnya ketika mereka makan bersama dengan gelak tawa bahagia, kini semua hanya kenangan yang tak dapat di ulang dengan orang yang sama, "Kamu merindukan Papa?" tanya Ailen membuat Arabella yang sedang menelan makanananya menoleh pada sang ibu. "Kamu masih belum merelakan Papa?" tanya Ailen menunggu jawaban dari putrinya Arabella menghentikan makannya sejenak, ia menundukkan kepalanya dengan berusaha tegar ia berucap "Aku udah coba ikhlas kok Mah, lagipula kalau aku gak ikhlas Papah nanti gak tenang di sana." ucapnya mendongak dengan senyuman tipis di wajahnya yang nampak terluka seolah mencoba berkata jika ia tidak apa-apa. Ailen meraih lengan anaknya yang ia genggam erat untuk menguatkan putrinya "Mamah harap kamu bisa terbiasa dan maaf keluarga kita gak kayak dulu lagi, masa Remaja kamu harusnya penuh dengan kehangatan malah harus berusaha Untuk mengerti ekonomi" ujar Ailen dengan nada sedih cukup menyesal Arabella menggeleng "Maaa... bukan salah Mama, aku gak nyalahin Mama, aku beruntung punya Mama yang kuat dan hebat kayak Mamaku" bantahArabella Ailen tersenyum tipis melepaskan lengan putrinya "lebih baik kita lanjutkan makan, Kalau nasinya gak di habisin nanti nasinya nangis" Arabella mengangguk semangat untuk menghabiskan makanan yang sudah di masakkan oleh sang ibu. Setelah selesai makan Elisa pergi ke kamarnya untuk kembali membaca novel berjudul kisah cinta di SMA yang menurutnya sangat buruk. "Besok gak papa kali yah gue ke sekolah, gak enak juga kalau bolos kaya tadi, kasian Mama yang udah susah-susah nyekolahin gue," monolognya berpikir Aurora menoleh pada meja nakas di sampingnya, sebuah vigura berisi potret dirinya yang menggunakan gaun ulang tahun yang terlihat mewah dengan mahkota seolah dirinaya kecil adalah seorang putri, di pangku oleh pria yang terlihat tampan dengan pakaian kasualnya yang nampak beigitu menyayanginya, dikelilingi oleh banyak boneka. ia masih ingat saat itu ayahnya memberikan kado yang membuatnya begitu bahagaia saat kecil, ratusan boneka hanya untukknya. Arabella tersenyum pedih mengingat hal itu tak bisa terulang lagi. Garis senyumnya tak luntur, ia meraih vigura itu sembari mengelus potret itu, "Papa udah gak sakit lagi kan?" tanya Arabella, ia memeluk vigura itu lalu merebahkan diri di kasur sambil menatap langit-langit kamarnya "Gue harap besok, kehidupan gue bisa berubah" kemudian dirinya memejamkan matanya, tertidur sembari memeluk Figura foto masa kecilnya yang dipenuhi kenangan yang membuat dirinya tenang. Keesokan harinya Arabella sudah siap dengan seragam sekolahnya, ia langsung mengambil tas dan menuju ruang makan untuk sarapan setelah itu ia salim ke ibunya sebelum pergi ke sekolah menaik motor miliknya. sesampainya di sekolah ia di hampiri kedua sahabatnya yang duduk tepat bersebelahan dengan kursinya. seorang gadis dengan rambut pendek sebahu mendekati Arabella di susul gadis dengan Rambut di kuncir kuda "El, Lo okey?" tanya Dinar, terlihat raut muka khawatir Arabella meletakkan tasnya di meja lalu duduk di kursinya "Gue oke," jawabnya Mereka berdua menghela nafas dengan lega "Janendra dkk sama PIK mi circle ngatain Lo semalem gak Lo ambil hati kan?" tanya Azura Kamis, 202* "Ternyata selama ini bokapnya udah gaada, hufh jadi broken dong. mana hartanya udah ditarik lagi" ucap seorang gadis berambut keriting panjang dan lipstik tebal di bibirnya bernama Ruby Orang yang di maksudnya hanya menatapnya sekilas lalu kembali ke bukunya, rasanya malas sekali meladeni para manusia ini. "gimana rasanya miskin? Gak enak yah hahaha" ucap gadis bernama Fira dengan kulit sawo matang dan mata besar di ikuti tawa teman-temannya Gadis yang di tertawakan masih saja diam tanpa melawan, jujur ia tidak memiliki tenaga untuk menghajar mereka hari ini karena ia masih dalam masa berkabung atas segala yang ia miliki di renggut paksa Namun namanya manusia juga bisa tersulut emosi "Kalian kenapa sih? Kalau ada dendam sama gue selesain sekarang!" ujar gadis yang hanya diam tadi kini menantang menatap lurus ke depan kepada mereka bertiga Salah-satunya mengebrak meja Arabella "Iya gue kesel, Lo udah bikin Dinar sama Azura berani sama Kita," ujar Mira gadis yang tubuhnya agak berisi Dengan mata yang melotot kesal menandakan kebencian berkobar di mat agadis itu Arabella menoleh lalu mendongak pada ketiganya "Apa salah gue? gue cuman gak mau mereka di manfaatin sama kalian" kata Arabella Ruby menatap Arabella merendahkan "Ara... Ara..., Lo itu udah gak punya kekuasaan kaya dulu lagi, gak usah sok sok an ngelawan kita" ujar Raby "Bahkan sekarang Lo miskin kan hahah, bapak Lo dulu mati gak ngasih Lo sepeser pun duit apa gimana hah" cerca Mira dengan wajah penuh kemenangan "Huuu bokap lo pasti korupsi," ejek Fira dengan wajah penuh ejekannya Kedua alis Arabella mulai menukik, menandakan ia kali ini benar-benar marah "Lo boleh hina gue asal jangan orang tua gue, apalagi ayah gue!" bentak Arabella Bangkit dengan tiba-tiba dari kursinya "Lo—" ucapan Raby terpotong saat Arabella menarik rambutnya dengan keras sampai terbentur meja hingga menimbulkan suara benturan yang membuat orang-orang di sana merasa ngilu "Akkh sakiitttttt, tolong!" ujar Raby memegangi kepalanya bahkan sengaja' menekan kepalanya yang tadinya hanya ada sedikit darah hingga kepalanya banyak mengeluarkan darah Suara pintu di buka kencang dari luar padahal pintu itu tidak sedang di kunci, munculah beberapa anak laki-laki bak penyelamat yang salah satunya kekasih dari musuh Arabella. "Raby!"pikik laki laki itu menghampiri Raby dengan wajah khawatir melihat dahi kekasih nya yang bersimbah d*rah Raby menatap kekasihnya dengan mata sayu "Janendra sak—ittt, kepala aku di benturin sama jalang itu" ucap Raby tertuju pada Arabella sementara Janendra menatap gadis itu tajam Salah-satu teman Janendra yang menggunakan Hoodie yang wajahnya cukup tenang dan Lembut mulai mendekati Arabella "Lo keterlaluan, Ara" ucap Ale mantan kekasih Arabella, Berbeda dengan wajahnya yang lembut sifatnya pada Arabella begitu buruk Arabella yang tidak terima pun kembali bersuara "Dia yang mulai duluan!" tegas Arabella menunjuk tajam ke arah Raby "Udahlah mending kita bawa Raby ke UKS nanti dia kenapa-kenapa gimana," ajak Fira Mereka semua membawa Raby ke UKS menyisakan Arabella dan Ale Tak ada suara dari keduanya hingga Arabella mulai membuka suaranya "Lo kok berubah sih Al?" tanyanya dengan lirih Ale nampak berdecak kesal saat Arabella menanyakan hal ini "Gue gak berubah, Lo aja yang ngerasa begitu kita dari awal emang gini kali" ucap Ale santai tanpa ada raut kehilangan di wajahnya Arabella menstap langsung ke dua bola mata Ale berusaha mencari kerinduan di mata itu "Jadi tiga tahun ini gak berarti buat lo?" tanyanya dengan mata yang masih mengharapkan sesuatu dari pria ini Ale tak menjawab ia hanya diam. Arabella nampak tak bisa lagi membendung air matanya "Gue kehilangan semuanya gara-gara Raby sialan!, gue selalu ada buat Lo, saat Lo susah sampe gue ambil uang di perusahaan ayah gue buat balikin usaha keluarga Lo tapi apa hah!, Lo malah gini sama gue!" bentak Arabella dengan tetesan cairan bening yang tak henti-hentinya berjatuhan tanpa aba-aba "Gue gak peduli." ucap Ale meninggalkan Arabella di ruang kelas bersama tatapan murid lain yang hanya menonton drama gratis di pagi hari Kamis, 202*, End. "Gak papa, tapi kalian gak di apa-apain kan sama Raby dan temen-temennya?" tanya Arabella "Gak kok Ra, oh btw lo semalam cheat gue kan, di jalan **** ada balapan Lo bisa ikut hadiahnya besar loh," beber Dinar "Oke, gue ikut" putus Arabella "Gue ke toilet dulu yah," pamit Arabella bangkit dari tempat duduknya melangkah pergi menuju toilet wanita. Saat sedang mencuci tangan di wastafel seorang menghampiri Arabella dari belakang "Lo balapan malam ini cuman buat dapetin duit yah?, uupsh iya yah kan Lo udah bangkrut haha" ya, itu Raby, ia tergelak tawa mengejek Arabella menghentikan kegiatannya, ia mulai berbalik menghadap Raby dengan wajah Tak bersahabat darinya "Lo bisa gak usah ganggu gue sehari?, apa Lo sekarat gak ganggu gue sehari aja?" tanya Arabella dengan tatapan kosong, ia sudah lelah menghadapi mahkluk di hadapan ini, barang sehari saja ia mohon jangan pertemukan ia dengan mahkluk sialan ini "Sekarang Lo mau apa huh?" tanya Arabella, "gue gak mau berurusan sama lo," sambung Arabella hendak melangkah pergi, namun ucapan dari Raby cukup membuatnya menghentikan langkahnya "Gak ada sih cuman gue mau bilang, gimana yah kalau nyokap Lo tahu kalau Lo itu suka balap liar, pasti kena serangan jantung sih habis itu mati ikut bokap lo" ejek Raby Arabella sontak berbalik denga cepat melayangkan kakinya ke perut Raby dengan kencang "Jaga ucapan Lo!". Malam harinya di tempat balapan... Arabella sudah siap di atas motornya, bersiap untuk melaju lalu seorang wanita dengan pakaian minim berjalan ke tengah-tengah arena sebari membawa bendera, ia mengangkat bendera itu untuk memberi para pembalap untuk bersiap lalu ia melepaskan bendera itu. Semua motor melaju kencang bahkan motor milik Arabella melaju kencang di depan motor lain, tidak ada yang tahu jika Arabella adalah wanita karena Dinar dan Azzura membantunya menutupi identitasnya agar dia bisa ikut perlombaan ini. Di tengah pertandingan yang sengit, putaran memori indah di otaknya terpampang membuatnya terlena akan itu, ia melihat ayahnya yang tersenyum dengan tulus, senyuman hangat yang bagitu ia rindukan sejak lama. ia tidak perduli pertanda apa ini, ia sudah lama tidak melihat senyuman ayahnya. Saat hendak tiba di garis finish motor Arabella yang melaju kencang tak bisa di rem membuat dirinya panik akan hal itu, di depannya ada sebuah truk yang akan berbelok hingga—suara tabrakan kencang membuat setiap orang yang berada di sana berteriak histeris. motor Arabella masuk ke bawah Truk dan tubuh Arabella terbanting ke kaca mobi truk hingga kaca itu pecah. Orang-orang mengerumuninya ada yang menolongnya ada juga yang hanya melihat bahkan mempostingnya di media sosial tanpa menolong. "ARA!" "ARA! bangun!" "lah, ternyata dia selama ini cewek," "bantu sialan, dia harus dibawa ke rumah sakit segera"  Arabella merasakan sakit di sekujur tubuhnya saat ia di letakan di Ambulan, yang ia ingat hanya dia mendengar suara tangis ibunya lalu semuanya gelap seketika.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Tentang Cinta Kita

read
231.4K
bc

Satu Atap Tanpa Cinta

read
28.8K
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
213.7K
bc

Pernikahan Rahasia sang CEO: Menyerah pada Cinta yang Menggila

read
1.0K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
175.6K
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
12.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook