Waktu bergulir cepat. Kesibukan menjalani kuliah dan beberapa tambahan pelajaran kehidupan dari Maria membuat Huzam tak sempat memikirkan hal lain. Setelah pertemuannya dengan Fatiya waktu itu, mereka nyaris tak pernah bertemu. “Bagaimana? Sudah siap semua?” Huzam menggeleng. Ia tetap belum percaya diri meski sudah berlatih berkali-kali. “Sulit sekali, Pak. Saya tidak terbiasa.” “Belum, bukan tidak,” sambar Arbrito. “Susah, Pak.” “Nanti lama-lama terbiasa, Zam. Kamu hanya perlu menjadi versi terbaik dirimu sebagai perwakilan Pak Anggoro.” “Betul. Tidak perlu gugup. Sudah cukup lama aku mengajarimu,” sahut Maria. Sejak tadi ia sudah memijit pelipis karena kesal melihat Huzam yang tak kunjung bai

