Sekolah; Ketahuan Papa

1206 Words
Wanita ini bernama Rossa, guru Kesenian Cahya yang memang tinggal di Kota ini. Dan sekarang sedang mengambil cuti karena sebentar lagi akan melahirkan. Cekatan, Rossa membuka topi Cahya secara paksa. “Cahya… kenapa kamu disini?” Rossa begitu khawatir tentang keadaan Cahya. Dia juga berusaha memelankan suara agar tidak didengar orang lain. Cahya mendelik ketakutan. Dia segera mundur dari hadapan Rossa namun gagal karena tangannya ditahan oleh Rossa. “Jangan kabur.” Rossa beranjak berdiri dan menarik tubuh Cahya ke tempat sepi. “Nah… sekarang tidak ada orang yang mendengar pembicaraan kita.” “Bu Ross… jangan kasih tau siapa-siapa. Aku mohon, Bu!” Cahya memelas, nadanya terdengar hampir menangis. “Aku takut dikeluarin dari sekolah.” “Mana Bima? Kamu datang kesini sendirian? Dimana pacarmu itu?” Rossa menoleh ke segala penjuru lorong tapi tidak menemukan keberadaan Bima. “Jangan bilang kamu datang sendiri, Cay!” “Iya… aku datang sendiri. Jangan pernah tanya soal laki-laki tidak berguna itu.” “Oh… dia tidak mau tanggungjawab, ya?” Rossa yang dapat membaca pikiran Cahya langsung berkata seperti itu. Dia juga sering mendapatkan kabar mengenai kehamilan di luar nikah yang dilakukan pelajar sekolah, jadi dia tahu betul. “Cahya, sebaiknya kamu cerita ke keluargamu. Biar mereka yang memutuskannya. Ibu mohon jangan memutuskan sendiri semuanya.” “Ibu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan membunuh anakku sendiri. Kalau bisa, aku akan membunuh Bima.” Cahya pergi begitu saja, membiarkan Rossa berdiri sendirian. Bahkan, Rossa tidak mengejar Cahya sama sekali. Membiarkan gadis menyedihkan itu pergi. *** Seorang guru BK tiba-tiba saja memanggil Cahya dan Bima. Sontak, semua seisi kelas terkejut setengah mati. Bahkan kabar tentang kehamilan Cahya sudah diketahui seluruh sekolah padahal belum tahu kebenarannya. Guru BK berani memanggil mereka berdua karena mendapatkan laporan dari Rossa langsung, jadi dia memiliki bukti untuk mengangkut mereka berdua masuk ke ruang BK. “Apa benar kamu hamil? Ibu tau dari Bu Ross.” Guru BK itu bernama Kinan. Tanpa basa-basi dia langsung mengatakan pada Cahya dan Bima. “Ayo, jawab. Kamu tidak bisa bohong karena Ibu sudah mengecek Rumah Sakitnya langsung.” Cahya menoleh ke Bima yang sedang menundukkan wajah, lalu berani menatap Kinan. “Iya.” Sahutnya pasrah dan membuat Bima menegakkan kepala dengan melirik ke Cahya. Setelah berucap, Cahya berganti menundukkan kepala. “Tapi ini tidak ada urusannya dengan Bima. Bukan dia yang menghamili aku.” Jelas Cahya, seakan menjadi malaikat penyelamat bagi Bima. Kinan terkejut mendengar penjelasan Cahya. Langsung menatap Bima tidak berkedip. “Apa benar ucapan Cahya itu? Apa dia memiliki hubungan dengan pria lain?” Bima mengangguk perlahan, tidak percaya diri. Membuat Kinan curiga akan sikapnya. “Bima, jangan berbohong. Ibu tau semuanya.” “Bukan Bima yang hamilin aku, Bu!” Seru Cahya dengan suara lantang. “Aku selingkuh dari dia karena dia terlalu polos dan sibuk belajar.” “Cahya?” Kinan sedikit memberi belas kasih pada Cahya yang sedang berusaha menyelamatkan masa depan kekasihnya. p Padahal, Kinan sudah tahu kalau Bima turut andil akan kehamilan Cahya. “Jangan berbohong ya, Nak!” “Apa Ibu tidak lihat mataku? Aku tidak terlihat bohong, kan? Aku serius, aku tidur dengan pria lain, Bu!” Cahya masih saja melindungi Bima dari serangan Kinan. “Baiklah. Kalian semua keluar dari ruangan ini.” Kinan sedikit marah, terdengar dari suaranya yang mulai meninggi. *** Cahya mengacuhkan seluruh pandangan menusuk ke arahnya. Bahkan dia berani membalasnya dengan tatapan mematikan. Sejurus kemudian, dia masuk ke kelas dan mengambil tas ransel. Tanpa berpikir panjang, dia menyahut tas dan berjalan keluar sekolah. Semua mata tertuju akan sikapnya. Termasuk para guru. Mereka membiarkan Cahya membolos sekolah, toh sebentar lagi gadis itu dikeluarkan dari sekolah. Setelah berhasil meloloskan diri dari kawasan sekolah dan bersikap tegar, Cahya membiarkan buliran air mata membasahi kedua pipi bahkan memenuhi sebagian wajah. Dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Hidupnya semakin kacau semenjak bertemu Rossa di Rumah Sakit. Astaga, Cahya tidak kuat menjalani hari-hari yang semakin sulit. Tidak mungkin juga dia bunuh diri. Cahya sangat menunggu kehadiran calon anaknya dan dia bersiap menjadi Ibu tunggal bagi anaknya nanti. *** Sebuah toko perlengkapan bayi menjadi pilihan Cahya setelah kabur dari sekolah. Dia sangat takjub memasuki sebuah toko yang sangat mewah dan lucu. Sekarang bukan lagi sebuah toko berisi pakaian dan sepatu untuk dirinya, melainkan perlengkapan bayi yang kini menjadi prioritasnya. Meski usia kandungan masih muda, Cahya menyempatkan diri untuk melihat dulu barang apa saja yang akan dibeli nanti. “Mau cari apa, Kak?” Sebuah pelayan wanita menghampiri Cahya dan menawarkan bantuan. Senyum lebar itu membuat Cahya menggeleng acuh. “Mau lihat-lihat dulu, Mbak! Nanti aku panggil kalau butuh sesuatu ya.” Sahut Cahya dengan mengakhiri senyum ramahnya. Dia berhenti di sebuah rak boneka-boneka berbentuk lucu. Sepertinya yang dia butuhkan sekarang boneka meski barang itu sudah menumpuk di kamar. Cahya tidak peduli. Dia hanya ingin melepas penat dengan membuang uang saku. Cahya mengambil sebuah boneka beruang berukuran besar sekitar setengah badannya. Berniat menjadikan boneka itu teman bicara mulai sekarang. Dia sadar tidak ada lagi keberadaan Bima di sisi Cahya. Kehadiran boneka itu mungkin akan membuat Cahya merasa lebih baik dan merasa tidak sendiri. “Eh… tapi masak aku ngomong sama boneka sih!” Ucap Cahya dalam hati. “Terserah, aku Cuma pengen habisin uang aja kok. Dan janji, boneka ini bakal jadi temen dedek bayiku nanti.” Setelah berpikir panjang, Cahya mengambil boneka pilihannya dan menuju kasir untuk membayar. Lalu, dia pulang ke rumah karena merasa lelah menghabiskan waktu sampai malam hari. *** Cahya mengedikkan bahu saat melihat sebuah mobil sedan terparkir di halaman sekolah. Mungkin itu teman Papa atau Mama, jadi Cahya tidak memikirkan hal lain. Padahal, mobil itu merupakan tamu spesial Cahya. Bodohnya, Cahya tidak memikirkan kejadian selanjutnya setelah dia masuk ke ruang BK tadi. Jantungnya berdebar begitu dia melihat Kinan dan Ferdy duduk di ruang tamu tanpa ada Papa dan Mama di sana. Kedua matanya hampir mencuat keluar melihat kehadiran guru SMA-nya. Sebaliknya, Kinan dan Ferdy menyambut ramah kehadiran Cahya sepulang sekolah. “Kok baru pulang, Nak?” seru Kinan, berdiri untuk menangkap tubuh Cahya agar duduk di sampingnya. Cahya belum juga mengambil napas karena masih terkejut. Lantas, merasa sesak, Cahya mengambil napas panjang dan menghembuskan perlahan. “Cahya, jangan ngalamun dong.” Kinan mengusap bahu Cahya berulang kali. “Ibu sudah menemui Papa dan Mama?” Cahya bertanya dengan penuh rasa penasaran. Dia berharap Kinan belum bertemu Papa dan Mama mengingat mereka sangat sibuk kegiatan di luar rumah. “Tentu saja sudah. Mereka sedang masuk ke dalam kamar.” Jelas Kinan, masih tersenyum lebar. “Apa Ibu sudah menceritakan semua ke Papa dan Mama?” Tanya Cahya dengan hati-hati. Bahkan, dia tidak bernapas setiap mengeluarkan kalimat pertanyaan pada Kinan. Kinan menaikkan kedua alis dan mata menoleh ke arah Ferdy. Kedua bahu ia naikkan ke atas seakan memberi jawaban sesuai harapan Cahya, Kenyataannya, Kinan membuat Cahya terluka bahkan kecewa setelah berkata. “Sudah, Nak. Maafkan Ibu ya. Semua demi kebaikanmu.” “Bu…!” Seru Cahya, setengah menjerit. “Cahya!” Teriak seorang pria paruh baya yang sedang berada di lantai atas, tepatnya di ujung anak tangga. Pandangannya membuat Cahya nyaris tidak sadarkan diri. Padahal dia masih jauh di sana namun Cahya merasa akan diterkam dalam hitungan detik. “Dasar anak durhaka! Siapa yang menghamili kamu?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD