Dijodohkan Pria Lain

1223 Words
Cahya menutup kedua daun telinga sekuat tenaga sambil menutup kelopak mata. Menatap wajah Papa dan Mama membuat gadis itu hilang kendali. Nyalinya sudah menciut saat pandangannya bertemu dengan Kinan dan Ferdy beberapa menit yang lalu. Entah ada kekuatan apa yang masuk ke tubuh Papa dan Mama sehingga keberadaannya sudah ada di depan Cahya. Mereka seakan tidak mengampuni hidup Cahya di muka bumi ini. Kentara sekali dari raut wajah mereka terlihat sangat muak. “Kamu benar-benar hamil?” Tanya Mama masih dengan nada normal. Bibir Cahya membulat sempurna. Terkejut karena sang Mama tidak marah sama sekali. Gerakan tubuh Mama bahkan terlihat acuh, tidak ada rasa kekecawaan sama sekali. Hal itu membuat perasaan Cahya campur aduk. Mama memang sejak dulu tidak pernah memperhatikan Cahya sama sekali. “Siapa yang menghamilimu? Cepat katakan!” Papa segera memotong tanpa bersabar. Berbeda dengan Mama, raut wajah Papa sudah merah membara sejak di lantai atas sana. Sebelah tangan Papa tak segan menampar pipi Cahya hingga berubah warna menjadi merah jambu. Cahya langsung saja meneteskan air mata menahan rasa perih. Selain itu juga dia malu harus diperlakukan seperti ini di depan guru. “Sabar, Pak!” Ucap Kinan, mendekat ke arah Cahya lalu mendekap dengan erat. “Mari kita bicarakan dengan tenang.” “Tenang? Anakku dihamili orang, bagaimana aku bisa tenang, Bu?” Papa masih dengan emosi yang tinggi, membuat Kinan merasa ketakutan. Tapi Kinan tetap mendekap Cahya dari samping. “Siapa orang itu? Siapa nama pria itu, ayo katakan Cahya!” Desak Papa. “Tidak ada,” Sahut Cahya sambil menundukkan kepala. “Aku yang akan menanggung semua sendiri.” “Kamu benar-benar tidak punya rasa malu ya?” Mama geram mendengar Cahya masih menyembunyikan identitas kekasih. “Bagaimana sama keluarga kita? Bagaimana dengan bisnis Papa dan Mama kalau mereka sampai tahu kabar ini? Apa itu tidak memalukan?” “Seharusnya Mama dan Papa yang malu karena tidak pernah memperhatikan Cahya sama sekali.” “Cahya, jangan berusaha menyalahkan orang lain. Posisi kamu sekarang salah, ingat!” Mama mengabaikan kalimat Cahya barusan. “Aku tidak peduli. Aku hanya peduli dengan janin ini. Aku akan membesarkannya sendiri.” “Tidak. Kamu harus menyelesaikan sekolahmu sampai ujian berakhir. Setelah itu, Papa akan menikahkanmu dengan Chris!” “Chris? Sepupu kita?” Cahya melontarkan pertanyaan dengan wajah terkejut setengah mati. Chris seorang pemuda pengangguran yang hobi menghamburkan uang. Meskipun berwajah tampan, Cahya tidak sudi memiliki suami seperti dia. “Pa… mending Cahya bunuh diri aja deh!” “Dasar anak tidak tahu diri!” ini kedua kali Papa menampar Cahya. Namun, tangan Papa kali ini mendarat dengan sempurna, memberi rasa sakit dua kali lipat dari sebelumnya. “Papa berusaha menyelamatkan anakmu, kenapa kamu berpikiran seperti itu? Otakmu dimana?” “Pa… aku masih punya otak, jadi aku menolak menikah dengan Chris.” Cahya mengusap pipi berulang kali sambil meringis menahan sakit. “Papa bukan menyelamatkan aku, tapi Papa lagi menyelamatkan bisnis Papa, kan!” “Cahya, sekarang kasih tahu Papa siapa anak bau kencur itu?” Papa masih mendesak sekuat tenaga, berharap Cahya akan memberitahu. Padahal Cahya tidak akan memberitahu sama sekali. “Nak… lebih baik kamu beritahu Papa dan Mamamu. Ibu mohon, ya?” Kinan yang berbicara halus saja ditolak Cahya dengan gelengan kepala. Rahasia itu entah sampai kapan harus disembunyikan Cahya. Jujur saja, Cahya takut Papa akan melukai Bima dan keluarganya. Itu yang menjadi salah satu alasan Cahya melindungi Bima dari siapapun. “Sepertinya percuma Papa mendesakmu. Lebih baik Papa menguncimu di dalam kamar,” Tiba-tiba Papa menarik lengan Cahya dengan kasar, lalu membawanya ke sebuah kamar di lantai atas. Cahya hanya pasrah mengikuti keinginan Papa tanpa melakukan pemberontakan. Kepalanya tertunduk mengikuti langkah kaki Papa yang akan memasukkannya ke dalam kamar. “Papa akan mengeluarkanmu dengan syarat kamu menyetujui pernikahan dengan Chris atau memberitahu siapa laki-laki yang menghamilimu.” “Papa bahkan akan menemukan jasadku di dalam kamar mandi setelah membuka pintu ini nantinya.” Ancam Cahya mendelik tajam. Dia tidak ada rasa takut lagi dengan Papanya karena Cahya tidak menginginkan Chris dijadikan sebagai suami. “Cukup Cahya!” Bentak Papa, membuat Cahya tersentak. “Papa tidak takut ancamanmu. Lakukan sesuka hatimu.” Papa mendorong tubuh Cahya ke dalam kamar dan menutup kasar daun pintu. Cahya bersandar lemah setelah pintu tertutup rapat. Kedua tangan mengusap lembut ke permukaan perut yang dilapisi kain baju. Bibirnya terus bergerak mengucap doa agar sang jabang bayi tumbuh dalam keadaan sehat dan normal. Cahya berjanji tidak akan melakukan bunuh diri demi melihat kado spesial pemberian Tuhan. Meskipun dia harus dinikahkan dengan Chris, dia bisa kabur saat Akad nanti. “Hai… sayang. Semoga kamu sehat terus. Mama bahagia memilikimu, Nak!” Ucap Cahya pada janin dalam perut. Kemudian menutup mata untuk beristirahat sebentar. *** Cahya menoleh sekejap ke arah pintu kamar untuk melihat kedatangan seseorang yang membukakan pintu. Terlihat seorang pemuda tengah berdiri dengan tegap menatap Cahya yang sedang duduk di atas ranjang sambil menutupi tubuh menggunakan selimut. Melihat Chris di ujung sana membuat Cahya meluruskan kembali pandangan ke depan dan mengabaikannya. Chris tersenyum kecut menatap Cahya yang terlihat tidak baik-baik saja. bahkan senyum itu seakan menghina akan keadaan Cahya yang menyedihkan sekali. Setelah Chris mendekati Cahya, dia melemparkan sebungkus cokelat kesukaan Cahya. Cahya melirik tajam cokelat pemberian Chris yang sudah terjatuh di atas pangkuannya, “Aku masih ingat cokelat kesukaanmu, kan?” Ucap Chris terdengar bangga. “Apa kamu bahagia akan dinikahkan denganku?” Cahya membuang jauh-jauh cokelat itu, mengarah ke jendela kamar yang terbuka lebar. Atas ayunan tangannya yang hebat, membuat cokelat itu meloncat bebas melewati balkon kamar Cahya dan jatuh ke halaman depan rumah. Cahya mengulum senyum melihat itu. “Jangan berharap itu akan terjadi.” “Tapi aku ingin menjadi kaya sepertimu. Meskipun keluargaku kaya tapi mereka cukup pelit denganku.” “Aku tidak pernah peduli akan hidupmu.” Bentak Cahya sambil melemparkan bantal ke arah kepala Chris. Dengan sigap Chris menangkis bantal itu hingga jatuh ke lantai. “Aku tidak butuh suami ataupun ayah untuk anakku.” “Cahya, apa kamu tidak malu dengan hidupmu yang menjijikkan ini? Kamu bahkan putus sekolah tapi kamu bisa mendapatkan ijazah dengan cukup mudah. Itu semua karena uang yang dimiliki Papamu.” Chris menjelaskan sesuatu yang belum diketahui Cahya sama sekali. “Maksud kamu? Aku tidak berhenti sekolah, aku hanya tidak masuk beberapa hari saja.” “Semua orang sudah tahu akan berita kehamilanmu dan pihak sekolah mengeluarkanmu.” Chris berkata dengan serius. Sebelah alisnya terangkat, membuat raut wajahnya semakin keren. “Ah… salah! Salah!. Maksudku mereka tidak benar-benar mengeluarkanmu. Mereka beralasan kamu pindah sekolah saja. ya, semua karena uang.” Chris tertawa menggelegar, membuat Cahya menghembuskan napas jengah. “Diam dan keluar dari kamarku!” Usir Cahya sambil setengah menjerit. Dia masih terkejut akan berita yang disampaikan oleh Chris. Kenapa Papa tidak memberitahu semuanya. Lalu, bagaimana dia bisa bertemu dengan Bima. Meskipun Cahya membencinya setengah mati, tapi ada rasa rindu ingin bertemu. “Baiklah tuan putri.” Ucap Chris. Namun, langkah Chris terhenti karena melihat Mbok Siti berdiri di depan pintu sambil tersenyum lebar. “Astaga…” Teriak Chris kaget. “Sejak kapan Mbok disini?” “Baru aja, Mas.” Sahut Mbok Siti pada Chris. Lalu, mata Mbok Siti mengarah pada Cahya yang sedang menatapnya penuh penasaran. “Non… ada tamu teman laki-laki Non di bawah.” “Hah? Siapa?” Cahya bahagia mendengar ucapan itu dan langsung menyibakkan selimut penuh semangat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD