Persahabatan Altha dan Danu

1049 Words
"Lo gak malu?" tanya Danu pada Altha. Saat ini Danu dan Altha sedang ada di belakang kampus, Danu mencari tempat sepi untuk merokok. Dia tak suka merokok di tempat ramai, kurang nyaman baginya. Altha mengerutkan dahinya bingung. "Malu apaan?" tanya Altha bingung. "Malu karena diejek satu kampus lah. Gak malu lo? uda muka baja?" tanya Danu kembali. Danu memang seperti ini, sangat-sangat nyinyir. Dia tak pernah berpikir sebelum berucap. "Masalah apa? Seza?" tanya Altha menebak. "Heemm," Danu berdeham sebagai jawaban. Dia masih fokus pada sebatang rokok yang dihisapnya. Menikmati semilir angin dengan rokok kesayangannya, rasanya tenang, damai dan nyaman. "Kenapa gue harus malu? memangnya gue buat apaan? memangnya gue kriminal? atau gue buat yang gak senonoh sama Seza? gue ngelakuin apa yang harus gue lakuin. Gue suka itu, gue suka liat pacar gue bahagia," jelas Altha dengan bangganya. "Suka sih suka, tapi gak harus jadi babu juga lah. Di mana harga diri lo ditaruh? muka ganteng, mental babu. Ck, miris." Danu tersenyum kecut. Beginilah caranya menegur sahabatnya, Altha sendiri sudah sangat paham dengan karakternya. "Ini hubungan gue, gue yang ngejalanin. Orang lain cuma jadi penonton, boleh komentar tapi gak boleh ikut campur. Ingat batasan masing-masing. Dunia gue, gue pemeran utamanya, yang lain cuma penonton." Altha mulai bicara kritis, dia tak suka jika orang-orang menjelek-jelekkan apa pun yang menyangkut dengan Seza. Danu tersenyum miring. Pandangannya masih fokus pada dedaunan kering yang jatuh ke bumi. Gayanya terlampau santai saat menikmati sebatang rokok itu dengan kaki yang diangkat sebelah. "Ck, mungkin hari ini mata lo masih buta. Otak lo masih tersumbat, urat malu lo lagi rusak, hati lo masih ketutup. Tapi kalau suatu saat nanti semuanya sudah berfungsi dengan normal, terutama otak lo itu, gue yakin lo bakalan nyesel. Dan lo bakalan nyesel gak dengerin kata-kata gue ini." Altha tertawa sumbang. "Kenapa lo jadi heboh sih? bahkan gue gak pernah urusin masalah percintaan lo sedalam ini. Btw, makasih untuk nasehatnya. Lo terlampau baik sama gue, sampai-sampai gue mikir lo lagi berusaha buat hubungan gue retak sama Seza." Danu langsung menoleh, melihat Altha dengan alis yang terangkat sebelah. "Dengan bodohnya mulut lo ngomong seperti itu?" tanya Danu tak menyangka. "Hahahaha ... miris ya, malu juga dengernya. Dasar b***k cinta." Danu tertawa mengejek. Altha yang sejak tadi sudah menahan geram hanya bisa diam. Tak mungkin dia bertengkar dengan sahabatnya sendiri hanya karena hal ini. "Gue harap suatu saat nanti waktu lo uda sadar kalau lo itu bego, lo langsung ninggalin cewek yang buat harga diri lo hancur. Karena pada dasarnya cowok itu pemimpin, bukan pembantu," ujar Danu mengingatkan. "Dan gue adalah cowok yang tulus cinta ke cewek gue. Dan yang lo perlu tau lagi, kalau gue uda tulus cinta, gue bakalan ngelakuin apa pun demi kebahagiaan pasangan gue. Gue akan senang kalau gue jadi bagian dari hidupnya yang terpenting." Altha mengeles, menjawab dan tak mau kalah. "Dan ternyata, lo sangat bego. Tanpa sadar aura kepemimpinan lo hilang. b***k cinta, b***k sama dengan pembantu bukan?" tanya Danu menyindir. "Ehh gak sama deng. Kalau pembantu mah dibayar, digaji. Nah kalau b***k kayak lo gak digaji, cuma makan cinta, gak kenyang, gak beruang, gak keren, yang ada capek disuruh ini itu mau-mau aja. Wkwkwkw aduh kalau gue mah ogah." Danu tertawa mengejek, membuat darah Altha mendidih. Altha mengepalkan kedua tangannya menahan emosi. Ucapan Danu benar-benar sudah keterlaluan. Biasanya Altha tak mau ambil hati dengan ucapan Danu. Tapi entah mengapa saat menyangkut Seza, Altha menjadi sakit hati dan berujung emosi. Danu menepuk-nepuk pundak Altha. "Santai bro, gue tau kok lo emosi sama ucapan gue barusan. Dan kalau lo gak terima plus butuh pelampiasan, gue bisa kok jadi lawan bertarung yang hebat. Yukk, mau coba?" tanya Danu santai dengan senyumannya. Altha mengambil nafas dalam-dalam, lalu membuangnya secara kasar. "Halah!! gak usah bacot lo!! mendingan diem! dari pada lo masuk rumah sakit karena gue, mendingan tutup aja tuh mulut lemes lo!" bentak Altha emosi. "Ceilehh ... gak tega ya liat gue terluka? duhh gemes dehh ... abang Altha gemess banget ihh ... bikin aku makin sayang." Danu memeluk lengan Altha dengan kemayu. Refleks Altha langsung mendorong Danu kuat. "Anjir geli gue!! lepasin!! hushh!! sana pergi, jauh-jauh dari gue!!" Danu menatap Altha dengan senyum manisnya, lalu dia mengedip-ngedipkan matanya menggoda Altha. "Aku siap jadi selingan kok, bang," ujarnya genit. Altha langsung pergi menjauh dari Danu. "Woy sumpah, jijik gue!! sana jauh-jauh dari gue!! walaupun jomblo dari lahir, tapi gue masih normal plus waras, gak kayak lo yang belok." Plakk!!! Danu melemparkan batu kerikil kecil pada Altha. "Mulut lo gue tabok mau, hah?! gue cuma becanda, bangke!" Danu mendengus kesal. Lalu dia langsung membuang rokok di tangannya. "Ayo kita pergi, cari makan yang enak. Lapar gue," ajak Danu pada Altha. Altha langsung bejalan mendekati Danu. "Mau makan di mana?" tanya Altha. "Serah di mana aja, yang penting jangan bawa Seza!! ini antara cowok dan cowok!!! boy time!! girl no ikut!! paham lo?!" tanya Danu dengan mata melotot. Altha mendengus kesal, memutar bola matanya malas. "Iya-iya paham!!! lo pikir gue budek apa, suara secempreng itu gue gak paham." "Ya kali aja otak dan telinga lo uda mampet kesumbat aliran-aliran cinta kebucinan dari Seza, bisa jadika-" Plakk!!! "MULUT LO MAU GUE JAHIT, HAH?!!" bentak Altha kuat dengan mata yang melotot lebar. Tepat, di depan wajah Danu. Danu langsung diam tak berkutik. Memasang wajah terkejutnya, aslinya dia memang terkejut. Beberapa detik kemudian Danu langsung tersentak sadar. "Mulut lo bau!! BAU BUCINNYA SEZA!!" setelah mengatakan itu dengan berteriak, Danu langsung lari, mengambil langkah seribu. "Bangke!!!" umpat Altha emosi. "Woyy, anjir!!! mau ke mana, lo?!!! berhenti!!! sini satu lawan satu sama gue!! jangan kabur lo, banci mulut lemes!!!" Altha mengejar Danu tak kalah kencang. "Emak lo dulu pasti pas hamil elo bukan minum s**u, tapi minum oli!! itu makanya anaknya yang lahir mulutnya lemes, licin!! keturunan belut lo!! woy!! belut listrik!!! berenti lo!! jangan lari!!" Altha berteriak kencang sambil lari mengejar Danu. "Uwak-uwak makan salak ... palak awak!! hahahaha ...," Danu tertawa mengejek, walau dalam keadaan genting pun, Danu masih sanggup menyempatkan diri untuk mengejek sahabatnya yang sedang emosi itu. Danu dan Altha berakhir dengan kejar-kejaran. Setelah Danu tertangkap, Altha langsung menjitak kepala Danu sebanyak 20 kali. Meskipun ada perlawanan, tapi Altha tak menyerah. Mereka sudah seperti anak kecil yang bertengkar karena sedang rebutan mainan. Pertengkaran manis, pertengkaran antara sahabat yang hangat dan membuat hubungan semakin asik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD