Babu

1045 Words
"Fandra," panggil Seza yang sedang asik main ponsel. "Kenapa, sayang?" tanya Altha langsung. "Ambilin aku minum dong, aku haus," pintanya. "Lah itukan minum ada di depan kamu, masa gitu aja mager sih," balas Altha. "Mager emang aku, ambilin dong," rengek Seza lagi. "Iya-iya aku ambilin, apa sih yang enggak buat kamu." Altha langsung menuang air minum ke dalam ceret, lalu di memberikannya pada Seza. Melihat Seza yang sedang asik dengan ponselnya, Altha langsung meminumkan air itu pada Seza. Seza tersenyum sekilas. "Makasih, sayang," ucapnya. "Sama-sama, sayang." "Gila, di Altha uda kayak babunya Seza ya," "Altha nurut-nurut banget sih sama Seza," "Enak banget Seza, punya pacar serasa punya asisten," "Gila, kalau gue jadi Altha mah ogah, di mana harga diri sebagai laki-laki kalau jadi babunya cewek terus?" Berbagai macam komentar-komentar miring terdengar di telinga Seza dan Altha. Seza langsung meletakkan ponselnya, dia melihat ke arah Altha. "Maaf," cicit Seza takut-takut. Altha tersenyum manis. "Gak apa-apa kok. Aku ngelakuin ini atas dasar keinginan ku sendiri, gak ada paksaan sama sekali. Jangan ngerasa gak enak. Aku cuma mau bahagiakan kamu aja, gak peduli gimana komentar-komentar orang-orang itu. Toh kita yang ngejalanin kan, mereka itukan cuma penonton." Altha berusaha menenangkan Seza. Seza menarik nafasnya dalam-dalam, lalu mengeluarkannya secara perlahan. "Makasih, kamu memang yang terbaik," ucap Seza manis. "Woy!! dasar kacang lupa kulit!! ada pacar lupa teman!! gue racun juga lo!" Aqila datang dengan gaya premannya. "Anjirr!!! ngagetin banget lo!!! gak ada akhlak ya lo!" maki Seza yang sedikit terkejut. "Mulutnya, Yang. Kamu itu gak cocok ngomong gitu, ilang cantiknya entar," tegur Fandra tak suka. "Oohh jadi maksud lo gue gak cantik makanya gue suka ngomong begitu? dasar ya lo, buaya ternak!" Aqila mengomeli Altha sambil mengambil bangku dan duduk di samping Seza. "Seza, sana pesenin gue minum. Haus gue," perintah Aqila. "Heh!! enak aja nyuruh-nyuruh cewek gue. Lo kira cowok gue pembantu apa?" tanya Altha sewot. "Ahhh payah, ada bodyguard tanpa bayaran yang sangat protektif." Aqila memutar bola matanya malas. "Biasanya juga cewek lo yang gak punya udel nyuruh gue terus. Dia kan gak punya tul-" "Hello everybody, hello!!!" Aqila, Altha dan Seza langsung menoleh ke sumber suara. "Ck, si banci datang," gumam Aqila pelan. "Aqila!!" Seza menendang kaki Aqila. "Please mulut lo jangan lemes, jangan nyari gara-gara. Gue gak mau ribut di sini ya, ini kantin, bukan ring tinju. Lagi pula sakit pala gue liat lo ribut tiap hari," Seza membisikkan penuh tekanan pada Aqila. "Heeem," jawab Aqila dengan dehaman. "Ehh ada mak lampir, cewek jadi-jadian." Danu menyapa Aqila sambil menunduk bokongnya di atas bangku. Aqila melotot, baru saja dia ingin berdiri dan melabrak Danu, Seza langsung menahannya dengan kuat. "Hehh!!! baru gue ingetin ya kampret!! jangan macam-macam lo!! lo mau gue buang ke lautan, hah? jangan ladenin si lemes itu!" peringat Seza seraya mengancam Aqila. Aqila mengepalkan kedua tangannya menahan emosi. "Kalau gak karena lo, uda gue babat abis tuh si cowok lemes!" balas Aqila geram. "Gimana kabar lo? baik kah? uda berapa banyak orang yang lo hajar, wahai cewek jadi-jadian?" tanya Danu sambil tersenyum mengejek. "Danu!! kalah mau cari ribut pergi aja sana!! gak usah ganggu! sejak tadi cuma kita-kita yang di sini aman aja kok. Jangan jadi perusuh lo, gue penyet lo mau?" ancam Altha dengan tatapan tajamnya. Danu menyengir lebar. "Ceilehh ... marah aja lo, kenapa? lagi pms ya lo?" tanya Danu menggoda Altha. Wajah Altha merah padam menahan emosi, Danu benar-benar selalu membuat darah tingginya naik. "Pergi dari sini!! buat rusuh aja lo!" usir Altha pada Danu. "Ya mana gue mau pigi. Enak aja lo dua-duaan sama Seza gue ditinggal. Gue kan buntut elo. Gak mau ah, enakan juga di sini, jagain lo dan Seza biar gak khilaf," Danu menolak pergi. Altha meremas botol air mineral di tangannya. Menyalurkan segala kegeramannya pada Danu. "Sabar, sayang. Ini cobaan," bisik Seza menenangkan Altha. "Lo pikir gue ngapain sama Seza di tempat rame beginian, hah? emang mulut lo minta dijahit kali ya. Dasar cowok mulut cewek!" maki Altha geram. Danu memasang wajah terkejut, seolah-olah sangat tersakiti dengan ucapan Altha barusan. "Nyesek banget uy, masuk ke jantung, paru-paru, hati, dan turun ke usus." Danu memegang dadanya seolah-olah merasakan sakit yang berlebihan. "Ck, lebay lo, banci!! sana pergi!! buat rusuh aja!" sambung Aqila tiba-tiba. Danu langsung menatap tajam Aqila, siap-siap memberikan perlawanan pada Aqila. "Mau gue ajak gulat di sini, wahai cewek jadi-jadian?" tantang Danu tak takut. "Hemm hemmm ... jangan ribut dah kalian berdua. Kalau ribut sana pergi aja. Gue dan Seza gak suka kalau ada ribut-ribut di sini. Please sehari aja damai, jangan bertingkah yang aneh-aneh." Altha langsung mewanti-wanti Aqila dan Danu. "Dah lah, aku laper, mau pesen makanan dulu," Seza ingin berdiri, namun Altha langsung mencegahnya. "Mau ngapai? uda aku aja yang pesan makanannya. Kamu di sini aja, jangan capek-capek," ujar Altha. Danu dan Aqila langsung memutar bola mata mereka malas. Drama bucin yang harus mereka saksikan setiap hari memang benar-benar memuakkan. Altha berdiri, lalu langsung pergi untuk memesan makanan Beberapa menit Altha pergi, sekarang dia sudah tampak berjalan dengan nampan yang di atasnya ada dua piring nasi uduk untuknya dan Seza. "Liat-liat, si Altha uda kek babu beneran," "Astaga, liat tuhh. Mau banget sih si Altha jadi pembantu Seza," "Idihhh gila, jijik banget liat cowok yang ada di bawah ketek ceweknya." Brakkk!!! "Heh!! mulut lo pada jangan julid ya!! kenapa? sirik lo ya?! makanya cari cowok yang baik hati!! ck, kalian benar-benar defenisi sirik tanda tak mampu!!" "Lo lagi," tunjuk Aqila pada segerombolan laki-laki yang duduk di sebrang meja mereka. "Lo cowok apa banci?!!" bentak Aqila emosi. "Suka banget ngurusi hidup orang. Bilang aja kalian iri sama Altha karena kalian semua gak bisa dapatin Seza!" lanjut Aqila membentak. "Aqila, uda. Gue sama Altha gak apa-apa kok," Seza langsung menenangkan Aqila yang tersulut emosi. "Gak bisa, Seza, kalau didiemin mah tetap gitu terus. Harus dilawan," balas Aqila keras kepala. "Uda, Aqila. Mereka mah cuma iri sama gue dan Seza. Lagi pula gue ngelakuin semua ini tanpa paksaan apa pun dari Seza kok. Gue ngelakuin ini semua karena murni, gue pengen membuat Seza menjadi ratu, gue cinta sama dia, gue pengen dia bahagia," ujar Altha sambil menatap semua orang-orang yang julid padanya dan Seza. "Mampus!! makan tuh iri!!" maki Aqila sebelum kembali duduk. Sedangkan Danu, dia malah menahan tawa geli melihat Aqila tersulut emosi seperti tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD