"Sayang, kamu kok di situ aja sih? ayo kita pulang. Tas kamu mana? itukan bukan meja kamu, ngapain kamu di situ?" tanya Altha yang baru saja masuk ke dalam kelas Seza.
"Jadi bangke. Cewek lo kumat ngebangkenya. Tulang-tulangnya gak berfungsi lagi tuh, makanya lemes kek kue lemper," jawab Aqila menyerobot.
Seza hanya diam sambil menopang dagu, dia tak ingin membuang-buang tenaga untuk ribut dengan Aqila.
"Maksudnya apaan sih? masa orang cantik dibilang bangke. Enak aja, cewek gue ini, bukan bangke." Altha membela Seza.
"Tau ahh, malas cakap sama bucin, otaknya juga bucin terus. Mendingan gue pulang." Aqila menggendong tasnya.
"Gue duluan ya, bangke idup. Payypayy." Aqila pamit sambil melambai-lambaikan tangannya. Kemudian dia langsung pergi meninggalkan kelas.
"Ayo, sayang. Kamu mau ngapain lagi? ayo kita pulang," ajak Altha tak sabar.
Seza melirik ke arah tasnya.
Altha mengerutkan dahinya bingung. "Yaudah diambil dong, aku tau itu tas kamu. Ngapain diem aja gitu, kayak orang gak dikasih makan selama 7 tahun aja. Yaudah ambil tas, kita pulang," ujar Altha.
Seza tak membalas ucapan Altha, dia hanya melirik kembali tasnya.
"Mau aku ambilin?" tanya Altha yang sudah peka.
Seza tak menjawab, dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.
"Ya ampun, kalau gitu ngomong kek dari tadi. Uda kek orang bisa aja kamu, Yang." Altha langsung mengambil tas Seza, lalu menyandangnya di bahu sebelah kiri. Karena di bahu sebelah kanan sudah ada tasnya.
"Yaudah ayo jalan," ajak Altha lagi.
Seza diam, dia tak menjawab apa pun.
"Ayo jalan, ngapain sih diem aja? ayo dong. Kamu mau ngapain lama-lama di sini? temen-temen kamu juga uda banyak yang pulang, palingan tinggal setengah lagi yang ada di kelas. Mau nunggu apa lagi? uda ayo pulang," desak Altha tak sabaran.
"Mager," balas Seza singkat.
"Hah, apa?! gak dengar aku, Yang. Kamu ngomong pelan banget," protes Altha.
"Mager," ulang Seza lebih kencang sedikit.
"Astaga, jadi kamu gak beranjak ke mana-mana cuma karena malas gerak?" tanya Altha tak percaya.
Seza mengangguk membenarkan.
"Ya Allah, pantes aja tadi si Aqila ngomel," Altha hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Yaudah ayo sini aku gendong." Altha mendekat ke arah Seza.
"Ayo," Altha jongkok agar Seza bisa naik ke punggungnya.
Baru saja Seza ingin naik ke punggungnya, Altha sudah kembali berdiri.
"Heh, ini sepatu kamu mana? kamu gak make sepatu? gak mungkin kamu nyeker kan? ke mana ini sepatu kamu?" tanya Altha shock.
Seza diam, tak menjawab. Pasalnya dia saja tak tau sepatunya ada di mana. Sejak pagi Seza sedang bad mood, malas bicara, malas bergerak dan malas segalanya. Seperti kata Aqila tadi, Seza bak bangkai yang hanya diam, tak berfungsi sama sekali.
Tadi saat dosen masuk hanya setengah jam saja, tidak full karena ada urusan, kelas mereka jadi ricuh. Seza yang ingin tidur mengamuk dan langsung melemparkan sebelah sepatunya ke arah teman-teman lelaki di kelasnya yang pada saat itu sedang asik cekikikan sambil bercerita.
Awalnya berhasil, tapi beberapa menit kemudian mereka kembali ribut. Seza yang sedang tak ingin mendengar keberisikan langsung melemparkan sebelah sepatunya lagi. Alhasil teman-teman sekelasnya langsung diem kicep.
"Di mana sepatu kamu, sayang?" tanya Altha sekali lagi.
Seza menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Enggak tau?" tanya Altha lagi. Lalu Seza langsung mengangguk mengiyakan.
Altha memukul jidatnya. "Astaga, kenapa sepatu kamu aja kamu gak tau di mana sih, sayang? gimana sih kamu? mana sepatunya?" tanya Altha tak habis pikir.
Seza kembali menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Astaga, ada-ada aja sih kamu, Yang," Altha langsung pergi bertanya pada teman-teman sekelas Seza.
"Eh kalian tau sepatunya Seza di mana?" tanya Altha pada segerombolan cewek-cewek yang sedang bergosip.
"Tadi si Seza ngelempar cowok-cowok make sepatunya. Gue gak tau dah di mana mendaratnya tuh sepatunya Seza," jawab salah satu teman Seza.
"Whattt?? Seza ngelempar cowok-cowok make sepatu? kenapa?" tanya Altha shock.
"Tadi dia mau tidur, terus cowok-cowok ribut banget, yaudah dilempar dah sama Seza make sepatu. Mereka langsung diem. Tapi beberapa menit kemudian mereka ribut lagi, alhasil dilempar Seza lagi make sepatunya yang satu lagi," jelas salah satu teman Seza.
Altha langsung menelan ludah. "Astaga, mampus, garang banget cewek gue," ujar Altha pelan.
"Yaudah makasih infonya ya," ucap Altha dengan senyum tanahnya.
Altha langsung berjongkok mencari-cari sepatu Seza di bawah kolong meja-meja.
"Nahh itu sepatunya, tapi cuma sebelah." Altha langsung berjongkok dan merayap-rayap mengambil sepatu yang menyelip di bawah kolong pojok.
"Huhhh akhirnya, jumpa satu sepatu. Tinggal cari sepatu sebelahnya lagi." Altha kembali berjongkok, matanya mengedar pandang ke seluruh penjuru bawah kolong, untuk menemukan sebelah sepatu Seza.
"Nahhh itu dia. Gila, kok bisa sampe di bawah lemari sih? astaga, susah banget tuh pasti ngambilnya.
Altha tiarap, dia berusaha keras mengambil sebelah sepatu Seza yang ada di bawah lemari. Dengan susah payah Altha mengambilnya demi Seza.
"Liat Altha, cowok paling hits itu bucinnya gak ketolongan guys,"
"Astaga, sweet banget sih si Altha. Mau dah gue jadi pacaranya. Beruntung banget sih si Seza bisa dapetin Altha,"
"Gila, pengertian banget sih si Altha,"
Kira-kira begitulah tanggapan para teman-teman sekelas Seza melihat Altha yang sangat perhatian pada Seza.
Altha mendekati Seza dengan membawa sepasang sepatu Seza yang sudah ditemukannya.
"Sini pakai dulu." Altha langsung berjongkok, kemudian dia langsung mengambil satu kaki Seza dan memakaikan sepatu ke kaki Seza. Begitu juga dengan kaki sebelahnya.
Altha tak malu memakaikan sepatu untuk Seza, yang dipikirkannya adalah kenyamanan Seza. Dia lebih peduli dengan Seza, tak peduli dengan apa pun komentar orang-orang yang melihatnya.
"Alamakkk ... Seza uda kayak Cinderella aja ahh. Si Altha mah, sweet banget,"
"Owwwhhhh ... Altha ... mau dong aku jadi pacar kamu,"
"Seza, gue siap jadi pacar Altha kalau lo bosen!"
Komentar demi komentar terdengar di telinga Seza, tapi dia tak ingin ambil pusing. Toh Altha hanya mencintainya saja, biarkan orang lain mengagumi tanpa memiliki.
"Ayo kita pulang, uda siang. Kamu harus makan." Altha berjongkok di depan Seza.
"Ayo naik," perintah Altha.
Seza langsung naik ke punggung Altha, dia pegangan erat-erat saat Altha berdiri dan berjalan.
"Duluan ya, guys. Kita pulang duluan," pamit Altha pada teman-teman sekelas Seza yang sejak tadi memperhatikan dirinya dan Seza.
"Sipp,"
Jawab mereka dengan singkat.
"Pegangan yang erat, sayang. Jangan tidur, nanti jatuh," peringat Altha mewanti-wanti.
"Heem," jawab Seza dengan dehaman.