Jadi Antinyamuk

1113 Words
"Sayang, kamu sayang gak sama aku?" tanya Altha pada Seza. Seza mengerutkan dahinya. "Pertanyaan g****k," balas Seza. "Ya ampun, sayang, gak boleh ngomong gitu! masa wajah cantik mulut kotor." Altha langsung menasehati Seza. "Liat, Yang, aku uda pasang foto kamu di ig aku. Liat nih yang komen, banyak banget. Padahal aku juga gak kenal sama mereka." Altha menunjukkan postingannya di ig pada Seza. Di situ Seza melihat fotonya yanh yang terpampang dengan caption 'My love' serta emotikon love merah. Seza tersenyum senang, hatinya tersentuh saat Altha mengenalkan Seza pada semua orang sebagai pacarnya. "Tumben kamu post gitu, biasanya juga post foto gak jelas. Kadang cuma bayangan, kadang cuma rambut doang, kadang ya foto ngadep ke atas kepalanya. Ahh gak jelas lah pokoknya. Ini tumben banget nih waras. Why?" tanya Seza penasaran. "Ya karena aku cinta kamu. Aku pengen semua orang tau kalau kamu itu pacar aku. Jadi gak ada lagi yang bisa dekatin kamu suka-suka, kalau pun ada, bakalan aku bantai habis," jawab Altha menggebu-gebu. Seza tersenyum manis. "Unchhh ..., gemes banget sihhh!!" Seza mencubit pipi Altha geram. "Awww awww ... sakit, Yang, sakit. Lepasin, ihh," Altha berusaha melepaskan tangan Seza dari pipi mulusnya. Seza langsung melepaskan cubitannya karena tak tega melihat Altha kesakitan. "Abisnya aku geram banget sih, gemes banget sama kamu." "Ya tapi gak gitu juga kali, Yang, ini kan pipi aku, bukan pipi boneka yang gak punya rasa sakit." Altha memegang pipinya yang kemerahan. "Iya-iya, maaf. Yaudah deh aku mau mesen makanan dulu, laper." Seza langsung berdiri, tapi baru saja dia ingin melangkah pergi Altha langsung mencegahnya. "Ehh mau ke mana? uda aku aja yang mesen makanannya. Kamu kan pacar aku, kamu nunggu di sini aja, duduk tenang di sini, gak usah capek-capek. Selagi ada aku, aku yang ngelakuin semuanya." Altha langsung berdiri, menggantikan Seza. Lalu dia langsung pamit untuk memesan makanan. "Jadi gini yah rasanya punya pacar?" tanya Seza sambil menatap kepergian Altha. "Rasanya uda kayak orang paling istimewa di muka bumi ini yah. Bahagia banget kalau gini, diutamakan dan disayang," lanjut Seza dengan senyum harunya. "Ya ampun, Aqila sih harus tau ini. Kalau Aqila tau ini, gue yakin dia langsung cepat-cepat cari pacar," gumam Seza pelan. Saat ini Seza dan Altha sedang berada di kantin kampus. Danu sedang ada tugas susulan, sedangkan Aqila pulang duluan karena ingin melatih murid-muridnya. Beberapa menit Seza menunggu Altha dan sekarang Altha sudah datang dengan membawa dua mangkuk mie ayam dan dua gelas jus jeruk. "Ini, sayang, semuanya uda siap. Tinggal makan." Altha langsung meletakkan nampan di atas meja. "Wahhh ... makasih ya," ucap Seza. "Apa sih yang enggak kalau buat kamu? jangankan makanan, apa pun yang kamu mau aku pasti bakalan bawa ke sini," balas Altha melebih-lebihkan. "Lebay kamu hahaha ...." Seza mengambil mangkuk mie ayam dan jusnya. Lalu dia langsung meracik saus, kecap dan cabainya. "Jangan banyak-banyak makan cabe, nanti perutnya sakit," pesan Altha yang juga sedang meracik mie ayamnya. "Iya, ini juga dikit kok. Cuma 4 sendok," "Whatt? empat sendok? enggak-enggak! 1 sendok aja. Jangan nyari penyakit deh. Sini aku yang naruh aja." Altha merebut tempat cabai yang dipegang oleh Seza, lalu dia langsung memasukkan satu sendok cabai ke mangkuk Seza. "Uda segitu aja, sausnya aku aja yang ngasih." Altha juga kembali memasukkan saus ke dalam mangkuk Seza dan dia langsung menyimpan saus dan cabai agar tak Seza ambil kembali. "Ishh kamu apa-apaan sih? aku mau makan pedes loh, jangan diambil saus dan cabainya dong," pinta Seza merengek. "Enggak, jangan makan pedes. Nanti kamu sakit perut. Uda itu aja, itu uda enak kok. Ayo dimakan, nanti aku beliin apa aja yang kamu mau. Asal kamu nurut sama aku," Altha mengiming-imingi Seza. Seza menaikkan satu alisnya. "Yakin ngasih apa aja yang aku mau?" tanya Seza tak percaya. Altha langsung mengangguk sebagai jawaban. "Oke, kalau gitu aku mau makan ini. Nanti aku bakalan minta sesuatu sama kamu." Seza langsung membaurkan bumbu-bumbu di mangkuk mie ayamnya. Lalu dia langsung melahap mie ayamnya. "Nahh gitu dong, nurut. Kan makin tambah sayang." Altha tersenyum senang. Melihat Seza nurut dengan kata-katanya seperti ada kebahagiaan tersendiri di hatinya. "Ooo bagus ya!! temen lagi susah, lo malah enak-enakan pacaran di sini!!" Seza dan Altha langsung menoleh ke sumber suara. "Enak banget, lo. Malah makan mie ayam, bukannya bantuin gue ngerjain tugas. Iihh tega banget ya lo jadi temen." Danu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apaan sih? ganggu aja! lo juga yang salah, siapa suruh gak ngerjain tugas. Kena imbasnya sendiri kan," balas Altha cuek. "Uda sana pergi, jangan ganggu gue. Gue mau dua-duaan sama pacar gue," Altha langsung mengusir Danu. "Anjir!!! gila banget lo!! bisa-bisanya lo ngusir gue! mentang-mentang lo uda punya pacar, sahabat lo tinggalin? Ck, parah ya lo!" Danu menatap kesal pada Altha. "Uda sana-sana!! ganggu aja," usir Altha kembali. Seza diam, dia tak ingin ikut campur pada urusan Altha dan Danu. Seza hanya bisa menahan tawa saja melihat ekspresi kesal Danu. "Yaudah!! pergi gue ya!! jangan lo cari-cari gue lagi!! bye-" "Eitsa!! tunggu-tunggu!" Altha langsung mencegah Danu pergi. "Lo mau ke mana? gue cuma bercanda pret. Gitu aja ngambek. Uda sini gabung sama kita makan mie ayam. Gue yakin lo pasti lapar karena tugas-tugas yang numpuk kan? sini-sini duduk bareng kita." Altha menarik tangan Danu sampai Danu duduk di sampingnya. "Nanti gue di sini lo ngutuk dalam hati, kesel karena kencan lo gue ganggu," sindir Danu kesal. "Kencan apaan? gue sama Seza cuma makan mie ayam doang. Kalau kencan mah di tempat yang romantis," balas Altha. "Uda ahh, aku uda kenyang," Seza menjauhkan mangkuk mie ayamnya. "Loh? kamu baru makan beberapa sendok doang, masih banyak juga itu mie ayamnya. Kok uda kenyang sih? makan dong, kamu tadi kan gak makan." Altha menggeser bangkunya ke dekat Seza. Seza menggeleng, "Enggak, aku gak mau makan. Uda kenyang." "Gak boleh gak makan, entar sakit. Tadi kamu juga gak ada makan kan? Kamu harus makan." Altha mengambil mangkuk mie ayam Seza. "Ayo buka mulutnya, makan sedikit lagi. Aaaaa," Seza menggelengkan kepalanya, menolak suapan dari Altha. "Kamu sayang gak sama aku? ini aku loh yang nyuapin, masa kamu tolak. Nanti kalau makan aku ajak jalan ke mana pun yang kamu mau deh," Altha kembali mengiming-imingi Seza. "Beneran?" tanya Seza yang belum percaya. "Iya bener, makanya makan. Ayo makan, aaaaa ...," Seza langsung membuka mulutnya dan menerima suapan dari Altha. "Awas aja boong," ucapnya dengan mulut yang penuh mie ayam. "Bangke!!! jadi fungsi gue di sini apa? jadi antinyamuk? mending gue pigi lah anjir!! kalian ngerasa dunia milik berdua aja yah? gue dan yang lain ini cuma ngekost. Mendingan gue pergi dari pada jadi antinyamuk." Danu menggerutu kesal, lalu dia langsung pergi meninggalkan Altha dan Seza. "Yeee ... g****k, marah-marah sendiri, kesal-kesal sendiri. Siapa suruh jomblo, ya nasib lah," timpal Altha tak merasa bersalah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD