"Gue gak bisa gini nih, gak bisa! gue harus bertindak cepatnya! kalau enggak semuanya pasti bakalan berabe!"
Danu mengerutkan dahinya bingung. Sejak tadi kata-kata itulah yang muncul dari mulut Altha.
"Apaan sih lo? gila ya lo? apanya yang gak bisa dibiarin? apanya yang berabe?" tanya Danu penasaran.
"Seza lah!" jawab Altha ngegas.
"Memangnya kenapa Seza? perasaan dia juga baik-baik aja kok," timpal Danu.
"Yaelahh!! lo mah jomblo gak peka banget sih jadi orang!" ujar Altha geram.
Danu langsung membelalakkan matanya lebar. "Heh!! jangan terlalu percaya diri lo!! gue jomblo dan kalau lo lupa, lo juga jomblo!! emangnya sejak kapan lo pacaran? jomblowati dari lahir aja songong!" sungut Danu emosi.
"Heh!! gue ini bentar lagi gak akan jomblo lagi! asal lo tau itu!!" balas Altha tak mau kalah.
Danu tertawa mengejek. "Hahahaha ... songong banget sih lo! jangan kepedean, bro. Emangnya uda pasti si Seza mau nerima elo? kagak kan? please deh, tolong tingkat kepedaannya diatur ya, biar gak malu-maluin."
Altha langsung menatap tajam Danu. "Emang lu cowok jelmaan cewek kali ya. Mulut lo itu loh, uhhhh!!! pengen banget gue REMESS!!!" Altha memperagakan tangannya seperti meremas-remas sesuatu dengan wajah geramnya.
Danu menaikkan sebelah alisnya. "Lo ngapain sih? setres karena takut gak diterima Seza ya?" tanya Danu.
Altha langsung melotot. "GUE GEBUKIN YA LO, DANUU!!" teriaknya kencang.
Danu langsung tertawa terbahak-bahak, dia buru-buru lari meninggalkan Altha sendiri di ruang kelas.
"Punya temen kok kayak bangke, pengen gebukin, tapi masi sayang binatang," gumam Altha pelan.
*****
Saat ini Danu, Altha, Seza dan Aqila sedang berada di taman kampus. Taman kampus yang ramai, tapi mereka memilih tempat duduk yang sepi.
Aqila menatap malas pada Altha dan Danu. "Lo ngapain sih ajak gue dan Seza ke sini? kurang kerjaan banget ya lo. Ganggu waktu kita aja," ujar Aqila secara gamblang. Refleks Seza langsung mencubit tangan Aqila.
"Awsss!! apaan sih, Seza?! sakit tau!" rintihnya kesakitan.
Seza langsung tersenyum paksa pada Altha. Lalu dia segera membisikkan sesuatu pada Aqila. "Please jaga mulut lemes lo itu! setidaknya kalau kita ketemu sama Fandra aja!!" bisik Seza pelan.
Aqila langsung mendengus tak suka. Kalau bukan demi Seza, ogah dia nurut-nurut seperti ini.
"Heh, Altha, lo sebenarnya ngapain sih ngajak kita ke sini? tujuannya apa? kalau mau nraktir itu di kantin, bukan di taman. Lo kita kita kambing, mau dikasih makan rumput?" tanya Danu sewot.
Altha memutar bole matanya malas. Rasanya kalau tidak akan merusak momen, Altha ingin sekali meninju mulut lemes Danu itu.
"Duduk dulu, duduk dulu. Ayo, silahkan duduk." Altha tersenyum manis, mempersilahkan Danu, Seza dan Aqila duduk di bangku taman yang lumayan panjang.
Mereka langsung duduk, Seza duduk di tengah antara Aqila dan Danu. Jika Aqila yang ada di samping Danu, nanti urusannya bakalan berujung gulat.
"Nahh, uda duduk semua nih. Kalau begitu kita mulai aja acaranya langsung," ujat Altha dengan sedikit gugup.
Seza, Aqila dan Danu langsung menampilkan wajah bingung mereka.
"Seza, sini dekat gue." Altha langsung menarik tangan Seza untuk berdiri dan membawa Seza mendekat dengannya.
Seza mengerutkan dahinya bingung. Dia tak tau apa maksud Altha saat ini.
Altha langsung memegang tangan Seza.
"Seza, mungkin gue gak setampan laki-laki di luar sana, gue gak sekaya laki-laki di luar sana, gue juga gak semahir laki-laki di luar sana dalam hal bermanis-manis kata. Tapi intinya cuma satu yang gue ingin ungkapin sama lo." Altha menatap mata Seza dalam-dalam. Begitu juga dengan Seza, dia hanyut dalam keseriusan Altha saat ini.
"Ck, jadi gue di sini cuma dijadiin saksi dia nembak Seza doang? emang teman bangke ya, gak berperikejombloan banget!! gue doain ditolak baru tau rasa lo!! doa orang tersakiti tuh mujarab tau!" Danu terus menggerutu kesal. Dia langsung menopang dagu dan memandang ogah-ogahan pada drama nyata yang ada di depannya saat ini.
"Pengen gue bom aja dah rasanya!! gak ada perasaannya banget!! mereka uwu-uwuan di depan jomblo kayak gue? wahh dosa banget tuh mereka!!! enak aja, cinta-cintaan di depan orang yang gak punya cinta!! terkutuk lah kau wahai anak muda!!!" Aqila juga menggerutu kesal, tapi di dalam hati. Kemudian dia juga melakukan hal yang sama, menopang dagu dan membuang pandangan dari Altha dan Seza.
Sedangkan Seza sendiri, dia masih deg-degan setengah mati. Pesona Altha saat ini sedang benar-benar menghipnotisnya. Seza merasa wajah Altha berpuluh-puluh kali lipat lebih tampan saat ini.
"Gue gak pernah ngerasain ini selama gue hidup. Dan baru kali ini gue ngerasai deg-degan yang berbeda saat bertemu dengan lo. Rasanya bukan seperti deg-degan kalau lagi ditagih utang," lanjut Altha lagi dengan wajah seriusnya.
Seza mengerutkan dahinya bingung.
"Noh kan, mulai lagi tololnya. Sumpah, dia bukan temen gue!!" ujar Danu pelan.
"Ini deg-degan yang berbeda, deg-degan yang spesial. Jedag-jedug hati gue berasa ada irama-irama cintanya." Altha tersenyum manis, berusaha menampilkan wajah terbaiknya di depan Seza.
"Dan semua itu berkat elo. Karena lo gue ngerasa jatuh cinta. Jatuh cinta sejak pandangan pertama. Dan itu nyata, bukan cuma isu belaka. Ini pertama kalinya dalam hidup gue, gue ngerasain yang namanya jatuh cinta. Sama elo," tunjuk Altha dengan gerakan alisnya.
"Jadi gak usah banyak mukodimah lagi, pada intinya, lo mau gak jadi pacar gue?" tanya Altha serius.
"Kalau mau gue seneng banget, kalau gak mau ya harus mau," lanjut Altha kemudian.
Mendengar itu Danu langsung menepuk jidatnya frustasi. "Kayaknya dia perlu minum obat deh, oonnya uda kumat," gumamnya pelan.
"Apaan nembak cewek begitu? romantis kaga, aneh iya," ujar Aqila kuat. Tapi tetap saja Seza dan Altha tak mendengarnya, mereka masih asik tatap-tatapan, serasa dunia milik mereka berdua. Yang lain mah cuma ngekost.
Jantung Seza langsung berdegup lebih kencang. Seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang bebas di dalam perutnya. Rasanya campur aduk, antara malu, grogi, sedih dan bahagia.
"Ini kesempatan buat gue, kalau gue nolak, bisa aja Altha gak mau lagi nembak gue untuk yang ketiga kalinya," batin Seza dalam hati.
Seza menarik nafasnya dalam-dalam, lalu mengeluarkannya secara perlahan.
"Oke, kali ini lo beruntung. Lo gue terima," jawab Seza singkat.
Altha langsung melotot tak percaya. "Beneran diterima?" tanyanya.
"Iya," jawab Seza singkat.
Altha langsung mengadahkan tangannya, lalu melihat ke arah langit. "ALHAMDULILLAH YA ALLAH, AKHIRNYA HAMBA UDA LEPAS SEGEL KEJOMBLOAN HAMBA SEJAK LAHIR. MAKASIH YA ALLAH," teriak Altha kuat, sampai-sampai semua orang yang ada di taman langsung memperhatikan mereka.
"YEEE!!! AKHIRNYA GUE SAMA DESA RESMI JADIAN!! YEEEE!!! YEEEE!!" Altha langsung melompat-lompat kegirangan, membuat siapa saja yang melihatnya langsung tertawa geli, termasuk Seza. Dan kecuali Danu, dia merasa malu punya teman seperti Altha.
"Seza, karena lo uda jadi pacar gue. Gue bakalan ngasih lo predikat ini." Altha langsung mengeluarkan pin yang sejak tadi ada di sakunya.
Seza mengerutkan dahinya, "Apaan tuh?" tanyanya penasaran.
"Pin predikat sebagai "PACAR ALTHA," jawab Altha dengan bangganya.
"Sorry," Altha langsung memasangkan pin itu di kemeja yang Seza kenakan sekarang. Altha meletakkannya di sebelah kanan, seperti bedge nama jika di seragam sekolah.
Altha tersenyum lebar. "Nahh, selesai. Jadi semua orang bakalan tau kalah Seza pacar Altha," ucap Altha dengan bangganya.
Melihat itu Danu langsung berdiri. "Up!! up dulu, gan!! gue gak sanggup punya temen malu-maluin macem dia. Mendingan gue sembunyi, malu gue." Setelah mengucapkan itu, Danu langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Dan Aqila juga langsung menyusul. Dia juga ikut pergi meninggalkan tempat itu. "Cut deh, dramanya gak asik!! gak romantis, rasa absurd!" ungkapnya pedas.
Seza menatap aneh kepergian Aqila dan Danu. Tapi Altha yang tak ingin kehilangan momen langsung bertindak cepat.
"Ahh uda gak usah dipikirin para jomblo, mereka cuma iri sama kesweetan kita." Altha langsung merangkul Seza.
"Karena hari ini hari resmi jadian kita, aku bakalan ajak kamu makan di kantin. Kamu pasti laper kan? yukk makan, ngebucin juga butuh tenaga." Altha langsung membawa Seza menuju kantin.
"Lah gue pikir bakalan diajak nonton atau jalan romantis, eh taunya cuma makan di kantin. Kalau itu mah tiap hari juga jadi kegiatan rutin gue kale!" gerutu Seza dalam hati.
"Emang agak absurd nih cowok. Astaga, gue pacaran sama orang aneh! untung lo ganteng, jadi keanehan lo tertutupi dengan sempurna," pekik Seza dalam hati.
Altha dan Seza langsung pergi menuju kantin. Mereka berjalan dengan bergandengan tangan. Semua pasang mata melihat ke arah mereka, dan gosip mereka pacaran langsung menyebar ke seluruh penjuru kampus.