Godaan Kating

1147 Words
"Hallo, Altha. Imut banget sih muka kamu, tampannya gak ada obat. Uda punya pacar belum? sini sama aku aja. Dijamin bakalan hidup bahagia, aman dan sejahtera," goda seseorang kakak tingkat Altha yang terkenal cantik dan genit. Altha menyengir lebar, digoda seperti itu bukannya senang malah sedikit geli. "Sini gabung sama kita-kita. Kita baik-baik kok, gak gigit. Sini deh," panggil kakak tingkat itu kembali. "Kalau Altha gak mau, gue aja kak. Gue aja yang ikut gabung sama kakak. Altha emang gitu, suka gak normal," timpal Danu tiba-tiba. Altha langsung melotot pada Danu. Saat ini Altha dan Danu sedang ada di perkumpulan mahasiswa, mereka sedang mewakili kelas mereka untuk rapat bersama dengan perwakilan mahasiswa lainnya. "Kamu gantengnya kelewatan banget sih, bikin kakak gak bisa tidur. Sini sama kakak aja, kamu masih jomblo kan? gak usah pura-pura nolak deh, banyak loh yang nembak kakak tapi kakak tolak. Masa iya kamu kakak tawari gak mau," ucap kakak tingkat itu kembali. "Woy, ditawari tuh. Lo kan jomblo, dari pada nungguin Seza yang gak jelas rimbanya, mendingan sama yang jelas aja. Noh sama kakak itu, cantik, baik juga kayaknya," bisik Danu pada Altha. Altha langsung menyikut Danu. "Heh, gue gebukin di sini mau, lo?" ancam Altha dengan suara pelan. "Yee ... dikasih yang bening nolak, tapi nanti galau gara-gara Seza. Oon banget sih lo," gerutu Danu kesal. "Stt ... diem deh! gue gak tertarik sama kakak-kakak tingkat it-" "Ehh adek gemoy udah datang. Sini duduk di dekat kakak. Kakak uda siapin dan kosongin bangku di samping kakak khusus buat kamu loh. Sini duduk di samping kakak, itung-itung latihan untuk duduk bersama di pelaminan nanti." Altha langsung menoleh saat ucapannya terpotong oleh kakak tingkat lelaki yang sedang menggoda seorang gadis. Altha langsung melihat siapa gadis yang sedang digoda itu. Seza tersenyum canggung. Dia dan Aqila berhenti berjalan, mereka masih mengamati tempat mana yang akan mereka duduki, pasalnya banyak bangku yang sudah penuh. "Gak usah bingung-bingung, duduk di samping kakak aja sini," kakak tingkat itu menepuk bangku yang ada di sampingnya. "Iya, Aqila duduk di samping kakak sini," sambung kakak tingkat yang satunya. Wajah Altha langsung merah padam menahan emosi. Dia tak suka melihat Seza digoda, apa lagi di depan matanya sendiri. "Kamu cantik banget sih, Seza," puji salah satu kakak tingkat yang duduk sedikit jauh dari Altha. "Iya, bener, kamu cantik banget. Kayaknya kamu memang ditakdirkan untuk jadi istri dan ibu dari anak-anakku deh. Sini sama aku aja, aku baik kok. Gak bakalan sia-siakan kamu," sambung kating satu lagi. Seza tersenyum paksa, dia tak nyaman dengan godaan-godaan seperti itu. "Aqila, kita duduk di mana?" bisik Seza. "Asal ajalah ayo, sakit kuping gue dengerin buaya ngomong," balas Aqila kesal juga. "Ayo, duduk sama gue." Seza langsung melihat seseorang yang menarik tangannya. Seza mengerutkan dahinya bingung. "Fandra?" "Ayo duduk barengan sama gue. Gue gak suka liat lo digodain gitu." Altha langsung menarik Seza menuju mejanya. Sementara Aqila langsung mengikuti dari belakang. Semua pusat perhatian orang-orang tertuju pada Altha dan Seza. "Ooh pantas aja digodain gak mempan, ternyata uda punya pacar toh," teriak kakak tingkat yang menggoda Altha tadi. "Yaelahh ... kalah cepat sama Altha dah gue," sambung kakak tingkat lelaki yang menggoda Seza tadi. "Kalau putus bilang-bilang ya, Seza. Kakak siap nunggu kamu sampai kamu jomblo kok," lanjutnya kemudian. Altha menggeram kesal. "Apaan sih!! gatel banget jadi cowok." Seza langsung melihat wajah kesal Altha. "Gue yang digodain lo yang sewot, aneh," ujar Seza. "Ya gue gak terima. Lo itu calon pacar gue, gak ada yang boleh godain lo selain gue!" balas Altha tak ingin dibantah. "Yaelahh ... drama bucin sudah dimulai. Apalah daya jomblo bekarat ini, cuma jadi pengamat saja." Danu melipat kedua tangannya di d**a. Lalu kemudian membuang pandang dari Seza dan Altha. "Diem, Danu! gak usah ikut campur. Itu banyak cewek cantik, kating yang oke, lo tinggal milih kalau mau. Pilih aja, cari aja, jangan ngerusuhin gue sama Seza," balas Altha yang sudah tersulut emosi. "Ya elah, lo ngapa sih? pms ya lo. Seza yang digodain kok elo yang sewot. Aneh ya lo," Danu geleng-geleng kepala tak habis pikir. "Ya gue gak terima lah kalau Seza digodain. Seza itu calon pacar gue. Gak ada yang boleh godain dia selain gue!" ujar Altha possesive. Danu tersenyum geli. "Aneh ya lo, gila emang. Masih calon pacar, CALON PACAR. Bukan PACAR. Coba lo cerna dan lo pahamin arti CALON PACAR dan PACAR. Lagi pula ada pepatah yang mengatakan, sebelum janur kuning melengkung, semua masih bebas memperjuangkannya. Ya lo terima aja lah kalau orang-orang godain Seza, hak lo gak sampai di situ, bro." Danu menepuk-nepuk bahu Altha. Seza tersenyum kecut. "Uda dijelasin sama Danu gitu, uda jelas sejelas-jelasnya, masa dia gak peka juga. Kalau lo tembak gue, gue juga mau kali. Kampret, digantungi gak enak kali," ucap Seza dalam hati. "Mampus dah lo, Tha. Si mulut lemes uda buka suara, kalah telak deh lo, langsung terpojok sepojok-pojoknya. Makanya buruan gercep, si Seza juga uda gak sabaran mau ditembak lagi," Aqila berbicara dalam hati. Sejak tadi dia hanya duduk dan menyimak saja. Altha diam. Kata-kata Danu benar-benar menusuk perasaannya dari tulang-tulang sampai ke uluh hati. /Author lebay banget ya wkwk :v "Anjir Danu emang, gak tau situasi banget. Kalau gini kan gue malu sama Seza Kesannya gue ngegantungin dia. Padahal kemarin pas gue ngajak dia pacaran dia malah tidur. Dulu juga pas nembak ditolak. Kan gue jadi harus punya persiapan matang-matang buat nembak dia lagi supaya dia langsung nerima," batin Altha dalam hati. Mukanya masam, merasa terpojokkan. "Tapi kalau gini aja Seza uda banyak banget yang ngincar, gue harus gerak lebih cepat lagi dong. Nanti kalau gue keduluanan sama cowo lain gimana? apa lagi kalau Seza mikirnya gue ngehantungin dia, wah gaswat nih. Ancaman emang," lanjut Altha lagi. "Ngapa lo diam, Tha? ngerasa terpojokkan? ngerasa apa yang gue bilang bener?" tanya Danu tiba-tiba. Altha menatap tajam ke arah Danu, lalu dia langsung mendengus tak suka. "Seza, itu kating ganteng-ganteng, kaya raya, keren-keren. Gak kalah lah sama si Altha, malah lebih oke. Kalau lo ngerasa digantungin sama Altha, lo pilih aja tuh salah satu dari kating-kating yang suka sama lo itu." Danu bicara pada Seza, memberi usul pada Seza. Altha melotot lebar, dia langsung menelan ludah mendengar ucapan Danu barusan. "Jangan sampai kita gelut di sini ya, Danu!" tegur Altha menahan emosi. "Jangan percaya ya, Seza. Gue benar-benar cinta sama lo, jangan pernah berpaling sama gue ya." Altha memohon pada Seza. "Buaya! gausah dengerin!" timpal Danu cepat. "Anjir!" Brukk!! Altha langsung memukul bahu Danu keras. Seza terkekeh geli. Dia lucu melihat ekspresi Altha yang geram terhadap Danu. "Duhh manisnya bidadari surga kalau ketawa," celetuk salah satu kating. Altha langsung memasang wajah garang, menatap seram ke arah kating tersebut. "Duhh ada harimau penjaga, ih serem deh. Hoaaarrr ...," ledek kating itu pada Altha. Semua orang tertawa geli, termasuk Seza. Dia terkekeh melihat ekspresi lucu Altha. Sementara Altha, dia masih dalam ekspresi seramnya, jaga-jaga agar tak ada orang yang berani menggoda Seza.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD