Urusan Cinta? Jomblo jagonya!

1084 Words
"Lo nggak capek apa bertengkar sama si Altha? sering banget kalian bertengkar belakangan ini," ujar Aqila yang sedang mengerjakan tugas di meja belajar milik Seza. Sementara Seza sendiri sedang berada di karpet dan menulis tugas yang sama. "Gue gak tau, awalnya semua baik-baik aja. Tapi semakin ke sini semakin aneh, semakin berat dan banyak ringannya. Terutama mulut-mulut haters yang sampah itu. Seneng banget ngomentari hubungan gue sama Altha," balas Seza sambil menulis. "Lahh gimana lagi coba? si Altha cowok favorit di sekolah. Lo juga cewek favorit di sekolah. Banyak orang yang diam-diam bahkan terang-terangan suka sama kalian. Mungkin mereka sengaja kali biar kalian cepat-cepat pisah, biar kalian putus dan mereka bisa langsung nyalip," ucap Aqila menduga-duga. "Ahh au ah, si Fandra juga mau jadi Presma. Tadi dia izin sama gue," "WHAT? jadi Presma? gak salah itu?" tanya Aqila terkejut. Seza menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa? lo ngapain terkejut gitu coba? apa yang salah?" tanya Seza bingung. "Ya emang sih gue tau kalau selama ini si Altha aktif, malah dianya tuh suka jadi ketua panitia kalau ada acara. Pokoknya dia terkenal banget dah di kampus kita. Nah, jadi inti permasalahannya itu, kalau si Altha jadi Presma, lo bisa bayangin kan dia semakin terkenal. Semua orang di kampus kita kenal dia. Dan gue yakin semakin banyak saingan lo. Termasuk para dosen muda nan cantik yang kegenitan itu, ada juga para asisten dosen yang diam-diam mengerikan. Ah pokoknya lo tau lah ya kan, belum yang terang-terangan suka sama si Altha aja banyak, gimana nanti jadinya. Apa lagi yang diam-diam suka, dan siap menikung kalau ada kesempatan. Wahh bahaya banget tau gak." Aqila nyerocos panjang lebar, entah niatnya mewanti-wanti atau sedang mengompor-ngompori. Seza diam sejenak, memikirkan semua yang dikatakan Aqila barusan. "Lo sih ada benernya. Tapi apa mungkin gue ngelarang si Fandra buat jadi Presma? rasanya kok jahat banget sih gue matahin keinginannya hanya karena kekhawatiran gue aja. Gak adil buat dia," ungkap Seza lesu. "Ya elo gak mesti nyuruh dia buat berhenti. Lo gak mesti merenggut impian dia. Lo cuma harus lebih hati-hati aja. Lebih siap siaga supaya lo bisa antispasi kalau-kalau misalnya kalian putus nanti. Nah iya, jangan lupa siapin mental dan hati, lo butuh itu supaya gak kaget nanti. Dan yang paling penting ...," Aqila menjeda ucapannya. Seza menatap penasaran. Menunggu kelanjutan ucapan Aqila. "Apaan?" tanya Seza tak sabaran. "Dan yang paling penting, lo harus segera cari serep. Lo harus cari cadangan cuy, biar nanti kalau lo patah hati ada cadangan yang siap mengobati," Aqila bicara dengan sangat santainya. Menopang dagunya sambil menatap reaksi Seza di bawah. "Wahh!! anjir!! itu namanya lo ngajarin gue selingkuh!! apa lo termasuk salah satu orang yang gak suka sama hubungan gue dan Fandra makanya lo ngasih saran sesat ke gue?!" tanya Seza tak terima. Aqila menggeleng, lalu tertawa geli. "Gue itu jomblo, biar bagaimana pun gue ada di kubu jomblo. So, kalau lo putus sama Altha, ya gue Alhamdulillah. Ada juga teman gue yang sama statusnya hahaha ... jomblo akut." Seza mendengus kesal. Sempat-sempatnya Aqila malah bercanda saat Seza curhat serius seperti ini. "Njir, teman laknat emang!" maki Seza kesal. Aqila tertawa terbahak-bahak. "Hahaha ... canda kale, biasa aja dong mukanya. Gue mah cuma bercanda. Gak usah dianggap serius, yang ada lo nanti jadi sesat karena ajaran gue." "I know, lo emang selalu menyesatkan," timpal Seza cepat. "Jadi gini, gue mau ngasih saran beneran buat lo." Aqila turun dari tempat duduknya, menghampiri Seza yang sedang ada di karpet bawah. "Sebenarnya seberapa cinta sih lo sama si Altha?" tanya Aqila. Seza mengerutkan dahinya. Lalu dia ikut-ikutan duduk di depan Aqila. "Ngapain lo tanya begituan? jawabannya juga ya cuma satu. Gue cinta banget sama dia. Dia itu separuh dari gue. Kalau gak ada dia rasanya gue hampa. Kalau gak ada dia rasanya gue kehilangan separuh dari hidup gue, benar-benar gak nyaman dan gak enak," jelas Seza. "Ck, ternyata tingkat kebucinan lo uda aku ya," Seza memutar bola matanya malas, untuk apa bertanya kalau ujung-ujungnya menghina. "Tapi itu harus jadi acuan lo, Seza Sazkia Mada. Lo harus wanti-wanti mulai dari sekarang. Kalau lo benar-benar gak sanggup kehilangan di Altha, ya lo harus tetap bersikap baik ke dia. Lo harus buat dia selalu nyaman ke lo dan jangan buat dia bosan ataupun lelah dengan sikap lo. Jangan terlalu egois jadi cewek, jangan maunya menang sendiri. Terkadang cocok juga mau dimengerti. Cewek sama cowok itu sama, hatinya juga bentuknya sama. Jadi jangan ngerasa paling tersakiti kalau ada cekcok kecil, mungkin di posisi dia, dia juga ngerasa menjadi yang tersakiti. Jadi lo harus paham dan harus mengerti satu sama lain. Perbanyak sabar dan coba singkirkan egois lo itu. Berpikir secara matang dan dewasa. Kita ini uda dewasa, saatnya berpikir tentang orang-orang di sekitar kita, bukan hanya perasaan kita saja." Aqila bicara panjang kali lebar, jiwa-jiwa quote milik Aqila sudah keluar. Padahal Aqila seorang jomblo, tapi jika disuruh menasehati dan memberi wejangan untuk teman-temannya yang punya pasangan, dia ahlinya. Seza menghela nafasnya kasar setelah sebelumnya terpukau dengan ucapan Aqila barusan. "Emang iya sih yang lo bilang ada benernya juga. Tapi ya mau gimana lagi, kadang gue gak tau kalau yang gue lakuin itu ternyata egois dan nyakiti hati dia. Itu uda semacam kayak bawaan gue gitu, gue emang gitu. Lah terus mau digimanain dong? gue juga bingung. Dan ya satu lagi, gue ini perempuan yang kodratnya ingin dimengerti dan gak pernah salah. Seharusnya sebagai lelaki dia harus paham itu dong," balas Seza kekeuh. Aqila memutar bola matanya malas. "Ya kalau begitu caranya, itu artinya dalam hubungan lo sama di Altha, lo biang keributannya. Taunya egois dan mau menang sendiri. Lo mikirin perasaan lo, tapi lo mikirin perasaan si Altha enggak?" tanya Aqila. "Pacaran itu dua orang yang saling menjalin hubungan cinta. Bukan satu orang, gak bisa berat sebelah. Gak bisa lo aja yang mau dimengerti. Altha kan juga punya hati, ya dia juga pengen dimengerti lah," sambung Aqila kemudian. Seza menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ahh uda lah jangan bahas-bahas itu!" "Lah kan elo yang minta pendapat gue, bambang!! gue jedotin juga lo ke tembok!" kesal Aqila geram. "Ya abisnya lo sih. Jomblo, tapi pro dalam urusan begini. Gue kan jadi puyeng, kepikiran ucapan lo aja," Seza menghela nafasnya kasar. "Serah lo dah Bambang, mendingan gue ngerjain tugas gue. Dari pada nasehatin batu yang keras kepala banget." Aqila langsung pergi kembali ke meja belajar dan menyelesaikan tugas-tugasnya. Aqila menoleh ke belakang. "Urusan cinta?" Seza mengerutkan dahinya bingung. "Jomblo jagonya!!" sambung Aqila seperti sedang meledek Seza. Seza mendengus kesal. Lalu melempar buku ke arah Seza. "Bangke!" umpatnya kesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD